
Iridosiklitis / Iritis (Anterior Uveitis) [3A]
Definisi dan Batasan
Iridosiklitis adalah peradangan pada iris dan badan siliaris bagian anterior.
iritis adalah peradangan pada iris.
Uveitis anterior merupakan bentuk uveitis yang paling sering dijumpai dalam praktik klinik.¹,²,³

Etiologi
Klasifikasi
Berdasarkan International Uveitis Study Group (IUSG) dan Standardization of Uveitis Nomenclature (SUN) Working Group (revisi 2021).
Patofisiologi 🟨
Iridosiklitis berkembang melalui empat tahap yang saling berkesinambungan:
Anamnesis
1. Keluhan Utama
2. Keluhan Penyerta
3. Riwayat Penyakit dan Faktor Predisposisi
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Tambahan 🟨
Dasar Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala khas, temuan pemeriksaan segmen anterior, dan eksklusi penyebab lain seperti glaukoma akut atau konjungtivitis.¹–⁶
Kriteria Diagnosis Klinis (AAO & SUN Working Group)
Ditemukan sel inflamasi dalam bilik mata depan pada slit-lamp (cells) dengan atau tanpa flare
Adanya tanda inflamasi sekunder seperti KP, sinekia, atau nodul iris;
Tidak ditemukan penyebab lain yang menjelaskan inflamasi anterior bola mata.³,⁵,⁶
⚠️ Diagnosis iridosiklitis atau uveitis anterior dapat ditegakkan secara klinis tanpa pemeriksaan tambahan lainnya ⁴,⁵,¹¹
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Ciri Pembeda Klinis Utama |
|---|---|
| Konjungtivitis | Terdapat sekret mukopurulen dan hiperemia konjungtiva difus; tidak ada nyeri bola mata dalam, cells and flare, atau perubahan pupil.¹ |
| Glaukoma Sudut Tertutup Akut | Nyeri hebat disertai sakit kepala dan mual; kornea edem, pupil midriasis tetap, dan TIO sangat tinggi (>40 mmHg).² |
| Scleritis | Nyeri dalam dan berat hingga menjalar ke wajah; warna merah kebiruan pada sklera, tanpa inflamasi bilik mata depan.³ |
| Endoftalmitis | Nyeri sangat berat dengan penurunan visus drastis; terdapat vitritis dan fundus tidak tampak, sering pasca operasi atau trauma.⁴ |
| Masquerade Syndrome | Tampak seperti uveitis namun tidak responsif terhadap steroid; terdapat sel atipik pada humor akuos atau vitreus (limfoma/leukemia).⁵ |
Penatalaksanaan
Tujuan tatalaksana : mengendalikan inflamasi, mencegah komplikasi , dan mengatasi penyebab yang mendasari.¹–⁷
1. Non-Farmakologis
Pendekatan konservatif menjadi dasar penanganan awal di layanan primer.
Istirahat mata dan hindari cahaya terang untuk mengurangi nyeri akibat fotofobia.
Gunakan kacamata hitam untuk menurunkan refleks pupil terhadap cahaya.
Edukasi kepatuhan terapi: tetes steroid dan sikloplegik harus digunakan sesuai jadwal untuk mencegah sinekia.
Pantau tekanan intraokular (TIO) secara berkala selama terapi steroid.¹,²,⁶
2. Farmakologis
3. Operatif 🟨
Terapi bedah hanya dilakukan bila komplikasi sekunder tidak dapat dikendalikan dengan obat.
Iridektomi: mengatasi blok pupil akibat sinekia totalis.
Synechiolysis: melepaskan sinekia
Operasi katarak/implantasi IOL sekunder: dilakukan setelah inflamasi terkontrol penuh minimal 3 bulan.
Filtrasi glaukoma (trabekulektomi atau MIGS): untuk glaukoma sekunder yang refrakter terhadap terapi medikamentosa.¹,³
Komplikasi
Komplikasi terjadi karena : inflamasi kronik, penggunaan steroid jangka panjang, atau sinekia.
Prognosis
Edukasi Pasien
Penjelasan penyakit: Iridosiklitis adalah peradangan pada bagian dalam bola mata (iris dan badan siliaris) yang menyebabkan nyeri, silau, dan penglihatan kabur. Penyakit ini tidak menular, tetapi dapat kambuh bila terapi dihentikan terlalu cepat.
Tujuan terapi: Mengendalikan peradangan untuk mencegah komplikasi seperti katarak dan glaukoma sekunder.
Kepatuhan obat: Gunakan tetes mata sesuai jadwal (kortikosteroid dan sikloplegik). Jangan menghentikan obat secara mendadak. Hindari ujung botol menyentuh mata.
Kontrol berkala: Lakukan pemantauan tekanan bola mata (TIO) secara rutin. Segera datang bila nyeri berat, visus menurun, atau mata merah kembali.
Perawatan mandiri: Gunakan kacamata gelap, istirahat cukup, dan hindari debu serta asap. Jangan memakai lensa kontak selama inflamasi aktif.
Edukasi jangka panjang: Uveitis dapat berulang, terutama pada penyakit autoimun (misalnya HLA-B27, Behçet, lupus). Pasien perlu pengawasan bersama dokter spesialis terkait.
Kriteria Rujukan (berdasarkan Kemenkes 2022)
Pasien harus dirujuk ke spesialis mata bila:
Tidak membaik setelah 7–10 hari terapi topikal adekuat
Uveitis bilateral, rekurens, atau kronik > 3 bulan
Ditemukan komplikasi (CME, glaukoma, sinekia totalis, katarak)
Dicurigai etiologi infeksi sistemik (TBC, sifilis, CMV)
Memerlukan terapi imunosupresif atau biologik.¹⁶