Blefaritis [4]

Blefaritis [4]


Definisi

Blefaritis adalah peradangan kronik pada margin palpebra yang melibatkan folikel bulu mata, kelenjar sebasea, dan/atau kelenjar Meibom, yang sering berhubungan dengan disfungsi film air mata, kolonisasi mikroorganisme, serta disfungsi kelenjar Meibom, sehingga menimbulkan gejala iritasi okular yang bersifat persisten dan mudah relaps.¹,²,⁵

Epidemiologi

Blefaritis merupakan penyebab tersering iritasi okular kronik di layanan primer dan poliklinik mata.¹,²,⁵

Dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering pada dewasa dan lansia karena meningkatnya disfungsi kelenjar Meibom.¹,²

Sering berasosiasi dengan dermatitis seboroik dan rosasea, sehingga prevalensi lebih tinggi pada pasien dengan penyakit kulit kronik.¹,²,⁵

Bersifat kronik-rekuren dan memerlukan edukasi serta perawatan jangka panjang.¹,²

Data epidemiologi Indonesia terbatas, namun secara klinis termasuk diagnosis mata luar tersering di FKTP.¹,²,⁵


Faktor Risiko

Disfungsi kelenjar Meibom (MGD), terutama pada usia dewasa dan lanjut.¹,²,⁵

Dermatitis seboroik dan penyakit kulit kronik lainnya.¹,²

Rosasea, khususnya rosasea okular.¹,²,⁵

Higiene palpebra buruk, seperti jarang membersihkan kelopak mata.¹,²

Penggunaan kosmetik mata jangka panjang atau tidak higienis.¹,²

Infestasi Demodex folliculorum, terutama pada usia lanjut.¹,²,⁵

Lingkungan kering atau berdebu yang memperburuk iritasi okular.¹,²


Etiologi

Kolonisasi bakteri, terutama Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis, yang menghasilkan toksin pemicu inflamasi kronik pada margin palpebra.¹,²,⁵

Disfungsi kelenjar Meibom (Meibomian Gland Dysfunction/MGD), yang mengubah komposisi lipid film air mata dan meningkatkan evaporasi.¹,²,⁵

Dermatitis seboroik, yang menimbulkan skuama berminyak dan inflamasi kronik pada margin palpebra.¹,²

Infestasi Demodex folliculorum, yang memicu reaksi inflamasi pada folikel bulu mata dan kelenjar Meibom.¹,²,⁵

Reaksi inflamasi non-infeksi, berupa respons imun terhadap debris, toksin bakteri, atau iritan kronik pada tepi kelopak mata.¹,²


Klasifikasi

Klasifikasi Berdasarkan Lokasi Anatomis¹,²,⁴,⁵

Blefaritis anterior adalah peradangan pada margin anterior palpebra, terutama folikel bulu mata dan kelenjar sebasea. Etiologi tersering meliputi kolonisasi Staphylococcus spp., dermatitis seboroik, atau infestasi Demodex. Ditandai oleh krusta atau skuama di pangkal bulu mata disertai gatal dan hiperemia.¹,²,⁵

Blefaritis posterior melibatkan margin posterior palpebra dan kelenjar Meibom. Umumnya berhubungan dengan disfungsi kelenjar Meibom, menyebabkan sekret meibom kental atau keruh, ketidakstabilan film air mata, serta keluhan mata kering atau rasa berpasir.¹,²,⁵

1) Berdasarkan Etiologi

Blefaritis stafilokokal: terkait kolonisasi Staphylococcus spp., ditandai krusta keras dan inflamasi nyata.

Blefaritis seboroik: berhubungan dengan dermatitis seboroik, ditandai skuama lunak berminyak.

Blefaritis parasitik: disebabkan infestasi Demodex folliculorum.

Blefaritis non-infeksi: inflamasi akibat disfungsi kelenjar, iritan, atau respons imun lokal.¹,²,⁵


2) Berdasarkan Gambaran Klinis

Ulseratif: krusta keras, ulkus marginal, nyeri—sering stafilokokal.

Non-ulseratif (seboroik): krusta lunak berminyak, inflamasi ringan.

Angular: melibatkan kanthus, sering terkait Moraxella.¹,²


3) Berdasarkan Perjalanan Penyakit

Akut: jarang, biasanya terkait infeksi bakteri aktif.

Kronik: paling sering, bersifat relaps-remisi dan memerlukan perawatan jangka panjang.¹,²,⁵


4) Berdasarkan Keterkaitan dengan Permukaan Okular

Blefaritis terkait MGD (evaporative dry eye–related).

Blefaritis terkait penyakit permukaan okular lain, seperti rosasea okular dan dry eye disease.¹,²,⁵

Blefaritis anterior dan posterior
Blefaritis anterior dan posterior

Patofisiologi

Proses dimulai dari disfungsi kelenjar Meibom dan/atau kolonisasi mikroorganisme pada margin palpebra, yang menyebabkan perubahan komposisi lipid lapisan air mata serta peningkatan viskositas sekret meibom.¹,²,⁵

Ketidakstabilan lapisan lipid film air mata meningkatkan evaporasi, memicu evaporative dry eye, dan memperburuk iritasi permukaan okular.¹,²

Kolonisasi bakteri dan infestasi Demodex menghasilkan toksin, enzim, dan debris yang memicu respons inflamasi lokal pada margin palpebra dan folikel bulu mata.¹,²,⁵

Inflamasi kronik menyebabkan edema dan obstruksi orifisium kelenjar Meibom, memperparah stasis sekret dan menciptakan lingkaran setan inflamasi (vicious cycle).¹,²

Inflamasi yang menetap dapat menyebar ke permukaan okular, menimbulkan keratitis marginal, konjungtivitis kronik, serta komplikasi palpebra seperti trikiasis dan madarosis.¹,²,⁵


Anamnesis

Keluhan utama berupa mata gatal, panas, atau berpasir yang bersifat kronik dan sering memberat pada pagi hari.¹,²

Kelopak mata lengket saat bangun tidur akibat penumpukan krusta dan sekret pada tepi kelopak mata.¹,²

Lakrimasi berlebih atau mata kering akibat ketidakstabilan film air mata.¹,²,⁵

Riwayat dermatitis seboroik, rosasea, atau penyakit kulit kronik sering ditemukan.¹,²

Gejala rekuren dan mudah kambuh jika kebersihan kelopak mata tidak terjaga.¹,²,⁵


Pemeriksaan Fisik

Krusta atau skuama pada pangkal bulu mata—dapat berupa krusta keras (stafilokokal) atau lunak berminyak (seboroik).¹,²

Eritema dan edema margin palpebra, menandakan inflamasi kronik.¹,²

Sekret berbusa dan penebalan orifisium kelenjar Meibom pada blefaritis posterior, sering disertai TBUT yang memendek.¹,²,⁵

Madarosis atau trikiasis pada kasus kronik akibat kerusakan folikel bulu mata.¹,²

Tanda komplikasi permukaan okular seperti keratitis marginal atau konjungtivitis kronik pada kasus lama atau berat.¹,²,⁵


Pemeriksaan Tambahan

Kultur dan uji sensitivitas bakteri dilakukan pada blefaritis berat, atipikal, atau refrakter untuk mengidentifikasi patogen dan menentukan antibiotik yang tepat.¹,²

Pemeriksaan mikroskopik bulu mata untuk mendeteksi infestasi Demodex folliculorum pada pasien dengan gatal hebat atau blefaritis kronik yang tidak respons terhadap terapi standar.¹,²,⁵

Evaluasi film air mata (misalnya TBUT) untuk menilai ketidakstabilan film air mata yang sering menyertai blefaritis posterior dan MGD.¹,²

Evaluasi kelenjar Meibom melalui ekspresi manual atau meibografi untuk menilai derajat disfungsi kelenjar, terutama pada kasus kronik berat di fasilitas sekunder atau tersier.¹,²,⁵

Demodex Folliculorum
Demodex Folliculorum

Dasar Diagnosis

Diagnosis blefaritis ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis khas dan temuan inflamasi pada margin palpebra—berupa krusta, skuama, atau disfungsi kelenjar Meibom—pada pemeriksaan fisik.¹,²,⁵

Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan dengan Blefaritis
KalazionNodul palpebra tidak nyeri akibat obstruksi kronik kelenjar Meibom tanpa inflamasi aktif pada margin palpebra.
HordeolumOnset akut dan nyeri akibat infeksi kelenjar palpebra, berbeda dengan blefaritis yang kronik dan rekuren.
Dermatitis kontak alergiEritema dan pruritus difus terkait paparan alergen tanpa krusta pada pangkal bulu mata.
TrikiasisIritasi terjadi karena arah tumbuh bulu mata ke kornea, bukan akibat inflamasi primer margin palpebra.
Konjungtivitis kronikInflamasi dominan pada konjungtiva dengan sekret mukoid/mukopurulen, bukan pada margin palpebra.

Penatalaksanaan

Prinsip Penatalaksanaan

Blefaritis adalah penyakit kronik–rekuren. Terapi bertujuan untuk kontrol gejala, bukan penyembuhan total.¹,²,⁵

Higiene palpebra adalah pilar utama penatalaksanaan pada semua tipe blefaritis.¹,²,⁵

Terapi disesuaikan dengan tipe blefaritis (anterior, posterior, atau campuran).¹,²

Farmakoterapi bersifat adjuvan. Diberikan bila ada tanda inflamasi aktif atau infeksi sekunder.¹,²,⁵

Edukasi dan kepatuhan pasien menentukan keberhasilan jangka panjang dan mencegah kekambuhan.¹,²


Non-Farmakologis

Kompres hangat pada kelopak mata selama 5–10 menit, 2–4 kali sehari, untuk melunakkan sekret dan membuka orifisium kelenjar Meibom.¹,²,⁵

Higiene palpebra rutin dengan membersihkan tepi kelopak menggunakan larutan lembut untuk menghilangkan krusta, skuama, dan debris.¹,²,⁵

Ekspresi manual kelenjar Meibom setelah kompres hangat untuk mengeluarkan sekret yang menumpuk, terutama pada blefaritis posterior.¹,²

Hindari kosmetik mata dan iritan eksternal selama fase aktif untuk mencegah perburukan gejala.¹,²

Modifikasi lingkungan dengan menghindari paparan debu dan udara kering untuk mengurangi iritasi.¹,²

Terapi adjuvan di fasilitas sekunder, seperti intense pulsed light (IPL) atau thermal pulsation, dapat dipertimbangkan pada disfungsi kelenjar Meibom yang refrakter.¹,²,⁵


Farmakologis

Farmakoterapi bersifat adjuvan dan diberikan bila terdapat inflamasi aktif, infeksi sekunder, atau blefaritis posterior sedang–berat. Farmakoterapi tidak menggantikan higiene palpebra.¹,²,⁵

Kelompok ObatObat, Sediaan, Dosis & FrekuensiFarmakodinamik Indikasi
Antibiotik topikalGentamisin 0,3% tetes/salep mata, 2–3×/hariAminoglikosida; menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan subunit ribosom 30SBlefaritis anterior dengan tanda infeksi bakteri
Basitrasin ± neomisin salep mata, 2–3×/hari selama 7–10 hariBasitrasin menghambat sintesis dinding sel bakteri; neomisin menghambat sintesis proteinBlefaritis stafilokokal
Antibiotik oralDoksisiklin 100 mg kapsul, 1–2×/hari selama 2–4 mingguTetrasiklin; efek antiinflamasi dengan menurunkan aktivitas lipase bakteri dan mediator inflamasiBlefaritis posterior/MGD sedang–berat, rosasea okular
Tetrasiklin 250 mg tablet, 4×/hariMenghambat sintesis protein bakteri dan menurunkan degradasi lipid meibomAlternatif bila doksisiklin tidak tersedia
Kortikosteroid topikal ringanFluorometolon 0,1% tetes mata, 2–4×/hari, maksimal 2 mingguMenekan respon inflamasi dengan menghambat fosfolipase A₂ dan mediator inflamasiInflamasi palpebra sedang–berat
Loteprednol etabonat 0,2% tetes mata, 2–4×/hari, maksimal 2 mingguKortikosteroid ester; efek antiinflamasi dengan metabolisme lokal cepatInflamasi dengan kebutuhan steroid risiko rendah
Terapi khususAgen anti-Demodex (mis. tea tree oil terstandar), sesuai protokolAktivitas antiparasit yang menurunkan populasi DemodexBlefaritis parasitik terkonfirmasi

Operasi

Tindakan bedah bukan terapi lini utama blefaritis dan tidak dilakukan rutin, karena blefaritis adalah penyakit inflamasi kronik yang ditangani terutama secara konservatif.¹,²,⁵

Indikasi tindakan bedah terbatas pada komplikasi blefaritis, seperti kalazion persisten yang tidak respons terhadap terapi konservatif atau kelainan struktural palpebra akibat inflamasi kronik.¹,²

Jenis tindakan meliputi insisi dan kuretase kalazion atau koreksi kelainan palpebra tertentu, dengan syarat inflamasi blefaritis telah terkontrol terlebih dahulu.¹,²,⁵


Komplikasi

Blefaritis dapat menimbulkan berbagai komplikasi sebagai akibat dari inflamasi kronik, disfungsi kelenjar Meibom, serta kolonisasi mikroorganisme:

Kalazion terjadi akibat obstruksi kronik kelenjar Meibom yang menyebabkan penumpukan sekret lipid dan reaksi granulomatosa lipogranulomatosa.¹,²

Hordeolum dapat muncul sebagai komplikasi karena infeksi akut sekunder pada folikel bulu mata atau kelenjar palpebra oleh bakteri piogenik, terutama Staphylococcus aureus.¹,²

Trikiasis terjadi akibat perubahan struktur margin palpebra dan kerusakan folikel bulu mata pada inflamasi kronik, sehingga bulu mata tumbuh ke arah kornea dan menimbulkan iritasi mekanik.¹,²

Madarosis disebabkan oleh kerusakan folikel bulu mata akibat inflamasi persisten dan toksin mikroba, yang mengakibatkan kerontokan bulu mata permanen atau sementara.¹,²

Keratitis marginal muncul akibat reaksi inflamasi imunologis terhadap antigen bakteri dari margin palpebra, yang menimbulkan infiltrat perifer kornea.¹,²,⁵

Ulkus kornea dapat terjadi sebagai komplikasi lanjut dari keratitis atau trauma mikro berulang akibat trikiasis dan toksin bakteri, berisiko menyebabkan penurunan tajam penglihatan.¹,²,⁵

Konjungtivitis kronis berkembang akibat iritasi dan inflamasi berkelanjutan dari margin palpebra ke permukaan konjungtiva.¹,²


Prognosis

Ad vitam: Bonam, karena blefaritis tidak mengancam jiwa dan tidak berkaitan dengan mortalitas.¹,²,⁵

Ad functionam: Dubia ad sanam, bergantung pada derajat keparahan, keterlibatan permukaan okular (misalnya keratitis marginal), serta kepatuhan pasien terhadap higiene palpebra dan terapi jangka panjang.¹,²

Ad sanationam: Malam, karena blefaritis bersifat kronik dan mudah relaps, sehingga umumnya tidak dapat disembuhkan secara tuntas, melainkan dikontrol dengan perawatan berkelanjutan.¹,²,⁵


Edukasi

Blefaritis adalah penyakit kronik–rekuren, sehingga memerlukan perawatan jangka panjang dan bukan terapi sekali selesai.¹,²

Kebersihan kelopak mata (higiene palpebra) merupakan terapi utama dan harus dilakukan secara rutin meskipun keluhan membaik.¹,²,⁵

Penggunaan obat bertujuan mengendalikan inflamasi, bukan menyembuhkan secara total, sehingga harus digunakan sesuai anjuran dokter.¹,²

Pasien dianjurkan menghindari kosmetik mata dan iritan selama fase aktif penyakit untuk mencegah kekambuhan.¹,²

Kontrol berkala diperlukan untuk mengevaluasi respons terapi dan mencegah komplikasi pada permukaan okular.¹,²,⁵

Blefaritis yang aktif harus ditangani terlebih dahulu karena dapat mengganggu persiapan tindakan bedah mata elektif seperti operasi refraktif dan katarak.

Evaluasi lanjutan: Pasien perlu dievaluasi ulang dalam 2–4 minggu. Jika tidak ada perbaikan dengan terapi rutin, pasien sebaiknya dirujuk ke layanan sekunder.¹,⁵


Kriteria Rujukan

Tidak ada perbaikan klinis setelah terapi adekuat (higiene palpebra dan farmakoterapi) selama 2–4 minggu.¹,²,⁵

Blefaritis berat atau refrakter, terutama yang disertai disfungsi kelenjar Meibom derajat sedang–berat.¹,²

Timbul komplikasi permukaan okular, seperti keratitis marginal, ulkus kornea, atau penurunan tajam penglihatan.¹,²,⁵

Kecurigaan diagnosis lain atau kondisi penyerta yang memerlukan evaluasi spesialistik, seperti rosasea okular berat atau infestasi Demodex yang tidak respons terhadap terapi awal.¹,²

Perlu tindakan lanjutan di fasilitas sekunder/tersier, seperti terapi MGD berbasis alat (IPL, thermal pulsation) atau tindakan bedah untuk mengatasi komplikasi.¹,²,⁵


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini