
Konjungtivitis Gonokokus [4]
Definisi
Konjungtivitis gonokokus adalah konjungtivitis bakteri hiperakut akibat infeksi Neisseria gonorrhoeae. Kondisi ini ditandai oleh sekret purulen masif dan edema palpebra berat. Bakteri ini mampu menembus epitel kornea utuh, sehingga berisiko menyebabkan ulkus dan perforasi dalam 24–48 jam bila tidak segera diterapi.¹,²,³,¹¹

Epidemiologi
Secara global, gonore mencapai ±82 juta kasus baru per tahun, menjadikannya salah satu infeksi menular seksual tersering di dunia.
Keterlibatan okular merupakan manifestasi yang jarang, namun termasuk komplikasi serius karena dapat menyebabkan kerusakan kornea dengan cepat.
Lebih sering terjadi pada usia aktif seksual dengan perilaku seksual berisiko. Pada dewasa, infeksi terjadi melalui autoinokulasi sekret genital terinfeksi ke mata.
Pada neonatus (oftalmia neonatorum), gejala muncul 2–5 hari pasca persalinan pervaginam dari ibu dengan gonore aktif yang tidak diobati.
Tanpa profilaksis neonatal, risiko transmisi dari ibu terinfeksi ke bayi mencapai 30–50%.
Insidensi menurun di negara dengan profilaksis antibiotik neonatal rutin, namun tetap menjadi penyebab kebutaan neonatal di wilayah dengan akses pelayanan kesehatan terbatas.
Sering ditemukan koinfeksi Chlamydia trachomatis, sehingga skrining infeksi menular seksual lain direkomendasikan.¹,⁶,⁷,⁸,⁹,¹²
Etiologi
Etiologi utama: Neisseria gonorrhoeae
Diplokokus Gram-negatif intraseluler yang melekat dan menginvasi epitel konjungtiva melalui pili dan protein Opa, serta menghasilkan lipooligosakarida (LOS) yang memicu respons inflamasi intens.
Strain modern menunjukkan peningkatan resistensi terhadap fluoroquinolone.
Sefalosporin generasi ketiga (ceftriaxone) menjadi terapi lini pertama yang direkomendasikan.
Faktor Risiko
Dewasa: riwayat hubungan seksual berisiko, kontak tangan ke mata dari sekret genital terinfeksi.
Neonatus: lahir pervaginam dari ibu dengan gonore yang tidak diobati.
Predisposisi umum: higiene buruk, imunosupresi.¹,³,⁶,⁷,⁹,¹¹
Klasifikasi
Konjungtivitis gonokokus dibagi berdasarkan kelompok usia dan mekanisme transmisi:
Konjungtivitis Gonokokus Dewasa
Terjadi akibat autoinokulasi sekret genital terinfeksi ke mata.
Onset sangat cepat, biasanya dalam 12–24 jam setelah inokulasi.
Ditandai oleh sekret purulen masif, edema palpebra berat, dan nyeri signifikan.
Berisiko tinggi menyebabkan keterlibatan kornea dan perforasi dini bila tidak segera diterapi.¹,³
Oftalmia Neonatorum Gonokokus
TTerjadi akibat transmisi perinatal saat persalinan pervaginam dari ibu dengan gonore aktif.
Gejala muncul 2–5 hari setelah lahir.
Ditandai oleh edema palpebra masif dan sekret purulen sangat banyak.
Dapat disertai komplikasi sistemik seperti sepsis neonatal bila tidak segera ditangani.¹,⁶,⁸
Anamnesis
Pasien mengeluhkan mata merah dengan sekret purulen sangat banyak yang muncul mendadak dan memburuk cepat dalam 12–24 jam.
Keluhan sering disertai nyeri, rasa terbakar, fotofobia, dan edema palpebra berat sehingga sulit membuka mata.
Pada dewasa, tanyakan riwayat hubungan seksual berisiko, pasangan seksual multipel, atau infeksi menular seksual sebelumnya, karena infeksi sering terjadi akibat autoinokulasi sekret genital terinfeksi.
Pada neonatus, tanyakan riwayat persalinan pervaginam dari ibu dengan dugaan atau konfirmasi gonore, serta waktu munculnya gejala yang biasanya terjadi 2–5 hari setelah lahir.
Tanyakan gejala sistemik seperti demam atau tanda infeksi sistemik pada neonatus karena terdapat risiko sepsis.¹,³,⁶,⁷,⁸,⁹
Pemeriksaan Fisik
Palpebra: edema masif dan tegang, sering disertai nyeri tekan sehingga pasien sulit membuka mata.
Konjungtiva: hiperemia difus dengan chemosis berat akibat inflamasi akut intens.
Sekret: cairan purulen kental berwarna kuning–hijau yang keluar terus-menerus dan dapat memenuhi kembali forniks segera setelah dibersihkan.
Slit lamp: dapat ditemukan pseudomembran atau perdarahan subkonjungtiva akibat inflamasi berat.
Kornea: harus dievaluasi secara hati-hati untuk mendeteksi infiltrat perifer, ulkus, atau penipisan stroma yang berisiko menyebabkan perforasi dini.
Neonatus: perlu dinilai tanda infeksi sistemik seperti demam atau letargi yang dapat mengarah pada sepsis.¹,³,⁵,⁸
Pemeriksaan Penunjang
Pewarnaan Gram dilakukan untuk identifikasi cepat dengan mendeteksi diplokokus Gram-negatif intraseluler dalam neutrofil, temuan yang sangat khas untuk Neisseria gonorrhoeae.
Kultur bakteri pada media selektif dilakukan untuk konfirmasi diagnosis dan uji sensitivitas antibiotik, mengingat meningkatnya resistensi global.
NAAT atau PCR dapat mendeteksi materi genetik N. gonorrhoeae dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi, terutama bila kultur sulit dilakukan atau fasilitas terbatas.
Pasien perlu menjalani skrining infeksi menular seksual lain, termasuk Chlamydia trachomatis, HIV, dan sifilis, karena koinfeksi sering ditemukan.
Pada kasus dengan gambaran klinis hiperakut yang khas, terapi antibiotik sistemik harus diberikan segera tanpa menunggu hasil pemeriksaan penunjang.¹,⁷,⁸,⁹
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan dengan Konjungtivitis Gonokokus |
|---|---|
| Konjungtivitis bakteri non-gonokokus | Sekret purulen lebih ringan, progresivitas tidak secepat dan jarang menyebabkan perforasi kornea. |
| Konjungtivitis klamidial (inclusion conjunctivitis) | Onset subakut dengan sekret mukopurulen dan dominasi folikel konjungtiva tanpa edema palpebra masif. |
| Konjungtivitis viral | Sekret serosa, disertai limfadenopati preaurikular dan tidak menghasilkan sekret purulen hiperakut. |
| Konjungtivitis alergi | Gatal dominan dengan sekret mukoid dan riwayat atopik tanpa discharge purulen berat. |
| Endoftalmitis | Disertai penurunan tajam penglihatan dan nyeri intraokular berat dengan inflamasi segmen posterior. |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Perlakukan pasien sebagai kegawatdaruratan oftalmologi dan rujuk segera ke fasilitas dengan layanan spesialis mata, terutama bila terdapat keterlibatan kornea.
Lakukan irigasi sekret secara berkala dengan larutan saline steril untuk mengurangi beban bakteri dan mencegah akumulasi sekret yang memperberat inflamasi.
Berikan edukasi mengenai higiene tangan yang ketat dan hindari menyentuh atau menggosok mata untuk mencegah penyebaran infeksi.
Pada pasien dewasa, lakukan konseling perilaku seksual aman serta anjurkan pemeriksaan dan pengobatan pasangan seksual.
Pada neonatus, lakukan evaluasi dan tata laksana ibu serta pasangan seksual, disertai pemantauan ketat terhadap kemungkinan komplikasi sistemik.¹,⁷,⁸,⁹
Farmakologis
| Obat & Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Ceftriaxone (IM/IV) | Dewasa: 1 g IM dosis tunggal; Neonatus: 25–50 mg/kg IM/IV dosis tunggal (maks 125 mg) | Sefalosporin generasi III yang bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri melalui ikatan pada penicillin-binding proteins (PBP) sehingga menyebabkan lisis bakteri (bakterisidal). |
| Cefotaxime (IV) | 100 mg/kg/hari IV (neonatus, bila kontraindikasi ceftriaxone) | Sefalosporin generasi III dengan mekanisme menghambat pembentukan peptidoglikan dinding sel bakteri, bersifat bakterisidal terhadap N. gonorrhoeae. |
| Azitromisin (oral) | 1 g oral dosis tunggal (bila dicurigai koinfeksi Chlamydia trachomatis) | Makrolida yang bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan pada subunit ribosom 50S, bersifat bakteriostatik dan efektif pada koinfeksi klamidia. |
| Tobramisin/Gentamisin tetes | 4–6 kali per hari sebagai terapi tambahan | Aminoglikosida yang bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan pada subunit ribosom 30S, bersifat bakterisidal lokal dan digunakan sebagai terapi adjuvan. |
Catatan:
Antibiotik sistemik wajib diberikan, antibiotik topikal hanya sebagai tambahan.
Fluoroquinolone tidak direkomendasikan karena meningkatnya resistensi Neisseria gonorrhoeae.
Terapi harus segera diberikan setelah kecurigaan klinis kuat tanpa menunggu hasil kultur.¹,⁶,⁷,⁹
Komplikasi
Ulkus kornea, terjadi akibat penetrasi bakteri dan pelepasan enzim proteolitik dari neutrofil yang menghancurkan epitel dan stroma kornea secara cepat.
Perforasi kornea, Inflamasi berat dan degradasi kolagen stroma menyebabkan penipisan progresif hingga terbentuk defek penuh dalam 24–48 jam bila terapi terlambat.
Endoftalmitis, Penyebaran infeksi ke segmen posterior menimbulkan inflamasi intraokular berat yang mengancam penglihatan permanen.
Parut kornea permanen, Penyembuhan ulkus dalam dapat meninggalkan jaringan parut yang mengganggu aksis visual dan menurunkan tajam penglihatan.
Sepsis neonatal, Pada neonatus, bakteri dapat menyebar secara hematogen dan menyebabkan infeksi sistemik yang berpotensi fatal bila tidak segera ditangani.¹,³,⁸
Prognosis
Ad vitam: Dubia pada neonatus dengan komplikasi sistemikPrognosis kehidupan umumnya baik bila terapi segera diberikan, namun menjadi dubia pada neonatus yang mengalami sepsis atau infeksi sistemik berat.
Ad functionam: Dubia–malam bila terjadi keterlibatan korneaPrognosis fungsi penglihatan bergantung pada derajat kerusakan kornea—perforasi atau parut sentral dapat menyebabkan penurunan visus permanen.
Ad sanationam: Bonam bila terapi sistemik diberikan diniDengan antibiotik sistemik segera dan tata laksana tepat, infeksi umumnya sembuh tanpa kerusakan struktural.¹,³,⁸
Edukasi Pasien
Konjungtivitis gonokokus adalah infeksi berat dan kegawatdaruratan mata yang dapat merusak kornea dalam waktu singkat bila tidak segera diobati.
Pasien harus memahami bahwa antibiotik sistemik wajib diberikan dan tidak boleh dihentikan sebelum evaluasi ulang oleh dokter.
Tekankan pentingnya higiene tangan yang ketat dan menghindari menyentuh atau menggosok mata untuk mencegah penyebaran infeksi.
Pada pasien dewasa, lakukan pemeriksaan dan pengobatan pasangan seksual serta berikan edukasi mengenai perilaku seksual aman untuk mencegah reinfeksi.
Pada neonatus, orang tua harus segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan bila muncul mata bernanah dalam 5 hari pertama kehidupan dan memastikan ibu mendapatkan pemeriksaan serta terapi IMS yang adekuat.¹,³,⁶,⁷,⁸,⁹
Kriteria Rujukan
Semua kasus konjungtivitis gonokokus harus dirujuk sebagai kegawatdaruratan oftalmologi setelah pemberian terapi sistemik awal karena risiko perforasi kornea yang cepat.
Pasien dengan infiltrat, ulkus, atau penipisan kornea memerlukan rujukan segera ke spesialis mata untuk evaluasi dan tata laksana lanjutan.
Neonatus dengan oftalmia gonokokus harus dirujuk dan dirawat inap untuk pemantauan ketat serta evaluasi kemungkinan komplikasi sistemik.
Pasien dengan dugaan infeksi sistemik atau tanda sepsis memerlukan perawatan multidisiplin dan evaluasi komprehensif.
Bila fasilitas primer tidak memiliki kemampuan pemeriksaan mikrobiologi atau terapi parenteral, rujuk pasien segera tanpa menunda pemberian antibiotik awal.¹,³,⁸,¹³,¹⁴