
Hordeolum
Definisi
Hordeolum adalah infeksi akut yang melibatkan salah satu kelenjar pada kelopak mata, ditandai oleh nyeri, pembengkakan, dan eritema lokal. Terdapat dua jenis utama:
Hordeolum eksterna (stye): infeksi pada kelenjar Zeis atau Moll di tepi kelopak.
Hordeolum interna: infeksi kelenjar Meibom yang terletak lebih dalam pada tarsus palpebra.¹²
Fase Klinis Perjalanan Hordeolum¹²,¹³
Walaupun tidak terdapat sistem stadium resmi, perjalanan penyakit hordeolum secara klinis dapat dikelompokkan dalam fase berikut:
| Fase Klinis | Manifestasi Klinis |
|---|---|
| 1. Fase prodromal | Rasa tidak nyaman, gatal, atau nyeri ringan di tepi kelopak; belum tampak benjolan |
| 2. Fase inflamasi akut | Eritema, nyeri tekan, pembengkakan, dan benjolan padat di margin kelopak |
| 3. Fase supuratif | Lesi menjadi fluktuatif, tampak titik pus di puncak benjolan, rasa nyeri meningkat |
| 4. Fase resolusi spontan/ruptur | Benjolan pecah dan mengeluarkan pus secara spontan atau akibat kompres hangat |
| 5. Fase komplikasi atau kronis | Bila tidak sembuh: terbentuk chalazion, selulitis preseptal, atau abses palpebra |
Etiologi
Infeksi bakteri piogenik, terutama Staphylococcus aureus (90–95%), merupakan penyebab utama.
Faktor Risiko
Kebiasaan menyentuh atau mengucek mata
Blefaritis kronik
Dermatitis seboroik
Disfungsi kelenjar Meibom
Diabetes melitus atau kondisi imunokompromais
Infestasi Demodex folliculorum, rosasea okular¹²
Penggunaan kosmetik mata yang tidak higienis
Klasifikasi
| Jenis | Kelenjar Terlibat | Lokasi |
|---|---|---|
| Eksterna | Zeis atau Moll | Superfisial, tepi palpebra |
| Interna | Meibom | Dalam, pada tarsus |
Patofisiologi
Obstruksi duktus kelenjar oleh debris seluler dan lipid memicu akumulasi sebum. Hal ini mencetuskan proses inflamasi lokal akibat invasi bakteri piogenik, yang menyebabkan eritema, edema, dan nyeri. Bila berlanjut, terbentuk abses. Proses dapat meluas ke jaringan sekitar dan menimbulkan selulitis lokal.
Anamnesis
Keluhan yang sering muncul:
Nyeri lokal di kelopak mata
Pembengkakan dan kemerahan
Sensasi mengganjal dan epifora
Kadang disertai fotofobia dan blefarospasme.¹³
Pemeriksaan Fisik
Edema dan eritema terbatas pada kelopak mata
Lesi yang nyeri tekan
Pada hordeolum eksterna: benjolan superfisial dekat garis bulu mata
Pada hordeolum interna: lesi lebih dalam, kadang perlu eversi kelopak untuk tampak jelas
Evaluasi kelenjar limfa preaurikular.⁷,¹³
Pemeriksaan Tambahan
Tidak rutin diperlukan
Kultur mikrobiologi dilakukan bila terdapat hordeolum refrakter terhadap pengobatan
Tes glukosa darah pada pasien dengan riwayat diabetes atau kecurigaan status imun menurun
Pemeriksaan slit-lamp bila dicurigai melibatkan struktur internal.³,¹³
Dasar Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis khas dan temuan fisik berupa benjolan nyeri, eritema, dan edema pada palpebra, serta lokasi yang sesuai dengan klasifikasi.¹
Diagnosis Banding¹,¹²,¹³
| Diagnosis Banding | Perbedaan Kunci dari Hordeolum |
|---|---|
| Chalazion | Tidak nyeri, kronis, tanpa tanda infeksi akut |
| Blefaritis | Radang difus margin palpebra, biasanya bilateral |
| Kista epidermal | Tidak nyeri, mobil, pertumbuhan lambat |
| Selulitis preseptal | Edema palpebra luas, nyeri tekan, demam |
| Tumor palpebra jinak | Pertumbuhan progresif, tidak responsif antibiotik |
| Karsinoma Meibomian | Lesi keras, persisten >6 minggu, bisa menyerupai chalazion |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Kompres hangat 10–15 menit, 3–4 kali sehari
Hindari penggunaan kosmetik dan lensa kontak hingga sembuh
Edukasi kebersihan area palpebra
Farmakologis³,¹²,¹³
1. Antibiotik Topikal dan Steroid Topikal
| Kategori | Obat dan Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakokinetik/Mekanisme Obat | Contoh Merek (Indonesia) |
|---|---|---|---|---|
| Antibiotik topikal | Eritromisin salep | 2–3 kali sehari | Menghambat sintesis protein bakteri | Cendo Erymed®, Eritrolin® |
| Bacitracin salep | 2–3 kali sehari | Menghambat sintesis dinding sel bakteri | Bacitracin® | |
| Gentamisin salep/tetes | 2–4 kali sehari | Aminoglikosida, spektrum luas, hambat sintesis protein | Cendo Gentamicin®, San-Gentamicin® | |
| Kloramfenikol salep/tetes | 2–4 kali sehari | Menghambat sintesis protein bakteri; spektrum luas | Cendo Fenicol®, Chloramex® | |
| Tobramisin salep/tetes | 1–2 tetes tiap 4–6 jam | Aminoglikosida; aktif Gram-positif dan Gram-negatif | Cendo Tobroson®, Tobrex® | |
| Fusidic acid gel | 2x sehari | Hambat sintesis protein bakteri; efektif untuk S. aureus MRSA | Fucithalmic®, Fusix® | |
| Steroid kombinasi | Tobramisin + Deksametason salep | 2x sehari, maksimal 5–7 hari | Kombinasi antiinflamasi + antibiotik | Tobradex® |
2. Antibiotik Sistemik
| Obat dan Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakokinetik/Mekanisme Obat | Contoh Merek (Indonesia) |
|---|---|---|---|
| Amoksisilin-Klavulanat tablet | 500/125 mg tiap 8 jam | Bakterisidal; hambat sintesis dinding sel; spektrum luas | Clavamel®, Augmentin® |
| Kotrimoksazol tablet | 800/160 mg tiap 12 jam | Hambat sintesis folat bakteri | Bactrim®, Cotrimoxazole® |
| Doksisiklin kapsul | 100 mg 2x sehari | Tetrasiklin; hambat sintesis protein | Doxicor®, Doxoral® |
| Klindamisin kapsul | 150–300 mg tiap 6–8 jam | Bakteriostatik; aktif Gram-positif dan anaerob | Dalacin C®, Clinmas® |
3. NSAID Oral
| Kategori | Obat dan Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakokinetik/Mekanisme Obat | Contoh Merek (Indonesia) |
|---|---|---|---|---|
| NSAID sistemik | Ibuprofen tablet | 200–400 mg tiap 8 jam, max 1200 mg/hari | menghambat sintesis prostaglandin; antiinflamasi nonsteroid | Proris®, Brufen® |
Operatif
Jenis tindakan operasi utama untuk hordeolum adalah insisi dan drainase.
| Jenis Hordeolum | Arah Insisi | Alasan Klinis |
|---|---|---|
| Eksterna | Dari arah kulit luar | Lesi terletak superfisial dekat folikel rambut dan kelenjar Zeis/Moll; mudah dicapai dari permukaan¹³ |
| Interna | Dari arah konjungtiva | Infeksi terletak dalam tarsus palpebra (kelenjar Meibom); akses optimal via eversi kelopak dan insisi dari dalam¹³ |
Prinsip dasar tindakan:
Mengeluarkan pus dari abses untuk mempercepat penyembuhan.
Dilakukan jika tidak ada perbaikan setelah 1–2 minggu terapi konservatif.
Harus dilakukan secara aseptik dengan anestesi lokal.
Indikasi :
Tidak membaik setelah 7–14 hari terapi konservatif
Lesi mengalami fluktuasi atau menjadi abses
Risiko selulitis preseptal meningkat
Dapat dipertimbangkan injeksi intralesi triamcinolone pada chalazion persisten
Komplikasi
Chalazion sekunder: granuloma residu pasca inflamasi kronik akibat obstruksi persisten
Selulitis preseptal: penyebaran infeksi ke jaringan lunak sekitarnya
Abses palpebra: akibat progresi infeksi yang tidak tertangani adekuat
Kambuh berulang: pada pasien dengan blefaritis kronik atau rosasea okular.¹²,¹³
Prognosis
Ad vitam: bonam, tidak mengancam jiwa
Ad functionam: bonam, fungsi visual tetap utuh
Ad sanationam: sanam bila ditatalaksana dini dan adekuat
Edukasi Pasien
Jangan memencet benjolan karena bisa menyebabkan penyebaran infeksi
Terapkan kompres hangat secara teratur
Jaga kebersihan area mata dan tangan
Konsultasi jika nyeri memberat atau tidak ada perbaikan dalam beberapa hari
Hindari kosmetik selama infeksi aktif dan gunakan produk steril.³,¹²
Kriteria Rujukan
Pasien perlu dirujuk bila:
Tidak membaik setelah terapi konservatif dalam 7–10 hari (Time)
Anak <1 tahun dengan pembengkakan progresif (Age)
Gejala sistemik seperti demam, gangguan visus (Complication)
Imunokompromais/komorbid (Comorbidity)
Tidak tersedia alat insisi atau fasilitas eversi kelopak (Fasilitas).¹¹
Tingkat Kompetensi Dokter
Hordeolum masuk dalam kategori kompetensi 4A sesuai SKDI 2012, sehingga dokter layanan primer wajib mampu menangani kasus ini secara mandiri dan tuntas.
Kode ICPC-2 untuk hordeolum dan chalazion adalah F70, digunakan dalam pencatatan diagnosis di pelayanan primer.
Lesi persisten atau rekuren (>6 minggu) perlu dicurigai sebagai kemungkinan karsinoma kelenjar Meibomian dan dapat membutuhkan biopsi.
Manajemen jangka panjang dan pencegahan kekambuhan penting terutama pada pasien dengan blefaritis kronik atau rosasea. Edukasi mengenai higiene palpebra, penggunaan sabun kelopak, dan pertimbangan doxycycline dosis rendah perlu diperhatikan.
Pasien anak <1 tahun memerlukan observasi lebih ketat karena risiko edema menyeluruh dan sulitnya evaluasi mandiri di rumah.