
Neuritis Optik
Definisi
Neuritis optik adalah peradangan dan demielinasi saraf optik yang mengakibatkan gangguan penglihatan akut atau subakut. Kondisi ini sering disertai nyeri di sekitar mata, khususnya saat menggerakkan bola mata. Neuritis optik paling sering menyerang perempuan berusia 15-45 tahun.¹,⁸
Etiologi
Neuritis optik dapat terjadi secara idiopatik atau terkait dengan:
Penyakit demielinatif seperti multiple sclerosis (MS)
Infeksi seperti virus (pasca infeksi), sifilis, HIV, dan penyakit Lyme
Penyakit autoimun seperti lupus dan sarkoidosis
Obat-obatan seperti etambutol dan isoniazid.²,⁶
Klasifikasi
Klasifikasi neuritis optik sangat penting untuk menentukan lokasi lesi, mengidentifikasi kemungkinan etiologi, dan menilai hubungannya dengan penyakit sistemik seperti multiple sclerosis. Kategorisasi ini membantu dokter menentukan pendekatan diagnostik yang tepat dan memperkirakan prognosis pasien.
Anamnesis
Penurunan visus akut-subakut: terjadi akibat demielinasi serabut aksonal yang menghantarkan impuls dari retina ke korteks visual, biasanya berlangsung dalam hitungan jam hingga hari.
Nyeri periorbital saat gerakan bola mata: disebabkan oleh inflamasi saraf optik yang meluas ke selubung saraf atau otot ekstraokular sekitarnya.
Skotoma sentral: gangguan pada serabut makular yang mempengaruhi bagian tengah lapang pandang.
Red desaturation dan diskromatopsia: berkurangnya persepsi warna (terutama merah) akibat disfungsi saraf optik.
Gejala neurologis sistemik (jika terkait MS): meliputi parestesia, kelemahan tungkai, dan gangguan koordinasi, yang mencerminkan lesi demielinasi multifokal di SSP.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada neuritis optik bertujuan menilai fungsi saraf optik dan mengevaluasi temuan oftalmoskopik atau neurologis yang menyertainya. Temuan khas meliputi:
Penurunan visus: bervariasi dari ringan hingga berat, bergantung pada luas demielinasi.
RAPD (Relative Afferent Pupillary Defect): positif pada lesi unilateral atau asimetris; menandakan gangguan konduksi aferen dari retina ke otak.
Fundus normal atau diskus edema: pada retrobulbar neuritis fundus tampak normal; pada papillitis terlihat edema papil, kadang disertai garis eksudat.
Red desaturation: warna merah tampak kusam, merupakan uji klinis yang sensitif untuk gangguan saraf optik.
Diskromatopsia: gangguan persepsi warna, terutama merah-hijau, meskipun visus sudah membaik.
Refleks pupil: reaksi cahaya langsung akan turun pada mata yang terkena, tetapi reaksi konsensual tetap normal.
Tajam penglihatan warna: dapat dinilai dengan tes Ishihara — menurun pada mata yang terkena.
Pemeriksaan lapang pandang: menunjukkan skotoma sentral atau arkuata.
Uhtoff's Sign: visus memburuk sementara setelah peningkatan suhu tubuh (misalnya saat olahraga, mandi air panas); tanda khas gangguan demielinasi pada neuritis optik dan MS.
Fenomena Pulfrich (opsional): gangguan persepsi kedalaman (3D) pada objek bergerak, terjadi bila visus kedua mata tidak seimbang.
Temuan ini penting untuk membedakan neuritis optik dari neuropati optik non-inflamasi, seperti iskemik atau toksik.
Pemeriksaan Tambahan
| Pemeriksaan | Tujuan | Hasil |
|---|---|---|
| MRI otak dan orbita (kontras dan non-kontras) | Mendeteksi lesi demielinasi di saraf optik dan otak, mengevaluasi risiko konversi ke MS | Lesi white matter hiperintens di T2/FLAIR, enhancement pada saraf optik |
| OCT (Optical Coherence Tomography) | Menilai ketebalan serabut saraf retina (RNFL) dan edema/kelainan makula | Penipisan RNFL, bisa normal pada awal kasus retrobulbar |
| VEP (Visual Evoked Potential) | Mengukur latensi transmisi impuls dari retina ke korteks visual | Latensi P100 memanjang, mencerminkan demielinasi |
| Tes Serologi (VDRL, HIV, ANA, ACE) | Skrining etiologi infeksi atau autoimun | Positif bila ada kondisi sistemik mendasari (mis. sifilis, lupus, sarkoidosis) |
Dasar Diagnosis
Diagnosis neuritis optik ditegakkan berdasarkan kombinasi temuan klinis dan penunjang berikut:
Gejala khas: penurunan visus akut-subakut, nyeri periorbital saat gerakan bola mata, dan skotoma sentral.
Pemeriksaan fisik: RAPD positif (pada kasus unilateral/asimetris), gangguan persepsi warna, dan red desaturation.
Funduskopi: tampilan normal (retrobulbar) atau diskus edema (papillitis).
MRI kontras/non-kontras: untuk mendeteksi lesi demielinasi pada saraf optik dan mengevaluasi kemungkinan multiple sclerosis.
VEP (bila MRI tidak tersedia): menunjukkan latensi P100 memanjang yang mengindikasikan demielinasi.
Diagnosis terutama bersifat klinis, dan perlu diingat bahwa tidak semua kasus menunjukkan edema papil. Pencitraan dan konfirmasi gangguan jalur visual diperlukan untuk memperkuat diagnosis.
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan Klinis |
|---|---|
| Neuropati optik iskemik | onset saat bangun, fundus edem, tak nyeri |
| Neuropati toksik | bilateral, progresif lambat, paparan toksin |
| Kompresi saraf optik | perlahan, bisa proptosis, defek lapang pandang khas |
| Papiledema | bilateral, visus normal awal, TIK tinggi |
| LHON | muda, pria, progresif, bilateral |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Observasi: dilakukan pada kasus ringan tanpa gangguan neurologis berat; sebagian besar pasien mengalami perbaikan spontan dalam 2–4 minggu.
Kompres hangat dan analgetik ringan: untuk meredakan nyeri periorbital.
Terapi suportif lain:
Manajemen nutrisi: suplemen vitamin B kompleks jika ada faktor risiko defisiensi.
Istirahat cukup dan manajemen stres: untuk mengurangi eksaserbasi neuroimun.
Hindari peningkatan suhu tubuh: jauhi aktivitas seperti olahraga berat atau mandi air panas, karena dapat memperburuk gejala (fenomena Uhtoff).
Farmakologis
| Obat | Dosis | Merek | Mekanisme |
|---|---|---|---|
| Methylprednisolone IV | 1g/hari × 3 hari | Solu-Medrol | antiinflamasi kuat, menstabilkan BBB |
| Prednison oral | 1 mg/kg × 11 hari + taper | Deltacortril | prodrug prednisolon, efek sistemik |
Penting: terapi hanya dengan steroid oral tanpa terapi intravena terbukti meningkatkan risiko relaps berdasarkan hasil ONTT. Oleh karena itu, protokol kombinasi lebih disarankan pada pasien dengan risiko tinggi MS atau defisit visus berat.
Komplikasi
Atrofi nervus optikus: terjadi akibat kerusakan aksonal kronis setelah demielinasi, menyebabkan hilangnya transmisi impuls visual secara permanen. Kondisi ini tampak sebagai papil optik yang pucat.
Relaps berulang: terjadi pada pasien dengan risiko autoimun sistemik atau yang tidak mengikuti protokol terapi. Hal ini dapat menyebabkan gangguan visual yang kumulatif.
Konversi ke multiple sclerosis (MS): sekitar 50% pasien berkembang menjadi MS dalam 15 tahun, terutama jika ditemukan lesi white matter multipel pada MRI awal.
Gangguan penglihatan menetap: meskipun visus dapat membaik, sebagian pasien tetap mengalami defisit kontras atau persepsi warna (diskromatopsia) jangka panjang.
Gangguan psikososial: gangguan penglihatan mendadak pada usia produktif dapat memengaruhi kualitas hidup, pekerjaan, dan kesehatan mental.
Prognosis
| Dimensi | Prognosis | Keterangan | Determinan Utama |
|---|---|---|---|
| Ad vitam | Dubia | Prognosis hidup umumnya baik; mortalitas sangat rendah | Komplikasi sistemik dari MS atau kondisi autoimun berat |
| Ad functionam | Bonam | Sebagian besar pasien mengalami pemulihan fungsi penglihatan | Derajat inflamasi awal, keterlambatan pengobatan |
| Ad sanationam | Malam | Risiko relaps dan konversi ke MS tetap tinggi terutama bila MRI positif awal | Temuan lesi white matter multipel pada MRI, riwayat MS |
Edukasi
Informasikan pasien bahwa mayoritas kasus neuritis optik membaik secara spontan dalam 2–4 minggu.
Jelaskan pentingnya pemeriksaan MRI untuk mengevaluasi risiko perkembangan multiple sclerosis dan menentukan kebutuhan pemantauan jangka panjang.
Instruksikan pasien untuk segera mencari pertolongan jika mengalami gangguan penglihatan berulang, nyeri mata, atau gejala neurologis lainnya.
Tekankan pentingnya kepatuhan terhadap protokol pengobatan kortikosteroid dan jadwal kontrol rutin.
Edukasi pasien untuk menghindari paparan suhu panas ekstrem yang dapat memicu kembali gejala (fenomena Uhthoff).
Rekomendasikan manajemen stres dan gaya hidup sehat sebagai bagian dari pendekatan neuroimunologis komprehensif.
Kriteria Rujukan
Tidak ada perbaikan penglihatan dalam 2–4 minggu
Disertai defisit neurologis lain
Kasus pada anak-anak atau lansia