Urtikaria [3A & 4].

Urtikaria [3A & 4].


Nama Lain : Biduran, kaligata, hives, nettle rash, urticaria wheals.


Definisi

Urtikaria adalah reaksi vaskular pada kulit yang ditandai oleh wheal (bentol) eritematosa atau pucat, yang timbul cepat dan menghilang dalam waktu singkat, akibat edema interseluler lokal pada dermis superfisial karena pelepasan histamin dari sel mast.¹,²

Urtikaria (Saavedra dkk, 2023)
Urtikaria (Saavedra dkk, 2023)

Etiologi

Makanan, misalnya telur, udang, ikan, kacang, coklat.²,³

Obat-obatan, terutama penisilin, NSAID, dan ACE inhibitor.²,⁴

Faktor fisik, misalnya panas, dingin, tekanan, sinar matahari, sinar UV, dan radiasi.³,⁵

Infeksi, misalnya ISPA, hepatitis, Helicobacter pylori, serta infestasi parasit.³,⁶

Faktor genetik, misalnya riwayat atopi.⁴,⁵

Gigitan serangga

Inhalan, misalnya serbuk sari, debu, bulu binatang.⁴

Kontaktan, misalnya bahan kimia, tumbuhan, dan kutu

Faktor psikis, misalnya stres emosional.⁵

Penyakit sistemik, misalnya SLE, gangguan tiroid, dan keganasan.⁶

Reaksi alergi terhadap makanan atau obat.²,³

Infeksi virus atau bakteri.³,⁴

Faktor fisik seperti tekanan, suhu dingin, atau panas.⁴,⁵

Proses autoimun, terutama pada urtikaria kronis.⁵,⁶


Epidemiologi

Sekitar 15–20% populasi mengalami urtikaria setidaknya sekali seumur hidup.²,³

Urtikaria akut lebih sering terjadi dibandingkan kronis.⁴

Urtikaria kronis lebih sering ditemukan pada wanita dewasa.⁵

Penyakit ini sering berkaitan dengan reaksi alergi atau infeksi.⁶,⁷


Klasifikasi

Klasifikasi urtikaria (Perdoski, 2024)
Klasifikasi urtikaria (Perdoski, 2024)

Urtikaria spontan

Akut: durasi <6 minggu, sering terkait alergi, infeksi, atau obat

Kronis: durasi ≥6 minggu, sering idiopatik atau autoimun

Urtikaria fisik (inducible)

Dingin: dipicu udara/air dingin

Panas: dipicu paparan panas lokal

Delayed pressure: dipicu tekanan, muncul 3–8 jam setelah stimulus

Solaris: dipicu sinar UV/cahaya

Dermografisme: muncul setelah goresan/tekanan ringan (1–5 menit)

Vibratori: dipicu getaran mekanik

Kelompok lain

Aquagenik: dipicu kontak dengan air

Kolinergik: dipicu peningkatan suhu tubuh (olahraga, emosi, panas)

Kontak: dipicu paparan langsung alergen/iritan

Exercise-induced: dipicu aktivitas fisik, dapat disertai anafilaksis

Urtikaria kolinergik: dipicu peningkatan suhu tubuh (olahraga, emosi, panas)

Angioedema: edema lebih dalam (subkutan/submukosa), dapat mengenai bibir, lidah, dan jalan napas

Klasifikasi ini penting untuk menentukan pendekatan diagnostik dan terapi.³,⁸


Patofisiologi

Patofisiologi Urtikaria Akut (Datta dkk, 2023)
Patofisiologi Urtikaria Akut (Datta dkk, 2023)

Paparan pencetus seperti alergen, obat, infeksi, atau faktor fisik akan mengaktivasi sel mast dan basofil di dermis superfisial sebagai sel utama dalam reaksi urtikaria.²,³

Aktivasi tersebut menyebabkan degranulasi sel mast dengan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, dan prostaglandin.²,³

Histamin yang dilepaskan akan berikatan dengan reseptor H1 pada pembuluh darah sehingga terjadi:

Vasodilatasi yang menimbulkan eritema

Peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan edema dermis superfisial (wheal/bentol)

Stimulasi saraf sensorik yang menimbulkan pruritus (gatal).²,⁴

Aktivasi sel mast terjadi melalui dua mekanisme utama:

Imunologis

Tipe I (IgE-mediated) sebagai mekanisme tersering, di mana alergen mengikat IgE dan memicu degranulasi sel mast

Tipe II dan III melalui aktivasi komplemen

Tipe IV melalui reaksi sel T pada urtikaria kontak

Non-imunologis

Aktivasi langsung oleh obat (NSAID, opiat, aspirin)

Faktor fisik seperti dingin, panas, dan tekanan

Stimulasi kolinergik seperti olahraga atau stres.³,⁵

Pada urtikaria kronis, sering ditemukan mekanisme autoimun berupa autoantibodi terhadap reseptor IgE (FcεRI) pada sel mast, sehingga terjadi aktivasi berulang tanpa pencetus yang jelas.²,⁶


Faktor Risiko

Riwayat atopi seperti asma, rinitis alergi, atau dermatitis atopik, karena hiperreaktivitas sistem imun dan peningkatan IgE mempermudah aktivasi sel mast.²,³

Paparan obat tertentu seperti antibiotik, NSAID, dan ACE inhibitor, karena dapat memicu pelepasan histamin secara imunologis maupun non-imunologis.³,⁴

Infeksi, terutama virus, bakteri, atau parasit, karena dapat mengaktivasi sistem imun dan memicu degranulasi sel mast melalui sitokin dan komplemen.³,⁵

Faktor fisik seperti dingin, panas, tekanan, dan sinar matahari, karena dapat menstimulasi sel mast secara langsung tanpa perantara IgE.⁴,⁵

Stres emosional, karena meningkatkan aktivitas sistem saraf dan pelepasan mediator neuroimun yang memicu urtikaria.⁵,⁶

Penyakit autoimun seperti gangguan tiroid atau SLE, karena autoantibodi terhadap reseptor IgE (FcεRI) dapat menyebabkan aktivasi sel mast kronis.⁶

Paparan alergen lingkungan seperti debu, serbuk sari, dan bulu binatang, karena dapat memicu reaksi hipersensitivitas tipe I (IgE-mediated).³,⁴


Anamnesis

Keluhan utama: gatal (pruritus) disertai sensasi tersengat atau tertusuk pada kulit.¹,²

Lesi kulit: muncul bentol (wheal) eritematosa secara mendadak, dapat mengenai wajah, ekstremitas, atau seluruh tubuh, serta hilang dalam <24 jam lalu muncul di lokasi lain.¹,³

Sifat lesi: hilang timbul (transien) tanpa meninggalkan bekas.²,³

Gejala penyerta: dapat disertai angioedema berupa pembengkakan bibir/kelopak mata; pada kasus berat dapat muncul sesak napas, nyeri perut, muntah, atau berdebar.¹,⁴

Riwayat pencetus: konsumsi obat atau makanan, infeksi, gigitan serangga, atau paparan faktor fisik (dingin, panas, sinar matahari).²,³

Riwayat atopi: pasien dengan riwayat alergi (atopi) memiliki risiko lebih tinggi mengalami urtikaria.¹,²


Pemeriksaan Fisik

Predileksi

Dapat mengenai seluruh tubuh, terutama wajah, badan, dan ekstremitas.¹,²

Lesi bersifat berpindah-pindah (transien) dan tidak menetap pada satu lokasi.²,³


Efloresensi

Wheal (urtika) berupa edema dermal superfisial yang meninggi.¹,²

Warna merah atau pucat di tengah dengan halo eritema, berbatas tegas.²,³

Bentuk bulat, oval, anular, atau serpiginosa, dapat konfluens.²,³


Pemeriksaan Fisik

Lesi hilang dalam <24 jam tanpa bekas, kemudian dapat muncul di lokasi lain.¹,²

Dapat ditemukan dermografisme (edema linier setelah goresan).²,⁴

Angioedema: pembengkakan pada kelopak mata, bibir, lidah, ekstremitas.¹,³

Kasus berat: tanda sistemik seperti dyspneu, wheezing, atau stridor.¹,⁴


Pemeriksaan Penunjang

Evaluasi klinis lesi pada semua pasien melalui inspeksi wheal khas berupa bentol eritematosa pruritik yang hilang <24 jam, sebagai dasar diagnosis klinis.²

Pemeriksaan darah seperti hitung darah lengkap, LED/CRP, dan fungsi tiroid (TSH, antibodi tiroid) dilakukan untuk menilai adanya infeksi, inflamasi, atau penyakit autoimun sistemik.¹,²,⁶

Pencarian fokus infeksi melalui pemeriksaan THT atau gigi (misalnya sinusitis, tonsilitis) dilakukan untuk menilai kemungkinan pencetus kronis.²,³

Skin prick test (tes alergi) dilakukan untuk mengidentifikasi alergen spesifik seperti makanan, obat, atau inhalan.¹,²,⁶

Tes eliminasi makanan dilakukan dengan menghindari makanan tertentu dan mengevaluasi perbaikan gejala untuk menilai alergi makanan.²,³

Tes provokasi fisik seperti ice cube test (urtikaria dingin) dan scratch test/dermografisme dilakukan untuk menilai urtikaria fisik (inducible urticaria).¹,²,⁶

Autologous Serum Skin Test (ASST) pada kasus tertentu dilakukan untuk menilai mekanisme autoimun (autoantibodi terhadap reseptor IgE).²,⁶


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan utama
Dermatitis kontak alergi/iritanLesi terbatas pada area pajanan, dapat disertai vesikel/skuama, dan menetap >24 jam
Eritema multiformeLesi target (iris) dengan tiga zona warna, sering pada ekstremitas distal, durasi lebih lama
Angioedema herediterEdema dalam tanpa wheal dan tanpa pruritus, onset lebih lambat, tidak respons antihistamin
Drug eruption (eksantema obat)Ruam makulopapular difus, onset hari–minggu setelah obat, tidak hilang cepat
Vaskulitis urtikariaLesi menyerupai urtikaria tetapi menetap >24 jam, sering disertai nyeri/burning, meninggalkan purpura atau hiperpigmentasi
Erythema nodosumNodul subkutan nyeri, terutama di pretibial, tidak gatal, tanpa wheal
Systemic Lupus Erythematosus (SLE)Ruam (mis. malar rash) disertai manifestasi sistemik (sendi, ginjal, hematologi)
Purpura Henoch–Schönlein (HSP)Purpura non-blanching, dominan di ekstremitas bawah, disertai nyeri perut, artralgia
Pityriasis roseaAwal herald patch, diikuti lesi oval dengan collarette scale mengikuti garis Langer

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Menghindari faktor pencetus atau alergen.²,³

Menghindari obat yang memicu urtikaria.⁴

Edukasi mengenai identifikasi faktor pemicu.⁵


Farmakologis

Antihistamin H1 generasi kedua sebagai terapi lini pertama untuk menekan efek histamin dan mengurangi wheal serta pruritus.²,⁷

Dosis dapat ditingkatkan hingga 4× pada urtikaria kronis bila respons tidak adekuat.²,⁷

Kortikosteroid sistemik diberikan jangka pendek pada eksaserbasi berat, bukan terapi rutin.²

Epinefrin intramuskular diberikan pada kondisi anafilaksis atau angioedema yang mengancam jalan napas.²,⁷

Pada kasus refrakter, dapat dipertimbangkan terapi imunomodulator seperti omalizumab atau siklosporin

Urtikaria Akut

Golongan ObatNama ObatDosisFarmakodinamik
Antihistamin H1 generasi keduaCetirizine10 mg/hariAntagonis reseptor H1 sehingga menurunkan efek histamin pada pembuluh darah
Loratadine10 mg/hariMenghambat efek histamin tanpa sedasi bermakna
Fexofenadine120–180 mg/hariBlokade selektif reseptor H1 perifer
Antihistamin generasi pertamaCTM4 mg, 2–3×/hariBlokade H1 sentral dan perifer, efek sedatif
Difenhidramin25–50 mg, 3–4×/hariAntagonis H1 dengan efek sedasi dan antipruritus
Kortikosteroid sistemikPrednison0,5–1 mg/kgBB/hari (3–5 hari)Menekan inflamasi dan respon imun
SimpatomimetikEpinefrin IM0,3–0,5 mg IM (1:1000)Vasokonstriksi, bronkodilatasi, menurunkan edema akut

Urtikaria Kronis

Golongan ObatNama ObatDosisFarmakodinamik
Antihistamin H1 generasi keduaCetirizine10 mg/hari (dapat hingga 40 mg/hari)Supresi efek histamin pada reseptor H1
Loratadine10 mg/hari (dapat hingga 40 mg/hari)Blokade H1 dengan efek minimal sedasi
Biologik (anti-IgE)Omalizumab150–300 mg SC tiap 4 mingguMengikat IgE bebas sehingga menurunkan aktivasi sel mast
ImunosupresanSiklosporin3–5 mg/kgBB/hariMenghambat aktivasi limfosit T dan mediator imun

Komplikasi

Angioedema. Pembengkakan pada jaringan subkutan, terutama pada bibir, lidah, dan laring, yang dapat menyebabkan obstruksi jalan napas dan kondisi gawat darurat.²,⁵

Anafilaksis. Reaksi sistemik berat yang dapat disertai hipotensi, sesak napas, dan syok.¹,²

Gangguan kualitas hidup. Pruritus kronis dapat menyebabkan gangguan tidur, kecemasan, dan penurunan aktivitas harian.⁶

Urtikaria kronis persisten. Gejala dapat berlangsung lama dan memerlukan terapi jangka panjang


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam. Urtikaria umumnya merupakan kondisi jinak dan jarang mengancam jiwa, kecuali bila disertai anafilaksis atau angioedema berat.¹,²

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam. Tidak menyebabkan gangguan fungsi organ, namun dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat pruritus.²,³

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam pada urtikaria akut, dubia ad bonam pada urtikaria kronis. Urtikaria akut biasanya sembuh spontan, sedangkan bentuk kronis cenderung berlangsung lama dan rekuren.¹,²


Edukasi

Hindari faktor pencetus seperti makanan, obat, infeksi, atau faktor fisik yang diketahui memicu gejala.¹,²

Gunakan antihistamin secara teratur sesuai anjuran, terutama pada urtikaria kronis untuk mengontrol gejala.²,³

Jangan menggaruk lesi karena dapat memperberat pruritus dan memicu dermografisme.²,⁴

Segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas, pembengkakan bibir/lidah, atau pusing sebagai tanda angioedema atau anafilaksis.¹,²

Catat riwayat alergi atau pencetus untuk mencegah kekambuhan di masa depan.³,⁴


Kriteria Rujukan

Urtikaria kronis (>6 minggu) yang tidak membaik dengan terapi antihistamin optimal.²,³

Tidak respons terhadap antihistamin dosis tinggi atau membutuhkan terapi lanjutan (omalizumab/siklosporin).²,³

Disertai angioedema berat, terutama dengan keterlibatan jalan napas.¹,²

Kecurigaan anafilaksis atau gejala sistemik seperti sesak napas, hipotensi, atau sinkop.¹,²

Diduga terkait penyakit sistemik seperti autoimun, tiroid, atau keganasan.³,⁴

Diagnosis meragukan atau memerlukan evaluasi alergi lanjutan (skin test, ASST).²,³


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2019.

3.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. 5th ed. New Delhi: Jaypee; 2016.

4.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.

5.

Motta A. Atlas of Dermatology. London: Springer; 2022.

6.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. New York: Springer; 2018.

7.

Hylwa S, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. New York: McGraw-Hill; 2020.

8.

Mikailov A, Saavedra AP. Dermatology Prescriptions. New York: McGraw-Hill; 2020.

9.

Oakley A. Dermatology Made Easy. London: Scion Publishing; 2017.

10.

Ferringer T. Atlas of Essential Dermatopathology. London: Springer; 2013.

11.

Braun RP, Marghoob AA. Practical Dermoscopy. London: Informa Healthcare; 2012.

12.

James WD, Elston DM, Treat JR, Rosenbach MA. Andrews’ Diseases of the Skin: Clinical Dermatology. 13th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.

13.

Datta S, De A, Singh S, Sarda A, Dhar S. Biomarkers of chronic spontaneous urticaria. Indian J Skin Allergy. 2023;2:60–70. doi:10.25259/IJSA_14_2023.