
Anisometropia [3A dan 2]
Definisi dan Batasan
Anisometropia adalah kondisi perbedaan ukuran refraksi antara kedua mata, yang menyebabkan bayangan (image) pada retina berbeda ukuran (aniseikonia) dan kualitas.
Perbedaan refraksi >1,00 dioptri sudah dianggap bermakna secara klinis, namun gejala signifikan biasanya muncul bila perbedaan >2,00–3,00 D.
Ambang toleransi bervariasi berdasarkan usia dan kemampuan neuroadaptasi visual pasien.
Anisometropia merupakan penyebab ambliopia tersering tanpa gejala yang jelas.¹,⁶,¹¹
Etiologi dan Klasifikasi
Anisometropia dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa pendekatan klinis:
Patofisiologi
Anamnesis
Anak:
Tidak disadari oleh anak atau orang tua
Terdeteksi saat pemeriksaan skrining rutin atau karena adanya strabismus
Orang tua melihat anak cenderung menutup satu mata atau memiringkan kepala saat melihat.⁴,⁶
Dewasa:
Astenopia (kelelahan mata) dan sakit kepala
Penglihatan ganda ringan
Kesulitan berkonsentrasi
Ketidaknyamanan saat menggunakan kacamata baru.¹,⁶,¹¹
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk menilai ketajaman penglihatan, kemampuan fusi binokular, serta mendeteksi kemungkinan ambliopia atau strabismus tersembunyi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
Tes visus monokular dan binokular: Menilai ketajaman penglihatan masing-masing mata dan fungsinya saat bekerja bersamaan.
Refraksi subyektif dan obyektif: Untuk mengidentifikasi perbedaan dioptri yang signifikan antara kedua mata.
Tes fusi dan stereopsis (seperti uji Lang atau Titmus): Menilai kemampuan integrasi penglihatan binokular.
Tes Worth Four Dot dan Maddox rod: Untuk mendeteksi supresi dan foria/strabismus laten.
Uji ukuran bayangan subjektif: Menggunakan metode khusus (seperti test-size lenses) untuk menilai aniseikonia.¹,⁴,⁶,⁷,¹¹
Pemeriksaan Tambahan
Pemeriksaan tambahan dilakukan untuk menilai struktur dan fungsi visual secara lebih mendalam serta menyingkirkan kemungkinan penyebab organik:
OCT makula: Mendeteksi kelainan makula atau retina sentral yang dapat menyebabkan penurunan visus unilateral.
Topografi kornea: Bermanfaat untuk pasien pasca operasi refraktif atau trauma kornea, membantu mengetahui perubahan kontur dan kelengkungan kornea.
Pemeriksaan fundus: Menilai retina, nervus optikus, dan media refraktif; penting dalam mengevaluasi etiologi organik ambliopia.
Filter densitas netral: Digunakan untuk membedakan ambliopia fungsional (akibat supresi) dari ambliopia organik (akibat kelainan anatomis).¹,⁶,⁷,¹¹
Dasar Diagnosis
Perbedaan refraksi ≥1 D pada hiperopia atau ≥3 D pada miopia
Keluhan visual yang khas
Adaptasi yang buruk terhadap koreksi standar
Diagnosis Banding
| Diagnosis Banding | Perbedaan |
|---|---|
| Miopia bilateral | Simetris, tidak menimbulkan supresi |
| Hipermetropia bilateral | Simetris, tanpa ambliopia unilateral |
| Strabismus laten | Deviasi tersembunyi, tanpa perbedaan refraksi |
| Ambliopia strabismik/deprivasi | Ada deviasi bola mata atau kekeruhan media |
| Monovision pasca LASIK | Riwayat bedah dan rencana penglihatan monokular |
Penatalaksanaan
A. Non-Farmakologis
Anak:
Tujuan utama adalah untuk Mencegah atau mengobati ambliopia, dan menstimulasi perkembangan binokularitas.
Koreksi refraksi:
Dilakukan penuh dan segera, terutama pada kasus hiperopia dan astigmatisme untuk mencegah supresi visual.
Kacamata anak merupakan modalitas utama.
Lensa kontak lunak dapat digunakan jika anak dapat mentoleransi.
Terapi ambliopia (jika ada), dengan cara oklusi mata dominan selama 2–6 jam per hari untuk menstimulasi penglihatan mata lemah.
Latihan ortoptik yang diberikan untuk meningkatkan kemampuan fusi binokular dan akomodasi.¹,⁴,⁶
Dewasa:
Tujuan utama: Mengatasi gejala visual seperti asthenopia (ketegangan mata), diplopia, dan ketidaknyamanan visual lainnya.
Koreksi refraksi awal:
Dilakukan secara bertahap (undercorrection) bila perlu.
Bertujuan untuk menghindari intoleransi terhadap efek pembesaran mendadak.
Modalitas koreksi pilihan:
Lensa kontak lebih disukai bila selisih refraksi antar mata >2–3 dioptri.
Bedah refraktif (LASIK) dapat dipertimbangkan bila keluhan tetap ada.
Kacamata khusus aniseikonia (misalnya: iseikonic lens) digunakan untuk menyamakan persepsi ukuran bayangan retina.
Latihan ortoptik diberikan bila terdapat kelemahan fusi binokular.¹,⁶,⁸,¹¹
B. Farmakologis
Anak:
Atropin penalization (1% atropin 1×/hari pada mata sehat) sebagai alternatif metode oklusi
Tetes antikolinergik ringan jika ditemukan spasme akomodasi (pilokarpin kontraindikasi pada anak)
Dewasa:
Tetes mata pelumas (lubrikan topikal) untuk membantu kenyamanan penggunaan lensa kontak
Obat relaksasi akomodasi untuk mengatasi insufisiensi akomodasi (misalnya cyclopentolate topikal).⁶,⁹,¹¹
C. Operatif
Bedah refraktif (LASIK) untuk pasien dewasa yang tidak toleran terhadap koreksi konvensional
Penyesuaian IOL (seperti piggyback lens atau lens exchange) bila terjadi anisometropia setelah operasi katarak unilateral
Hindari koreksi monovision ekstrem tanpa evaluasi kemampuan penglihatan binokular, karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan visual dan penglihatan ganda.¹,⁶,¹¹
Komplikasi
Ambliopia permanen (pada anak)
Hilangnya kemampuan stereopsis
Astenopia atau diplopia kronis (pada dewasa)
Ketidakmampuan mentoleransi kacamata
Prognosis
| Aspek Prognosis | Penilaian | Faktor Determinan |
|---|---|---|
| Ad vitam | Bonam | - Tidak memengaruhi kelangsungan hidup secara langsung. |
| Ad functionam | Dubia | - Derajat perbedaan refraksi tinggi (>3 D). |
| - Keterlambatan diagnosis dan terapi. | ||
| - Adanya aniseikonia yang tidak tertoleransi. | ||
| - Gangguan fusi binokular atau ambliopia menetap. | ||
| Ad sanationam | Relativam bonam | - Respon baik terhadap terapi oklusi dan koreksi refraksi dini. |
| - Kepatuhan terapi baik. | ||
| - Akses terhadap modalitas koreksi optimal (lensa kontak atau bedah refraktif). |
Edukasi
Anak: pentingnya skrining refraksi dini, kepatuhan alat koreksi, edukasi orang tua
Dewasa: waktu adaptasi koreksi, pilihan lensa kontak lebih nyaman, evaluasi prabedah LASIK/IOL
Kriteria Rujukan
Ambliopia/strabismus
Refraksi >4 D tak tertoleransi
Tidak ada perbaikan konservatif
Evaluasi bedah refraktif