
Konjungtivitis Trakoma
Definisi
Konjungtivitis trakoma adalah infeksi kronis pada konjungtiva oleh Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C, yang ditandai dengan pembentukan folikel, inflamasi kronis, jaringan parut konjungtiva, trichiasis, hingga kebutaan akibat kerusakan kornea. Penyakit ini merupakan penyebab kebutaan infeksius utama di dunia.⁶,⁷,¹¹,¹²
Etiologi dan Faktor Risiko
Penyebab utama: Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, C.
Faktor risiko:
Tinggal di daerah endemis dengan sanitasi buruk.
Kepadatan hunian tinggi.
Keterbatasan air bersih.
Kebiasaan higiene wajah buruk (sekret mata tidak dibersihkan).
Faktor sosial-ekonomi rendah.⁶,⁷,¹¹
Klasifikasi (WHO – 5 tanda klinis)
TF (Trachomatous Inflammation – Follicular): ≥5 folikel di konjungtiva tarsal superior.
TI (Trachomatous Inflammation – Intense): inflamasi tarsal difus menutupi pembuluh darah.
TS (Trachomatous Scarring): jaringan parut pada konjungtiva tarsal.
TT (Trachomatous Trichiasis): ≥1 bulu mata menyentuh bola mata/riwayat epilasi.
CO (Corneal Opacity): kekeruhan kornea yang menutupi pupil.⁶,⁷,¹¹
Stadium
Awal: TF, TI (inflamasi aktif).
Lanjut: TS, TT (jaringan parut, trichiasis).
Terminal: CO (opasitas kornea, kebutaan).⁶,⁷
Patofisiologi
C. trachomatis merupakan bakteri intraseluler obligat → hidup dalam sel epitel konjungtiva.
Infeksi kronis rekuren memicu respon imun seluler (Th1, Th17) → pelepasan sitokin proinflamasi (IL-1, TNF-α, IFN-γ).
Terjadi kerusakan progresif jaringan konjungtiva → fibrosis → entropion, trichiasis.
Bulu mata yang menggesek kornea menyebabkan ulkus, pannus, dan opasitas kornea hingga kebutaan.⁶,⁷,¹¹
Anamnesis
Awal: mata merah kronis, berair, rasa berpasir.
Anak-anak: sekret mukopurulen berulang.
Dewasa: gangguan penglihatan akibat trichiasis/kerusakan kornea.
Riwayat tinggal di daerah endemis dengan sanitasi rendah.
Pemeriksaan Fisik
Konjungtiva tarsal superior: folikel multipel, inflamasi difus.
Tanda kronis: jaringan parut tarsal (linear, putih keabu-abuan).
Kelopak mata: entropion, trichiasis.
Kornea: pannus (neovaskularisasi) superior, opasitas kornea, ulkus kronis.
Kelenjar limfa preaurikular: kadang membesar.
Pemeriksaan Penunjang
Pewarnaan Giemsa: inklusi intrasitoplasmik pada sel epitel konjungtiva.
PCR / NAAT (nucleic acid amplification test): standar emas untuk deteksi DNA C. trachomatis.
Kultur McCoy cell line: jarang digunakan, laboratorium khusus.
Tujuan: konfirmasi diagnosis, terutama untuk penelitian dan surveilans endemis.⁶,¹¹
Dasar Diagnosis
Klinis: gejala kronis, tanda khas WHO (TF–TI–TS–TT–CO).
Epidemiologi: tinggal di daerah endemis dengan sanitasi rendah.
Penunjang: PCR atau sitologi mendukung diagnosis.⁶,⁷
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan dengan Konjungtivitis Trakoma |
|---|---|
| Konjungtivitis klamidial inklusi (dewasa) | Onset subakut, sekret mukopurulen, riwayat seksual, tidak ada jaringan parut |
| Konjungtivitis bakteri kronis | Sekret purulen, tanpa folikel khas atau jaringan parut |
| Konjungtivitis viral kronis | Folikel, tapi biasanya membaik; tidak menyebabkan fibrosis |
| Konjungtivitis alergi kronis | Gatal dominan, papil besar, tanpa jaringan parut |
| Trachomatous scarring sekunder | Parut konjungtiva akibat trauma/operasi, bukan infeksi C. trachomatis |
Penatalaksanaan
Strategi WHO “SAFE”
Surgery: operasi untuk entropion atau trichiasis (bilamellar tarsal rotation).
Antibiotics: azitromisin oral 20 mg/kg dosis tunggal (maksimal 1 g) atau salep tetrasiklin 1% dua kali sehari selama 6 minggu.
Facial cleanliness: menjaga kebersihan wajah dan membersihkan sekret mata secara rutin.
Environmental improvement: perbaikan sanitasi, akses air bersih, dan kontrol lalat.⁶,⁷,¹¹
Farmakologis (terapi individu)
| Obat | Dosis | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Azitromisin oral | 20 mg/kg (maks 1 g) dosis tunggal | Makrolida, hambat sintesis protein |
| Tetrasiklin salep 1% | 2×/hari selama 6 minggu | Hambat sintesis protein bakteri |
| Eritromisin oral | Alternatif, 250–500 mg 4×/hari 2–3 minggu | Makrolida |
Komplikasi
Jaringan parut konjungtiva → deformitas kelopak.
Entropion dan trichiasis.
Ulkus kornea kronis.
Opasitas kornea → kebutaan irreversibel.
Prognosis
Ad Vitam — Bonam
Trakoma tidak mengancam kehidupan karena infeksi terbatas pada jaringan okular superfisial dan tidak bersifat sistemik. Tidak ada mortalitas, namun penyakit menular ini dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat endemik bila kontrol lingkungan tidak memadai.
Ad Functionam — Dubia ad Malam
Prognosis fungsi penglihatan bergantung pada tingkat keparahan kerusakan kornea dan jaringan parut tarsal. Kasus lanjut dengan entropion, trichiasis, atau opasitas kornea pusat dapat menyebabkan penurunan visus permanen atau kebutaan unilateral/bilateral.
Ad Sanationam — Dubia
Penyakit bersifat rekuren kronik karena reinfeksi mudah terjadi bila faktor lingkungan, higienitas, dan kepadatan penduduk tidak dikoreksi. Pengobatan antibiotik dapat mengeradikasi infeksi aktif, namun tidak memperbaiki kerusakan jaringan residu. Pencegahan berkelanjutan diperlukan untuk eliminasi total.¹,³,⁴,⁶,⁷
Edukasi Pasien
Kebersihan wajah dan mata penting untuk mencegah transmisi.
Jangan berbagi handuk atau kain.
Perbaikan sanitasi lingkungan dan akses air bersih.
Kepatuhan pengobatan antibiotik massal di daerah endemis.
Kriteria Rujukan
Pasien dengan trichiasis/entropion memerlukan tindakan bedah.
Pasien dengan komplikasi kornea (ulkus, opasitas).
Kasus rekuren atau stadium lanjut untuk penanganan operatif dan rehabilitasi visual.