Tinea Manuum [3A].

Tinea Manuum [3A].


Nama Lain: Dermatofitosis tangan, ringworm of the hand, tinea manus.


Definisi

Tinea manuum adalah infeksi dermatofita superfisial pada kulit tangan (terutama telapak tangan dan jari) yang disebabkan oleh Trichophyton, Microsporum, atau Epidermophyton, serta ditandai skuama difus atau lesi annular dengan tepi aktif.¹,²,³.


Epidemiologi

Tinea manuum merupakan dermatofitosis yang relatif lebih jarang dibanding tinea pedis, tetapi sering berhubungan dengan infeksi pada kaki (two feet one hand syndrome).¹,³.

Lebih sering terjadi pada dewasa, terutama pada individu dengan pekerjaan manual atau sering kontak dengan air dan bahan iritan.²,⁶.

Infeksi sering bersifat unilateral (satu tangan), berbeda dengan dermatosis lain yang biasanya bilateral.³,⁵.

Berhubungan dengan kelembapan, hiperhidrosis, dan higiene yang kurang baik.²,⁷.

Penularan dapat terjadi melalui autoinokulasi dari tinea pedis, kontak langsung, atau benda terkontaminasi.¹,⁸.


Etiologi

Dermatofita antropofilik seperti Trichophyton rubrum merupakan penyebab tersering, dan sering berasal dari autoinokulasi tinea pedis (two feet one hand syndrome).¹,³,¹⁰.

Dermatofita lain seperti Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum dapat ditularkan melalui kontak langsung atau benda terkontaminasi.²,⁸.

Sumber infeksi dapat berasal dari manusia, hewan, atau lingkungan, meskipun pada tinea manuum paling sering berasal dari infeksi diri sendiri (autoinokulasi).³,⁷.


Faktor Risiko

Tinea pedis (two feet–one hand syndrome) sebagai sumber utama melalui autoinokulasi ke tangan. ¹,³

Kelembapan dan hiperhidrosis tangan menciptakan lingkungan ideal untuk pertumbuhan dermatofita. ²,⁶

Paparan air, deterjen, atau bahan iritan kronis (pekerja rumah tangga, pekerja manual) dapat merusak barier kulit. ²,⁵

Higiene tangan yang kurang baik dan penggunaan sarung tangan yang lembap. ²,⁷

Imunosupresi (DM, HIV, terapi steroid) menurunkan pertahanan kulit terhadap infeksi jamur. ⁸,¹⁰


Klasifikasi

Secara klinis, tinea manuum diklasifikasikan menjadi dua bentuk utama:

Tinea manuum hiperkeratotik (chronic dry type). Ditandai skuama difus, kering, dan penebalan pada telapak tangan, sering bersifat unilateral, serta berhubungan dengan tinea pedis (two feet–one hand syndrome). ¹,³

Tinea manuum inflamasi. Ditandai eritem, vesikel, atau pustul, kadang disertai gatal yang lebih jelas, biasanya akibat respons inflamasi terhadap dermatofita tertentu. ²,⁸

Two Feet–One Hand Syndrome

Tinea pedis dan manus membentuk gambaran two feet-one hand (Kang dkk, 2019)
Tinea pedis dan manus membentuk gambaran two feet-one hand (Kang dkk, 2019)

Merupakan pola khas dermatofitosis berupa infeksi pada kedua kaki (tinea pedis) dan satu tangan (tinea manuum). ¹,³

Terjadi akibat autoinokulasi, yaitu perpindahan jamur dari kaki ke tangan melalui garukan atau kontak langsung. ²,³

Penyebab tersering adalah Trichophyton rubrum. ²

Gambaran klinis:

Kaki menunjukkan skuama, maserasi interdigital, atau hiperkeratosis plantar.

Tangan menunjukkan hiperkeratosis kering unilateral.

Infeksi pada tangan sering bersifat kronik dan unilateral, berbeda dengan kelainan lain yang biasanya bilateral. ¹,³

Penatalaksanaan harus mencakup kedua lokasi (kaki dan tangan) untuk mencegah rekurensi. ²,⁴


Patofisiologi

Dermatofita menginvasi stratum korneum pada kulit tangan dengan memanfaatkan keratin melalui enzim keratinase, sehingga terjadi kolonisasi superfisial. ¹,³.

Transmisi sering terjadi melalui autoinokulasi dari tinea pedis, sehingga infeksi sering bersifat unilateral (two feet–one hand syndrome). ¹,³.

Proliferasi jamur meningkatkan turnover keratin, sehingga tampak skuama difus dan hiperkeratosis pada telapak tangan. ²,⁵.

Respons inflamasi lokal yang ringan dapat menyebabkan eritem atau vesikel pada bentuk inflamasi, tetapi umumnya lebih minimal dibanding tinea corporis. ²,⁸.

Infeksi biasanya terbatas pada lapisan superfisial, kecuali pada kondisi tertentu seperti imunosupresi atau trauma kulit. ³,⁹.


Anamnesis

Keluhan gatal (pruritus) pada telapak tangan, umumnya ringan hingga sedang, akibat respons inflamasi terhadap dermatofita. ²,⁶.

Keluhan telapak tangan kering, kasar, dan berskuama kronik akibat hiperproliferasi keratin yang dipicu infeksi jamur. ¹,³.

Dapat disertai kemerahan ringan pada telapak tangan, terutama pada bentuk inflamasi. ²,⁵.

Riwayat infeksi sebelumnya pada tangan atau kaki (tinea pedis) menunjukkan kemungkinan autoinokulasi (two feet–one hand syndrome). ¹,³.

Faktor predisposisi seperti hiperhidrosis serta paparan panas dan kelembapan tinggi mendukung pertumbuhan dermatofita. ²,⁷.


Pemeriksaan Fisik

Tinea manus, tampak eritema dan skuama pada telapak tangan kanan (Kang dkk, 2019)
Tinea manus, tampak eritema dan skuama pada telapak tangan kanan (Kang dkk, 2019)

Predileksi:

Palmar (telapak tangan) sebagai lokasi tersering, sering unilateral.

Dorsum manus (punggung tangan) meskipun lebih jarang.¹,³

Efloresensi:

Palmar: ditemukan skuama halus dengan batas tegas, hiperkeratosis, dan fissura akibat penebalan stratum korneum.

Dorsum manus: berupa lesi annular (ringworm) dengan makula eritematosa, batas jelas, tepi polisiklik dan meninggi (tepi aktif), dapat disertai papul, nodul, atau pustul, akibat pertumbuhan radial dermatofita pada kulit.¹,²,³,⁵


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan KOH 10% dilakukan untuk konfirmasi dermatofitosis dengan prinsip melarutkan keratin sehingga elemen jamur terlihat. Hasil khas berupa hifa bersepta dan artrokonidia (arthrospora).¹,³

Kultur jamur pada media DTM (Dermatophyte Test Medium) bertujuan untuk identifikasi dermatofita. Hasil positif dalam ±2 minggu berupa perubahan warna dan pertumbuhan koloni khas.²,⁸


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis
Dermatitis kontak alergi/iritanBiasanya bilateral, terdapat riwayat paparan (iritan/alergen), tidak ditemukan hifa pada KOH
Psoriasis palmarPlak tebal dengan skuama tebal, sering ada lesi di siku/lutut, tidak annular
Tinea pedis (hand-foot syndrome)Disertai infeksi pada kaki (one hand two feet syndrome)
Kandidiasis superfisialLesi lebih lembap, dapat disertai lesi satelit, KOH berbeda
Eczema kronik tanganSkuama dan fissura difus, tidak ada tepi aktif annular dan tidak ditemukan jamur

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Menjaga kebersihan dan kekeringan tangan untuk mencegah pertumbuhan jamur. ²,⁴.

Menghindari kelembapan berlebih dan hiperhidrosis. ¹,³.

Tidak menggunakan barang pribadi secara bersama (handuk, sarung tangan). ¹,⁷.

Mencuci pakaian dan linen secara rutin. ²,⁶.

Menghindari penggunaan steroid topikal tanpa indikasi karena dapat menyebabkan tinea incognito. ³,⁴.


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Antijamur topikal lini pertama pada lesi terbatas.¹,²

Antijamur sistemik bila luas atau gagal terapi.¹,³

Pilih fungisidal atau fungistatik sesuai kondisi.³,⁴

Terapi harus tuntas untuk mencegah rekurensi.²,⁴

Hindari kortikosteroid tanpa indikasi.³,⁴


Topikal

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
AzolKetokonazol krim 2%2×/hari selama 2–4 mingguMenghambat sintesis ergosterol membran jamur.¹,⁴
AzolMikonazol krim 2%2×/hari selama 2–4 mingguMengganggu permeabilitas membran jamur.²,⁶
AllylamineTerbinafin krim 1%1–2×/hari selama 1–2 mingguFungisidal melalui inhibisi squalene epoxidase.³,⁸

Keterangan: dioleskan hingga 1–2 cm di luar tepi lesi dan dilanjutkan selama ±2 minggu setelah lesi sembuh atau KOH negatif.²,⁴


Sistemik

Indikasi: lesi luas, kronik, rekuren, atau gagal topikal.

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
AllylamineTerbinafin tablet 250 mg1×/hari selama 1–2 mingguFungisidal dengan menghambat enzim squalene epoxidase.¹,³
AzolItrakonazol kapsul 100 mg2×100 mg/hari selama 1–2 mingguMenghambat enzim CYP450 jamur sehingga mengganggu sintesis ergosterol.⁴,⁸
AzolFlukonazol tablet 150 mg1×/minggu selama 2–4 mingguMenghambat sintesis ergosterol membran sel jamur.²,⁶
Antijamur klasikGriseofulvin tablet 500 mg500–1000 mg/hari selama 2–4 mingguMenghambat mitosis jamur melalui gangguan mikrotubulus.³,⁹

Prognosis

Ad vitam (kehidupan): bonam, karena tinea manuum merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.¹,³

Ad functionam (fungsi): bonam, fungsi tangan umumnya tidak terganggu permanen bila diterapi adekuat.²,⁴

Ad sanationam (kesembuhan): bonam, dengan terapi antijamur yang tepat dapat sembuh sempurna, namun dapat menjadi dubia ad bonam bila faktor predisposisi tidak dikontrol sehingga berisiko rekurensi.¹,³,⁴


Edukasi

Menjelaskan bahwa penyakit disebabkan oleh infeksi jamur, dan dapat menular melalui kontak langsung atau benda terkontaminasi. ¹,²

Menjaga kebersihan dan kekeringan tangan, terutama saat kondisi lembap atau berkeringat. ²,³

Menghindari berbagi handuk, sarung tangan, atau alat pribadi dengan orang lain. ¹,⁴

Menggunakan obat secara teratur dan sampai tuntas, meskipun lesi sudah membaik. ²,³

Menghindari penggunaan kortikosteroid tanpa indikasi karena dapat memperburuk infeksi. ³,⁴

Mengontrol faktor predisposisi, seperti hiperhidrosis dan kelembapan, untuk mencegah kekambuhan. ²,³


Kriteria Rujukan

Lesi luas, multipel, atau melibatkan area luas yang memerlukan terapi sistemik. ¹,³

Tidak membaik setelah terapi adekuat (topikal maupun sistemik). ²,⁴

Diagnosis meragukan atau memerlukan konfirmasi lanjutan (misalnya kultur atau biopsi). ¹,³

Pasien dengan imunokompromais atau komorbid berat. ²,⁴

Terjadi komplikasi atau infeksi sekunder berat. ³,⁴


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

3.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2019.

4.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

5.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. New York: McGraw Hill; 2020.

6.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. 5th ed. New Delhi: Jaypee; 2021.

7.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

8.

Shimizu H. Shimizu's Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2021.

9.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. London: Springer; 2020.

10.

StatPearls Publishing. Dermatophyte Infections. Treasure Island: NCBI Bookshelf; 2022.