
Herpes Simplex Keratitis (HSK)[3A]
Definisi
Keratitis herpes simpleks (HSK) adalah peradangan kornea akibat infeksi Herpes simplex virus (HSV), terutama HSV tipe 1. Infeksi ini dapat mengenai lapisan epitel, stroma, hingga endotel kornea. .¹,²,⁵,⁹
Epidemiologi
HSK adalah penyebab tersering keratitis viral dan salah satu infeksi kornea paling umum di dunia.
Insidensi tahunannya berkisar 8–20 kasus per 100.000 populasi, dengan variasi antar wilayah.
Mayoritas kasus disebabkan oleh HSV tipe 1. Manifestasi klinis sering muncul pada usia dewasa akibat reaktivasi virus laten.
Penyakit ini bersifat rekuren dan merupakan penyebab penting penurunan penglihatan unilateral akibat infeksi kornea.¹,²,³,⁵,⁷,⁹,¹⁰
Faktor Risiko
Riwayat infeksi HSV sebelumnya, karena virus menetap laten di ganglion trigeminal.
Kondisi imunokompromais seperti HIV/AIDS, keganasan, kemoterapi, atau penggunaan kortikosteroid sistemik meningkatkan frekuensi dan keparahan HSK.
Trauma kornea minor, pembedahan mata, dan penggunaan lensa kontak dapat memicu reaktivasi virus.
Faktor sistemik seperti demam, stres fisik atau emosional, dan paparan sinar ultraviolet dapat mencetuskan kekambuhan.¹-⁵,⁹,¹⁰
Etiologi
Herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1) adalah penyebab utama HSK.
Virus menginfeksi epitel kornea pada fase primer, lalu menetap secara laten di ganglion trigeminal. Reaktivasi periodik menyebabkan keratitis berulang.
HSV tipe 2 jarang menyebabkan keratitis. Umumnya ditemukan pada neonatus atau pasien dengan imunosupresi berat.¹,²,⁵,¹²
Klasifikasi
Berdasarkan lokasi anatomi
Keratitis epitelial: ditandai lesi dendritik atau geografik akibat replikasi virus aktif pada epitel kornea.
Keratitis stromal non-necrotizing (interstitial): inflamasi imun-mediasi tanpa replikasi virus aktif, sering disertai haze stroma dan penurunan visus.
Keratitis stromal necrotizing: destruksi jaringan stroma akibat kombinasi replikasi virus dan respons inflamasi berat.
Endotelitis herpes: keterlibatan endotel yang menyebabkan edema kornea difus, lipatan membran Descemet, dan peningkatan TIO.
Neurotrophic keratopathy: gangguan penyembuhan epitel akibat penurunan sensibilitas kornea setelah infeksi HSV berulang.¹-⁴,⁹,¹¹
Patofisiologi

Infeksi primer dan latensi: Herpes simplex virus tipe 1 menginfeksi epitel kornea saat paparan awal, lalu bermigrasi melalui serabut saraf sensorik dan menetap laten di ganglion trigeminal.
Reaktivasi virus: Stres, demam, trauma, atau imunosupresi memicu reaktivasi HSV laten, sehingga virus kembali ke kornea melalui jalur saraf.
Keratitis epitelial: Replikasi virus aktif pada sel epitel kornea menyebabkan nekrosis sel yang mengikuti arah serabut saraf, menghasilkan ulkus dendritik bercabang dengan terminal bulb.
Keratitis stromal: Respons imun terhadap antigen virus memicu inflamasi stroma tanpa replikasi virus aktif, menyebabkan haze stroma, edema, dan penurunan visus.
Keterlibatan saraf kornea: Infeksi berulang merusak serabut saraf trigeminal, menurunkan sensibilitas kornea dan mengganggu penyembuhan epitel—kondisi yang mendasari terjadinya neurotrophic keratopathy.¹,²,⁴,⁵,⁹,¹¹
Anamnesis
Mata merah unilateral, nyeri ringan hingga sedang, fotofobia, lakrimasi, dan penglihatan kabur akibat kerusakan epitel kornea dan inflamasi lokal.
Sensasi benda asing yang berkaitan dengan defek epitel kornea yang aktif.
HSK tidak selalu disertai nyeri berat, karena penurunan sensibilitas kornea dapat menutupi derajat kerusakan epitel yang sebenarnya.
Riwayat episode serupa sebelumnya atau herpes orolabial mendukung kecurigaan keratitis herpes simpleks, mengingat sifat penyakit yang rekuren.
Pada sebagian pasien, nyeri dapat relatif ringan dibandingkan temuan klinis karena penurunan sensibilitas kornea akibat keterlibatan saraf trigeminal.¹-⁴,⁹
Pemeriksaan Fisik

Hiperemia konjungtiva dan injeksi siliar.
⭐ Penurunan sensibilitas kornea sering ditemukan, disebabkan oleh kerusakan serabut saraf trigeminal akibat infeksi HSV berulang.
⭐ Pewarnaan fluorescein mengidentifikasi defek epitel kornea. Zat warna menembus area yang kehilangan epitel dan menghasilkan gambaran khas berupa lesi dendritik bercabang dengan terminal bulb pada HSK epitelial.
⭐ Pemeriksaan sensibilitas kornea menilai fungsi saraf trigeminal. Penurunan sensibilitas mendukung diagnosis HSK dan menjelaskan nyeri yang relatif ringan dibandingkan temuan klinis.
Pada keterlibatan lebih dalam, dapat dijumpai haze stroma atau edema kornea, menandakan inflamasi imun-mediasi pada lapisan stroma atau endotel.¹-⁴
Pemeriksaan Tambahan
PCR HSV dari kerokan kornea mengonfirmasi etiologi pada kasus atipikal, berat, atau refrakter.⁵,¹¹
Diagnosis Banding¹-⁴
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan HSK |
|---|---|
| Keratitis adenoviral | Lesi epitel tidak memiliki terminal bulb, sering bilateral, dan disertai konjungtivitis folikular. |
| Keratitis bakteri | Nyeri lebih berat, sekret purulen, dan infiltrat stroma padat tanpa pola dendritik. |
| Keratitis jamur | Infiltrat berbatas kabur dengan tepi feathery dan sering terkait riwayat trauma vegetatif. |
| Keratitis Acanthamoeba | Nyeri sangat berat tidak sebanding dengan temuan klinis awal dan sering pada pengguna lensa kontak. |
| Keratitis herpes zoster (HZO) | Lesi pseudodendritik tanpa terminal bulb dengan fluorescein uptake minimal. |
| Ulkus neurotropik | Defek epitel persisten tanpa inflamasi aktif dan tanpa dendritik sejati. |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Edukasi pasien tentang sifat rekuren penyakit dan pentingnya kepatuhan terapi untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi jangka panjang.
Hentikan penggunaan lensa kontak selama fase aktif untuk mencegah perburukan defek epitel dan infeksi sekunder.
Lindungi mata dari iritasi tambahan—misalnya, hindari mengucek mata—dan kendalikan faktor pencetus seperti demam atau stres.¹,²,⁹
Farmakologis
1. Keratitis Herpes Simpleks Epitelial
| Terapi | Obat & Sediaan | Dosis | Catatan Penting |
|---|---|---|---|
| Antivirus topikal (utama) | Acyclovir salep 3% | 5×/hari selama 7–10 hari | Terapi lini pertama |
| Ganciclovir gel 0,15% | 5×/hari sampai epitel sembuh | Iritasi epitel lebih ringan | |
| Antivirus sistemik (bila perlu) | Acyclovir oral | 400 mg 5×/hari | Lesi luas, rekuren, imunokompromais |
| Valacyclovir oral | 500 mg 2–3×/hari | Alternatif bioavailabilitas lebih baik | |
| Kontraindikasi | Steroid topikal | — | Kontraindikasi absolut pada fase epitelial aktif |
2. Keratitis Herpes Simpleks Stromal / Endotelitis
| Terapi | Obat & Sediaan | Dosis | Catatan Penting |
|---|---|---|---|
| Antivirus sistemik (wajib) | Acyclovir oral | 400 mg 5×/hari | Terapi dasar |
| Valacyclovir oral | 1 g 2×/hari | Pilihan praktis | |
| Steroid topikal | Prednisolon asetat / ekuivalen | Dosis rendah–sedang, tapering | Hanya bila disertai antivirus sistemik |
| Antivirus topikal | ± ganciclovir / acyclovir | Sesuai keadaan klinis | Tidak cukup bila tanpa sistemik |
3. Terapi Adjuvan (Semua Bentuk HSK)
| Terapi | Tujuan | Catatan |
|---|---|---|
| Lubrikan non-preservatif | Proteksi epitel & kenyamanan | Aman semua fase |
| Antibiotik topikal profilaksis | Cegah infeksi sekunder | Bila defek epitel luas |
| Terapi supresif oral | Cegah rekurensi | Pada HSK berulang / pasca keratoplasti |
Operatif
Keratoplasti (lamelar atau penetrans) dilakukan pada parut kornea berat atau perforasi yang menyebabkan penurunan visus bermakna.
Debridement epitel dilakukan pada ulkus epitelial terbatas yang tidak responsif terhadap terapi topikal.¹,³,⁹
Komplikasi
Parut kornea (corneal scarring) terjadi akibat inflamasi berulang dan penyembuhan stroma yang tidak sempurna. Bila mengenai aksis visual, dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan permanen.
Pannus (Neovaskularisasi kornea) muncul sebagai respons inflamasi kronik dan hipoksia jaringan. Kondisi ini menurunkan transparansi kornea dan meningkatkan risiko kegagalan cangkok pada keratoplasti.
Keratitis stromal kronik berkembang akibat inflamasi imun-mediasi persisten. Komplikasi ini menyebabkan haze (kekeruhan) stroma, penipisan kornea, dan distorsi permukaan optik.
Neurotrophic keratopathy terjadi akibat kerusakan saraf trigeminal berulang. Kondisi ini mengakibatkan penurunan sensibilitas kornea, gangguan penyembuhan epitel, dan ulkus kornea persisten.
Perforasi kornea merupakan komplikasi berat akibat nekrosis stroma atau penggunaan steroid yang tidak tepat. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan oftalmologi.¹-⁴,⁹,¹¹
Prognosis
Ad vitam: Bonam
HSK tidak mengancam nyawa dan jarang menimbulkan komplikasi sistemik.
Ad functionam: Dubia ad bonam
Bergantung pada kedalaman dan luas keterlibatan kornea, frekuensi kekambuhan, serta ketepatan dan kepatuhan terhadap terapi; keterlibatan stroma dan endotel memperburuk fungsi visual.
Ad sanationam: Dubia
Meskipun episode akut dapat sembuh dengan terapi adekuat, HSV menetap laten sehingga penyakit bersifat rekuren dan berpotensi kambuh sepanjang hidup pasien.¹,²,⁹,¹⁰
Edukasi Pasien
Keratitis herpes simpleks adalah infeksi kornea yang bersifat laten dan dapat kambuh. Pasien perlu memahami bahwa perbaikan klinis tidak selalu berarti sembuh permanen.
Pasien harus menggunakan obat antivirus sesuai dosis dan durasi yang dianjurkan. Jangan hentikan terapi sendiri meskipun keluhan sudah berkurang.
Hindari penggunaan obat tetes mata steroid tanpa pengawasan dokter mata, karena dapat memperberat infeksi dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Selama fase aktif, jangan gunakan lensa kontak, hindari mengucek mata, dan jaga kebersihan mata untuk mencegah iritasi dan infeksi sekunder.
Segera kembali kontrol atau cari pertolongan medis bila terjadi penurunan penglihatan mendadak, nyeri bertambah berat, mata semakin merah, atau keluhan tidak membaik setelah beberapa hari terapi.¹-³,⁹
Kriteria Rujukan
Keterlibatan stroma atau endotel kornea (keratitis stromal, endotelitis herpes) memerlukan terapi antivirus sistemik dan steroid topikal terkontrol oleh dokter mata, sehingga harus dirujuk.
Tidak ada perbaikan klinis dalam 3–5 hari setelah terapi antivirus awal pada HSK epitelial menunjukkan kemungkinan diagnosis atipikal, resistensi obat, atau keterlibatan stroma yang lebih dalam—sehingga memerlukan evaluasi lanjutan.
Penurunan tajam penglihatan progresif, nyeri berat, atau edema kornea difus menandakan perburukan yang memerlukan penanganan spesialistik segera.
Kecurigaan komplikasi seperti keratitis stromal nekrotizing, ulkus kornea persisten, atau tanda perforasi kornea merupakan indikasi rujukan segera (urgent).
Pasien imunokompromais, kasus rekuren sering, atau pasien dengan riwayat pembedahan kornea/keratoplasti memerlukan rujukan untuk tata laksana komprehensif dan pencegahan komplikasi lanjutan.¹,²,³,⁹,¹⁰