Amblyopia / Lazy Eye [2]
Definisi dan Batasan
Amblyopia adalah penurunan tajam penglihatan yang tidak dapat dikoreksi dengan kacamata pada mata yang secara struktural normal. Kondisi ini terjadi akibat gangguan perkembangan visual pada masa kanak-kanak karena terhambatnya input visual ke korteks penglihatan.¹
Etiologi dan Klasifikasi
Terdapat lima bentuk utama amblyopia berdasarkan mekanisme penyebabnya:
Amblyopia Strabismus: Merupakan tipe yang paling sering, Disebabkan oleh deviasi mata (juling). Untuk menghindari penglihatan ganda (diplopia), otak menekan input dari mata yang menyimpang, sehingga jalur visual tidak berkembang optimal. Jenis ini paling umum pada anak-anak.
Amblyopia Anisometropik: Terjadi akibat perbedaan refraksi signifikan antara kedua mata. Mata dengan bayangan lebih buram diabaikan oleh otak karena input visualnya lebih buruk. Tanpa koreksi, mata ini akan mengalami amblyopia.
Amblyopia Ametropik: Disebabkan oleh kelainan refraksi berat bilateral, seperti hipermetropia tinggi pada kedua mata. Karena kedua mata tidak membentuk bayangan yang tajam, perkembangan visual terganggu secara menyeluruh.
Amblyopia Stimulus Deprivation: Dikenal juga sebagai amblyopia deprivasi. Disebabkan oleh hambatan fisik pada jalur aksis visual seperti katarak kongenital, ptosis berat, atau leukokoria. Hambatan ini menghalangi cahaya masuk ke retina dan mencegah stimulasi ke korteks visual.
Amblyopia Meridional: Disebabkan oleh astigmatisme yang tidak terkoreksi pada masa kritis perkembangan visual. Otak tidak terbiasa menerima rangsangan dari garis-garis tertentu (misalnya horizontal atau vertikal), menyebabkan kehilangan penglihatan pada orientasi tertentu.¹,³
Stadium
Saat ini belum ada sistem klasifikasi stadium numerik yang diakui secara internasional untuk amblyopia, baik dari WHO maupun AAO. Namun, dalam praktik klinis, amblyopia umumnya diklasifikasikan secara fungsional menjadi 3 derajat berdasarkan ketajaman visual dan respons terhadap terapi. Klasifikasi ini membantu mengevaluasi tingkat keparahan dan menentukan pendekatan terapi yang tepat:
Ringan: VA 6/9 – 6/12
Sedang: VA 6/18 – 6/60
Berat: VA <6/60 atau >2 baris perbedaan antar mata. ¹,³
Patofisiologi
Selama masa kritis perkembangan visual (0–7 tahun), input visual dari kedua mata sangat penting untuk perkembangan sinaptik normal di korteks visual primer.
Bila salah satu mata menerima stimulasi yang kabur atau tidak konsisten (misalnya karena strabismus, perbedaan refraksi, atau hambatan aksis visual seperti ptosis atau katarak), otak akan menekan input dari mata tersebut secara kortikal.
Penekanan ini menghambat perkembangan jalur visual di lateral geniculate nucleus (LGN) dan korteks visual.
Akibatnya, terbentuk amblyopia yang bersifat fungsional, bukan struktural.¹²
Anamnesis
Anak tidak mengeluhkan gejala subjektif
Amblyopia sering terdeteksi saat skrining visual atau ketika anak kesulitan melihat/membaca dengan satu mata
Riwayat strabismus, katarak kongenital, atau kesulitan akademik
Anak sering memiringkan kepala (head tilt) untuk mengoptimalkan penglihatan dari mata dominan
Memicingkan mata atau menutup salah satu mata saat membaca atau melihat objek jauh
Menghindari aktivitas yang membutuhkan fokus binokular (seperti membaca atau menggambar)
Sering tersandung atau kesulitan mengambil benda karena gangguan persepsi kedalaman (stereopsis)
Orang tua mungkin melaporkan kesulitan akademik atau perkembangan anak yang terhambat.¹,³,⁴
Pemeriksaan Fisik
Penurunan tajam penglihatan satu mata pada Snellen chart
Crowding phenomenon: lebih mampu membaca huruf tunggal dibandingkan baris huruf
Refleks cahaya abnormal bila terdapat hambatan media (contoh: katarak)
Strabismus mungkin terlihat jelas atau hanya tersembunyi (foria).⁴
Pemeriksaan Tambahan
| Pemeriksaan | Tujuan | Prinsip | Hasil Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Tes ketajaman visual | Deteksi awal | Uji setiap mata secara terpisah | Penurunan tajam penglihatan ≥ 2 baris |
| Red Reflex Test. | Menyingkirkan hambatan media | Evaluasi refleksi fundus | Deteksi leukokoria |
| Funduskopi | Menyingkirkan kelainan organik | Visualisasi retina dan diskus optikus | Normal, tanpa kelainan retina atau saraf optik |
| Tes binocular vision WFDT (Worth 4 dot, cover test) | Identifikasi penekanan dan fiksasi dominan | Deteksi supresi | Penekanan (supresi) salah satu mata |
Dasar Diagnosis
Terdapat penurunan ketajaman visual ≥2 baris pada salah satu mata
Tidak ditemukan kelainan organik
Disertai faktor risiko amblyopia.¹
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan utama |
|---|---|
| Katarak kongenital | Refleks merah terganggu, tampak kekeruhan lensa |
| Retinoblastoma | Leukokoria dan kelainan fundus |
| Kelainan refraksi | Perbaikan tajam penglihatan dengan koreksi lensa |
| Ptosis | Penutupan visual aksis oleh kelopak |
| Nistagmus kongenital | Gerakan osilasi mata terlihat; amblyopia bisa terjadi secara sekunder |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Koreksi refraksi dengan kacamata: Langkah awal utama dalam penatalaksanaan amblyopia akibat anisometropia atau ametropia bilateral. Tujuannya menyediakan bayangan yang tajam ke retina dan memungkinkan otak menggunakan input visual dari mata amblyopia. Pada beberapa kasus amblyopia ringan, kacamata saja sudah cukup efektif tanpa memerlukan terapi tambahan.
Occlusion therapy (patching): Terapi utama dengan menutup mata sehat menggunakan penutup mata (eye patch) selama beberapa jam sehari. Tujuannya untuk memaksa otak menggunakan mata amblyopia sehingga memperkuat jalur visualnya. Waktu pemakaian tergantung usia dan derajat amblyopia (misalnya 2–6 jam/hari untuk amblyopia ringan-sedang).
Terapi penalization optik: Alternatif patching, dilakukan dengan memburamkan penglihatan mata sehat menggunakan lensa plus tinggi agar fokus menjadi kabur, sehingga mendorong penggunaan mata amblyopia.
Terapi visual berbasis aktivitas: Latihan khusus seperti menggambar, membaca, atau permainan berbasis penglihatan dengan satu mata, bertujuan meningkatkan koordinasi dan ketajaman visual.
Perbaikan faktor pencetus: Misalnya operasi ptosis, ekstraksi katarak kongenital, atau koreksi refraksi signifikan dengan kacamata atau lensa kontak.
Edukasi dan monitoring ketat: Edukasi kepada orang tua sangat krusial untuk menjaga kepatuhan penggunaan patch atau lensa. Monitoring berkala diperlukan untuk menilai perbaikan VA dan mencegah amblyopia balik pada mata sehat (occlusion amblyopia).¹,²
Farmakologis
| Obat | Dosis | Contoh Merek | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Atropin sulfat 1% | 1 tetes/hari pada mata sehat | Atropine®, | Melumpuhkan akomodasi → penglihatan kabur pada mata sehat¹² |
Operatif
Indikasi bila terdapat hambatan media: operasi katarak kongenital, ptosis
Operasi strabismus bila tidak merespon terapi konservatif
Edukasi
Pentingnya deteksi dini (sebelum usia 5 tahun)
Komitmen penuh terhadap kepatuhan terapi patching
Jangan hentikan terapi sepihak tanpa anjuran dokter
Pemeriksaan berkala selama masa terapi hingga usia sekolah dasar
Komplikasi
Amblyopia menetap: terjadi ketika diagnosis dan terapi terlambat; akibat terbentuknya jalur visual abnormal yang menetap di korteks otak.
Occlusion amblyopia: terjadi pada mata sehat akibat over-patching; otak mulai menekan mata yang sebelumnya normal karena kehilangan input dominan.
Gangguan stereopsis (penglihatan binokular): disebabkan oleh ketidakseimbangan input visual jangka panjang; pasien kehilangan persepsi kedalaman.
Masalah perkembangan psikososial: gangguan fungsi visual pada masa tumbuh kembang dapat menurunkan kepercayaan diri, prestasi belajar, dan interaksi sosial.³,¹²
Prognosis
| Dimensi | Prognosis | Keterangan | Determinan Utama |
|---|---|---|---|
| Ad vitam | Bonam | Tidak mengancam jiwa; prognosis hidup baik | Tidak terkait sistemik |
| Ad functionam | Bonam | Pemulihan fungsi penglihatan baik jika terapi dilakukan dini | Usia saat diagnosis, kepatuhan terhadap terapi |
| Ad sanationam | Dubia | Penyembuhan total sulit jika diagnosis terlambat | Usia >7 tahun saat terapi, amblyopia berat, atau faktor risiko refraksi tinggi |
Catatan
Crowding phenomenon dapat menjadi petunjuk penting diagnostik
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan sebelum usia 3 tahun dengan metode HOTV atau Tumbling E
Pemakaian atropin sehari-hari pada mata dominan memiliki efektivitas yang mirip dengan patching
Kriteria Rujukan
Pasien amblyopia perlu dirujuk ke dokter spesialis mata jika:
Tidak menunjukkan perbaikan tajam penglihatan setelah terapi konservatif
Terdapat kelainan struktural seperti katarak atau ptosis
Diagnosis ditegakkan pada usia lebih dari 7 tahun dengan respons terapi minimal
Ditemukan strabismus tetap atau gangguan refleks merah
Dicurigai kondisi serius seperti retinoblastoma
Terdapat gangguan perilaku yang menghambat pelaksanaan terapi
Ditemukan ketidakseimbangan refraksi bilateral ekstrem
Mengalami amblyopia rekuren
Keluarga tidak siap mendukung pengobatan jangka panjang
Kasus kompleks atau yang memerlukan tindakan bedah sebaiknya dievaluasi lebih lanjut oleh oftalmologis anak atau ahli strabismus.
