Tinea Unguium [2].

Tinea Unguium [2].


Nama Lain : Onikomikosis, tinea unguium, dermatofitosis kuku, fungal nail infection


Definisi

Tinea unguium (onikomikosis) adalah infeksi jamur pada kuku yang disebabkan oleh dermatofita, ragi, atau jamur non-dermatofita, serta ditandai dengan diskolorasi, penebalan, kerapuhan, dan destruksi lempeng kuku.¹,²,³,¹¹,¹²


Epidemiologi

Lebih sering terjadi pada usia dewasa hingga lanjut usia (lebih dari 40 tahun) akibat pertumbuhan kuku yang melambat, trauma kronik, dan penurunan imunitas.²,⁴,¹²

Jarang pada anak-anak karena pertumbuhan kuku lebih cepat dan paparan faktor risiko lebih rendah.¹,³

Lebih sering pada laki-laki dibanding perempuan, berkaitan dengan aktivitas, penggunaan sepatu tertutup, dan paparan kelembapan yang lebih tinggi.³,⁷,¹¹

Insidensi meningkat pada individu dengan komorbid seperti diabetes atau gangguan vaskular perifer, yang lebih sering ditemukan pada usia lanjut.⁸,¹⁰,¹²


Etiologi

Dermatofita merupakan penyebab utama, terutama Trichophyton rubrum (±81–91% kasus), diikuti Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum.¹,³,¹¹

Jamur non-dermatofita (kapang) meliputi Acremonium, Aspergillus sp., Cladosporium carrionii, Fusarium sp., Onychocola canadensis, Scopulariopsis brevicaulis, dan Scytalidium dimidiatum (±2–3%).²,⁸,¹²

Ragi terutama Candida albicans (±6–7%), lebih sering pada kuku tangan serta pada kondisi lembap kronik.²,⁶,¹²

Sumber infeksi sering berasal dari tinea pedis sebagai reservoir dermatofita melalui autoinokulasi ke kuku.¹,⁴,¹¹


Faktor Resiko/ Pencetus

Usia lanjut disertai pertumbuhan kuku yang melambat sehingga mempermudah kolonisasi jamur.²,⁴,¹².

Diabetes melitus dan gangguan vaskular perifer yang menurunkan perfusi dan imunitas lokal.⁸,¹⁰,¹².

Kelembapan kronik akibat penggunaan sepatu tertutup atau lingkungan lembap.¹,⁶,¹¹.

Hiperhidrosis yang meningkatkan kondisi lembap pada kaki.²,⁴.

Trauma kuku berulang yang merusak integritas lempeng kuku.³,⁷.

Tinea pedis kronik sebagai sumber autoinokulasi dermatofita.¹,⁴,¹¹.

Imunosupresi (misalnya penggunaan steroid jangka panjang atau penyakit kronik).⁸,¹⁰.

Higiene buruk serta penggunaan alat manikur dan pedikur yang tidak steril.²,¹².


Klasifikasi

1.

Distal Lateral Subungual Onychomycosis (DLSO)

Tipe distal lateral subungual (Kang dkk, 2019)
Tipe distal lateral subungual (Kang dkk, 2019)

Predileksi: terutama kuku kaki, dimulai dari distal atau lateral, sering berkaitan dengan tinea pedis kronik.¹,³,¹¹.

Efloresensi: diskolorasi putih-kuning/kecoklatan, hiperkeratosis subungual, onikolisis, kuku menjadi menebal, rapuh, dan distrofik.¹,³.

Korelasi klinis: invasi dari hiponikhium menyebabkan akumulasi debris subungual, yang berujung pada penebalan dan destruksi kuku.¹,³.


2.

Proximal Subungual Onychomycosis (PSO)

Tipe proksimal subungual (Kang dkk, 2019)
Tipe proksimal subungual (Kang dkk, 2019)

Predileksi: terutama pada kuku tangan atau kaki, dimulai dari lipatan kuku proksimal, dan sering terjadi pada kondisi imunokompromi.²,⁸,¹²

Efloresensi: bercak putih proksimal (leukonikia) yang meluas, disertai hiperkeratosis subungual, onikolisis proksimal, dan kerusakan kuku.²,⁸

Korelasi klinis: invasi melalui lipatan proksimal dapat menjadi indikator gangguan imun.²,¹²


3. Superficial White Onychomycosis (SWO)

Tipe superficial white onychomycosis
Tipe superficial white onychomycosis

Predileksi: terutama kuku kaki.³,⁵

Efloresensi: bercak putih di permukaan kuku, tampak kapur, kasar, lunak, dan mudah dikerok.³,⁵

Korelasi klinis: infeksi terbatas pada lapisan superfisial lempeng kuku tanpa invasi ke lapisan dalam.³


4. Total Dystrophic Onychomycosis (TDO)

Total dystrophic onychomycosis (Saxena dkk, 2020)
Total dystrophic onychomycosis (Saxena dkk, 2020)

Predileksi: dapat mengenai seluruh kuku dan merupakan stadium lanjut.¹,³,¹¹.

Efloresensi: ditandai destruksi total kuku, kuku menebal, rapuh, dan mengalami deformitas berat, serta perubahan warna yang signifikan.¹,³.

Korelasi klinis: terjadi akibat infeksi kronik progresif yang merusak matriks kuku.¹,³.


Varian Khusus: Candida Onychomycosis

(https://dermnetnz.org/)
(https://dermnetnz.org/)

Predileksi: terutama mengenai kuku tangan dominan (ibu jari dan telunjuk), lebih sering pada wanita, serta berkaitan dengan paparan air kronik.²,⁶,¹².

Efloresensi: dimulai dari proksimal, disertai nyeri saat ditekan, lalu berkembang menjadi diskolorasi kuning kecoklatan, penebalan kuku, onikolisis, dan hiperkeratosis subungual.²,⁶.

Korelasi klinis: infeksi Candida sering disertai paronikia kronik akibat kelembapan, yang memicu inflamasi unit kuku dan destruksi kuku.²,¹².


Patofisiologi

Dermatofita berikatan dengan keratin kuku melalui adhesin, lalu menghasilkan enzim keratinase, protease, dan lipase yang memungkinkan penetrasi ke dalam lempeng kuku (nail plate).¹,³,⁵,¹⁰.

Jamur menginvasi melalui beberapa jalur sesuai tipe klinis, yaitu distal/lateral (DLSO) dari hiponikhium, proksimal (PSO) dari lipatan kuku, atau superfisial (SWO) langsung pada permukaan kuku.²,³,¹¹.

Produk degradasi keratin dikenali oleh keratinosit melalui pattern recognition receptors (PRRs) seperti TLR, yang memicu pelepasan sitokin proinflamasi (IL-1, IL-6, TNF-α).³,⁶.

Respon imun innate dan adaptif, terutama Th1 dan Th17, berperan dalam kontrol infeksi. Namun, pada kondisi tertentu (usia lanjut, diabetes, imunokompromais), respon ini tidak adekuat sehingga infeksi menjadi kronik.⁶,⁸,¹².

Invasi jamur menyebabkan akumulasi debris subungual (hiperkeratosis), onikolisis, serta gangguan pertumbuhan kuku akibat keterlibatan matriks.¹,³,⁷.

Pada infeksi kronik terjadi penebalan lempeng kuku, perubahan warna, dan distrofi permanen yang mencerminkan kerusakan struktural kuku jangka panjang.³,⁷,¹¹.


Anamnesis

Perubahan warna kuku (kuning, putih, cokelat) terjadi akibat akumulasi debris dan invasi jamur pada lempeng kuku. ¹,³,¹¹

Penebalan kuku disertai kuku rapuh dan mudah hancur akibat hiperkeratosis subungual dan destruksi keratin. ²,⁶,¹²

Onikolisis (lepasnya kuku dari dasar kuku) menyebabkan ruang subungual yang semakin mempermudah kolonisasi jamur. ³,⁷

Keluhan biasanya asimptomatik atau ringan, tetapi dapat disertai nyeri saat ditekan pada kasus berat atau infeksi lanjut. ²,⁴

Riwayat tinea pedis atau infeksi jamur lain sebagai sumber autoinokulasi ke kuku. ¹,⁴,¹¹

Riwayat trauma kuku berulang, penggunaan sepatu tertutup, atau paparan kelembapan kronik. ³,⁷,¹²


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan KOH 10–40%. Dilakukan dari kerokan kuku atau debris subungual untuk mengonfirmasi infeksi jamur, dengan prinsip melarutkan keratin. Hasil dapat berupa hifa bersepta dan arthrospora pada dermatofita, spora dan budding yeast pada Candida, serta konidia atau hifa tidak teratur pada jamur non-dermatofita (filamentous fungi/molds). Pemeriksaan ini cepat, tetapi dapat memberikan hasil negatif palsu, sehingga perlu diulang bila klinis mendukung.¹,²,⁴,⁹,¹¹

Kultur jamur (Sabouraud Dextrose Agar/DSA). Bertujuan untuk mengidentifikasi spesies jamur penyebab, dengan prinsip pertumbuhan koloni pada media. Hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis, dengan sensitivitas sekitar ±32%, namun meningkat menjadi 80–85% bila dikombinasikan dengan KOH.³,⁸,¹²

Pemeriksaan histopatologi (pewarnaan PAS). Merupakan pemeriksaan paling sensitif untuk menunjukkan invasi elemen jamur ke dalam lempeng kuku, dilakukan bila KOH dan kultur negatif, tetapi kecurigaan klinis tetap tinggi, dengan sensitivitas sekitar 41–93%.⁵,¹⁰


Dasar Diagnosis

Diagnosis onikomikosis (tinea unguium) ditegakkan berdasarkan perubahan klinis kuku berupa diskolorasi, penebalan, distrofi, dan onikolisis, lalu dikonfirmasi dengan pemeriksaan mikroskopis KOH yang menunjukkan elemen jamur (hifa, artrospora, atau yeast) dan/atau kultur jamur atau histopatologi (PAS) positif.¹,²,⁴,⁸


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis Utama
Onikodistrofi traumatikRiwayat trauma, perubahan kuku lokal, tanpa elemen jamur pada KOH.¹,³
Psoriasis kukuPitting, oil drop sign, onikolisis, sering disertai lesi psoriasis di kulit lain.²,⁵
Liken planus kukuPenipisan kuku, longitudinal ridging, pterygium, tidak ada hiperkeratosis subungual khas jamur.³,⁶
Kandidiasis kukuSering mengenai kuku tangan, disertai paronikia kronik, KOH menunjukkan budding yeast.⁴,⁷
Onikodistrofi akibat usia (senile nail)Penebalan dan kerapuhan kuku pada lansia, tanpa infeksi jamur.²,⁸

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Menjaga kuku tetap kering dan bersih, serta memotong kuku secara teratur.¹,².

Menghindari trauma dan kelembapan berlebih (misalnya sepatu tertutup dan paparan air terus-menerus).².

Tidak berbagi alat pribadi, seperti gunting kuku.¹.

Mengobati tinea pedis atau tinea manuum sebagai sumber infeksi.³.


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Eradikasi jamur sesuai etiologi (dermatofita, Candida, non-dermatofita).¹,².

Terapi topikal untuk kasus ringan, dan terapi sistemik untuk kasus luas atau yang melibatkan matriks kuku.¹,³.

Durasi terapi panjang sampai kuku sehat tumbuh kembali.²,⁴.

Kombinasi terapi dengan debridement dapat meningkatkan keberhasilan.³,⁵.

Kontrol faktor risiko untuk mencegah rekurensi.²,⁴.

Topikal

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Azol topikalMikonazol krim 2%2×/hari, terutama pada SWO setelah debridementMenghambat sintesis ergosterol membran jamur
MorpholineAmorolfine nail lacquer 5%1–2×/mingguMenghambat sintesis sterol membran jamur.⁵
HydroxypyridoneCiclopirox nail lacquer 8%1×/hari hingga ±6 bulanMengganggu transport ion dan metabolisme jamur.⁷

Catatan: terapi topikal sering dikombinasikan dengan oral untuk mempercepat kesembuhan.

Sistemik

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
AzolItrakonazol kapsul 100 mgPulse therapy: 2×200 mg/hari selama 7 hari tiap bulan; tangan 2 siklus, kaki 3–4 siklusMenghambat CYP450 jamur → sintesis ergosterol.²,⁸
AllylamineTerbinafin tablet 250 mg1×/hari; tangan 6 minggu, kaki 12 mingguFungisidal melalui inhibisi squalene epoxidase.¹,³

Catatan

Terbinafin merupakan terapi pilihan utama untuk dermatofita.¹,³

Itrakonazol efektif untuk dermatofita dan Candida (pulse therapy).²,⁸

Flukonazol dan ketokonazol tidak direkomendasikan sebagai lini utama pada onikomikosis.⁴

Griseofulvin jarang digunakan karena efektivitas rendah dan efek samping jangka panjang


Terapi Pembedahan

Debridement / kuretase kuku. Dilakukan dengan mengangkat bagian kuku yang terinfeksi dan debris subungual untuk mengurangi beban jamur (fungal load) serta mempermudah penetrasi obat topikal maupun sistemik. Tindakan ini meningkatkan efektivitas terapi, terutama pada kuku yang menebal (hiperkeratosis subungual) atau distrofik. Prosedur dapat dilakukan secara mekanik (kuretase, nail filing) dan sering diulang secara berkala selama terapi.¹,³

Avulsi kuku (parsial atau total). Merupakan tindakan pengangkatan lempeng kuku, yang dilakukan pada kasus onikomikosis berat, kronik, atau tidak respons terhadap terapi obat. Avulsi dapat bersifat:

Parsial: bila hanya sebagian kuku yang terlibat

Total: bila seluruh kuku mengalami kerusakan Tujuan tindakan adalah menghilangkan reservoir jamur secara langsung dan memungkinkan pertumbuhan kuku baru yang sehat. Setelah prosedur, tetap diperlukan terapi antijamur sistemik/topikal untuk mencegah kekambuhan.²,⁴


Prognosis

Ad vitam (kehidupan): bonam, karena onikomikosis merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.¹,²

Ad functionam (fungsi): bonam, fungsi kuku umumnya tidak terganggu permanen, meskipun dapat mengganggu kosmetik.³,⁴

Ad sanationam (kesembuhan): dubia ad bonam, karena memerlukan terapi jangka panjang dan memiliki risiko rekurensi tinggi bila faktor predisposisi tidak dikontrol.¹,³,⁵


Edukasi

Menjaga kuku tetap bersih dan pendek untuk mengurangi tempat pertumbuhan jamur.¹,²

Menghindari kelembapan berlebih, termasuk menggunakan alas kaki di tempat umum seperti kamar mandi atau kolam renang.²,³

Mengganti sepatu lama bila sudah lembap atau terkontaminasi.³

Menggunakan bedak antijamur secara rutin pada kaki, serta melanjutkan terapi topikal pada kuku yang baru sembuh untuk mencegah kekambuhan.¹,⁴

Menghindari paparan air berlebihan atau menggunakan sarung tangan katun yang dilapisi karet saat melakukan pekerjaan basah.²,⁵


Kriteria Rujukan

Diagnosis tidak pasti atau meragukan, sehingga perlu konfirmasi lanjutan seperti kultur atau histopatologi.¹,²

Tidak respons terhadap terapi standar setelah pengobatan adekuat (topikal maupun sistemik).²,³

Keterlibatan luas atau berat, misalnya banyak kuku yang terkena atau distrofik total.¹,³

Pasien dengan komorbid berat, seperti diabetes melitus, imunokompromais, atau penyakit vaskular perifer.²,⁴

Kecurigaan diagnosis banding serius, seperti psoriasis kuku atau neoplasma.¹,²

Efek samping obat sistemik, atau memerlukan pemantauan terapi lanjutan.³


Daftar Pustaka

3.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

4.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

5.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2019.

6.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

7.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.

8.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. New Delhi: Jaypee; 2021.

9.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

10.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2021.

11.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. London: Springer; 2020.

12.

NCBI Bookshelf. Dermatophyte Infections. Bethesda: NIH; 2022.

13.

Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, et al., editors. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. 2nd ed. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.

14.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, et al., editors. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.