Tinea Pedis [3A].

Tinea Pedis [3A].


Nama Lain: Tinea pedis, athlete’s foot, dermatofitosis kaki, infeksi jamur kaki, interdigital tinea, moccasin-type tinea pedis, vesicular tinea pedis.


Definisi

Tinea pedis adalah infeksi dermatofita superfisial pada kulit kaki, terutama pada sela jari, telapak, dan sisi kaki, yang disebabkan oleh jamur Trichophyton, Microsporum, atau Epidermophyton, serta ditandai dengan skuama, maserasi, hiperkeratosis, atau vesikel pada area predileksi.¹,²,³


Epidemiologi

Tinea pedis paling sering ditemukan pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif (20–50 tahun).¹,³

Jarang pada anak-anak karena aktivitas kelenjar keringat dan paparan lingkungan lebih rendah.²

Lebih sering pada laki-laki dibanding perempuan.³

Prevalensinya tinggi di daerah tropis dan lembap, termasuk Indonesia.²,⁴

Berhubungan dengan penggunaan sepatu tertutup dalam waktu lama, aktivitas fisik tinggi, dan kondisi kaki yang lembap.¹,⁶

Dapat berkaitan dengan tinea manus akibat autoinokulasi.³,⁵


Etiologi

Penyebab tersering adalah Trichophyton rubrum.¹,³

Spesies lain yang dapat menyebabkan tinea pedis antara lain Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum.²,³

Dermatofita tersebut bersifat keratinofilik, yaitu mampu menginfeksi stratum korneum kulit kaki.¹,²

Sumber infeksi dapat berasal dari manusia (antropofilik), hewan (zoofilik), atau lingkungan (geofilik).²,⁴


Faktor Risiko/Pencetus

Penggunaan sepatu tertutup dalam waktu lama dapat membuat kaki menjadi lembap dan hangat.¹,³

Iklim panas dan lembap mendukung pertumbuhan dermatofita.²,⁴

Hiperhidrosis (keringat berlebih) meningkatkan kelembapan kulit kaki.¹,²

Higiene kaki yang buruk dan jarang mengganti kaus kaki.²,⁶

Aktivitas tinggi atau olahraga menyebabkan kaki lebih sering berkeringat.³,⁷


Klasifikasi

1. Tipe Intertriginosa (interdigital kronik / non-inflamasi)

Tinea pedis tipe interdigital, tampak maserasi dengan skuama putih dan erosi (Kang dkk, 2019)
Tinea pedis tipe interdigital, tampak maserasi dengan skuama putih dan erosi (Kang dkk, 2019)

Merupakan tipe yang paling sering ditemukan.

Predileksi: Terutama pada sela jari kaki, paling sering ruang interdigital IV–V dan III–IV, serta dapat meluas ke plantar, tumit, dan dorsum pedis.¹,²

Efloresensi: Maserasi, skuama, eritem, dan fisura, dengan kulit tampak putih akibat akumulasi debris dan epidermis mati.¹,²

Korelasi klinis: Lingkungan lembap dan oklusif menyebabkan hidrasi berlebihan stratum korneum sehingga barier kulit rusak, mempermudah proliferasi dermatofita dan terjadinya infeksi sekunder, serta menimbulkan bau khas (athlete’s foot).²,³


2. Tipe Hiperkeratotik (moccasin type)

Tinea pedis tipe moccasin/hiperkeratotik, tampak eritema dan skuama pada area kaki yang tebal (Kang dkk, 2019)
Tinea pedis tipe moccasin/hiperkeratotik, tampak eritema dan skuama pada area kaki yang tebal (Kang dkk, 2019)

Predileksi: Mengenai telapak dan sisi kaki (plantar), sering bersifat bilateral, terutama pada area yang tertutup sepatu.³,⁵

Efloresensi: Makula eritematosa berbatas tegas dengan hiperkeratosis difus dan skuama putih keperakan, menyerupai pola sepatu moccasin.³

Korelasi klinis: Infeksi kronik menyebabkan penebalan stratum korneum. Jamur menetap dalam lapisan keratin dan menimbulkan gambaran kronik, kering, dan resisten terhadap terapi topikal.³,⁵


3. Tipe Vesikobulosa (vesikular akut)

Tinea pedis tipe vesikobullosa, tampak erosi akibat bullae yang ruptur dan eritema (Kang dkk, 2019)
Tinea pedis tipe vesikobullosa, tampak erosi akibat bullae yang ruptur dan eritema (Kang dkk, 2019)

Predileksi: Terutama pada lengkung plantar. Dapat mengenai sela jari, tetapi jarang mengenai tumit atau bagian anterior kaki.³,⁴

Efloresensi: Vesikel, vesikulopustula, hingga bula dengan dasar eritematosa, disertai gatal dan nyeri tekan.³,⁴

Korelasi klinis:

Merupakan manifestasi respons imun akut terhadap dermatofita, sehingga terjadi inflamasi kuat dan pembentukan vesikel, yang kadang disertai reaksi id (dermatofitid).³,⁴

Reaksi id (dermatofitid) adalah reaksi imun terhadap infeksi dermatofita yang menyebabkan lesi kulit di lokasi lain tanpa adanya jamur (KOH negatif), dan biasanya menghilang setelah infeksi utama diobati. Lesi dapat berupa bintil, gelembung kecil, kemerahan, atau ruam.¹,³


4. Tipe Ulseratif akut

Tipe ulseratif (Priya & Janaki, 2017)
Tipe ulseratif (Priya & Janaki, 2017)

Predileksi: Pada interdigital dan plantar pedis, terutama pada kondisi lembap berat.⁴,⁶

Efloresensi: Maserasi berat, erosi, ulkus, eksudat, dapat disertai vesikel, pustula, hingga ulkus bernanah.⁴

Korelasi klinis: Kerusakan barier kulit memungkinkan infeksi bakteri sekunder. Hal ini dapat menyebabkan inflamasi berat, penyebaran cepat, nyeri, dan risiko komplikasi.⁴,⁶


Two Feet–One Hand Syndrome

Tinea pedis dan manus membentuk gambaran two feet-one hand (Kang dkk, 2019)
Tinea pedis dan manus membentuk gambaran two feet-one hand (Kang dkk, 2019)

Merupakan pola khas dermatofitosis berupa infeksi pada kedua kaki (tinea pedis) dan satu tangan (tinea manuum) akibat autoinokulasi, yaitu perpindahan jamur dari kaki ke tangan melalui garukan atau kontak langsung.¹,³

Penyebab tersering adalah Trichophyton rubrum, yang menyebabkan infeksi kronik pada jaringan berkeratin.²,³

Gambaran klinis:

Kaki (bilateral): skuama, maserasi interdigital, atau hiperkeratosis difus

Tangan (unilateral): hiperkeratosis kering dengan skuama halus, sering pada tangan dominan

Makna klinis:

Pola ini sangat khas dan membantu diagnosis dermatofitosis

Lesi tangan sering lebih ringan, sehingga terlewat

Bila hanya satu lokasi diobati, dapat terjadi siklus reinfeksi dan kekambuhan

Penatalaksanaan:

Harus mengobati semua lokasi sekaligus (kaki dan tangan)

Disertai edukasi higiene dan kontrol kelembapan untuk mencegah autoinokulasi ulang



Patofisiologi

Dermatofita (terutama Trichophyton rubrum) menginfeksi stratum korneum dengan menghasilkan enzim keratinase yang mencerna keratin, sehingga jamur dapat bertahan dan berkembang biak.¹,³

Jamur berkembang secara radial pada lapisan keratin tanpa menembus jaringan hidup, sehingga infeksi tetap superfisial.²,⁴

Produk metabolit jamur dan antigen dermatofita memicu respons imun lokal yang menentukan derajat inflamasi, dari ringan hingga berat.³,⁵

Kondisi lembap, panas, dan oklusif (misalnya sepatu tertutup dan hiperhidrosis) meningkatkan hidrasi stratum korneum, sehingga mempermudah kolonisasi jamur.¹,²

Pada kondisi tertentu, terjadi kerusakan barier kulit yang memungkinkan infeksi bakteri sekunder, memperberat inflamasi, dan menimbulkan bentuk ulseratif.⁴,⁶


Anamnesis

Gatal (ringan hingga sedang), terutama pada kondisi lembap atau setelah berkeringat. ¹,²

Dapat asimptomatik, terutama pada bentuk kronik hiperkeratotik. ³

Keluhan kulit berskuama pada permukaan kaki, terutama pada sela jari atau telapak. ¹,³

Rasa tidak nyaman, perih, atau nyeri bila terdapat fisura atau infeksi sekunder. ²,⁴

Riwayat kaki sering lembap (sepatu tertutup, olahraga, hiperhidrosis). ¹,²

Riwayat kambuhan atau infeksi jamur sebelumnya. ³,⁵


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan KOH 10–20%. Dilakukan dengan scraping pada tepi lesi aktif. Preparat kemudian diberi KOH untuk melarutkan keratin. Hasil khas berupa hifa panjang bersepta (bercabang/dikotomi) dan artrospora sebagai konfirmasi dermatofita.¹,³,⁴

Kultur jamur (media DTM/Sabouraud). Digunakan untuk identifikasi spesies dermatofita, terutama pada kasus atipikal atau tidak respons terhadap terapi. Hasil positif biasanya dalam 1–2 minggu.³,⁵

Dermoskopi (opsional). Membantu evaluasi lesi dengan melihat skuama perifer aktif, meskipun tidak spesifik.²,⁶

Lampu Wood. Umumnya tidak memberikan fluoresensi khas pada tinea pedis (karena Trichophyton tidak berfluoresensi), sehingga kurang sensitif untuk diagnosis.²,⁶ Pemeriksaan ini lebih berguna untuk membedakan eritrasma yang menunjukkan fluoresensi merah koral


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis Utama
EritrasmaLesi coklat kemerahan pada sela jari, tanpa skuama aktif, Wood lamp fluoresensi merah koral, KOH negatif.¹,²
PsoriasisPlak eritem dengan skuama tebal keperakan, sering ada lesi di siku/lutut, distribusi simetris.³
Dermatitis kontak alergi (DKA)Riwayat paparan alergen, gatal dominan, sering bilateral, dapat vesikel.²
Dermatitis kontak iritan (DKI)Riwayat iritan, kulit kering, fissura, distribusi sesuai area kontak.²
Dyshidrotic eczema (pompholyx)Vesikel dalam, sangat gatal, sering simetris pada tangan dan kaki.⁴
Impetigo bulosaBula superfisial berisi cairan keruh, infeksi bakteri, tidak ada skuama aktif.⁵
Penyakit bulosa (misal pemfigoid)Bula lebih luas, tidak khas di sela jari, perjalanan penyakit sistemik.⁶

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Menjaga kaki tetap kering, terutama sela jari kaki.¹,²

Mengganti kaus kaki secara rutin dan memilih bahan yang menyerap keringat.²,³

Menghindari penggunaan sepatu tertutup terlalu lama, gunakan alas kaki yang ventilatif.¹,³

Mengeringkan kaki setelah mandi atau berkeringat, terutama area interdigital.²

Tidak berbagi handuk, sepatu, atau alas kaki dengan orang lain.¹,⁴

Mencuci dan mengeringkan sepatu serta kaus kaki secara berkala untuk mencegah reinfeksi.³,⁵

Menghindari garukan berlebihan untuk mencegah infeksi sekunder.²


Farmakologis


Prinsip Terapi Farmakologis

Eradikasi dermatofita dengan antijamur yang bekerja pada sintesis membran (ergosterol) atau fungsi sel jamur.¹,³

Terapi topikal sebagai lini pertama, terutama pada lesi ringan dan terbatas.²,⁴

Terapi sistemik diberikan pada kasus luas, kronik (moccasin type), rekuren, atau gagal terapi topikal.³,⁵

Durasi terapi adekuat, dilanjutkan hingga 1–2 minggu setelah lesi klinis membaik untuk mencegah relaps.¹,²

Kombinasi dengan perbaikan faktor risiko (kelembapan, higiene) untuk meningkatkan keberhasilan terapi.²,⁶


Terapi Topikal

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
AzolKetokonazol krim 2%2×/hari selama 2–4 mingguMenghambat sintesis ergosterol membran jamur
AzolMikonazol krim 2%2×/hari selama 2–4 mingguMengganggu permeabilitas membran jamur
AllylamineTerbinafin krim 1%1–2×/hari selama 1–2 mingguFungisidal melalui inhibisi squalene epoxidase

Terapi Sistemik

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
AllylamineTerbinafin tablet 250 mg1×/hari selama 2 mingguFungisidal melalui inhibisi squalene epoxidase
AzolItrakonazol kapsul 100 mg2×100 mg/hari selama 1–2 mingguMenghambat sintesis ergosterol (CYP450 jamur)
AzolFlukonazol tablet 150 mg1×/minggu selama 2–4 mingguMenghambat sintesis membran jamur
Antijamur klasikGriseofulvin tablet 500 mg500–1000 mg/hari selama 2–4 mingguMenghambat mitosis jamur (mikrotubulus)

Prognosis

Ad vitam (kehidupan):* bonam*, karena tinea pedis merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.¹,³

Ad functionam (fungsi):* bonam*, fungsi kaki umumnya tidak terganggu permanen bila diterapi adekuat.²,⁴

Ad sanationam (kesembuhan):* bonam*, dengan terapi antijamur yang tepat dapat sembuh sempurna, namun dapat menjadi dubia ad bonam bila faktor predisposisi tidak dikontrol sehingga berisiko rekurensi.¹,³,⁴


Edukasi

Menjaga kebersihan dan kekeringan kaki, terutama sela jari kaki.¹,²

Mengganti kaus kaki secara rutin dan memilih bahan yang menyerap keringat.²,³

Menghindari penggunaan sepatu tertutup terlalu lama dan memilih alas kaki yang ventilatif.¹,³

Mengeringkan kaki setelah mandi atau berkeringat.²

Tidak berbagi handuk, sepatu, atau alas kaki dengan orang lain.¹,⁴

Menggunakan obat secara teratur dan hingga tuntas, meskipun gejala sudah membaik.¹,²

Menghindari penggunaan kortikosteroid topikal tanpa indikasi


Kriteria Rujukan

Tidak membaik dengan terapi topikal dan/atau sistemik adekuat.¹,²

Lesi luas, kronik (moccasin type), atau rekuren berulang.²,³

Terdapat infeksi sekunder berat (misalnya selulitis atau ulkus).³,⁴

Pasien dengan imunokompromais (misalnya diabetes, HIV, terapi imunosupresan).²,⁵

Diagnosis meragukan atau atipikal sehingga memerlukan pemeriksaan lanjutan.¹,³


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

3.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2019.

4.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

5.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.

6.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. 5th ed. New Delhi: Jaypee; 2016.

7.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

8.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.

9.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2017.

10.

StatPearls Publishing. Tinea Pedis. Treasure Island: NCBI Bookshelf; 2023.