Tinea Korporis [4].

Tinea Korporis [4].


Nama Lain: Dermatofitosis, ringworm, tinea corporis (kurap badan), tinea cruris (jock itch), tinea faciei.


Definisi

Tinea corporis adalah infeksi dermatofita superfisial pada kulit glabrous tubuh (selain wajah, telapak tangan, telapak kaki, dan selangkangan) yang disebabkan oleh Trichophyton, Microsporum, atau Epidermophyton, dan ditandai lesi annular dengan tepi aktif serta central clearing.¹,²,³


Etiologi

Dermatofita antropofilik seperti Trichophyton rubrum merupakan penyebab tersering dan ditularkan antar manusia.¹,³,¹⁰

Dermatofita zoofilik seperti Microsporum canis dan Trichophyton mentagrophytes ditularkan dari hewan (kucing, anjing).²,⁸

Dermatofita geofilik berasal dari tanah, meskipun lebih jarang menyebabkan infeksi pada manusia.³,⁷


Epidemiologi

Tinea corporis merupakan dermatofitosis yang sering ditemukan di daerah tropis, termasuk Indonesia, karena iklim panas dan lembap.²,⁴

Dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih sering pada dewasa muda.¹,⁶

Insidensi meningkat pada individu dengan aktivitas fisik tinggi dan keringat berlebih.³,⁷

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan penderita, hewan, atau benda yang terkontaminasi.¹,⁸

Kasus sering berkaitan dengan faktor higiene dan lingkungan yang lembap.²,⁷


Klasifikasi

Klasifikasi berdasarkan bentuk klinis. Dua tipe yang paling sering adalah bentuk annular dan bentuk iris.

Bentuk annular (klasik)

Tinea corporis pada punggung (Xu dkk, 2024)
Tinea corporis pada punggung (Xu dkk, 2024)

Predileksi: badan, lengan, punggung

Efloresensi: plak annular dengan tepi aktif (eritem, skuama, papul/vesikel kecil) dan central clearing

Terjadi akibat pertumbuhan radial dermatofita di stratum korneum.¹,³


Bentuk iris (target-like)

Predileksi: badan dan ekstremitas

Efloresensi: lesi berupa lingkaran konsentris (multiple rings) dengan batas aktif berlapis

Disebabkan oleh pertumbuhan berulang dari pusat ke perifer (rekuren/kronik).²,⁷


Tinea corporis inflamasi

Predileksi: area terpapar hewan (lengan, badan)

Efloresensi: plak eritematosa dengan papul, vesikel, atau pustul pada tepi lesi

Berkaitan dengan respons imun kuat (dermatofita zoofilik).²,⁸


Tinea incognito

Predileksi: area yang diberi steroid (wajah, badan)

Efloresensi: lesi tidak khas, difus, eritem ringan, tepi tidak jelas, skuama minimal

Terjadi akibat modifikasi lesi oleh kortikosteroid.²,⁴


Predileksi: tungkai (terutama wanita, pasca shaving)

Efloresensi: papul atau nodul folikular, dapat disertai pustul

Infeksi melibatkan folikel rambut hingga dermis (lebih dalam).³,⁹


Faktor Risiko

Kelembapan tinggi dan hiperhidrosis menciptakan lingkungan yang hangat dan lembap, sehingga mendukung pertumbuhan dermatofita.¹,²

Obesitas dan lipatan kulit menyebabkan area oklusi yang mempermudah kolonisasi jamur.³,⁶

Higiene buruk dan pakaian ketat meningkatkan retensi keringat serta risiko kontaminasi jamur.²,⁷

Kontak dengan sumber infeksi (manusia, hewan, atau benda) mempermudah transmisi dermatofita.¹,⁸

Imunosupresi (diabetes melitus, HIV, penggunaan steroid) menurunkan pertahanan kulit terhadap infeksi.⁸,¹⁰

Trauma mikro pada kulit mempermudah invasi dermatofita ke stratum korneum.³,⁵


Patofisiologi

Dermatofita menginvasi stratum korneum dengan memanfaatkan keratin sebagai sumber nutrisi melalui enzim keratinase, sehingga memungkinkan kolonisasi superfisial pada kulit.¹,³

Proliferasi jamur berlangsung secara radial dari pusat ke perifer, sehingga terbentuk tepi lesi aktif, sementara bagian tengah mengalami resolusi relatif (central clearing).¹,⁵

Respons imun lokal terhadap produk metabolik jamur menimbulkan inflamasi ringan hingga sedang, berupa eritem, papul, atau vesikel pada tepi lesi.²,⁸

Infeksi tetap terbatas pada lapisan superfisial karena dermatofita tidak mampu menembus jaringan hidup yang lebih dalam pada individu imunokompeten.³,⁹

Pada kondisi tertentu (imunosupresi atau trauma pada folikel), infeksi dapat meluas lebih dalam, seperti pada Majocchi granuloma.³,⁹


Anamnesis

Keluhan gatal ringan hingga sedang (pruritus) pada lesi kulit, terutama saat kondisi lembap, akibat respons inflamasi terhadap dermatofita.²,⁶

Lesi kulit melingkar yang semakin melebar, sesuai dengan pertumbuhan radial jamur di stratum korneum.¹,³

Riwayat kontak dengan penderita, hewan, atau benda terkontaminasi sebagai sumber transmisi.¹,⁸

Riwayat keluarga dengan keluhan serupa, yang menunjukkan kemungkinan penularan intrafamilial.²,⁷

Riwayat penggunaan steroid topikal, yang dapat menyebabkan tinea incognito (lesi tidak khas).²,⁴


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan KOH 10–20% dilakukan untuk mengonfirmasi dermatofitosis, dengan spesimen berupa scraping dari tepi lesi aktif karena area tersebut mengandung jamur paling banyak. Prinsip pemeriksaan adalah melarutkan keratin sehingga elemen jamur terlihat, dengan hasil khas berupa hifa panjang bersepta (double contour: dua garis sejajar, transparan, bercabang dikotomi) serta arthrospora (spora berderet hasil fragmentasi hifa).¹,⁴,⁹

Gambaran KOH menunjukkan hifa panjang dan arthrospora (Kang dkk, 2019)
Gambaran KOH menunjukkan hifa panjang dan arthrospora (Kang dkk, 2019)

Kultur jamur bertujuan untuk mengidentifikasi spesies dermatofita. Prinsipnya adalah penanaman pada media khusus, dengan hasil berupa pertumbuhan koloni jamur khas.³,⁸

Dermoskopi digunakan untuk membantu evaluasi lesi secara non-invasif. Prinsipnya adalah visualisasi struktur kulit, dan dapat ditemukan skuama perifer aktif serta pola khas dermatofitosis.⁵,⁷


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan Tinea Corporis
PsoriasisPlak tebal dengan skuama putih keperakan, tanpa central clearing.¹,³
Dermatitis seboroikSkuama berminyak kekuningan, tidak berbatas annular aktif.²,⁵
Dermatitis numularisLesi berbentuk koin, tanpa central healing
Dermatitis atopiRiwayat atopi dan gatal kronik, tidak ada pola annular khas.²,⁶
Tinea versicolorLesi hipo/hiperpigmentasi multipel, tanpa central clearing; KOH: hifa dan spora.³,⁷
Kandidiasis kutisLesi lembap dengan lesi satelit, tanpa tepi aktif annular.²,⁶
EritrasmaLesi coklat kemerahan tanpa tepi aktif, fluoresensi merah koral.³,⁷
Lupus eritematosus kutaneusLesi kronik dengan atrofi/skar, tanpa central clearing khas.³,⁸

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Menjaga kulit tetap bersih dan kering untuk menghambat pertumbuhan jamur.²,⁴

Mencuci pakaian, handuk, dan sprei secara rutin untuk mencegah reinfeksi.¹

Tidak berbagi barang pribadi dengan orang lain yang terinfeksi.¹,⁷

Menghindari pakaian ketat dan lembap.²,⁶


Farmakologis

Prinsip terapi

Mengeradikasi dermatofita dengan antijamur topikal sebagai lini pertama

Terapi sistemik bila lesi luas, kronik, atau tidak respons terhadap terapi topikal.¹,⁴,⁶

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Antijamur azolKetokonazol krim 2%2×/hari selama 2–4 mingguMenghambat sintesis ergosterol membran jamur
Mikonazol krim/salep 2%2×/hariMengganggu permeabilitas membran sel jamur
AllylamineTerbinafin krim 1%1–2×/hari selama 1–2 mingguInhibisi squalene epoxidase → fungisidal

Oleskan 1–2 cm di luar tepi lesi aktif, lalu lanjutkan selama ±2 minggu setelah lesi sembuh atau hasil KOH negatif.

Terapi Sistemik

Indikasi :

Lesi luas atau multipel

Gagal terapi topikal

Rekuren atau kronik

Imunokompromais

Tinea incognito

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
AllylamineTerbinafin tablet 250 mg1×250 mg/hari selama 1–2 mingguFungisidal melalui inhibisi squalene epoxidase sehingga mengganggu sintesis ergosterol
AzolItrakonazol kapsul 100 mg2×100 mg/hari selama 1–2 mingguMenghambat enzim CYP450 jamur sehingga menurunkan sintesis ergosterol
AzolFlukonazol tablet 150 mg150 mg/minggu selama 2–4 mingguMenghambat sintesis ergosterol membran jamur
Antijamur klasikGriseofulvin tablet 500 mg500–1000 mg/hari selama 2–4 mingguFungistatik, menghambat mitosis jamur melalui gangguan mikrotubulus

Komplikasi

Infeksi sekunder bakteri akibat garukan dan kerusakan sawar kulit, terutama pada lesi yang gatal.²,⁶

Tinea incognito akibat penggunaan kortikosteroid topikal, sehingga lesi menjadi tidak khas dan sulit didiagnosis.¹,³

Kronisitas atau rekurensi akibat terapi yang tidak adekuat atau faktor predisposisi yang tidak terkontrol.⁴,⁸

Penyebaran luas (autoinokulasi) akibat perpindahan jamur ke area kulit lain melalui garukan atau kontak.¹,⁷


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam. Tidak mengancam jiwa karena infeksi terbatas pada stratum korneum superfisial.¹,²

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam. Tidak menyebabkan gangguan fungsi permanen dan umumnya sembuh tanpa sisa.²,³

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam. Prognosis baik dengan terapi adekuat, tetapi dapat rekuren bila faktor predisposisi tidak dikontrol.³,⁴


Edukasi

Penyakit ini menular melalui kontak langsung atau benda terkontaminasi, sehingga perlu menjaga kebersihan diri.¹,²

Jaga kulit tetap kering dan bersih, terutama pada area yang mudah lembap seperti lipatan tubuh.²,⁴

Gunakan obat secara teratur hingga tuntas, lalu lanjutkan beberapa waktu setelah lesi sembuh untuk mencegah kekambuhan.¹,⁴

Hindari penggunaan kortikosteroid tanpa indikasi, karena dapat memperburuk dan mengaburkan gejala (tinea incognito).²,³

Jangan berbagi handuk, pakaian, atau alat pribadi untuk mencegah penularan.¹,⁷


Kriteria Rujukan

Lesi luas, multipel, atau menyebar cepat berisiko memerlukan terapi sistemik dan evaluasi lebih lanjut. ⁴

Tidak membaik dengan terapi topikal yang adekuat menunjukkan kemungkinan resistensi, diagnosis banding, atau kepatuhan yang rendah. ²,⁴

Kasus rekuren atau kronik memerlukan evaluasi faktor predisposisi, seperti imunosupresi atau sumber infeksi berulang. ³,⁸

Kecurigaan diagnosis lain (atipikal), seperti lesi tidak khas atau tinea incognito, memerlukan konfirmasi oleh spesialis. ²,³

Pasien imunokompromi berisiko mengalami infeksi yang lebih berat dan memerlukan tatalaksana khusus. ⁸,¹⁰


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

3.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2019.

4.

PERDOSKI. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

5.

Hylwa SA, Liu J. Pocket Dermatology. New York: Springer; 2020.

6.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. New Delhi: Jaypee; 2021.

7.

Motta A. Atlas of Dermatology. Milan: Springer; 2022.

8.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2021.

9.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. London: Springer; 2020.

10.

NCBI Bookshelf. Dermatophyte Infections. Bethesda: NIH; 2022.