Dakrioadenitis [3A]

Dakrioadenitis [3A]


Definisi

Dakrioadenitis adalah peradangan pada kelenjar lakrimal yang dapat bersifat akut atau kronis. ¹

https://ophthalmologybreakingnews.com/
https://ophthalmologybreakingnews.com/

Epidemiologi

Dakrioadenitis merupakan penyebab tersering massa inflamasi pada kelenjar lakrimal pada populasi umum. Bentuk akut relatif jarang terjadi dan sering berhubungan dengan infeksi virus pada anak dan dewasa muda, seperti mumps dan Epstein–Barr virus.

Usia: Dakrioadenitis akut lebih sering menyerang usia anak hingga dewasa muda; sedangkan dakrioadenitis kronik lebih sering pada usia pertengahan hingga lanjut dan sering berkaitan dengan penyakit autoimun (seperti Sjögren dan sarkoidosis).

Jenis kelamin: Bentuk kronik lebih banyak ditemukan pada wanita karena hubungannya dengan penyakit jaringan ikat autoimun.

Distribusi: Insidensi rendah secara keseluruhan; pada studi klinik pusat tersier, kasus dakrioadenitis hanya menyumbang <5% dari semua massa orbita.⁶

Etiologi dan Klasifikasi

1. Berdasarkan Durasi

Akut: Onset cepat, biasanya unilateral, nyeri, bengkak, sering akibat infeksi virus (mumps, EBV) atau bakteri (Staphylococcus aureus, Streptococcus spp.).

Kronis: Onset perlahan, sering bilateral, umumnya terkait penyakit sistemik (Sjögren, sarkoidosis, tuberkulosis, limfoma, IgG4-related disease).

2. Berdasarkan Jenis Infeksi / Penyebab

Infeksius:

Virus: Epstein–Barr virus, mumps, adenovirus.

Bakteri: Staphylococcus aureus, Streptococcus spp.

Mikobakteri: Tuberkulosis.

Non-infeksius:

Inflamasi idiopatik (orbital inflammatory pseudotumor).

Autoimun: Sjögren, sarkoidosis, Wegener granulomatosis, IgG4-related disease, Graves.

Neoplastik: limfoma, metastasis.

3. Berdasarkan Jalur Terjadinya

Primer: Peradangan langsung pada kelenjar lakrimal, misalnya akibat trauma, inokulasi langsung, atau infeksi dari kulit/konjungtiva.

Sekunder: Peradangan akibat penyebaran dari infeksi/penyakit lain, seperti bakteremia, selulitis orbita, atau komplikasi konjungtivitis.

4. Berdasarkan Asal Penyebab

Lokal: Penyebab terbatas di sekitar kelenjar, misalnya trauma orbita, infeksi kulit, atau konjungtivitis.

Sistemik: Penyakit inflamasi/neoplastik sistemik yang melibatkan kelenjar lakrimal, seperti sarkoidosis, Sjögren, TB, HIV, Wegener, IgG4-related disease, Graves, dan limfoma.¹,²,³,⁴,⁶

Patofisiologi

Dakrioadenitis terjadi akibat respons imun terhadap agen infeksi atau proses inflamasi sistemik yang melibatkan kelenjar lakrimal. Mekanismenya meliputi:

1.

Fase Awal – Aktivasi Imun

Agen infeksi (virus/bakteri) atau stimulus inflamasi mengaktivasi sel epitel lakrimal dan makrofag resident.

Terjadi pelepasan sitokin pro-inflamasi (IL-1, TNF-α, IL-6) yang memicu vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular, dan infiltrasi leukosit ke jaringan kelenjar.

2.

Fase Inflamasi Akut

Neutrofil mendominasi pada infeksi bakteri → menghasilkan enzim proteolitik yang menyebabkan edema dan nyeri.

Limfosit T sitotoksik dan sel NK dominan pada infeksi virus → menyebabkan kerusakan epitel kelenjar.

Akibat proses ini, terjadi pembengkakan kuadran lateral atas palpebra dan dapat menekan bola mata → proptosis ringan.

3.

Fase Kronik / Autoimun

Pada penyakit sistemik (Sjögren, sarkoidosis, IgG4-related disease), infiltrasi limfosit T dan B menjadi dominan.

Terjadi pembentukan granuloma non-kaseosa (sarkoidosis) atau pseudotumor inflamasi dengan fibrosis progresif.

Aktivasi fibroblas dan deposisi kolagen → menyebabkan fibrosis kelenjar dan atrofi asinus lakrimal.

4.

Konsekuensi Patofisiologis

Gangguan sekresi air mata → mata kering sekunder.

Perubahan anatomi orbita akibat massa inflamasi → dislokasi bola mata inferior-medial.

Pada kasus berulang/kronik, dapat terjadi kerusakan permanen kelenjar lakrimal sehingga produksi air mata menurun signifikan.

Peradangan menyebabkan infiltrasi sel imun ke jaringan kelenjar lakrimal, menurunkan fungsi sekresi air mata dan menimbulkan edema lokal. Pada kasus kronis, terjadi fibrosis dan atrofi jaringan.⁵,⁶

Anamnesis

Gejala yang sering didapat:

Onset gejala

Akut: mendadak, nyeri hebat, dengan pembengkakan yang cepat membesar.

Kronis: progresif, tidak nyeri, cenderung bilateral.

Patofisiologi: onset cepat terjadi akibat respon inflamasi akut (edema, infiltrasi neutrofil); onset lambat disebabkan infiltrasi limfosit kronik & fibrosis.

Nyeri di kuadran lateral atas orbita → sesuai lokasi anatomis kelenjar lakrimal di fossa lakrimalis.Patofisiologi: distensi kapsul kelenjar akibat edema inflamasi menstimulasi nosiseptor.

Pembengkakan kelopak atas → terlihat pada sisi temporal-superior palpebra atas.Patofisiologi: infiltrasi sel inflamasi & peningkatan permeabilitas vaskular menyebabkan edema jaringan.

Kemerahan kulit/konjungtiva di atas kelenjar.Patofisiologi: vasodilatasi lokal yang dipicu oleh sitokin pro-inflamasi (IL-1, TNF-α).

Riwayat penyakit sistemik → Sjögren, sarkoidosis, TB, limfoma.Patofisiologi: infiltrasi limfosit kronik atau granuloma sistemik yang menyasar kelenjar lakrimal.

Gejala sistemik → demam, malaise, gejala infeksi virus (parotitis, faringitis).Patofisiologi: mediator inflamasi sistemik (IL-6, TNF-α) meningkatkan respon febril.¹,²,³,⁴,⁶

Pemeriksaan Fisik

Pembengkakan di kuadran lateral atas palpebra berbentuk S.

Patofisiologi: edema kelenjar menonjolkan palpebra atas sehingga tampak S-shaped lid deformity.

https://www.amboss.com/
https://www.amboss.com/

Nyeri tekan di fossa lakrimalis.

Patofisiologi: tekanan memperparah distensi kapsul yang sudah meradang → aktivasi nociceptor nyeri.

Eritema kulit/konjungtiva.

Patofisiologi: akibat vasodilatasi lokal dan peningkatan aliran darah superfisial.

Proptosis ringan atau dislokasi bola mata inferior-medial.

Patofisiologi: kelenjar lakrimal yang membesar menekan bola mata dari superotemporal ke arah inferomedial.

Pembatasan gerakan bola mata (jarang) bila inflamasi meluas ke orbita.

Patofisiologi: peradangan menekan otot rektus superior/lateral.

Demam (akut).

Patofisiologi: pelepasan pirogen endogen (IL-1, TNF-α, prostaglandin E2).⁶

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada dakrioadenitis bertujuan untuk menegakkan diagnosis, menentukan etiologi, dan membedakan antara proses infeksi, inflamasi autoimun, atau neoplastik. Beberapa pemeriksaan yang dianjurkan:

Darah lengkap: menunjukkan leukositosis dengan dominasi neutrofil pada infeksi bakteri atau limfositosis pada infeksi virus, mencerminkan aktivasi sistem imun.

ESR dan CRP: meningkat sebagai penanda inflamasi non-spesifik akibat pelepasan sitokin pro-inflamasi.

Pemeriksaan serologi: antibodi terhadap EBV, CMV, HIV, atau tes TB (IGRA) untuk mengidentifikasi penyebab infeksi sistemik yang dapat memicu dakrioadenitis sekunder.

Uji autoantibodi: ANA, anti-Ro/La (Sjӧgren), atau kadar IgG4 untuk menilai kemungkinan penyakit autoimun penyebab infiltrasi limfositik kronik.

CT-scan atau MRI orbita: menilai pembesaran kelenjar lakrimal, mendeteksi infiltrasi ke jaringan orbita, dan membedakan inflamasi dari massa neoplastik. Inflamasi umumnya tampak sebagai pembesaran homogen dengan tepi halus, sedangkan tumor cenderung berbatas ireguler.

USG orbita (B-scan): alternatif untuk melihat pembesaran homogen (inflamasi) atau massa heterogen (neoplastik).

Biopsi kelenjar lakrimal: pemeriksaan definitif untuk kasus kronis, bilateral, atipikal, atau tidak responsif terhadap terapi. Hasil histopatologi dapat menunjukkan infiltrasi limfositik, granuloma, atau sel neoplastik.²,³,⁶

Dasar Diagnosis

Diagnosis ditegakkan melalui kombinasi anamnesis khas, pemeriksaan fisik (terutama pembengkakan di area lateral atas), dan pemeriksaan pencitraan atau biopsi bila diperlukan.²

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi yang dapat menyerupai dakrioadenitis antara lain:

Dakriosistitis adalah peradangan pada kantung lakrimal di regio medial canthus. Persamaannya dengan dakrioadenitis yaitu keduanya merupakan inflamasi sistem lakrimal yang menimbulkan bengkak, nyeri, dan eritema. Perbedaannya terletak pada lokasi, yaitu di medial canthus, sering disertai epifora akibat obstruksi duktus nasolakrimalis, sedangkan dakrioadenitis terjadi di kuadran lateral atas.

Selulitis preseptal merupakan infeksi pada jaringan lunak kelopak anterior septum orbita. Persamaannya adalah sama-sama menimbulkan nyeri, bengkak, dan eritema pada kelopak. Perbedaannya adalah distribusinya difus pada seluruh kelopak, tidak terbatas di lateral atas, serta tidak ada proptosis maupun keterlibatan orbita.

Selulitis orbita adalah infeksi jaringan orbita posterior septum. Persamaannya meliputi nyeri, bengkak, eritema, dan kemungkinan demam. Perbedaannya, gejala jauh lebih berat: terdapat proptosis nyata, gangguan gerakan bola mata, nyeri pada pergerakan, hingga penurunan tajam penglihatan, yang tidak ditemukan pada dakrioadenitis murni.

Tumor kelenjar lakrimal adalah massa neoplastik (jinak maupun ganas) pada kelenjar lakrimal. Persamaannya dengan dakrioadenitis yaitu keduanya menyebabkan pembesaran di regio superotemporal orbita. Perbedaannya, tumor memiliki onset progresif, kronis, tidak nyeri, serta umumnya tanpa tanda infeksi sistemik.

Pseudotumor orbita (orbital inflammatory pseudotumor) merupakan inflamasi idiopatik pada jaringan orbita. Persamaannya adalah dapat menimbulkan nyeri, bengkak, dan proptosis seperti dakrioadenitis. Perbedaannya, terdapat keterlibatan lebih luas termasuk otot ekstraokular dan jaringan orbita, dengan onset mendadak tetapi tanpa riwayat infeksi jelas.³,⁶,⁷

Penatalaksanaan

Tatalaksana dakrioadenitis bertujuan untuk meredakan inflamasi, mengatasi penyebab dasar, dan mencegah komplikasi. Pendekatan terapi dibagi menjadi non-farmakologis, farmakologis, dan operatif.

Non-farmakologis meliputi kompres hangat 3–4 kali sehari pada kasus akut untuk memperbaiki drainase sekret dan mengurangi edema. Pada kasus ringan akibat infeksi virus, observasi ketat dapat dilakukan karena sebagian besar bersifat self-limiting. Pasien juga dianjurkan cukup istirahat, menjaga hidrasi, dan menggunakan analgesik antipiretik untuk meredakan nyeri atau demam.

Terapi farmakologis diberikan sesuai etiologi. Untuk infeksi bakteri, digunakan antibiotik sistemik seperti amoxicillin–clavulanate 500/125 mg per oral tiga kali sehari selama 10–14 hari, atau cefuroxime axetil 500 mg per oral dua kali sehari selama 10 hari. Untuk infeksi virus herpes zoster, dapat diberikan acyclovir 800 mg lima kali sehari selama 7–10 hari. Pada kasus inflamasi kronik non-infeksi, kortikosteroid sistemik seperti prednison 1 mg/kg/hari dengan tapering setelah 1–2 minggu dapat digunakan, asalkan infeksi telah disingkirkan. Untuk pasien dengan penyakit autoimun (seperti Sjögren atau IgG4-related disease), dapat diberikan imunosupresan seperti metotreksat, umumnya dalam kolaborasi dengan reumatolog.

Tindakan operatif dilakukan bila terdapat abses yang memerlukan drainase atau pada kasus kronis yang tidak responsif terhadap terapi empiris. Biopsi kelenjar lakrimal dianjurkan untuk memastikan diagnosis pada kondisi kronis bilateral, atipikal, atau bila dicurigai adanya neoplasma.³,⁶,⁷

Komplikasi

Dakrioadenitis dapat menimbulkan beberapa komplikasi bila tidak ditangani dengan adekuat:

Abses kelenjar lakrimal: terjadi akibat progresi infeksi bakteri yang tidak terkontrol, sehingga terbentuk kumpulan pus di dalam kelenjar. Mekanismenya adalah nekrosis jaringan akibat infiltrasi neutrofil dan pelepasan enzim proteolitik.

Selulitis orbita: infeksi dapat menyebar dari kelenjar lakrimal ke jaringan orbita melalui kontinuitas atau aliran vena. Penyebaran bakteri ke ruang orbita menyebabkan inflamasi difus, proptosis, nyeri saat gerakan bola mata, hingga risiko kehilangan penglihatan.

Fistula lakrimal: abses yang tidak terdrainase dengan baik dapat pecah ke permukaan kulit atau konjungtiva, membentuk saluran abnormal. Hal ini terjadi akibat tekanan pus yang kronis menembus jaringan sekitarnya.

Kerusakan permanen kelenjar lakrimal: pada bentuk kronis autoimun atau granulomatosa, infiltrasi limfositik jangka panjang menyebabkan fibrosis dan atrofi jaringan kelenjar, mengakibatkan gangguan sekresi air mata kronis (mata kering sekunder).

Transformasi neoplastik (jarang): kasus dakrioadenitis kronis atipikal dapat menutupi adanya limfoma atau tumor kelenjar lakrimal, sehingga keterlambatan diagnosis bisa berakibat fatal.³,⁶,⁷

Prognosis

Prognosis dakrioadenitis bergantung pada etiologi, derajat keparahan, respon terhadap terapi, dan adanya penyakit sistemik yang mendasari. Secara umum, prognosis dapat dijabarkan sebagai berikut:

Ad vitam: umumnya bonam, karena dakrioadenitis jarang mengancam jiwa bila mendapat terapi tepat. Prognosis dapat menjadi dubia bila terjadi komplikasi berat seperti selulitis orbita dengan risiko sepsis atau abses yang meluas. Determinan utamanya adalah penyebaran infeksi sistemik dan kecepatan penanganan.

Ad functionam: sebagian besar bonam pada kasus akut yang segera ditangani, karena fungsi kelenjar lakrimal dapat kembali normal. Namun dapat menjadi dubia pada dakrioadenitis yang bersifat kronis, bilateral, atau berhubungan dengan penyakit autoimun yang menyebabkan fibrosis kelenjar dan gangguan produksi air mata (mata kering sekunder). Determinan utamanya adalah tipe penyakit (akut vs kronis) dan keterlibatan penyakit sistemik.

Ad sanationam: pada dakrioadenitis akut infeksius umumnya bonam, karena penyembuhan total dapat dicapai dengan antibiotik atau terapi suportif. Pada dakrioadenitis kronis prognosisnya sering dubia, karena bergantung pada pengendalian penyakit dasar (misalnya Sjögren, sarkoidosis, atau limfoma), dan dapat menjadi malam bila terkait keganasan atau tidak responsif terhadap terapi imunosupresif⁶ ¹⁰ ¹¹. Determinan utamanya adalah etiologi (infeksi vs autoimun vs neoplastik) dan respons terapi jangka panjang.³,⁶,⁷

Edukasi

Edukasi kepada pasien dengan dakrioadenitis sangat penting untuk mencegah kekambuhan, memastikan kepatuhan terapi, dan mendeteksi komplikasi lebih awal. Beberapa hal yang perlu ditekankan:

Kepatuhan pengobatan: pasien harus menyelesaikan seluruh pengobatan antibiotik atau antivirus sesuai anjuran, meskipun gejala sudah membaik lebih cepat.

Kontrol gejala: pasien dianjurkan melakukan kompres hangat secara teratur, menjaga kebersihan area mata, dan menggunakan analgesik bila diperlukan.

Waspada tanda bahaya: pasien harus segera kembali jika muncul tanda perburukan seperti nyeri menetap, demam tinggi, gangguan penglihatan, atau proptosis.

Penyakit sistemik: pada kasus dakrioadenitis kronis atau berulang, pasien perlu diberi informasi bahwa kondisi ini mungkin terkait penyakit autoimun (seperti Sjögren atau sarkoidosis) atau keganasan, sehingga pemeriksaan lanjutan sangat penting.

Pencegahan: menjaga daya tahan tubuh, mengendalikan penyakit sistemik, dan segera mengobati infeksi saluran pernapasan atas yang dapat menjadi pencetus.³,⁶,⁷

Kriteria Rujukan

Pasien dengan dakrioadenitis perlu dirujuk ke spesialis mata bila ditemukan kondisi berikut:

Tidak ada perbaikan setelah 1–2 minggu terapi empiris.

Dakrioadenitis kronis bilateral tanpa penyebab jelas → memerlukan evaluasi penyakit autoimun atau granulomatosa.

Komplikasi seperti abses kelenjar lakrimal, selulitis orbita, proptosis berat, atau penurunan visus.

Kecurigaan neoplasma kelenjar lakrimal, ditandai dengan massa kronis, keras, progresif, dan tidak nyeri.

Pasien dengan penyakit sistemik berat (seperti Sjögren, sarkoidosis, TB, limfoma) yang membutuhkan penanganan multidisiplin.²,³,⁶,⁷


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini