Keratokonus [2]

Keratokonus [2]


Definisi dan Batasan

Keratokonus adalah penyakit progresif non-inflamasi yang mempengaruhi kornea secara bilateral.

Ditandai dengan penipisan dan penonjolan pada bagian tengah atau inferior kornea, sehingga membentuk struktur menyerupai kerucut.

Perubahan bentuk kornea ini mengakibatkan gangguan penglihatan karena timbulnya astigmatisme ireguler dan miopia progresif.⁷


Etiologi

Etiologi pasti belum diketahui, namun keratokonus dianggap sebagai kondisi multifaktorial yang melibatkan predisposisi genetik, pengaruh lingkungan, dan kelainan biomekanik kornea.

Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi:

Genetik: Sekitar 10–20% pasien memiliki riwayat keluarga dengan keratokonus, menunjukkan adanya komponen herediter.

Mekanis: Kebiasaan mengucek mata berulang berhubungan signifikan dengan perkembangan dan progresi keratokonus melalui trauma mikroskopis pada epitel kornea.

Kelainan jaringan ikat: Sering dikaitkan dengan sindrom sistemik seperti Sindrom Down, Marfan, dan Ehlers-Danlos yang semuanya melibatkan kelemahan struktur kolagen.

Stres oksidatif dan disfungsi enzimatik: Ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan sistem pertahanan antioksidan kornea menyebabkan kerusakan matriks kolagen dan penipisan stroma.

Faktor inflamasi subklinis: Meskipun secara definisi bukan penyakit inflamasi, beberapa penelitian menunjukkan peningkatan ekspresi sitokin pro-inflamasi pada air mata pasien keratokonus.¹,²,³,⁷,¹²

Faktor Risiko

Riwayat keluarga positif: risiko meningkat 15–67 kali dibanding populasi umum.

Kebiasaan mengucek mata kronis: terutama pada pasien dengan atopi atau alergi okular.

Atopi (asma, rinitis alergi, dermatitis atopik): meningkatkan risiko keratokonus karena kecenderungan mengucek mata.

Paparan sinar UV berlebih: meningkatkan stres oksidatif dan kerusakan kolagen kornea.

Pemakaian lensa kontak yang tidak tepat: dapat mempercepat stres biomekanik kornea jika fitting buruk.

Sindrom sistemik: seperti Down syndrome, Marfan, dan Ehlers-Danlos.²,⁷,¹²



Stadium

Stadium klinis progresif:

Stadium awal: visus menurun ringan, tidak membaik dengan kacamata.

Stadium lanjut: muncul tanda Fleischer ring, striae Vogt, Munson's sign.



Anamnesis

Penurunan penglihatan progresif → akibat astigmatisme ireguler.

Tidak membaik dengan kacamata → karena aberasi optik kornea.

Fotofobia, penglihatan kabur dan distorsi → karena bentuk kornea abnormal.

Keluhan diplopia monokular dan sering muncul masa remaja.


Pemeriksaan Fisik

Fleischer ring: deposisi hemosiderin berbentuk cincin pada epitel basal.

Striae Vogt: garis vertikal halus pada stroma akibat tekanan mekanik.

Refleks oil droplet: refleksi abnormal dari permukaan kornea konus.

Visus: menurun dan tidak membaik dengan koreksi sferik biasa.


Pemeriksaan Tambahan

PemeriksaanTujuan & PrinsipHasil
KeratometriMenilai kelengkungan korneaAstigmatisme ireguler > 47 D
Topografi KorneaVisualisasi 3D permukaan korneaKonus inferior, pola crab claw
RetinoskopiPemeriksaan refleks retinoskopScissor reflex (khas keratokonus)
Slit lampMelihat struktur korneaPenipisan, striae, ring, dan lipatan Descemet
OCT KorneaHigh-resolution tomografiEvaluasi penipisan, elevasi posterior
PachymetryMengukur ketebalan kornea sentral< 500 µm

Dasar Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

Riwayat gejala progresif.

Temuan fisik seperti Fleischer ring dan striae Vogt.

Pemeriksaan topografi kornea: pola ireguler, konus inferior.

Refleks retinoskopi abnormal.


Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan Utama
Distrofi korneaUmumnya non-progresif dan simetris, tanpa bentuk konus
KeratoglobusPenonjolan seluruh kornea, bukan fokal
PMD (Pellucid Marginal Degeneration)Penipisan pada kornea perifer (biasanya inferior) inferior perifer, bukan sentral
Degenerasi marginalBiasanya disertai vaskularisasi dan unilateral
Trauma kornea lamaAda riwayat trauma, tidak membentuk konus khas keratokonus

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Edukasi untuk tidak mengucek mata.

Gunakan pelindung mata jika sering mengalami trauma atau gesekan.

Farmakologis

Obat/SediaanDosis & FrekuensiMerekMekanisme/Farmakokinetik
Larutan salin hipertonik 5%4-6×/hari pada hidropsMuro 128Osmosis: menarik cairan dari stroma kornea
Sikloplegik (Atropin 1%)2-3×/hari untuk nyeri hidropsAtropineRelaksasi m. siliaris dan pupil

Lensa Kontak

Terapi lensa kontak digunakan untuk mengoreksi astigmatisme ireguler dan memperbaiki ketajaman visual pada pasien keratokonus. Pemilihan jenis lensa bergantung pada derajat kelainan topografi kornea, kenyamanan pasien, dan ketersediaan teknologi optik.

Rigid Gas Permeable (RGP): lensa standar untuk keratokonus ringan hingga sedang. Kekakuannya memungkinkan koreksi aberasi permukaan kornea dan memberikan visus lebih tajam dibandingkan kacamata. Namun, beberapa pasien mungkin tidak nyaman karena lensa bersandar langsung pada puncak konus.

Piggyback system: kombinasi lensa lunak (soft lens) di bawah dan RGP di atas. Digunakan saat pasien mengalami iritasi atau intoleransi terhadap RGP langsung. Lensa lunak berfungsi sebagai bantalan agar RGP lebih nyaman.

Hybrid lens: memiliki bagian tengah keras (seperti RGP) dan bagian perifer lunak. Memberikan ketajaman visual baik dengan kenyamanan seperti soft lens. Cocok untuk pasien dengan sensitivitas tinggi terhadap RGP biasa.

Scleral lens: lensa berukuran besar yang menutupi seluruh kornea dan sebagian sklera, "mengambang" di atas kornea karena adanya reservoir cairan. Sangat berguna pada keratokonus berat, kornea sangat ireguler, atau post-hidrops. Meminimalkan kontak langsung dengan puncak konus dan memberikan kenyamanan tinggi.

Custom soft lens: tersedia secara terbatas, didesain khusus untuk menyesuaikan bentuk kornea abnormal. Tidak seefektif RGP atau scleral lens untuk koreksi astigmatisme ireguler, tetapi dapat digunakan pada kasus ringan atau sebagai pilihan sementara.

Evaluasi dan fitting lensa harus dilakukan secara individual dan berkala karena progresivitas keratokonus dapat menyebabkan perubahan bentuk kornea yang mengubah stabilitas dan efektivitas lensa.

Operasi

ProsedurIndikasiTeknik & Prinsip
CXL (Cross-Linking)Kasus progresif dalam 6 bulan terakhirRiboflavin + UV-A, meningkatkan ikatan kolagen
Ring Intacs (intrastromal corneal ring segments (ICRS)Astigmatisme ireguler sedangImplantasi segmen akrilik pada stroma perifer
Keratoplasti (PK, DALK)Kerusakan kornea berat atau opasitasTransplantasi seluruh lapisan atau parsial

Komplikasi

Hidrops kornea: ruptur membran Descemet akibat tekanan mekanik tinggi yang menyebabkan edema kornea masif dan nyeri berat.

Parut kornea: terjadi akibat peradangan pasca-hidrops dan dapat mengganggu visus.

Infeksi kornea sekunder: dapat terjadi akibat penggunaan lensa kontak yang tidak steril atau trauma minor.


Prognosis

Ad vitam: Baik, karena tidak mengancam nyawa.

Ad functionam: Baik hingga sedang, tergantung pada progresivitas dan respons terhadap terapi.

Ad sanationam: Tidak dapat sembuh sempurna; terapi bertujuan untuk stabilisasi dan rehabilitasi visual.


Edukasi Pasien

Hindari mengucek mata.

Lakukan kontrol berkala topografi kornea.

Batasi pemakaian lensa kontak dalam waktu lama.

Waspadai gejala hidrops dan segera periksakan diri jika visus turun mendadak.

Edukasi keluarga untuk skrining awal.


Kriteria Rujukan

Tidak ada perbaikan visus dengan koreksi refraksi.

Astigmatisme meningkat cepat dalam 6 bulan terakhir.

Terdapat komplikasi seperti hidrops kornea atau parut signifikan.

Memerlukan terapi lanjut seperti CXL atau keratoplasti.


Catatan

Deteksi dini sangat penting karena tindakan seperti CXL hanya efektif pada fase progresif awal.

Pemeriksaan dengan pentacam atau sistem Scheimpflug sangat membantu menilai elevasi posterior kornea.


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini