Dakriosistitis [3A]

Dakriosistitis [3A]

Bab mengenai Dakriosistitis pada Bayi, ada di akhir artikel ya …

Definisi

Dakriosistitis adalah peradangan atau infeksi pada sakus lakrimal yang terjadi akibat obstruksi duktus nasolakrimal. Obstruksi ini menyebabkan stasis air mata dan infeksi sekunder. Kondisi ini dapat bersifat akut atau kronis, dengan manifestasi klinis yang berbeda sesuai durasi dan tingkat keparahan inflamasi.¹

https://www.mdpi.com/
https://www.mdpi.com/

Etiologi

Kongenital: kegagalan membran Hasner (valvula Hasner) di ujung distal duktus nasolakrimal untuk membuka pada neonatus, sehingga aliran air mata ke meatus inferior rongga hidung terhambat.

Didapat: stenosis idiopatik (terutama pada wanita lanjut usia), trauma, pasca operasi, atau kelainan sinonasal yang mengenai duktus nasolakrimal atau sakus lakrimal.

Infeksi sekunder: umumnya terjadi pada pasien dengan epifora kronis, imunitas menurun (seperti pada diabetes mellitus, usia lanjut, atau imunodefisiensi), atau kondisi lokal yang mengganggu fungsi pompa kelopak mata. Patogen tersering adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae (pneumokokus), Haemophilus influenzae, dan Pseudomonas aeruginosa. Infeksi dapat muncul sebagai:

Streptococcus pneumoniae adalah patogen umum penyebab dakriosistitis akut, terutama pada anak, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Infeksi ini ditandai dengan onset cepat, risiko resistensi antibiotik, dan seringkali berasal dari infeksi saluran napas atas.

Eksaserbasi akut: terjadi pada proses kronis akibat perubahan flora bakteri, trauma lokal, atau penurunan daya tahan tubuh.

Infeksi per continuitatem: penyebaran langsung patogen dari struktur sekitar seperti sinus paranasal, rongga hidung, kulit wajah (misalnya selulitis wajah), atau infeksi odontogenik dari gigi dan jaringan periodontal ke sistem lakrimal.²,³,⁴

Klasifikasi

1.

Akut – onset mendadak, nyeri, eritema, dan pembengkakan di sudut medial kelopak bawah.

2.

Kronis – gejala epifora menetap, discharge mukopurulen intermiten saat sakus ditekan, dan jarang disertai nyeri.⁵

Stadium

Dakriosistitis akut dapat dibagi menjadi:

Stadium awal: inflamasi tanpa abses.

Stadium supurasi: terbentuk abses, fluktuasi positif.⁶

Menurut American Academy of Ophthalmology (AAO), dakriosistitis akut berkembang melalui tiga stadium utama:

Patofisiologi

Obstruksi duktus nasolakrimal menyebabkan hambatan aliran air mata dari sakus ke rongga hidung.

Akibatnya, air mata dan mukus terakumulasi dalam sakus lakrimal. Stasis cairan ini mengganggu mekanisme pembersihan alami dan menciptakan lingkungan hipoksia yang mendukung kolonisasi bakteri.

Respon imun lokal memicu infiltrasi neutrofil, makrofag, dan limfosit ke dinding sakus, menyebabkan edema dan penebalan mukosa.

Pada tahap lanjut, sel-sel inflamasi melepaskan enzim proteolitik dan radikal bebas yang merusak epitel sakus. Hal ini meningkatkan permeabilitas dinding dan memungkinkan bakteri menyebar ke jaringan periorbital.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi abses, membentuk fistula kulit, atau meluas menjadi selulitis orbital melalui jalur vena oftalmika yang tidak berkatup.⁷

Anamnesis

Keluhan utama: epifora unilateral, sering disertai nyeri dan bengkak di sudut medial kelopak bawah.

Onset dan perjalanan penyakit: onset mendadak pada bentuk akut, riwayat gejala berulang pada bentuk kronis.

Gejala penyerta: demam, sensasi penuh atau tertekan di area kantung lakrimal, keluarnya cairan mukopurulen dari punctum saat ditekan.

Riwayat penyakit sebelumnya: infeksi saluran napas atas, sinusitis, trauma wajah, riwayat operasi hidung/okular, atau penyakit sistemik seperti diabetes mellitus.

Riwayat rekuren: episode sebelumnya yang membaik sementara dengan atau tanpa pengobatan.¹²

Pemeriksaan Fisik

Akut:

Inspeksi: pembengkakan dan eritema jelas di sudut medial kelopak bawah, kulit tegang dan mengilat; dapat disertai kemerahan yang menyebar ke kelopak atas/bawah.

Palpasi: nyeri tekan signifikan pada sakus lakrimal; pada stadium supurasi ditemukan fluktuasi positif.

Tekanan pada sakus: keluarnya cairan purulen kental dari punctum.

Tanda sistemik: dapat disertai demam, limfadenopati preaurikular, dan gejala konstitusional.

Kronis:

Inspeksi: epifora persisten tanpa eritema atau edema mencolok; kulit di sudut medial seringkali tampak normal.

Palpasi: sakus teraba penuh/kenyal, biasanya tidak nyeri; tidak ada fluktuasi.

Tekanan pada sakus: keluarnya cairan mukoid atau mukopurulen dalam jumlah sedikit.

Tanda lain: tidak ada gejala sistemik, jarang disertai pembesaran kelenjar preaurikular.

Epifora unilateral.

Nyeri dan bengkak di sudut medial kelopak bawah (akut).

Riwayat infeksi saluran napas atas atau trauma.

Discharge purulen saat menekan sakus.Terjadi karena obstruksi menimbulkan peningkatan tekanan intraluminal yang memicu nyeri dan refluks sekret melalui punctum.⁸,¹²

Pemeriksaan Tambahan

Uji refluks sakus lakrimal: pemeriksaan klinis sederhana yang direkomendasikan sebagai evaluasi awal untuk menilai adanya obstruksi nasolakrimal dalam praktik sehari-hari.

Tes irigasi kanalikuli (syringing test): menentukan lokasi dan derajat obstruksi sistem drainase lakrimal, bermanfaat untuk persiapan tindakan bedah atau penentuan rujukan. Kontraindikasi: dakriosistitis akut dengan tanda selulitis berat (risiko penyebaran infeksi), trauma lakrimal akut, atau perforasi bola mata.

Tes fluorescein dye disappearance (FDDT): metode noninvasif untuk menilai fungsi drainase, terutama pada anak-anak atau kasus dengan kecurigaan obstruksi parsial.

Dacryocystography: pemeriksaan radiologi dengan kontras untuk memvisualisasi anatomi dan lokasi sumbatan.

Dacryoscintigraphy: penilaian fungsi drainase lakrimal menggunakan radioisotop, berguna pada kasus obstruksi parsial atau rekuren.

CT-scan orbita dan sinus paranasal: diindikasikan pada kasus dengan dugaan perluasan infeksi ke orbita, sinusitis terkait, atau massa di area sakus.

Kultur dan uji sensitivitas sekret: dilakukan pada kasus rekuren atau yang tidak responsif terhadap antibiotik awal untuk menentukan terapi antimikroba yang tepat.¹²

Dasar Diagnosis

Diagnosis ditegakkan melalui kombinasi anamnesis khas, temuan fisik (epifora, bengkak, nyeri sudut medial), dan uji refluks positif.

Diagnosis Banding

Penatalaksanaan

Stadium Inflamasi (Selulitis)

Non-Farmakologis: kompres hangat 3–4 kali sehari untuk mengurangi nyeri dan memperbaiki aliran drainase; edukasi kebersihan area periokular dan tangan; hindari manipulasi berlebihan pada area sakus.

Farmakologis:

antibiotik sistemik spektrum luas : amoksisilin-klavulanat 875/125 mg oral tiap 12 jam atau cefaclor 500 mg oral tiap 8 jam.

Pada pasien dengan alergi β-laktam atau terdapat resistensi, dapat digunakan levofloxacin 500 mg oral tiap 24 jam.

Injeksi ceftriaxone 1–2 g sekali sehari atau ampisilin-sulbaktam 1,5–3 g tiap 6 jam.

Antibiotik topikal diberikan sebagai terapi tambahan untuk mengurangi kolonisasi bakteri, misalnya ciprofloxacin 0,3% tetes mata 1–2 tetes tiap 4–6 jam, moxifloxacin 0,5% tetes mata 1 tetes tiap 4–6 jam, atau tobramisin 0,3% tetes mata 1–2 tetes tiap 4–6 jam.¹,²,¹²

Stadium Supurasi (Abses Lakrimal)

Non-Farmakologis: kompres hangat secara teratur untuk membantu pematangan abses.

Farmakologis: sama seperti stadium inflamasi, namun antibiotik sistemik menjadi prioritas sebelum tindakan.

Operatif: insisi abses lakrimal dilakukan ketika abses telah matang untuk mengeluarkan pus, mengurangi tekanan, dan mempercepat penyembuhan; prosedur dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terbentuknya fistula permanen.¹²

Stadium Fistula

Farmakologis: antibiotik topikal untuk mengurangi kolonisasi bakteri sebelum tindakan bedah.

Operatif: dakriosistorhinostomi (DCR) eksternal atau endonasal sebagai tindakan definitif untuk mengembalikan aliran air mata; dakriosistektomi dipertimbangkan pada kasus dengan kontraindikasi DCR atau adanya tumor sakus.¹²

Prinsip Umum

Tunda tindakan operatif definitif hingga infeksi akut teratasi, kecuali jika terdapat komplikasi yang mengancam penglihatan.

Sesuaikan pilihan antibiotik dengan hasil kultur dan uji sensitivitas pada kasus yang rekuren atau tidak responsif terhadap pengobatan.¹²

Komplikasi

Fistula lakrimalis: terjadi akibat pecahnya abses ke kulit.

Selulitis preseptal atau orbital: penyebaran infeksi ke jaringan sekitar mata.

Abses orbital: perluasan infeksi ke dalam rongga orbital.

Meningitis atau trombosis sinus kavernosus: komplikasi intrakranial yang jarang terjadi tetapi berbahaya.

Obstruksi ulang: terjadi akibat fibrosis pasca-infeksi atau pasca-bedah.¹,²

Prognosis

Ad vitam: Bonam — Dakriosistitis umumnya tidak mempengaruhi angka harapan hidup jika ditangani dengan tepat, kecuali pada kasus dengan komplikasi berat yang tidak tertangani.

Ad functionam: Dubia ad bonam — Fungsi visual biasanya tidak terganggu jika infeksi terbatas pada sistem lakrimal. Gangguan fungsi dapat terjadi bila komplikasi orbital atau intrakranial berkembang.

Ad sanationam: Dubia — Penyembuhan total dapat dicapai melalui penatalaksanaan yang adekuat dan prosedur definitif seperti DCR. Namun, risiko kekambuhan tetap ada, terutama pada kasus dengan faktor predisposisi yang tidak diatasi.¹,⁵

Edukasi

Pentingnya menjaga kebersihan mata dan kepatuhan mengonsumsi antibiotik.

Cara mengenali tanda komplikasi (demam, nyeri hebat, penurunan penglihatan).

Informasi tentang kebutuhan operasi untuk kasus kronis atau rekuren.

Kriteria Rujukan

Dakriosistitis akut dengan tanda penyebaran ke orbita (proptosis, nyeri saat menggerakkan bola mata, penurunan penglihatan).

Kecurigaan adanya komplikasi intrakranial (sakit kepala berat, penurunan kesadaran, defisit neurologis fokal).

Dakriosistitis pada neonatus atau bayi yang disertai gejala sistemik.

Dakriosistitis kronis yang membutuhkan evaluasi bedah definitif.

Kasus yang gagal dengan terapi konservatif atau kambuh meskipun sudah mendapat pengobatan yang adekuat.

Ditemukannya massa di area sakus yang dicurigai tumor.¹,²

Dakriosistitis pada Bayi

Etiologi khusus: biasanya disebabkan oleh membran persisten pada ujung distal duktus nasolakrimal (katup Hasner) yang tidak terbuka saat lahir.

Gambaran klinis: air mata berlebih (epifora) sejak lahir, cairan mukopurulen dari punctum, dan kulit di sekitar sudut medial mata yang tampak normal atau sedikit kemerahan.

Diagnosis: ditegakkan melalui anamnesis khas dan pemeriksaan fisik; tes hilangnya pewarna fluorescein (FDDT) dapat digunakan untuk konfirmasi.

Penatalaksanaan:

Kompres hangat dan pijatan Crigler (pijatan pada sakus ke arah bawah) beberapa kali sehari untuk membantu membuka membran yang tersumbat.

Antibiotik topikal untuk kasus dengan cairan purulen.

Probing duktus nasolakrimal dipertimbangkan jika tidak ada perbaikan setelah usia 6–12 bulan.

Prognosis: umumnya baik, sebagian besar kasus membaik secara spontan atau dengan terapi konservatif dalam 6–12 bulan pertama kehidupan.¹,²

massage Crigler
massage Crigler

✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini