
Tinea Kapitis [3A].
Nama lain: Tinea kapitis, scalp dermatophytosis, ringworm of the scalp, black dot tinea, gray patch tinea, kerion celsi, favus
Definisi
Tinea kapitis adalah infeksi dermatofita pada rambut dan kulit kepala yang melibatkan folikel dan batang rambut. Kondisi ini ditandai oleh alopecia, skuama, dan rambut patah, terutama pada anak-anak.¹,²,¹¹,¹³
Etiologi
Tinea kapitis disebabkan oleh dermatofita, yaitu jamur keratinofilik yang menginvasi rambut dan kulit kepala.
Dermatofita adalah jamur yang menginfeksi jaringan berkeratin, sedangkan keratinofilik berarti mampu menggunakan keratin (pada rambut dan kulit) sebagai sumber nutrisi.
Genus penyebab utama adalah Trichophyton dan Microsporum.
Spesies tersering meliputi Trichophyton tonsurans sebagai penyebab paling umum secara global.¹,¹³ Microsporum canis sering ditularkan dari hewan.¹,⁵ Trichophyton violaceum ditemukan pada daerah tertentu.¹,²,¹¹,¹³
Epidemiologi
Tinea kapitis terutama mengenai anak usia 3–14 tahun. Kondisi ini jarang terjadi pada dewasa karena efek protektif sebum pascapubertas.
Lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.
Insidensi lebih tinggi pada daerah dengan iklim tropis dan kelembapan tinggi, termasuk negara berkembang.
Penularan terjadi melalui kontak langsung (antarmanusia atau dari hewan) dan melalui fomite seperti sisir, topi, dan bantal.
Agen penyebab bervariasi secara geografis.
Trichophyton tonsurans dominan di banyak negara (antropofilik).
Microsporum canis sering menyebabkan infeksi zoonotik (kontak hewan).
Faktor risiko utama meliputi higiene buruk, kepadatan hunian tinggi, dan kontak erat antaranak.¹-⁵,¹¹,¹³,¹⁴
Klasifikasi
Tinea kapitis diklasifikasikan berdasarkan pola invasi rambut dan gambaran klinis menjadi:
Gray patch merupakan bentuk tinea kapitis non-inflamasi yang ditandai oleh bercak berskuama dengan rambut tampak keabu-abuan dan mudah patah di atas permukaan kulit kepala.
Penyebabnya adalah Microsporum spp. (M. canis, M. ferrugineum) yang umumnya bersifat antropofilik atau zoofilik.
Gejala berupa gatal ringan hingga sedang akibat inflamasi minimal.
Efloresensi berupa plak eritema berbatas tidak tegas dengan skuama halus di sekitar batang rambut, disertai inflamasi ringan.
Rambut tampak keabu-abuan, kusut, dan rapuh, serta patah beberapa milimeter di atas permukaan kulit kepala, sehingga menimbulkan alopecia patchy.
Pemeriksaan lampu Wood menunjukkan fluoresensi hijau terang akibat infeksi oleh Microsporum.¹,²,³,⁵,¹¹,¹
Kerion berasal dari bahasa Yunani “kerion” yang berarti sarang lebah, yang menggambarkan lesi kulit kepala yang membengkak, lunak, dan bernanah, dengan banyak lubang kecil menyerupai sarang lebah akibat reaksi inflamasi berat pada tinea kapitis.
Disebabkan oleh Microsporum canis dan Trichophyton verrucosum, yang umumnya bersifat zoofilik.
Kerion merupakan bentuk tinea kapitis tipe inflamasi berat yang umumnya disebabkan oleh dermatofita zoofilik, yaitu jamur yang berasal dari hewan dan ditularkan ke manusia.
Efloresensi berupa plak atau nodul inflamasi tebal, edematosa, dan lunak, disertai pustul, krusta, erosi, dan furunkulosis.
Lesi dapat mengeluarkan pus, disertai nyeri tekan dan limfadenopati regional akibat respon inflamasi berat.
Setelah sembuh, kerion dapat meninggalkan alopecia sikatrik permanen akibat destruksi folikel rambut.
Pemeriksaan lampu Wood dapat menunjukkan fluoresensi positif pada infeksi oleh Microsporum.¹-³,¹³
Black dot adalah gambaran klinis tinea kapitis ketika rambut patah tepat di permukaan kulit kepala, sehingga tampak sebagai titik-titik hitam pada area alopesia.
Termasuk tipe endotrik, yaitu arthrokonidia berada di dalam batang rambut tanpa destruksi kutikula.
Disebabkan oleh Trichophyton spp. (T. tonsurans, T. violaceum) yang bersifat antropofilik.
Black dot merupakan bentuk tinea kapitis dermatofita antropofilik (Trichophyton spp.), yaitu jamur yang secara alami hidup dan ditularkan antarmanusia.
Sering disertai limfadenopati regional (pembesaran kelenjar getah bening) sebagai respons imun terhadap infeksi, ditandai oleh lesi bengkak, nyeri, dan bernanah pada kulit kepala.
Penularan terjadi melalui kontak langsung atau fomite seperti sisir, handuk, dan topi.
Rambut mengalami kerusakan dari dalam dan patah tepat di permukaan kulit kepala, sehingga tampak sebagai titik hitam (black dot).
Lesi biasanya multipel, tersebar, dan tidak semua rambut terkena, sehingga menimbulkan alopecia tidak merata.
Pemeriksaan lampu Wood menunjukkan hasil negatif karena tidak terdapat fluoresensi pada infeksi Trichophyton.¹-³,¹³
Favus adalah bentuk kronik tinea kapitis yang ditandai oleh skutula (kerak kuning berbentuk mangkuk) akibat infeksi Trichophyton schoenleinii, dengan gambaran rambut kusam, rapuh, serta perjalanan penyakit yang lambat dan persisten.
Kondisi ini bersifat destruktif terhadap folikel rambut sehingga dapat menyebabkan atrofi kulit kepala dan alopecia sikatrik permanen, terutama bila tidak ditangani secara adekuat.¹,²,¹³
Patofisiologi
Infeksi dimulai saat spora dermatofita menempel pada stratum korneum kulit kepala, lalu berkembang dan menghasilkan enzim keratinase yang memungkinkan jamur mencerna keratin sebagai sumber nutrisi.
Jamur kemudian menginvasi folikel rambut dan batang rambut, menyebabkan kerusakan struktur rambut. Rambut menjadi rapuh dan mudah patah, yang secara klinis tampak sebagai alopecia dengan rambut patah berupa black dot atau gray patch.
Respons imun tubuh terhadap infeksi menyebabkan derajat inflamasi yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Pada kondisi tertentu, inflamasi dapat berkembang menjadi kerion dengan inflamasi berat disertai pus.
Pada infeksi kronik atau tidak ditangani, terjadi destruksi folikel rambut yang dapat berujung pada alopecia sikatrik permanen akibat proses fibrosis pada kulit kepala.¹-³,¹¹,¹³
Anamnesis
Keluhan berupa gatal pada kulit kepala akibat inflamasi ringan.
Terdapat alopecia patchy dan rambut mudah patah akibat invasi dermatofita pada folikel rambut.
Pada kerion dapat muncul nyeri, bengkak, dan pus akibat inflamasi berat.
Sering terdapat riwayat kontak dengan penderita, hewan, atau penggunaan bersama alat pribadi sebagai sumber penularan.¹-³,⁵,¹³
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan KOH 10–20% bertujuan mengidentifikasi elemen jamur dengan melarutkan keratin. Hasilnya dapat berupa hifa septat dan arthrokonidia.

Pemeriksaan lampu Wood digunakan untuk mendeteksi fluoresensi jamur, terutama pada infeksi Microsporum. Hasilnya berupa fluoresensi hijau terang.

Kultur jamur merupakan gold standard untuk identifikasi spesies dermatofita. Prinsipnya adalah menumbuhkan jamur pada media khusus hingga terbentuk koloni khas dermatofita.
Dermoskopi dapat membantu diagnosis dengan menemukan gambaran khas, seperti comma hair dan corkscrew hair, sebagai tanda kerusakan batang rambut.¹-³,¹⁰,¹¹,¹³
Konsentrasi KOH yang digunakan tergantung jenis spesimennya.¹,³
10–20%: kulit tipis dan rambut
20–30%: kulit tebal (pedis/manus)
20–40%: kuku
Diagnosis Banding¹-³
| Diagnosis | Perbedaan |
|---|---|
| Alopecia areata | Alopesia tanpa skuama dan tanpa rambut patah |
| Dermatitis seboroik | Tidak terdapat rambut patah, dengan skuama berminyak kekuningan |
| Psoriasis kapitis | Terdapat plak eritematosa berskuama tebal keperakan dan biasanya ada lesi serupa di bagian tubuh lain |
| Infeksi bakteri (folikulitis/impetigo) | Lesi berupa pustul atau krusta, tanpa rambut patah khas dermatofitosis |
| Trikotilomania | Rambut patah tidak teratur akibat kebiasaan mencabut, tanpa tanda infeksi atau skuama |
Penatalaksanaan
Prinsip Terapi
Penatalaksanaan tinea kapitis harus menggunakan terapi sistemik karena infeksi melibatkan folikel rambut, sehingga terapi topikal saja tidak adekuat.¹,²,¹³
Non-Farmakologis
Menjaga higiene kulit kepala dan rambut.
Menghindari berbagi alat pribadi (sisir, topi, handuk).
Edukasi kontak serumah untuk mencegah penularan.
Mencuci rambut secara rutin untuk mengurangi spora jamur.¹,³
Farmakologis
Terapi utama adalah antijamur sistemik.
Terapi topikal hanya sebagai adjuvan untuk mengurangi transmisi.¹,²
Terapi Sistemik (Utama)¹,²
| Golongan & Obat (Sediaan) | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Lini pertama – Griseofulvin (tablet 125 mg, 250 mg, 500 mg; suspensi 125 mg/5 mL) | Microsize: 20–25 mg/kgBB/hari (maks 1 g/hari); Ultramicrosize: 10–15 mg/kgBB/hari (maks 750 mg/hari); 1–2 kali/hari selama 6–12 minggu | Menghambat mitosis jamur (fungistatik), terutama efektif terhadap Microsporum spp. |
| Allylamine – Terbinafin (tablet 125 mg, 250 mg) | 3–6 mg/kgBB/hari, 1 kali/hari selama 2–4 minggu | Menghambat squalene epoxidase sehingga bersifat fungisidal, terutama terhadap Trichophyton spp. |
| Azol – Itrakonazol (kapsul 100 mg; sirup 10 mg/mL) | 5 mg/kgBB/hari, 1–2 kali/hari selama 2–6 minggu | Menghambat sintesis ergosterol membran sel jamur |
| Azol – Flukonazol (tablet 50 mg, 150 mg; sirup 10 mg/mL) | 5–6 mg/kgBB/hari, 1 kali/hari selama 3–6 minggu | Menghambat sintesis ergosterol membran sel jamur |
Terapi Adjuvan
Terapi adjuvan digunakan untuk menurunkan jumlah spora dermatofita di permukaan kulit kepala. Hal ini membantu mengurangi penularan dan mempercepat respons terhadap terapi sistemik, tetapi tidak dapat menembus folikel rambut sehingga tidak efektif sebagai terapi tunggal.
Mekanisme kerjanya adalah mengurangi kolonisasi jamur pada stratum korneum dan bagian luar batang rambut, serta menurunkan shedding spora.
Indikasi diberikan pada semua pasien tinea kapitis dan kontak serumah sebagai upaya pencegahan transmisi.
Pilihan terapi meliputi selenium sulfida 1–2,5% (efek sitostatik), ketokonazol 2% (menghambat sintesis ergosterol), dan zinc pyrithione 1–2% (antijamur ringan).
Digunakan 2–3 kali per minggu, didiamkan 5–10 menit sebelum dibilas, biasanya selama fase awal terapi sistemik.¹,²,¹³
Komplikasi
Kerion terjadi akibat respons inflamasi berat terhadap dermatofita, yang menyebabkan terbentuknya plak edematosa dengan pus dan dapat merusak jaringan kulit kepala.
Alopecia sikatrik permanen disebabkan oleh destruksi folikel rambut akibat inflamasi kronik atau berat, yang berlanjut menjadi fibrosis sehingga rambut tidak dapat tumbuh kembali.
Infeksi bakteri sekunder terjadi akibat kerusakan sawar kulit dan garukan, sehingga memudahkan masuknya bakteri dan menimbulkan pustul atau krusta.
Rekurensi atau infeksi berulang disebabkan oleh terapi yang tidak adekuat, kepatuhan rendah, atau sumber infeksi yang tidak diatasi, seperti kontak serumah atau hewan.
Penyebaran infeksi terjadi melalui kontak langsung atau fomite, terutama pada kondisi higiene yang buruk.¹-³,¹³
Prognosis
Ad vitam: bonam (terhadap kehidupan baik), karena tinea kapitis merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam nyawa.
Ad functionam: bonam (terhadap fungsi baik), karena fungsi kulit kepala umumnya kembali normal setelah terapi adekuat, kecuali pada kasus dengan komplikasi berat.
Ad sanationam: dubia ad bonam (kesembuhan cenderung baik), tergantung pada kepatuhan terapi dan derajat inflamasi. Prognosis dapat menjadi buruk bila terjadi kerion atau alopecia sikatrik permanen.¹,²,¹³
Edukasi
Menjelaskan bahwa tinea kapitis merupakan penyakit infeksi jamur yang menular, terutama melalui kontak langsung dan penggunaan bersama alat pribadi.
Menekankan pentingnya kepatuhan terapi sistemik hingga tuntas untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi.
Menghindari berbagi sisir, topi, handuk, atau bantal untuk mencegah penularan ke orang lain.
Menjaga kebersihan rambut dan kulit kepala, termasuk mencuci rambut secara rutin.
Menganjurkan pemeriksaan dan, bila perlu, terapi pada kontak serumah atau teman dekat untuk mencegah reinfeksi.
Menghindari kontak dengan hewan yang terinfeksi, atau membawa hewan untuk diperiksa bila dicurigai sebagai sumber penularan.
Menginformasikan bahwa rambut tidak perlu dicukur, tetapi terapi harus dilakukan secara adekuat.¹-³,⁵
Kriteria Rujukan
Terdapat kerion (inflamasi berat dengan pus dan nyeri) karena berisiko tinggi menyebabkan alopecia sikatrik permanen.
Tidak ada perbaikan setelah terapi adekuat selama 4–6 minggu, yang mengindikasikan kemungkinan resistensi, kepatuhan buruk, atau diagnosis banding lain.
Terjadi alopecia luas atau terdapat tanda jaringan parut, sehingga memerlukan evaluasi lanjutan oleh spesialis.
Diagnosis meragukan atau tidak khas, sehingga membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti kultur atau evaluasi dermatologis.
Pasien dengan imunokompromais berisiko mengalami infeksi lebih berat dan komplikasi.
Terdapat komplikasi seperti infeksi bakteri sekunder berat atau penyebaran infeksi.¹-³,¹³