Ablasio Retina (Retinal Detachment)

Ablasio Retina (Retinal Detachment)


Definisi dan Batasan

Ablasio retina adalah kondisi ketika lapisan retina neurosensorik terlepas dari lapisan epitel pigmen retina (RPE).

Menyebabkan gangguan fungsi retina karena terganggunya suplai nutrisi dari koroid.

Merupakan kegawatdaruratan mata yang memerlukan penanganan segera.¹,²,³,⁴,⁸

Etiologi

Faktor risiko dan penyebab berbeda untuk setiap jenis ablasio:

Regmatogen: Robekan retina yang terjadi akibat miopia, degenerasi lattice, afakia, atau trauma.

Traksional: Tarikan jaringan fibrosis yang disebabkan oleh retinopati diabetik, ROP, atau trauma.

Eksudatif: Penumpukan cairan subretina akibat inflamasi (Harada), tumor (melanoma koroid, retinoblastoma), atau vaskulopati seperti hipertensi maligna.⁴,⁵,⁶,⁷

Faktor Risiko

Faktor risiko berdasarkan mekanisme terjadinya:

Jenis AblasioFaktor Risiko Utama
RegmatogenosaMiopia tinggi (≥ -6 D), usia >40 tahun, afakia/pseudofakia, degenerasi lattice, trauma tumpul/tembus, PVD (posterior vitreous detachment), riwayat keluarga ablasio, jenis kelamin laki-laki
TraksionalRetinopati diabetik proliferatif, retinopati prematuritas (ROP), sickle cell retinopathy, trauma, riwayat prosedur vitrektomi sebelumnya
EksudatifTumor intraokular (retinoblastoma, melanoma koroid), penyakit inflamasi (Harada, skleritis posterior), vaskulopati berat (hipertensi maligna), uveal effusion syndrome

Ablasio retina bilateral ditemukan pada sebagian kasus, sehingga mata kontralateral perlu diperiksa dan dimonitor secara berkala.

Klasifikasi¹⁴

JenisMekanismeCiri Khas KlinisPemeriksaan Fisik
RegmatogenosaRobekan retina → cairan vitreus masuk ke subretinaFloaters, fotopsia, tirai gelap, visus cepat turunFunduskopi: tampak robekan retina (terutama bentuk tapal kuda), retina terangkat, tampak kerutan retina, dan warna retina keabu-abuan.
TraksionalTarikan jaringan fibrosis pada retinaProgresif lambat, tanpa fotopsia, pada PDR/ROPFunduskopi: terlihat tarikan retina berbentuk lipatan (traction folds), konfigurasi cembung ke arah vitreus, tanpa adanya robekan retina.
EksudatifCairan subretina tanpa robekanBerkaitan dengan tumor atau inflamasiFunduskopi: elevasi retina halus dan bulat, posisi bisa berpindah tergantung gravitasi (shifting fluid), tidak tampak robekan atau tarikan retina.

Patofisiologi

Secara anatomis, lapisan retina tidak melekat secara langsung dengan RPE, melainkan hanya dipisahkan oleh celah potensial. Ketika terjadi robekan atau tarikan, cairan bisa masuk ke dalam celah ini sehingga menyebabkan retina terlepas dari RPE.⁴,⁷

Anamnesis

Fotopsia: Kilatan cahaya yang muncul akibat tarikan pada vitreus.

Floaters: Bayangan titik-titik hitam yang tampak melayang akibat degenerasi vitreus.

Gejala khas: "Tirai hitam" yang menutupi sebagian lapang pandang, sesuai dengan lokasi ablasio.

Penurunan tajam penglihatan terjadi bila makula terlibat.

Pemeriksaan Fisik

Visus: Menurun bervariasi, bergantung pada keterlibatan makula.

Funduskopi: Retina tampak terangkat, berwarna pucat dengan pembuluh darah yang berkelok; pada tipe regmatogen, robekan dapat terlihat jelas.

Tekanan intraokular: Biasanya rendah.

Tanda khas: Retina menggulung dan terdapat pigmentasi pada vitreus.

Pemeriksaan Penunjang⁵,⁶

PemeriksaanTujuanTemuan klinis
OftalmoskopiVisualisasi retinaRetina terangkat, robekan
USG B-scandigunakan saat media opakDeteksi ablasio dan massa intraokuler
FFAEksudatifKebocoran vaskular
OCTRetinal layerIdentifikasi subretinal fluid

Dasar Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan klinis (anamnesis dan funduskopi), dibantu imaging seperti USG bila media opak.

Diagnosis Banding

Diagnosis BandingPerbedaan utama dengan ablasio retina
Migrain dengan auraGejala visual hilang-timbul, tidak ada kelainan retina
Uveitis posteriorAda nyeri, flare sel, inflamasi intraokuler
Posterior vitreous detachmentFloaters tanpa hilangnya lapang pandang
Retinal artery occlusionHilangnya penglihatan mendadak, retina tampak pucat
Choroidal detachmentRetina cembung ke anterior, tidak ada robekan retina

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Istirahat, dan rujukan segera.

Farmakologis (untuk kasus inflamasi/eksudatif):

ObatSediaanDosisMerekMekanisme
Prednisolonoral0,5–1 mg/kg/hariDeltacortrilAnti-inflamasi steroid
Atropintetes mata1–2×/hariCendo TropicSikloplegik, mengurangi nyeri, cegah sinekia

Operasi 🟨

TeknikIndikasi Prinsip/Tindakan
Retinopeksi PneumatikRobekan retina superior < 1 cm; RRD sederhanaInjeksi gas kecil (air/SF₆) + krioterapi atau laser pada tepi robekan; posisi kepala spesifik agar gelembung menutup robekan
Laser FotokoagulasiRobekan retina perifer dengan media jernihLaser barikade melingkari robekan; adhesi matang ± 7 hari
Krioterapi Trans‑skleraRobekan perifer posterior, media opak, atau sulit akses laserProbe kriogenik diaplikasi dari sklera; siklus beku‑cair → parut chorioretinal
Scleral BucklingRRD dengan lokasi robekan teridentifikasi, tanpa PVR beratSabuk silikon menekan dinding sklera di lokasi robekan; sering dikombinasi laser/krioterapi
Vitrektomi Pars PlanaRRD kompleks, PVR signifikan, detasemen traksional/eksudatif beratHapus vitreus & traksi; endolaser/krioterapi internal; injeksi tamponade (gas/ minyak)
EnukleasiTumor intraokular besar, nyeri pada mata butaEksisi bola mata seluruhnya

Tamponade Intraokular 🟨

Tamponade intraokular adalah penggunaan gas atau silikon oil yang ditempatkan dalam kavum vitreus setelah vitrektomi untuk menekan robekan retina, mengeringkan cairan subretina, dan menjaga kontak retina–RPE hingga bekas laser/krioterapi beradhesi kuat

Indikasi Umum :

Ablasio retina regmatogen/traksional pasca vitrektomi.

Giant retinal tear atau PVR yang membutuhkan tekanan internal jangka panjang.

Pasien yang tidak dapat mempertahankan posisi tertentu (pilih silicon oil).²,⁸

Komplikasi

Endoftalmitis: Infeksi pascabedah.

Glaukoma sekunder: Obstruksi aliran aqueus akibat inflamasi.

Katarak: Komplikasi tindakan vitrektomi.

Kehilangan penglihatan permanen bila penanganan terlambat.

Prognosis

Ad vitam: Baik jika tanpa tumor ganas.

Ad functionam: Baik jika makula belum terlepas.

Ad sanationam: Baik bila tindakan pertama berhasil (50–60% visus pulih); menurun pada operasi ulang atau ablasio lama.

Edukasi

Pentingnya deteksi dini floaters dan fotopsia.

Segera ke dokter mata bila ada gejala tirai hitam atau penurunan penglihatan.

Pemantauan ketat pada pasien miopia tinggi dan diabetes.

Edukasi Pasien Pasca Operasi Ablasio Retina

Posisi Kepala: Harus dijaga sesuai instruksi (misalnya posisi menunduk) agar gas tamponade bekerja optimal pada lokasi ablasio.

Larangan Naik Pesawat: Hindari perjalanan udara selama masih ada gas intraokular karena bisa memicu ekspansi gas mendadak dan meningkatkan tekanan bola mata.

Hindari Anestesi N₂O: Pasien tidak boleh mendapatkan anestesi dengan nitrous oxide (N₂O) selama gas masih ada di dalam mata.

Penggunaan Obat: Obat tetes mata (antibiotik, antiinflamasi, midriatik) harus digunakan sesuai instruksi dokter.

Kenali Tanda Bahaya: Segera kontrol bila ada nyeri hebat, penurunan visus ulang, kemerahan berat, atau muncul floaters/fotopsia baru.

Kontrol Teratur: Jadwal kontrol pasca operasi penting untuk evaluasi tekanan intraokular dan posisi retina.

Hindari Aktivitas Berat: Jangan mengangkat beban berat, membungkuk lama, atau melakukan aktivitas berat selama pemulihan.

Harapan Visus: Visus dapat membaik bertahap dalam beberapa minggu hingga bulan tergantung keterlibatan makula.

Pemeriksaan Mata Sebelah: Karena risiko ablasio bilateral, mata kontralateral juga perlu diperiksa berkala. floaters dan fotopsia.

Segera ke dokter mata bila ada gejala tirai hitam atau penurunan penglihatan.

Pemantauan ketat pada pasien miopia tinggi dan diabetes.

Tindakan Pencegahan Ablasio Retina

Pemeriksaan Retina Berkala: Disarankan pada pasien dengan miopia tinggi, riwayat keluarga ablasio, atau pasca operasi katarak.

Laser Fotokoagulasi Profilaksis: Dapat dilakukan jika terdapat robekan retina atau degenerasi lattice berisiko untuk mencegah progresi menjadi ablasio.

Manajemen PVD: Pemeriksaan dini dan pengobatan robekan retina saat awal gejala floaters/fotopsia dapat mencegah ablasio.

Kontrol Penyakit Sistemik: Terutama diabetes, untuk mencegah ablasio traksional.

Modifikasi Aktivitas: Hindari olahraga berat atau trauma bola mata pada pasien risiko tinggi.


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini