
Miopia [4A]
Definisi
Miopia atau rabun jauh merupakan kelainan refraksi mata dimana cahaya dari objek jauh terfokus di depan retina, sehingga menyebabkan penglihatan jauh menjadi kabur.⁴,¹²
Etiologi
Miopia disebabkan oleh interaksi faktor genetik, lingkungan, dan anatomi bola mata:
Genetik
Riwayat keluarga miopia (terutama kedua orang tua).
Gen seperti PAX6 dan SIX6 berperan dalam regulasi pertumbuhan bola mata.⁴,⁵,⁶
Lingkungan
Kurangnya aktivitas luar ruangan → penurunan dopamin retina → elongasi bola mata.
Aktivitas melihat dekat berlebihan (membaca/gadget) → stres visual kronis.
Tingkat pendidikan tinggi dan urbanisasi → korelasi dengan beban akomodasi lebih berat.²,⁵,⁶
Anatomi dan Biometrik
Panjang aksial >24 mm (miopia aksial).
Kurvatur kornea terlalu cembung atau lensa terlalu kuat (miopia refraktif).¹,²,³
Lainnya
Defisiensi vitamin D dan kelainan kolagen (hipotesis awal).
Pencahayaan buruk dan kebiasaan visual buruk (mis. tanpa aturan 20-20-20).¹,³,⁴
Klasifikasi
Berdasarkan derajat refraksi:
Miopia ringan: < -3,00 D
Miopia sedang: -3,00 D hingga -6,00 D
Miopia tinggi: > -6,00 D
Berdasarkan mekanisme:
Miopia Aksial
Disebabkan oleh pemanjangan panjang aksial bola mata (>24 mm).
Tipe paling umum, terutama pada miopia tinggi.¹²,²⁰
Miopia Refraktif
Disebabkan oleh peningkatan kekuatan pembias media okular tanpa elongasi aksial:
Korneal: kornea terlalu cembung.
Lentikular: lensa terlalu cembung (mis. katarak nuklear).¹,³,⁵
Miopia Kongenital
Muncul sejak lahir, dapat stabil atau progresif.⁶
Miopia Maligna (Patologis)
Progresif, berat, dengan elongasi aksial ekstrem (>30 mm).
Berisiko komplikasi struktural retina.⁵,⁶
Patofisiologi
Miopia terjadi akibat panjang aksial bola mata yang lebih panjang dari normal atau karena kekuatan pembiasan media okular (kornea) terlalu kuat. Cahaya dari objek jauh difokuskan di depan retina, bukan tepat di atasnya, sehingga menimbulkan gambaran yang kabur.¹²
Anamnesis
Keluhan utama: penglihatan jauh kabur.
Sering menyipitkan mata saat melihat jauh → terjadi efek pinhole effect yang meningkatkan fokus cahaya di retina, sehingga sementara memperbaiki ketajaman visus.
Riwayat keluarga dengan miopia.
Kebiasaan membaca atau menggunakan gawai dalam waktu lama.⁴,⁵,⁶
Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan visus.
Pemeriksaan refraksi subjektif dan objektif.
Pemeriksaan slit lamp.
Oftalmoskopi untuk menilai retina.⁴,¹³
Pemeriksaan Tambahan⁴,⁵,¹²,¹³,²⁰
| Jenis Pemeriksaan | Fungsi | Tujuan |
|---|---|---|
| Biometri optik / ultrasound A-scan | Mengukur panjang aksial bola mata | Membedakan miopia aksial dan menilai progresivitas |
| Refraktometri (otomatis/subjektif) | Menentukan nilai refraksi dioptri | Mengklasifikasi derajat dan kebutuhan koreksi |
| Keratometri / topografi kornea | Mengukur kurvatura kornea | Menilai kemungkinan miopia refraktif dan syarat bedah refraktif |
| Optical Coherence Tomography (OCT) | Visualisasi retina dan nervus optikus | Mendeteksi degenerasi makula atau adanya glaukoma |
| Funduskopi / Foto Fundus | Pemeriksaan retina posterior | Mencari atrofi, miopic crescent, stafiloma posterior |
| Wide-field imaging / autofluoresensi | Dokumentasi retina perifer | Skrining ablasio retina dan degenerasi perifer |
Dasar Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
Keluhan kabur saat melihat jauh.
Perbaikan visus dengan lensa negatif.
Hasil refraktometri menunjukkan nilai dioptri negatif.
Panjang aksial >24 mm (jika tersedia pemeriksaan biometrik).⁴,¹²
Diagnosis Banding¹,³,⁴,⁵
| Diagnosis Banding | Ciri Khas Klinis | Perbedaan dari Miopia |
|---|---|---|
| Pseudomiopia | Spasme otot siliaris, fluktuatif | Dapat membaik dengan relaksan akomodasi, tidak tetap seperti miopia |
| Astigmatisme | Penglihatan kabur baik jauh maupun dekat | Penglihatan buram ke segala arah, bukan hanya jauh |
| Presbiopia | Kesulitan melihat dekat, usia >40 tahun | Miopia mempengaruhi jarak jauh, presbiopia mempengaruhi jarak dekat |
| Hipermetropia | Penglihatan kabur terutama dekat, disertai astenopia | Titik fokus di belakang retina, kebalikan dari miopia |
| Katarak nuklear dini | Penglihatan buram progresif, efek miopia semu pada usia lanjut | Tidak membaik sempurna dengan koreksi refraksi |
Penatalaksanaan
Tujuan Terapi
| Jenis | Tujuan |
|---|---|
| Non-Farmakologis | Koreksi refraksi dan menghambat progresi secara mekanik dan perilaku |
| Farmakologis | Menghambat elongasi aksial dan progresi pada anak |
| Operatif | Koreksi refraksi permanen dan bebas alat bantu optik |
Non-Farmakologis
Kacamata: Koreksi sederhana dan terjangkau.
Lensa kontak: Estetik dan praktis untuk aktivitas tertentu.
Orthokeratology: Menghambat progresi dengan reshaping kornea saat tidur.
Modifikasi gaya hidup: Aktivitas luar ruang dan pengurangan gadget.⁴,²⁰,⁴²
Farmakologis
Atropin dosis rendah (0,01%): Efektif memperlambat elongasi aksial pada anak.⁴²
Operasi
Laser-Assisted In Situ Keratomileusis (LASIK)
Reshaping kornea menggunakan laser.
Photorefractive Keratectomy (PRK)
Ablasi epitel kornea, alternatif LASIK pada kornea tipis.
Implantable Collamer Lens (ICL)
Lensa intraokular yang ditanam untuk koreksi miopia tinggi tanpa mengubah kornea.⁴
Komplikasi
Ablasio retina: Terjadi karena penarikan mekanik retina akibat pemanjangan aksial bola mata yang ekstrem pada miopia tinggi.
Glaukoma: Risiko meningkat akibat perubahan pada sudut bilik mata depan dan jaringan trabekular.
Degenerasi makula miopik: Terjadi karena penipisan dan perubahan struktur retina sentral akibat pemanjangan bola mata.
Stafiloma posterior: Penonjolan abnormal pada dinding posterior sklera akibat penipisan dan pelemahan jaringan karena peregangan bola mata.⁵,⁶,¹²,¹³,¹⁵,²⁰
Prognosis
Ad vitam: Bonam (baik)
Miopia tidak mengancam nyawa secara langsung, kecuali pada komplikasi sangat lanjut seperti ablasio retina berat yang tidak ditangani.
Ad functionam: Dubia ad malam (bervariasi hingga buruk)
Miopia tinggi dapat menyebabkan penurunan tajam fungsi penglihatan karena degenerasi makula miopik, glaukoma, atau ablasio retina.
Ad sanationam: Dubia (meragukan)
Tidak dapat disembuhkan secara permanen, namun bisa dikontrol dengan koreksi optikal atau tindakan bedah refraktif.
Edukasi kepada Pasien
Lakukan pemeriksaan mata secara rutin setiap tahun.
Pastikan selalu menggunakan koreksi lensa yang sesuai dan tepat.
Terapkan aturan 20-20-20 saat menggunakan perangkat digital: setiap 20 menit, alihkan pandangan sejauh 20 kaki selama 20 detik.
Anjurkan anak-anak untuk beraktivitas di luar ruangan minimal 2 jam setiap hari.²,⁴