
Hipopion [3A]
Definisi
Hipopion adalah akumulasi leukosit dan debris inflamasi di bilik mata anterior yang tampak sebagai lapisan putih kekuningan, biasanya mengendap di bagian bawah kamera okuli. Kondisi ini merupakan tanda inflamasi intraokular berat dan sering ditemukan pada kasus infeksi seperti endoftalmitis atau inflamasi autoimun berat seperti uveitis HLA-B27. Definisi ini merujuk pada klasifikasi American Academy of Ophthalmology dan digunakan untuk membedakan hipopion dari hipema atau pseudohipopion.¹³
Klasifikasi
Hipopion dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebab dan karakteristik isinya, sebagai berikut:
| Jenis Hipopion | Karakteristik | Penyebab Umum |
|---|---|---|
| Steril | Tidak mengandung patogen; sering menetap, tidak bergeser dengan posisi | Uveitis HLA-B27, Behçet, reaksi autoimun |
| Infeksius | Mengandung patogen; biasanya disertai nyeri hebat, injeksi siliaris, dan ulkus kornea | Endoftalmitis, keratitis bakterial/jamur berat |
| Pseudohipopion | Tampak seperti hipopion namun bukan eksudat inflamasi; seringkali mengandung sel neoplastik atau lipid | Leukemia, limfoma intraokular, reaksi toksik terhadap lensa intraokular |
Klasifikasi ini penting untuk membedakan pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan sesuai etiologi dasar.³,⁴,⁶,⁷
Patofisiologi
Hipopion terjadi akibat proses inflamasi berat di bilik mata anterior, yang memicu pelepasan sitokin proinflamasi dan peningkatan permeabilitas vaskular. Hal ini menyebabkan eksudasi dan migrasi leukosit, terutama neutrofil, ke dalam ruang bilik depan. Leukosit yang mati bersama debris seluler kemudian mengendap akibat gravitasi dan membentuk lapisan hipopion di bagian bawah kamera okuli. Proses ini dapat dipicu oleh infeksi intraokular (seperti endoftalmitis) atau mekanisme imunologi (seperti uveitis HLA-B27).³,⁴,⁶,⁷
Etiologi
Hipopion dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, baik infeksius maupun non-infeksius. Penyebab utama antara lain:
Infeksi intraokular:
Endoftalmitis bakterial atau jamur (post-operatif, pasca trauma, hematogen)
Keratitis ulseratif berat (bakteri, jamur, herpes simplex)
Penyakit autoimun dan inflamasi:
Uveitis anterior HLA-B27-positif (ankilosing spondylitis, Reiter, psoriatik arthritis)
Behçet’s disease
Neoplastik atau toksik:
Leukemia dan limfoma intraokular (pseudohipopion)
Reaksi terhadap lensa intraokular atau bahan implan lainnya
Trauma:
Trauma perforasi dengan kontaminasi mikroba dapat menyebabkan endoftalmitis dan hipopion sekunder
Hipopion steril juga bisa muncul pasca trauma tumpul atau iritasi bahan kimia
Lainnya:
Sindrom TASS (toxic anterior segment syndrome)
Perdarahan lisis lensa pasca operasi katarak.³,⁴,⁶
Anamnesis
Gejala hipopion bervariasi tergantung penyebabnya, namun umumnya pasien datang dengan:
Penglihatan kabur: disebabkan oleh peradangan dan opasitas di bilik anterior.
Nyeri okular: menunjukkan adanya inflamasi intraokular aktif.
Mata merah: akibat injeksi siliaris dan konjungtiva.
Fotofobia dan lakrimasi: akibat iritasi kornea dan inflamasi anterior.
Keluhan sistemik (jika autoimun): seperti nyeri punggung bawah (ankilosing spondylitis), sariawan berulang (Behçet), atau ruam kulit (psoriasis).⁴,⁶,⁷
Riwayat penting:
Riwayat operasi intraokular atau trauma → curiga endoftalmitis.
Penggunaan lensa kontak → curiga keratitis infeksius.
Riwayat autoimun → evaluasi uveitis terkait HLA-B27.
Pemeriksaan Fisik
Temuan pemeriksaan fisik pada hipopion bergantung pada derajat inflamasi dan etiologi:
Hipopion tampak jelas sebagai lapisan putih-kekuningan horizontal di bilik mata depan (bawah pupil), sering terlihat pada posisi duduk.
Injeksi siliaris/paralimbar: menunjukkan inflamasi intraokular aktif.
Kornea buram atau ulkus: terutama pada keratitis infeksius berat.
TIO (tekanan intraokular): dapat normal, meningkat (jika terdapat trabekulitis), atau menurun (pada endoftalmitis berat).
Reaksi sel dan flare di bilik anterior (dengan slit lamp).
Pupil dapat miosis pada uveitis anterior karena spasme otot sfingter iris, atau midriasis tidak reaktif pada endoftalmitis akibat toksin dan kerusakan saraf iris.
Pemeriksaan harus dilakukan hati-hati, terutama jika ada curiga perforasi kornea atau riwayat trauma.⁴,⁶,⁷
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Hipopion | Persamaan dengan Hipopion |
|---|---|---|
| Hipema | Berisi darah, bukan leukosit; tampak merah gelap di bilik anterior. | Sama-sama tampak endapan di bilik anterior. |
| Pseudohipopion | Berasal dari sel tumor (leukemia, limfoma); tidak disertai inflamasi aktif. | Sama-sama tampak putih kekuningan di bilik anterior. |
| Reaksi lisis lensa | Riwayat pasca operasi katarak; terdapat partikel lensa dan inflamasi steril. | Dapat tampak keruh dan inflamasi ringan seperti hipopion. |
| Akumulasi fibrin | Terjadi pasca operasi intraokular; biasanya tidak keruh kekuningan seperti hipopion. | Sama-sama muncul pasca operasi dan tampak di bilik anterior. |
| Keratitis ulseratif | Bila tanpa hipopion, hanya terdapat infiltrat dan ulkus kornea. | Bila berat dapat disertai hipopion sekunder. |
Diagnosis banding membantu membedakan proses inflamasi dari proses neoplastik atau traumatik.³,⁴,⁶,⁷
Pemeriksaan Tambahan
Pemeriksaan tambahan diperlukan untuk mengidentifikasi etiologi dan menentukan derajat inflamasi:
| Pemeriksaan | Tujuan | Prinsip Pemeriksaan | Hasil yang Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Slit-lamp | Evaluasi sel dan flare di bilik anterior | Visualisasi segmen anterior | Hipopion, sel inflamasi, keruh kornea |
| Scraping & Kultur | Menentukan patogen penyebab infeksi | Mikrobiologi (Gram, KOH, kultur) | Identifikasi bakteri/jamur/virus |
| USG B-scan | Evaluasi posterior bila media keruh | Ultrasonografi bola mata | Endoftalmitis, membran vitreus, abses |
| Pemeriksaan HLA-B27 | Mencari etiologi autoimun | Pemeriksaan serologis/genetik | Positif pada spondiloartropati terkait |
Pemeriksaan dilakukan sesuai indikasi klinis dan kondisi media okular.³,⁴,⁶,⁷
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hipopion disesuaikan dengan etiologinya (infeksius atau non-infeksius):
Non-Farmakologis
Proteksi mata dengan pelindung transparan.
Edukasi pasien untuk istirahat dan tidak menggunakan lensa kontak.
Rawat inap bila dicurigai endoftalmitis atau kondisi berat.
Rujukan segera ke spesialis mata jika terdapat nyeri berat, penurunan visus progresif, atau kecurigaan infeksi intraokular.³,⁴,⁶
Farmakologis
| Obat | Dosis & Frekuensi | Contoh Merek (Indonesia) | Mekanisme/Farmakokinetik Singkat |
|---|---|---|---|
| Cefazolin 5% + Tobramycin 1.5% (fortified) | 1 tetes tiap 1 jam | Racikan RS | Antibakteri spektrum luas untuk ulkus berat |
| Natamycin 5% | 1 tetes tiap jam | Natacyn | Antijamur topikal untuk fusarium, aspergillus |
| Ganciclovir 0.15% gel | 5x/hari | Virgan | Antivirus HSV; penetrasi selektif sel terinfeksi |
| Prednisolon asetat 1% | 4x/hari | Predforte | Anti-inflamasi steroid, menekan reaksi imun lokal |
| Atropin 1% (sikloplegik) | 2x/hari | Cendo Tropicamide | Relaksasi otot siliar, mencegah sinekia |
Operatif
Injeksi intravitreal (vancomycin + ceftazidime) untuk endoftalmitis berat.
Vitrektomi bila terdapat abses vitreus, penurunan visus progresif, atau kegagalan terapi konservatif.⁴,⁷
Terapi Sistemik (Steroid)
Prednison oral dapat digunakan pada hipopion akibat uveitis autoimun (misal HLA-B27, Behçet) yang berat atau tidak responsif terhadap terapi topikal.
Dosis awal umum: 0,5–1 mg/kgBB/hari secara tapering.
Kontraindikasi keras pada dugaan infeksi aktif (misal endoftalmitis, keratitis).
Penggunaan hanya bila etiologi non-infeksi telah dipastikan.⁴,⁶,⁷
Parasintesis
Parasintesis bilik anterior dapat dipertimbangkan pada kasus hipopion berat atau endoftalmitis yang tidak merespon terapi awal.
Prosedur ini bertujuan mengurangi beban inflamasi (debulking leukosit), menurunkan tekanan intraokular, dan memungkinkan pengambilan sampel untuk diagnosis mikrobiologi.
Dilakukan oleh spesialis mata dengan asepsis ketat dan indikasi jelas.⁴,⁶,⁷
Komplikasi
Berbagai komplikasi dapat terjadi akibat hipopion, terutama bila etiologi infeksi tidak ditangani secara tepat:
Sinekia posterior: terbentuk akibat inflamasi kronik antara iris dan lensa; dapat mengganggu aliran aqueous humor.
Glaukoma sekunder: terjadi bila sel inflamasi atau debris menyumbat trabekulum; meningkatkan tekanan intraokular.
Kekeruhan kornea: akibat kontak langsung antara hipopion dengan endotel kornea, menyebabkan endotelitis atau edema persisten.
Peningkatan risiko endoftalmitis: terutama jika hipopion berasal dari trauma terbuka atau prosedur intraokular tanpa asepsis maksimal.
Kehilangan visus permanen: karena kerusakan struktur intraokular (vitreus, retina) akibat inflamasi berat atau keterlambatan terapi.⁴,⁶,⁷
Edukasi Pasien
Pasien dengan hipopion perlu diberikan edukasi yang jelas dan berulang mengenai:
Pentingnya kunjungan ulang dan evaluasi berkala karena perburukan dapat terjadi cepat.
Tanda bahaya: nyeri bertambah, penurunan visus, fotofobia berat, yang mengindikasikan kegagalan terapi atau komplikasi.
Kepatuhan terhadap jadwal dan dosis obat topikal maupun sistemik, terutama jika menggunakan antibiotik atau steroid.
Larangan penggunaan lensa kontak selama masa penyembuhan.
Menjaga kebersihan tangan dan tidak mengucek mata untuk mencegah kontaminasi ulang.⁴,⁶,⁷
Prognosis
| Dimensi | Prognosis | Keterangan | Determinan Utama |
|---|---|---|---|
| Ad vitam | Bonam | Kematian tidak terkait langsung dengan hipopion | Tidak ada risiko sistemik yang mengancam jiwa |
| Ad functionam | Dubia | Tergantung derajat kerusakan intraokular dan keterlambatan terapi | Keterlibatan retina/vitreus, tekanan intraokular, adhesi sinekia |
| Ad sanationam | Bonam–Malam | Umumnya resolusi baik bila autoimun; bisa buruk pada infeksi berat atau abses vitreus | Respons terhadap terapi, kepatuhan pasien, kondisi sistemik |