Vitiligo [2,3A].

Vitiligo [2,3A].


Nama Lain : leukoderma atau acquired depigmentation disorder


Definisi

Vitiligo adalah kelainan pigmentasi kulit didapat akibat destruksi melanosit epidermis yang ditandai oleh makula depigmentasi putih susu berbatas tegas tanpa didahului proses inflamasi dan sering bersifat progresif.¹,²


Etiologi

Etiologi vitiligo bersifat multifaktorial.

Autoimun terhadap melanosit, berupa destruksi oleh limfosit T sitotoksik.

Faktor genetik, termasuk predisposisi terhadap penyakit autoimun.

Stres oksidatif pada melanosit yang menyebabkan kerusakan sel selama proses melanogenesis.

Faktor lingkungan, seperti paparan bahan kimia atau stres yang memicu kerusakan melanosit.


Epidemiologi

Prevalensi vitiligo sekitar 0,5–2% populasi dunia.

Sekitar 50% kasus muncul sebelum usia 20 tahun.

Dapat terjadi pada anak maupun dewasa tanpa perbedaan jenis kelamin yang signifikan.

Lesi sering muncul pada wajah, tangan, siku, lutut, dan genital.²-⁷


Klasifikasi

Vitiligo non-segmental (generalized vitiligo)

Lesi bilateral dan simetris, dapat mengenai berbagai bagian tubuh; merupakan tipe paling sering dan sering berkaitan dengan mekanisme autoimun.

Vitiligo non-segmental (Saavedra dkk, 2023)
Vitiligo non-segmental (Saavedra dkk, 2023)

Vitiligo segmental

Lesi unilateral mengikuti dermatom, onset lebih dini, progresi cepat tetapi kemudian stabil; berkaitan dengan teori neurogenik.

Vitiligo segmental (Saavedra dkk, 2023)
Vitiligo segmental (Saavedra dkk, 2023)

Vitiligo universal

Depigmentasi mengenai hampir seluruh permukaan tubuh (>80–90%), merupakan bentuk paling luas.

Vitiligo universal (Saavedra dkk, 2023)
Vitiligo universal (Saavedra dkk, 2023)

Vitiligo fokal

Lesi terbatas pada satu atau beberapa area tanpa pola segmental, dapat berkembang menjadi tipe lain.²-⁵,⁸


Patofisiologi

Vitiligo merupakan kelainan pigmentasi didapat yang ditandai oleh destruksi melanosit epidermis tanpa didahului proses inflamasi, sehingga timbul makula depigmentasi yang sering bersifat progresif.

Mekanisme utama melibatkan interaksi faktor genetik, imunologis, dan lingkungan yang memicu kerusakan melanosit.

Terdapat tiga teori utama destruksi melanosit pada vitiligo:

Teori autoimun

Melanosit dihancurkan oleh limfosit T sitotoksik yang teraktivasi, sehingga terjadi kehilangan melanosit pada epidermis.

Teori neurogenik

Terutama pada vitiligo segmental, terdapat pengaruh neuropeptida dan neurohormon abnormal yang menyebabkan destruksi melanosit sesuai distribusi dermatom.

Teori self-destruction (oksidatif)

Melanosit mengalami kerusakan akibat toksin atau stres oksidatif yang dihasilkan selama proses melanogenesis.

Akibat destruksi melanosit, terjadi hilangnya produksi melanin dan kegagalan transfer melanosom ke keratinosit, sehingga muncul makula depigmentasi putih susu berbatas tegas, kadang dikelilingi kulit normal atau hiperpigmentasi relatif.

Lesi dapat bertambah luas seiring waktu, mencerminkan proses penyakit yang bersifat kronik dan progresif.¹-⁶


Faktor Risiko

Riwayat keluarga vitiligo atau penyakit autoimun, menunjukkan predisposisi genetik terhadap gangguan imun.

Penyakit autoimun lain, terutama tiroiditis autoimun, diabetes melitus tipe 1, atau alopecia areata.

Trauma kulit berulang (fenomena Koebner) yang memicu munculnya lesi pada area cedera.

Paparan stres psikologis atau stres oksidatif, yang dapat memicu atau memperberat penyakit.

Paparan bahan kimia tertentu (misalnya fenol atau katekol) yang bersifat toksik terhadap melanosit.³-⁷


Anamnesis

Bercak putih pada kulit tanpa gatal atau nyeri, merupakan keluhan utama akibat hilangnya melanin.

Lesi muncul perlahan dan bertambah luas (progresif) atau muncul lesi baru di lokasi lain.

Tidak didahului oleh inflamasi, kemerahan, atau skuama, membantu membedakan dari tinea versicolor atau dermatitis.

Riwayat trauma kulit sebelumnya pada lokasi lesi (fenomena Koebner).

Riwayat keluarga dengan vitiligo atau penyakit autoimun.

Dapat disertai riwayat penyakit autoimun lain, terutama gangguan tiroid.²-⁵


Pemeriksaan Fisik

Predileksi

Wajah (perioral, periokular).

Tangan dan jari (dorsum manus).

Siku dan lutut (area ekstensor).

Genital dan perianal.

Area sekitar orifisium tubuh (mulut, mata, hidung).

Area trauma atau gesekan (fenomena Koebner).³-⁶


Efloresensi

Makula depigmentasi putih susu akibat hilangnya melanin.

Batas tegas (well-defined) yang jelas membedakan dengan kulit normal.

Tidak terdapat skuama, membantu membedakan dari infeksi jamur.

Dapat berbentuk bulat, oval, atau tidak teratur.

Lesi dapat konfluens (menyatu) pada stadium lanjut.

Leukotrichia (rambut menjadi putih) pada area lesi.

Lesi tampak lebih kontras pada kulit gelap karena kehilangan pigmen total.¹-⁵


Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis vitiligo umumnya bersifat klinis.

Lampu Wood digunakan untuk menegaskan depigmentasi; lesi vitiligo tampak putih terang (chalky white) karena tidak adanya melanin.²

Gambaran woods lamp lesi vitiligo (Veasley dkk, 2018)
Gambaran woods lamp lesi vitiligo (Veasley dkk, 2018)

Biopsi kulit dilakukan pada kasus meragukan; menunjukkan hilangnya melanosit epidermis, berkurangnya melanin, serta dapat disertai infiltrasi inflamasi ringan.

Pemeriksaan fungsi tiroid (TSH, FT4) untuk mendeteksi penyakit autoimun terkait, terutama tiroiditis autoimun.

Pemeriksaan laboratorium lain dapat dipertimbangkan untuk menilai komorbid autoimun, seperti gula darah atau autoantibodi, terutama pada kasus luas atau progresif.³,⁴,⁵,⁸,⁹


Diagnosis Banding²-⁷

DiagnosisPerbedaan dengan Vitiligo
Pityriasis albaHipopigmentasi, batas tidak tegas, terdapat skuama halus, sering pada anak.
Tinea versicolorLesi hipopigmentasi/hiperpigmentasi, skuama halus, KOH positif, sering di badan.
Post-inflammatory hypopigmentationRiwayat inflamasi, warna tidak putih total, batas kurang tegas.
Nevus depigmentosusLesi sejak lahir, stabil, tidak progresif.
AlbinismeDepigmentasi generalisata, melibatkan kulit, rambut, dan mata.
Leprosy (paucibacillary)Lesi dengan anestesi, dapat disertai penebalan saraf.
Idiopathic guttate hypomelanosisMakula kecil putih, usia lanjut, tidak progresif luas.
Leukoderma karena bahan kimiaSesuai area kontak, terdapat riwayat pajanan.
Melanoma hipopigmentasi (tipe T)Lesi tidak homogen, batas tidak teratur, perubahan bentuk/ukuran.

Penatalaksanaan

Algoritma terapi vitiligo (Kang dkk, 2019)
Algoritma terapi vitiligo (Kang dkk, 2019)

Non-Farmakologis

Fotoproteksi dengan sunscreen.

Edukasi pasien mengenai sifat kronis penyakit.

Menghindari trauma kulit yang memicu Koebner phenomenon.²-⁵


Farmakologis

Prinsip terapi farmakologis

Menekan autoimun dan merangsang repigmentasi.

Kortikosteroid topikal untuk lesi terbatas.

Inhibitor kalsineurin untuk area sensitif.

Fototerapi NB-UVB untuk lesi luas/progresif.

Kortikosteroid sistemik pada progresif cepat.

Depigmentasi pada kasus sangat luas.²-⁴


Farmakologis

GolonganObat dan SediaanDosisIndikasiFarmakodinamik
Kortikosteroid topikalClobetasol propionate 0,05% krim/salep; betamethasone dipropionate1–2×/hari pada lesiLesi terbatas (<20% BSA)Menekan respon imun lokal dan inflamasi
Inhibitor kalsineurinTacrolimus 0,03–0,1% salep; pimecrolimus 1% krim2×/hariArea wajah, lipatan, dan area sensitifMenghambat aktivasi sel T dan produksi sitokin
Kortikosteroid sistemikPrednison tablet±0,3–0,5 mg/kgBB/hari (tapering)Vitiligo progresif cepatMenekan respon imun sistemik

🟨 Terapi Lainnya



Komplikasi

Gangguan psikologis. Dampak kosmetik menyebabkan penurunan kepercayaan diri, ansietas, atau depresi

Sunburn (luka bakar akibat sinar UV). Area depigmentasi tidak memiliki melanin protektif, sehingga lebih rentan terhadap paparan UV

Kanker kulit (non-melanoma). Risiko meningkat akibat hilangnya perlindungan melanin terhadap radiasi UV kronik

Penyakit autoimun terkait. Terutama tiroiditis autoimun, dapat disertai kondisi autoimun lain

Iritis / uveitis. Keterlibatan melanosit pada mata dapat menyebabkan inflamasi intraokular

Hearing loss (gangguan pendengaran). Melanosit juga terdapat pada telinga dalam; kerusakan dapat menyebabkan gangguan fungsi koklea.²-⁵



Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena vitiligo merupakan kelainan pigmentasi kulit tanpa keterlibatan organ vital dan tidak mengancam jiwa.

Ad functionam (terhadap fungsi organ): bonam, karena umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi organ. Meski demikian, kondisi ini dapat berdampak pada kualitas hidup akibat aspek kosmetik dan psikologis.

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena sebagian pasien dapat mengalami repigmentasi dengan terapi. Namun, penyakit ini bersifat kronis dan dapat menetap atau kambuh.¹,²,³,⁵


Edukasi

Vitiligo merupakan penyakit kronis dan tidak menular, sehingga pasien perlu memahami bahwa kondisi ini tidak berbahaya, tetapi dapat berlangsung jangka panjang.

Lesi dapat bertambah luas atau stabil, sehingga penting dilakukan pemantauan dan terapi rutin sesuai anjuran dokter.

Pasien dianjurkan menggunakan tabir surya secara rutin karena area depigmentasi lebih rentan mengalami sunburn akibat tidak adanya melanin protektif.

Hindari trauma kulit (fenomena Koebner), seperti garukan atau gesekan berulang, karena dapat memicu munculnya lesi baru.

Terapi bertujuan untuk mengontrol penyakit dan merangsang repigmentasi, tetapi hasilnya bervariasi dan tidak selalu sempurna.

Dukungan psikologis diperlukan karena penyakit dapat berdampak pada kualitas hidup dan kepercayaan diri pasien.²-⁶


Kriteria Rujukan

Lesi luas (>20% luas permukaan tubuh) atau vitiligo generalisata yang memerlukan terapi lanjutan.

Penyakit progresif cepat atau muncul lesi baru meski sudah mendapatkan terapi awal.

Tidak membaik setelah terapi topikal adekuat selama 8–12 minggu.

Membutuhkan fototerapi (NB-UVB) atau terapi sistemik yang tidak tersedia di layanan primer.

Pertimbangan terapi operatif (grafting) pada vitiligo stabil.

Terdapat komorbid autoimun, seperti gangguan tiroid, yang memerlukan evaluasi lanjutan.

Dampak psikologis berat yang memerlukan penanganan multidisiplin.²-⁵


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini