
Entropion [2]
Definisi
Entropion adalah kelainan kelopak mata di mana tepi palpebra berputar ke arah dalam, menyebabkan bulu mata dan kulit kelopak bergesekan dengan permukaan bola mata. Kondisi ini menimbulkan iritasi dan dapat menyebabkan kerusakan kornea.
Entropion bisa bersifat sementara atau permanen, serta dapat terjadi pada satu mata (unilateral) atau kedua mata (bilateral).¹

Etiologi, Klasifikasi, dan Patofisiologi
Entropion dapat dibedakan menjadi beberapa tipe berdasarkan mekanisme terjadinya, yang sekaligus menjelaskan penyebab dan proses patofisiologinya:
Involusional (senilis) – paling sering ditemukan pada usia lanjut. Disebabkan oleh kelemahan fascia capsulopalpebralis, laxitas horizontal dan vertikal pada tendon kanthal, serta overriding otot orbicularis preseptal terhadap bagian pretarsal. Perubahan ini memicu rotasi margin palpebra ke dalam sehingga bulu mata bergesekan dengan kornea, menimbulkan iritasi, epifora, dan risiko abrasi atau ulkus kornea.
Spastik – terjadi akibat spasme otot orbicularis sebagai respons terhadap iritasi okular akut (misalnya keratitis, konjungtivitis). Spasme ini menarik tepi kelopak ke arah bola mata, biasanya bersifat sementara dan membaik setelah iritasi teratasi.
Cicatricial – disebabkan oleh penarikan konjungtiva atau forniks ke dalam akibat jaringan parut. Penyebab umum meliputi trachoma kronis, pemfigoid okular, sindrom Stevens–Johnson, atau trauma kimia. Penarikan ini mengubah keseimbangan gaya pada kelopak, memutar margin palpebra ke dalam.
Kongenital – jarang terjadi, muncul sejak lahir akibat kelainan anatomi tarsus atau otot orbicularis, menyebabkan arah tumbuh bulu mata ke kornea meski tanpa kelainan jaringan penunjang.
Mekanik – diakibatkan oleh massa intraorbital atau tumor kelopak yang menekan struktur palpebra dan memicu rotasi margin ke dalam.¹,²,³,⁴,⁵,⁶
Anamnesis
Keluhan utama: sensasi mengganjal, mata berair, mata merah, fotofobia ringan
Riwayat: onset lambat (involusional) atau cepat (spastik/trauma), riwayat infeksi kronis, penyakit autoimun, trauma kimia
Faktor risiko: usia lanjut, riwayat trachoma/SJS/pemfigoid okular, operasi kelopak sebelumnya
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi posisi palpebra saat istirahat dan berkedip
Perhatikan arah margin palpebra; pada entropion, margin kelopak dan garis bulu mata (cilia) berputar ke arah bola mata sehingga menyentuh kornea atau konjungtiva palpebra.
Amati adanya blefarospasme, hiperemia palpebra, epifora, dan tanda iritasi kronis seperti penebalan tepi kelopak.
Uji laxitas kelopak bawah
Pemeriksaan slit-lamp
Evaluasi adanya trikiasis (bulu mata menusuk kornea) dan kerusakan epitel kornea berupa keratitis punctata atau abrasi kornea akibat gesekan.
Periksa adanya ulkus kornea sekunder pada kasus lanjut.
Pemeriksaan konjungtiva
Eversi kelopak untuk menilai parut konjungtiva tarsal (cicatricial entropion) seperti pada riwayat trachoma, pemfigoid okular, atau trauma kimia.
Perhatikan vaskularisasi abnormal, penebalan, atau fibrosis pada konjungtiva.

Penilaian spasme otot orbikularis
Minta pasien menutup mata kuat-kuat, kemudian rileks; spasme orbikularis dapat memperburuk rotasi ke dalam margin kelopak.¹,²,⁴,⁹,¹⁰
Pemeriksaan Tambahan
Tidak rutin diperlukan
Biopsi bila dicurigai penyakit autoimun/keganasan konjungtiva
Foto dokumentasi untuk evaluasi pre–post operasi
Evaluasi sistemik bila terkait penyakit jaringan ikat atau trauma kimia.⁴
Dasar Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui inspeksi palpebra dan konfirmasi adanya rotasi margin ke dalam disertai tanda iritasi kornea.
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Persamaan dengan Entropion | Perbedaan dengan Entropion |
|---|---|---|
| Trikiasis | Sama-sama menyebabkan bulu mata bergesekan dengan kornea, menimbulkan iritasi, epifora, dan abrasi epitel | Posisi palpebra normal, hanya arah tumbuh bulu mata yang abnormal |
| Distichiasis | Sama-sama menimbulkan gesekan bulu mata terhadap kornea | Adanya deretan bulu mata tambahan yang tumbuh dari kelenjar meibom, posisi margin palpebra tetap normal |
| Blefarospasme | Sama-sama dapat menimbulkan spasme kelopak dan epifora | Tidak ada rotasi margin palpebra; spasme kelopak merupakan masalah primer |
| Ektropion | Sama-sama kelainan posisi palpebra yang dapat mengganggu fungsi proteksi mata | Margin palpebra berputar keluar (eversion), bukan ke dalam |
| Dermatochalasis | Sama-sama ditemukan pada pasien usia lanjut, dapat mengganggu fungsi kelopak | Kelebihan kulit kelopak tanpa rotasi margin; gangguan lebih bersifat kosmetik atau mekanik menutupi pupil |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Pemberian lubrikan tetes dan salep mata untuk melindungi kornea
Botulinum toksin A intrapalpebral untuk entropion spastik sementara.⁴,⁷
Farmakologis
| Obat & Sediaan | Dosis & Frekuensi | Farmakokinetik |
|---|---|---|
| Artificial tears (CMC 0,5%) | 1 tetes tiap 2–4 jam | Melumasi dan melindungi epitel kornea |
| Salep antibiotik (eritromisin 0,5%) | 2–3×/hari | Bakteriostatik, mencegah infeksi sekunder |
Operasi 🟨
Indikasi: abrasi kornea berulang, kegagalan konservatif, keluhan kosmetik
Involusional: Quickert everting sutures, lateral tarsal strip + retraktor plication
Cicatricial: Mucous membrane graft/buccal mucosa graft + tarsal rotation,
Spastik: Botox diikuti operasi jika persisten
Kongenital: Eksisi kulit ± tarsotomi sesuai anatomi.²,⁴,⁵,⁸,⁹
Komplikasi
Abrasi kornea – gesekan langsung bulu mata terhadap epitel kornea menyebabkan kerusakan lapisan epitel superfisial, memicu nyeri, epifora, dan risiko infeksi sekunder.
Ulkus kornea – abrasi yang tidak sembuh dan terinfeksi akan merusak stroma kornea melalui reaksi inflamasi dan enzim proteolitik, berpotensi menyebabkan perforasi.
Keratitis punctata – trauma mikro berulang menyebabkan kerusakan multipel kecil pada epitel kornea yang tampak sebagai lesi punctata pada pewarnaan fluorescein.
Penurunan visus – akibat opasitas kornea atau astigmatisme tidak teratur yang terbentuk pasca penyembuhan luka kornea.
Rekurensi pasca operasi – terjadi bila etiologi dasar (misalnya laxitas.¹
Prognosis
| Dimensi | Prognosis | Keterangan | Determinan Utama |
|---|---|---|---|
| Ad vitam | Bonam | Mortalitas sangat rendah bila diagnosis dan terapi tepat waktu | Tidak terjadi komplikasi berat seperti perforasi kornea atau infeksi intraokular yang mengancam nyawa |
| Ad functionam | Bonam | Sebagian besar pasien mempertahankan atau kembali ke fungsi visual normal setelah terapi | Terapi adekuat, penanganan komplikasi kornea secara cepat |
| Ad sanationam | Dubia | Dapat sembuh total pada kasus tanpa komplikasi; terdapat risiko rekurensi terutama pada tipe cicatricial | Kepatuhan kontrol, perbaikan etiologi dasar, dan teknik operasi yang sesuai |
Edukasi Pasien
Menjelaskan penyakit dan potensi komplikasi kornea
Anjuran menjaga kebersihan mata, hindari mengucek
Penggunaan tetes lubrikan secara teratur
Kepatuhan kontrol pasca operasi untuk mencegah rekurensi
Kriteria Rujukan
Tanda ulkus kornea atau perforasi
Entropion cicatricial berat
Kegagalan terapi konservatif
Kecurigaan keganasan konjungtiva/kelopak
Catatan
Penting membedakan entropion dari trikiasis/distichiasis karena tata laksana berbeda
Evaluasi etiologi sistemik (autoimun, trauma kimia) mempengaruhi keberhasilan jangka panjang