
Blefaritis [4]
Moh. Nurdin Zuhri, Merlyna Savitri, Daya Banyu Bening
Diperbarui : 29 Januari 2026 / V2
Definisi
Blefaritis adalah peradangan kronik pada margin palpebra yang umumnya bersifat rekuren.¹,²

(https://www.msdmanuals.com/)
Epidemiologi
Blefaritis merupakan salah satu penyebab tersering iritasi okular kronik di layanan primer dan poliklinik mata. ¹,²,⁵
Dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih sering pada dewasa dan lansia akibat meningkatnya disfungsi kelenjar Meibom. ¹,²
Sering berasosiasi dengan dermatitis seboroik, rosasea, dry eye disease, dan infestasi *Demodex*. ¹–³,⁵
Bersifat kronik rekuren, sehingga memerlukan edukasi dan perawatan kelopak mata jangka panjang. ¹,²
Data epidemiologi di Indonesia masih terbatas, tetapi secara klinis termasuk salah satu diagnosis penyakit mata luar tersering di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP). ¹,²,⁵
Faktor Risiko
Disfungsi kelenjar Meibom (MGD) yang menyebabkan gangguan lapisan lipid film air mata dan inflamasi kronik pada margin palpebra.¹,²,⁵.
Dermatitis seboroik dan rosasea yang sering berhubungan dengan blefaritis kronik.¹,²,⁵.
Infestasi *Demodex folliculorum*, terutama pada usia lanjut dan kasus blefaritis rekuren.¹,²,⁵.
Higiene palpebra yang buruk, termasuk penumpukan debris pada tepi kelopak mata.¹,².
Penggunaan kosmetik mata atau lensa kontak yang tidak higienis.¹,².
Lingkungan kering, berdebu, atau paparan iritan kronik yang memperberat gejala permukaan okular.¹,².
Dry eye disease sering menyertai dan memperburuk inflamasi kelopak mata.¹,²,⁵.
Etiologi
Kolonisasi Staphylococcus spp., terutama Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis, yang menyebabkan inflamasi kronik pada margin palpebra.¹,²,⁵.
Dermatitis seboroik, yang menimbulkan skuama berminyak serta peradangan kronik pada tepi kelopak mata.¹,².
Infestasi Demodex folliculorum pada folikel bulu mata dan kelenjar sebasea, yang memicu iritasi serta inflamasi lokal.¹,²,⁵.
Disfungsi kelenjar Meibom (Meibomian Gland Dysfunction/MGD), yang mengganggu lapisan lipid film air mata dan meningkatkan evaporasi air mata.¹,²,⁵.
Rosasea okular, yang menyebabkan inflamasi kronik pada kelopak mata dan sering disertai disfungsi kelenjar Meibom.¹,²,⁵.
Klasifikasi
Berdasarkan Lokasi Anatomis

Blefaritis Anterior
Mengenai margin anterior palpebra, terutama dasar bulu mata, folikel bulu mata, dan kelenjar Zeis serta Moll.¹,².
Ditandai oleh krusta, skuama, kolaret (collarettes), hiperemia pada margin kelopak, dan gatal pada tepi kelopak.¹,²,⁵.
Dibagi menjadi:¹,²,⁵.
Blefaritis ulseratif (stafilokokal): berhubungan dengan kolonisasi Staphylococcus aureus atau Staphylococcus epidermidis, serta lebih sering ditemukan pada pasien dengan dermatitis atopik. Ditandai oleh krusta keras yang dapat meninggalkan ulkus kecil dan perdarahan ringan setelah dilepaskan.¹,².
Blefaritis skuamosa (seboroik): berhubungan dengan dermatitis seboroik dan kolonisasi Pityrosporum ovale (Malassezia spp.). Ditandai oleh skuama lunak berminyak pada pangkal bulu mata tanpa ulserasi yang nyata.¹,².
Blefaritis terkait Demodex: disebabkan oleh infestasi Demodex folliculorum pada folikel bulu mata. Ditandai oleh gatal kronik, iritasi tepi kelopak, dan kolaret silindris (cylindrical dandruff) di pangkal bulu mata.¹,²,⁵.
Mengenai margin posterior palpebra dan kelenjar Meibom.¹,²,⁵.
Umumnya berkaitan dengan disfungsi kelenjar Meibom (MGD) dan rosasea okular.¹,²,⁵.
Ditandai oleh sumbatan orifisium kelenjar Meibom, sekret meibom yang kental atau keruh, serta penebalan margin kelopak.¹,².
Menyebabkan ketidakstabilan film air mata, sehingga sering disertai mata kering, rasa berpasir, dan evaporative dry eye.¹,²,⁵.
Dibagi menjadi:¹,²,⁵.
MGD-associated (Meibomian Gland Dysfunction): disebabkan oleh disfungsi kelenjar Meibom yang menimbulkan stasis dan perubahan kualitas sekret meibom. Ditandai oleh sekret meibom yang kental, keruh, atau seperti pasta gigi, serta orifisium kelenjar yang tersumbat.¹,²,⁵.
Rosacea-associated: berhubungan dengan rosasea okular. Ditandai oleh telangiektasis margin kelopak, disfungsi kelenjar Meibom, hiperemia konjungtiva, serta keluhan mata kering dan iritasi kronik.¹,²,⁵.
Patofisiologi
Kolonisasi bakteri atau infestasi Demodex pada margin palpebra memicu pelepasan toksin, enzim, dan debris sehingga terjadi inflamasi kronik.¹,²,⁵.
Disfungsi kelenjar Meibom menyebabkan sekret meibom menjadi kental, orifisium tersumbat, dan lapisan lipid film air mata terganggu.¹,²,⁵.
Gangguan lapisan lipid meningkatkan evaporasi air mata, sehingga timbul mata kering evaporatif, rasa berpasir, dan iritasi kronik.¹,².
Inflamasi berulang menyebabkan edema pada margin palpebra, obstruksi kelenjar, serta siklus inflamasi yang mudah kambuh.¹,².
Inflamasi kronik dapat menyebar ke permukaan okular dan menyebabkan konjungtivitis kronik, keratitis marginal, trikiasis, atau madarosis.¹,²,⁵.
Anamnesis
Keluhan utama berupa mata gatal, terasa panas, atau berpasir yang bersifat kronik dan sering memberat pada pagi hari.¹,²
Kelopak mata lengket saat bangun tidur akibat penumpukan krusta dan sekret pada tepi kelopak mata.¹,²
Lakrimasi berlebih atau mata kering akibat ketidakstabilan film air mata.¹,²,⁵
Riwayat dermatitis seboroik, rosasea, atau penyakit kulit kronik sering ditemukan.¹,²
Gejala bersifat rekuren dan mudah kambuh jika kebersihan kelopak mata tidak terjaga.¹,²,⁵
Pemeriksaan Fisik
Visus umumnya normal, kecuali bila telah terjadi komplikasi pada permukaan okular.¹,²
Margin palpebra tampak hiperemis, menebal, dan inflamasi, serta sering disertai krusta atau skuama pada pangkal bulu mata.¹,²,⁵
Blefaritis anterior ditandai oleh krusta keras (ulseratif) atau skuama berminyak (seboroik). Kolaret (collarettes) dapat ditemukan pada infestasi Demodex.¹,²,⁵
Blefaritis posterior ditandai oleh sumbatan orifisium kelenjar Meibom, sekret meibom yang keruh, kental, atau seperti pasta gigi, serta penebalan margin kelopak.¹,²,⁵
TBUT memendek dan film air mata tidak stabil dapat ditemukan pada disfungsi kelenjar Meibom.¹,²,⁵
Pada kasus kronik dapat ditemukan madarosis, trikiasis, poliosis, atau perubahan struktur pada margin palpebra.¹,²
Evaluasi permukaan okular untuk menilai konjungtivitis kronik, keratitis pungtata superfisial, keratitis marginal, atau komplikasi kornea lainnya.¹,²,⁵
Pemeriksaan Tambahan
Kultur dan uji sensitivitas bakteri: dilakukan pada blefaritis berat, atipikal, rekuren, atau refrakter untuk menentukan patogen dan pilihan antibiotik yang sesuai.¹,²
Tear Break-Up Time (TBUT): menilai stabilitas film air mata. Hasil yang memendek mendukung disfungsi kelenjar Meibom atau evaporative dry eye.¹,²,⁵
Ekspresi kelenjar Meibom: mengevaluasi kualitas sekret meibom. Sekret yang keruh, kental, atau seperti pasta gigi mendukung MGD.¹,²,⁵
Meibografi: menilai struktur dan kehilangan kelenjar Meibom pada kasus kronik atau refrakter, biasanya di fasilitas sekunder atau tersier.¹,²,⁵
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan dengan Blefaritis |
|---|---|
| Kalazion | Nodul palpebra tidak nyeri akibat obstruksi kronik kelenjar Meibom tanpa inflamasi aktif pada margin palpebra. |
| Hordeolum | Onset akut dan nyeri akibat infeksi kelenjar palpebra, berbeda dengan blefaritis yang kronik dan rekuren. |
| Dermatitis kontak alergi | Eritema dan pruritus difus terkait paparan alergen tanpa krusta pada pangkal bulu mata. |
| Trikiasis | Iritasi terjadi karena arah tumbuh bulu mata ke kornea, bukan akibat inflamasi primer margin palpebra. |
| Konjungtivitis kronik | Inflamasi dominan pada konjungtiva dengan sekret mukoid/mukopurulen, bukan pada margin palpebra. |
Penatalaksanaan
Prinsip Penatalaksanaan
Blefaritis adalah penyakit kronik rekuren. Terapi bertujuan untuk mengendalikan gejala, bukan menyembuhkan secara total.¹,²,⁵
Higiene palpebra merupakan pilar utama penatalaksanaan pada semua tipe blefaritis.¹,²,⁵
Terapi disesuaikan dengan tipe blefaritis (anterior, posterior, atau campuran).¹,²
Farmakoterapi bersifat adjuvan. Obat diberikan bila terdapat tanda inflamasi aktif atau infeksi sekunder.¹,²,⁵
Edukasi dan kepatuhan pasien menentukan keberhasilan jangka panjang dan mencegah kekambuhan.¹,²
Nonfarmakologis
Kompres hangat pada kelopak mata selama 5–10 menit, 2–4 kali sehari, untuk melunakkan sekret dan membuka orifisium kelenjar Meibom. ¹,²,⁵
Higiene palpebra rutin dengan membersihkan tepi kelopak menggunakan larutan lembut untuk menghilangkan krusta, skuama, dan debris. ¹,²,⁵
Hindari kosmetik mata dan iritan eksternal selama fase aktif untuk mencegah perburukan gejala. ¹,²
Modifikasi lingkungan dengan menghindari paparan debu dan udara kering untuk mengurangi iritasi. ¹,²
Farmakologis
Farmakoterapi merupakan terapi tambahan (adjuvan) dan tidak menggantikan higiene palpebra sebagai terapi utama.¹,²,⁵
Diberikan bila terdapat inflamasi aktif, infeksi sekunder, atau blefaritis posterior (MGD) derajat sedang hingga berat.¹,²,⁵
Pemilihan obat disesuaikan dengan etiologi, derajat keparahan, dan komplikasi yang menyertai.¹,²,⁵
Terapi farmakologis bertujuan mengurangi beban bakteri, inflamasi, memperbaiki fungsi kelenjar Meibom, dan mengendalikan gejala mata kering.¹,²,⁵
Antibiotik Topikal
| Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Natrium Fusidat tetes mata 1% | 1 tetes 2 kali/hari selama 7–14 hari atau hingga gejala membaik | Menghambat sintesis protein bakteri melalui inhibisi elongation factor G (EF-G), terutama efektif terhadap Staphylococcus spp.¹,² |
| Kloramfenikol tetes mata 0,5% atau salep mata 1% | 1 tetes 4–6 kali/hari atau salep 2–3 kali/hari selama 7–10 hari | Menghambat sintesis protein bakteri dengan berikatan pada subunit ribosom 50S.¹,² |
| Gentamisin tetes mata 0,3% atau salep mata 0,3% | 1 tetes 4–6 kali/hari atau salep 2–3 kali/hari selama 7–10 hari | Aminoglikosida yang menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan pada subunit ribosom 30S.¹,² |
Catatan: salep atau tetes mata antibiotik dapat diaplikasikan pada margin palpebra menggunakan cotton bud steril atau jari yang bersih hingga gejala inflamasi membaik.¹,²
Antibiotik Oral
| Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Azitromisin tablet 500 mg | 500 mg sekali sehari selama 3 hari, dapat diulang 3 siklus dengan interval 2 minggu | Makrolida yang menghambat sintesis protein bakteri pada subunit ribosom 50S serta memiliki efek antiinflamasi pada margin palpebra dan kelenjar Meibom.¹,²,⁵ |
| Tetrasiklin tablet 250 mg | 250 mg 4 kali/hari selama beberapa minggu sesuai respons klinis | Menghambat sintesis protein bakteri pada subunit ribosom 30S serta menurunkan aktivitas lipase bakteri dan inflamasi kelenjar Meibom.¹,²,⁵ |
| Eritromisin tablet 250 mg | 250 mg 1–2 kali/hari | Makrolida yang menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan pada subunit ribosom 50S.¹,² |
Catatan: tetrasiklin dikontraindikasikan pada anak <12 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui.¹,²
NSAID
| Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Ibuprofen tablet 200 mg atau 400 mg | 200–400 mg tiap 8 jam bila perlu | Menghambat enzim COX-1 dan COX-2, sehingga menurunkan sintesis prostaglandin penyebab nyeri dan inflamasi.¹,² |
| Asam mefenamat tablet 500 mg | 500 mg 3 kali/hari setelah makan | Menghambat sintesis prostaglandin melalui inhibisi enzim siklooksigenase.¹,² |
Air Mata Buatan (Artificial Tears)
| Obat dan Sediaan | Dosis dan Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Carboxymethylcellulose (CMC) 0,5% | 1 tetes 4–6 kali/hari atau sesuai kebutuhan | Meningkatkan viskositas dan stabilitas film air mata serta mengurangi gesekan permukaan okular.¹,² |
| Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) 0,3% | 1 tetes 4–6 kali/hari atau sesuai kebutuhan | Bertindak sebagai pelumas permukaan okular dan memperpanjang waktu kontak film air mata.¹,² |
| Sodium Hyaluronate 0,1–0,18% | 1 tetes 4–6 kali/hari atau sesuai kebutuhan | Memiliki sifat viskoelastik yang meningkatkan retensi air dan stabilitas film air mata.¹,²,⁵ |
Operatif
Tindakan bedah bukan terapi lini utama blefaritis dan tidak dilakukan secara rutin karena blefaritis merupakan penyakit inflamasi kronik yang terutama ditangani secara konservatif.¹,²,⁵
Indikasi tindakan bedah terbatas pada komplikasi blefaritis, seperti kalazion persisten yang tidak respons terhadap terapi konservatif atau kelainan struktural palpebra akibat inflamasi kronik.¹,²
Jenis tindakan meliputi insisi dan kuretase kalazion atau koreksi kelainan palpebra tertentu dengan syarat inflamasi blefaritis telah terkontrol terlebih dahulu.¹,²,⁵
Komplikasi
Kalazion akibat obstruksi kronik kelenjar Meibom.¹,²
Hordeolum akibat infeksi bakteri sekunder pada kelenjar palpebra.¹,²
Trikiasis dan madarosis akibat kerusakan folikel bulu mata akibat inflamasi kronik.¹,²
Konjungtivitis kronik akibat iritasi dan inflamasi permukaan okular yang menetap.¹,²
Keratitis marginal atau keratitis pungtata superfisial akibat inflamasi yang meluas ke kornea.¹,²,⁵
Ulkus kornea pada kasus berat yang tidak tertangani, yang berisiko menyebabkan penurunan penglihatan.¹,²,⁵
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena blefaritis merupakan penyakit inflamasi kronik pada kelopak mata yang tidak mengancam jiwa.¹,²,⁵
Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena fungsi penglihatan umumnya tetap baik dan gejala dapat dikendalikan dengan higiene palpebra serta terapi yang adekuat; prognosis dapat memburuk bila terjadi komplikasi kornea.¹,²,⁵
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad malam, karena blefaritis bersifat kronik dan rekuren, sehingga sering memerlukan perawatan jangka panjang untuk mengendalikan gejala dan mencegah kekambuhan.¹,²,⁵
Edukasi
Jelaskan bahwa blefaritis merupakan penyakit kronik dan mudah kambuh, sehingga memerlukan perawatan kelopak mata secara rutin meskipun gejala telah membaik.¹,²,⁵
Lakukan kompres hangat selama 5–10 menit diikuti pembersihan tepi kelopak mata (lid hygiene) secara teratur.¹,²,⁵
Hindari menggosok mata, penggunaan kosmetik mata saat fase aktif, serta paparan debu atau iritan yang dapat memperberat gejala.¹,²
Gunakan obat sesuai anjuran dan jangan menghentikan terapi lebih awal tanpa konsultasi.¹,²
Segera kontrol bila muncul nyeri hebat, penurunan visus, fotofobia berat, mata merah yang semakin berat, atau keluhan tidak membaik setelah terapi.¹,²,⁵
Patuhi jadwal kontrol untuk evaluasi respons terapi dan pencegahan komplikasi.¹,²,⁵
Kriteria Rujukan
Tidak ada perbaikan klinis setelah terapi adekuat (higiene palpebra dan farmakoterapi) selama 2–4 minggu.¹,²,⁵
Blefaritis berat atau refrakter, terutama yang disertai disfungsi kelenjar Meibom derajat sedang–berat.¹,²
Timbul komplikasi permukaan okular, seperti keratitis marginal, ulkus kornea, atau penurunan tajam penglihatan.¹,²,⁵
Kecurigaan diagnosis lain atau kondisi penyerta yang memerlukan evaluasi spesialistik, seperti rosasea okular berat atau infestasi Demodex yang tidak respons terhadap terapi awal.¹,²
Perlu tindakan lanjutan di fasilitas sekunder/tersier, seperti terapi MGD berbasis alat (IPL, thermal pulsation) atau tindakan bedah untuk mengatasi komplikasi.¹,²,⁵