
Keratitis [3A]
Definisi
Keratitis adalah peradangan pada kornea yang disebabkan oleh agen infeksi (bakteri, virus, jamur, parasit) atau faktor non-infeksi seperti trauma, paparan sinar ultraviolet, toksisitas obat topikal, gangguan permukaan okular, dan penyakit autoimun.¹

Epidemiologi
Insidensi keratitis infeksi berkisar 2,5–799 per 100.000 populasi per tahun, dengan angka lebih tinggi di negara berkembang.
Di negara maju, 30–65% kasus terkait penggunaan lensa kontak; di negara berkembang, 40–60% kasus terkait trauma kornea.
Keratitis adalah penyebab utama kebutaan kornea. Diperkirakan 4–5 juta orang secara global mengalami gangguan penglihatan berat atau kebutaan bilateral akibat kondisi ini.
Kelompok berisiko tinggi meliputi pengguna lensa kontak, individu dengan trauma kornea, gangguan permukaan okular kronik, dan kondisi imunosupresi.¹-⁵
Etiologi
Bakteri: Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Neisseria gonorrhoeae
Jamur: Fusarium spp., Aspergillus spp., Candida spp.
Virus: Herpes simplex virus (HSV), Varicella zoster virus
Parasit: Acanthamoeba spp.
Non-infeksius: penyakit autoimun (contoh: keratitis interstisial), dry eye berat, toksisitas obat tetes mata, trauma minor berulang.²,³
Klasifikasi
Berdasarkan kedalaman keterlibatan jaringan
Keratitis superfisial: melibatkan epitel atau subepitel kornea
Keratitis stromal (deep): melibatkan stroma hingga lapisan posterior, dengan risiko tinggi kerusakan struktural permanen
Anamnesis
Nyeri merupakan keluhan utama pada keratitis yang terjadi akibat stimulasi saraf trigeminal di kornea.
Fotofobia timbul akibat iritasi kornea yang memicu refleks nyeri dan spasme iris, sering menyertai keratitis dengan defek epitel aktif.
Penglihatan buram terjadi akibat edema kornea, infiltrat pada visual aksis, atau ulkus kornea.
Lakrimasi berlebihan merupakan respons refleks terhadap iritasi kornea, sering disertai rasa perih atau terbakar.
Rasa mengganjal atau sensasi benda asing menandakan gangguan epitel kornea, terutama pada keratitis superfisial dengan defek epitel.
Nyeri hebat yang tidak sebanding dengan temuan klinis awal merupakan petunjuk penting keterlibatan saraf kornea, dapat mengarah pada keratitis neurotropik atau Acanthamoeba pada fase dini.
Penurunan penglihatan progresif atau mendadak merupakan tanda peringatan keratitis berat dan kemungkinan komplikasi.¹-⁵
Pemeriksaan Fisik
Tanda Superfisial (Epitel dan Subepitel)
Defek epitel kornea berupa punctate epithelial erosions yang terwarnai dengan fluorescein. Ini adalah tanda paling awal keratitis dan menunjukkan gangguan barier epitel.
Punctate epithelial keratitis tampak sebagai sel epitel granular dan opalesen dengan infiltrat intraepitel fokal. Mencerminkan keterlibatan epitel yang aktif.
Infiltrat subepitel berupa opasitas kecil non-staining di bawah epitel. Sering dijumpai pada inflamasi superfisial pascainfeksi.
Filamen kornea berupa untaian mukus bercampur epitel yang melekat pada permukaan kornea. Sering terkait gangguan permukaan okular kronik.
Edema epitel kornea ditandai hilangnya kilau normal kornea atau munculnya vesikel epitel.
Neovaskularisasi superfisial atau pannus menandakan iritasi kronik atau hipoksia kornea.¹-³

Tanda pada stroma dan lapisan posterior
Infiltrat stromal tampak sebagai opasitas putih-abu atau kekuningan di stroma, menandakan fokus inflamasi aktif pada keratitis sedang hingga berat.
Ulkus kornea merupakan eksavasi jaringan kornea yang selalu disertai defek epitel dan infiltrat, menandakan destruksi jaringan dengan risiko perforasi.
Penipisan kornea atau corneal melting mencerminkan disintegrasi jaringan akibat aktivitas enzimatik, tanda kegawatan oftalmologis.
Lipatan membran Descemet (striate keratopathy) menandakan edema kornea berat akibat inflamasi dalam atau trauma.
Descemetocele berupa herniasi membran Descemet, tanda pra-perforasi yang memerlukan rujukan segera.
Uji Seidel positif menunjukkan kebocoran humor akuos akibat perforasi kornea, kondisi gawat darurat.¹,²

Prinsip Penatalaksanaan Keratitis
Penatalaksanaan keratitis bertujuan mengendalikan infeksi dan inflamasi serta mempertahankan integritas epitel kornea untuk mencegah progresivitas penipisan dan komplikasi berat.
A. Pengendalian Infeksi dan Inflamasi
Agen antimikroba harus diberikan segera setelah pemeriksaan awal dan pengambilan sampel bila diperlukan, dengan pemilihan awal bersifat spektrum luas berdasarkan temuan klinis dan dugaan etiologi. Terapi dapat disesuaikan menjadi lebih selektif setelah hasil pemeriksaan penunjang tersedia.
Kortikosteroid topikal harus digunakan dengan sangat hati-hati, karena dapat meningkatkan replikasi mikroorganisme tertentu (terutama Herpes simplex virus dan jamur) serta menghambat proses penyembuhan epitel. Meskipun demikian, pada kondisi tertentu steroid tetap esensial untuk menekan inflamasi destruktif yang mengancam fungsi visual, dan penggunaannya harus berada di bawah pengawasan ketat.
Imunosupresan sistemik bermanfaat pada kondisi tertentu, khususnya keratitis terkait penyakit autoimun, sebagai bagian dari pengendalian respons inflamasi sistemik.¹,²,³
B. Promosi Penyembuhan Epitel Kornea
Re-epitelisasi merupakan aspek kunci dalam semua penyakit kornea, karena penipisan kornea jarang berlanjut bila epitel tetap utuh.

Kurangi atau hentikan paparan obat topikal toksik dan pengawet sedapat mungkin untuk mencegah keterlambatan penyembuhan epitel.
Lubrikasi intensif dengan air mata buatan (tanpa pengawet bila memungkinkan) dan salep mata. Penutupan kelopak mata sementara pada malam hari dapat digunakan sebagai terapi tambahan.
Profilaksis antibiotik salep dapat dipertimbangkan untuk mencegah superinfeksi pada defek epitel persisten.
Bandage soft contact lens dapat digunakan dengan pengawasan ketat dan durasi sesingkat mungkin. Indikasi meliputi: melindungi epitel yang beregenerasi dari gesekan kelopak, meningkatkan kenyamanan pada abrasi luas, dan membantu menutup perforasi kecil.
Penutupan kelopak mata secara bedah (tarsorrhaphy) sangat bermanfaat pada keratopati paparan, keratitis neurotropik, dan defek epitel persisten. Metode ini juga dapat digunakan sebagai pendekatan konservatif pada ulkus infeksi tertentu dengan potensi visual buruk.¹Bentuk tindakan meliputi induksi ptosis sementara dengan toksin botulinum, tarsorrhaphy lateral atau medial, dan pada kasus terpilih tarsorrhaphy sentral.
Flap konjungtiva (Gundersen flap) digunakan untuk melindungi kornea dan memungkinkan penyembuhan defek epitel kronik, terutama pada penyakit unilateral dengan prognosis visual buruk. Mukosa bukal dapat menjadi alternatif.
Cangkok membran amnion direkomendasikan pada defek epitel persisten yang tidak responsif terhadap terapi konservatif.
Tissue adhesive (lem sianokrilat) dapat digunakan untuk menutup perforasi kecil kornea, biasanya dikombinasikan dengan bandage contact lens untuk kenyamanan dan stabilitas.
Corneal cross-linking (PACK-CXL) menggunakan UV-A dan riboflavin dapat dipertimbangkan pada infeksi kornea resisten, terutama bila terdapat tanda corneal melting. Umumnya digunakan sebagai terapi tambahan bersama antimikroba standar.
Transplantasi sel punca limbal dapat dilakukan pada kondisi dengan defisiensi sel punca, seperti luka bakar kimia atau konjungtivitis sikatrikans. Teknik menggunakan autograft atau allograft sesuai keterlibatan unilateral atau bilateral.
Merokok menghambat proses epitelisasi dan harus dihentikan karena berdampak buruk terhadap penyembuhan kornea.¹,²