
Obat Anti Glaukoma
1. Prostaglandin analog
Contoh: Latanoprost, Travoprost
Keunggulan: Memberikan penurunan tekanan intraokular (TIO) paling tinggi; cukup diberikan sekali sehari pada malam hari
Efek Samping: Perubahan warna iris, hiperemia konjungtiva, dan pertumbuhan bulu mata
Farmakodinamik: Agonis reseptor Prostaglandin F → relaksasi otot siliaris dan remodeling matriks ekstraseluler → meningkatkan aliran uveoskleral Catatan: Tidak menurunkan produksi humor akuos; tidak direkomendasikan pada uveitis aktif.¹,³
2. Prostamide
Contoh: Bimatoprost
Keunggulan: Efek ganda melalui jalur uveoskleral dan trabekular; efektif ketika prostaglandin analog tidak mencukupi
Efek Samping: Hiperemia konjungtiva yang lebih menonjol
Farmakodinamik: Meningkatkan aliran keluar humor akuos melalui dua jalur utama (uveoskleral dan trabekular)
Catatan: Memiliki performa tinggi, digunakan saat diperlukan target TIO yang lebih ketat.³
3. Penghambat reseptor beta non-selektif
Contoh: Timolol, Carteolol
Keunggulan: Efektif, ekonomis, dan tersedia dalam berbagai kombinasi tetap
Efek Samping: Bradikardia, bronkospasme, AV block , dan kelelahan
Farmakodinamik: Blokade reseptor beta-1 dan beta-2 pada badan siliar → menurunkan produksi humor akuos
Catatan: Kontraindikasi absolut pada asma dan gangguan konduksi jantung.²,³
4. Penghambat reseptor beta selektif beta-1
Contoh: Betaxolol
Keunggulan: Lebih aman untuk pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) ringan
Efek Samping: Efek sistemik lebih ringan, namun penurunan TIO tidak seoptimal obat lain
Farmakodinamik: Blokade beta-1 selektif → menurunkan produksi humor akuos
Catatan: Efektivitas penurunan TIO lebih rendah dibandingkan timolol.²,³
5. Agonis reseptor alfa-2 adrenergik
Contoh: Brimonidin, Apraklonidin
Keunggulan: Efek ganda (menurunkan produksi dan meningkatkan aliran uveoskleral)
Efek Samping: Sedasi, mulut kering, iritasi lokal, dan takifilaksis pada apraklonidin
Farmakodinamik: Aktivasi alfa-2 presinaptik → menurunkan norepinefrin → menurunkan produksi dan meningkatkan aliran humor akuos
Catatan: Brimonidin dipelajari untuk efek neuroprotektif, tetapi masih eksperimental.³,⁴
6. Agonis adrenergik non-selektif
Contoh: Epinefrin, Dipivefrin
Keunggulan: Menurunkan produksi dan meningkatkan aliran keluar humor akuos
Efek Samping: Takikardia, hipertensi, dan tremor
Farmakodinamik: Vasokonstriksi pembuluh darah siliaris → menurunkan produksi dan meningkatkan aliran uveoskleral
Catatan: Jarang digunakan karena efek samping sistemik yang tinggi.²,³
7. Penghambat enzim karbonik anhidrase topikal
Contoh: Dorzolamid, Brinzolamid
Keunggulan: Menjadi alternatif ketika beta-blocker menjadi kontraindikasi
Efek Samping: Rasa pahit di mulut, iritasi mata, dan konjungtivitis
Farmakodinamik: Inhibisi enzim karbonik anhidrase II → ↓ ion bikarbonat → ↓ produksi humor akuos
Catatan: Sering digunakan dalam kombinasi tetap dengan timolol (contoh: Cosopt).²,³
8. Penghambat enzim karbonik anhidrase oral sistemik
Contoh: Asetazolamid
Keunggulan: Memberikan efek cepat dan sistemik, sangat efektif untuk glaukoma akut
Efek Samping: Asidosis metabolik, parestesia, gangguan saluran cerna, hipokalemia dan batu ginjal
Farmakodinamik: Inhibisi sistemik CA-II → ↓ pembentukan HCO₃⁻ → ↓ produksi humor akuos
Catatan: Tidak untuk penggunaan jangka panjang; hindari pada pasien dengan gangguan ginjal.²,³
9. Miotik kolinergik (parasimpatis mimetik)
Contoh: Pilokarpin
Keunggulan: Membuka sudut iridokorneal dan efektif untuk glaukoma sudut tertutup
Efek Samping: Spasme akomodasi, penurunan penglihatan malam, dan nyeri alis
Farmakodinamik: Agonis reseptor muskarinik → kontraksi sfingter iris dan otot longitudinal → peningkatan aliran konvensional
Catatan: Kurang sesuai untuk pasien usia lanjut karena miosis berkelanjutan.³
10. Penghambat enzim kolinesterase
Contoh: Fisostigmin, Eserin
Keunggulan: Menghasilkan efek miotik yang kuat dan tahan lama
Efek Samping: Hipotensi, bradikardia, dan spasme otot siliar
Farmakodinamik: Inhibisi kolinesterase → ↑ asetilkolin endogen → miosis berkepanjangan
Catatan: Jarang digunakan karena toksisitas tinggi.²
11. Agen Hiperosmotik Oral
Contoh: Gliserin
Keunggulan: Dapat digunakan sebelum iridotomi laser pada kasus kornea buram
Efek Samping: Hiperglikemia, iritasi saluran cerna
Farmakodinamik: Meningkatkan osmolalitas plasma → menarik cairan dari bilik anterior → menurunkan TIO
Catatan: Hindari pada pasien dengan diabetes melitus.²,³
12. Agen Hiperosmotik Intravena
Contoh: Mannitol
Keunggulan: Penurunan TIO tercepat, digunakan untuk glaukoma akut
Efek Samping: Hiponatremia, gagal jantung, dan edema paru
Farmakodinamik: Serupa dengan gliserin, tetapi diberikan secara IV dengan potensi lebih tinggi
Catatan: Kontraindikasi absolut pada edema paru dan gagal ginjal.²
13. Penghambat enzim Rho kinase (Rho kinase inhibitor)
Contoh: Netarsudil, Ripasudil
Keunggulan: Target terapi baru yang bekerja langsung pada trabekular meshwork
Efek Samping: Hiperemia konjungtiva, nyeri, dan perdarahan konjungtiva
Farmakodinamik: Inhibisi Rho kinase → relaksasi trabekular meshwork dan kanal Schlemm → ↑ aliran konvensional
Catatan: Belum tersedia di Indonesia (Netarsudil tersedia di AS).⁵
Tabel Obat Anti Glaukoma
| Kelas Obat | Contoh Obat | Sediaan | Dosis | Penurunan TIO (%) | |
|---|---|---|---|---|---|
| Prostaglandin analog | Prostaglandin analog | Latanoprost, Travoprost | Tetes mata 0.005% | 1 tetes malam | 25–33% |
| Prostamide | Bimatoprost | Tetes mata 0.03% | 1 tetes malam | 27–35% | |
| Beta-blocker | Beta-blocker non-selektif | Timolol, Levobunolol, Carteolol | Tetes mata 0.25–0.5% | 1 tetes 2x/hari | 20–30% |
| Beta-blocker selektif β1 | Betaxolol | Tetes mata 0.25% | 1 tetes 2x/hari | 15–25% | |
| Alpha-2 agonist | Alpha-2 agonist | Brimonidin, Apraclonidin | Tetes mata 0.1–0.15% | 2–3x/hari | 20–25% |
| Alpha non-selektif | Epinefrin, Dipivefrin | Tetes mata 0.5–1% | 1 tetes 2x/hari | 15–25% | |
| CAI | CAI topikal | Dorzolamid, Brinzolamid | Tetes mata 2%, 1% | 2x/hari | 15–20% |
| CAI sistemik (oral) | Asetazolamid | Tablet 250 mg | 2–4x/hari | 20–30% | |
| Miotik | Miotik (kolinergik) | Pilokarpin, Karbakol | Tetes mata 1–4% | 1 tetes 3–4x/hari | 15–25% |
| Antikolinesterase | Antikolinesterase | Fisostigmin, Eserin | Tetes mata 0.25%–0.5% | 2–3x/hari | 15–20% |
| Hiperosmotik | Hiperosmotik oral | Gliserin (Glycerol) | Larutan 100% | 1–1.5 g/kgBB | 20–30% (sementara) |
| Hiperosmotik IV | Mannitol | Infus 20% | 1–2 g/kgBB IV cepat | 30–50% (sementara) | |
| Rho kinase inhibitor | ROCK Inhibitor | Netarsudil, Ripasudil | Tetes mata 0.02%, 0.4% | 1–2x/hari | 4–6 mmHg |
*Belum tersedia resmi di Indonesia
Tabel Obat Anti Glaukoma Kombinasi¹³,¹⁴ 🟨
| Golongan Kombinasi | Kelas Obat | Contoh Obat | Sediaan (% dan bentuk) | Dosis & Frekuensi | Perkiraan Penurunan TIO (%) |
|---|---|---|---|---|---|
| Beta-blocker + Prostaglandin analog | Beta-blocker non-selektif + Prostaglandin analog | Timolol + Latanoprost (Xalacom) | Timolol 0.5% + Latanoprost 0.005% (tetes mata) | 1 tetes malam hari | 33–36% |
| Beta-blocker + CAI topikal | Beta-blocker non-selektif + CAI topikal | Timolol + Dorzolamide (Cosopt) | Timolol 0.5% + Dorzolamide 2% (tetes mata) | 1 tetes 2x/hari | 27–35% |
| Beta-blocker + Alpha-2 agonist | Beta-blocker non-selektif + Alpha-2 agonist | Timolol + Brimonidin (Combigan) | Timolol 0.5% + Brimonidine 0.2% (tetes mata) | 1 tetes 2x/hari | 27–35% |
| Alpha-2 agonist + CAI topikal | Alpha-2 agonist + CAI topikal | Brimonidin + Brinzolamid (Simbrinza) | Brimonidine 0.2% + Brinzolamide 1% (tetes mata) | 1 tetes 2x/hari | 25–34% |