Tinea Incognito [3A].

Tinea Incognito [3A].


Nama Lain : Steroid-modified tinea, tinea atypica, masked dermatophytosis, dermatofitosis tersamar


Definisi

Tinea incognito adalah infeksi dermatofita pada kulit yang mengalami perubahan gambaran klinis akibat penggunaan kortikosteroid (topikal maupun sistemik), sehingga lesi menjadi atipikal, tidak khas, dan sering menyerupai penyakit kulit lain.¹,²


Epidemiologi

Tidak memiliki data spesifik, karena sering tidak dikenali sebagai entitas tersendiri.¹,²

Insidensi meningkat seiring penggunaan kortikosteroid topikal yang tidak tepat (penyalahgunaan steroid).²,³

Dapat terjadi pada semua usia, terutama pada pasien dengan riwayat penggunaan steroid tanpa pengawasan.³,⁴

Lebih sering di daerah tropis dan lembap, termasuk Indonesia, karena tingginya prevalensi dermatofitosis.²,⁵


Etiologi

Disebabkan oleh infeksi dermatofita, terutama Trichophyton rubrum sebagai penyebab tersering.¹,².

Spesies lain yang dapat berperan meliputi Trichophyton mentagrophytes, Microsporum spp., dan Epidermophyton floccosum.²,³.

Faktor utama yang memicu perubahan menjadi tinea incognito adalah penggunaan kortikosteroid (topikal atau sistemik) yang menekan respons inflamasi kulit, sehingga mengubah gambaran klinis khas dermatofitosis.¹,⁴.


Faktor Risiko

Penggunaan kortikosteroid topikal (tersering), terutama tanpa indikasi atau dalam jangka panjang.¹,²

Kortikosteroid sistemik atau imunosupresan yang menekan respons imun kulit.²,³

Kombinasi krim (steroid + antibiotik/antijamur) yang tidak tepat sehingga menyamarkan gejala.³,⁴

Pengobatan mandiri (self-medication) tanpa diagnosis yang jelas.²,⁵

Diagnosis awal yang keliru sehingga diberikan terapi non-antijamur.¹,³


Patofisiologi

Dermatofita menginvasi stratum korneum dan memanfaatkan keratin sebagai sumber nutrisi, sehingga terjadi infeksi superfisial, seperti pada tinea biasa.¹,².

Kortikosteroid menekan respons imun lokal, terutama fungsi sel Langerhans, limfosit T, dan sitokin proinflamasi, sehingga reaksi inflamasi terhadap jamur berkurang.²,³.

Penurunan inflamasi menyebabkan hilangnya gambaran khas tinea, seperti tepi aktif dan central clearing, sehingga lesi menjadi tidak khas (incognito).¹,³.

Steroid juga meningkatkan proliferasi jamur secara tidak langsung, karena lingkungan kulit menjadi lebih permisif akibat imunosupresi lokal.²,⁴.

Akibatnya, infeksi dapat menjadi lebih luas, lebih dalam, dan atipikal, bahkan menyerupai dermatitis, psoriasis, atau penyakit inflamasi lain.¹,⁵.


Anamnesis

Lesi kulit tidak khas yang tidak membaik atau malah memburuk setelah penggunaan krim/steroid.¹,²

Riwayat penggunaan kortikosteroid topikal (sering tanpa resep) pada lesi kulit sebelumnya.²,³

Keluhan gatal ringan hingga sedang, sering lebih ringan dibanding tinea biasa karena efek antiinflamasi steroid.³,⁴

Lesi dapat meluas perlahan meskipun sudah diobati sebelumnya.¹,³

Riwayat awal berupa lesi tinea khas (annular, tepi aktif) sebelum berubah menjadi atipikal.²,⁵

Dapat disertai riwayat salah diagnosis sebelumnya (misalnya dianggap dermatitis atau alergi).¹,³


Pemeriksaan Fisik

([[[[[https://dermnetnz.org/
([[[[[https://dermnetnz.org/

Predileksi

Dapat mengenai wajah, badan, lipatan (inguinal, aksila), dan ekstremitas.¹,²

Sering pada area yang sebelumnya mengalami dermatofitosis dan mendapat kortikosteroid topikal.²,³

Lesi dapat menjadi lebih luas dan tidak sesuai distribusi tinea khas.³,⁴


Efloresensi

Lesi berupa plak eritematosa atipikal dengan batas tidak tegas dan hilangnya tepi aktif khas tinea.¹,³

Central clearing tidak jelas, sehingga tidak tampak gambaran annular klasik.²,⁴

Dapat ditemukan papula dan pustula, sering tanpa skuama akibat efek steroid.³,⁵

Lesi dapat tampak difus dan polimorfik, menyerupai dermatitis atau psoriasis.¹,⁴

Pada penggunaan steroid jangka panjang dapat ditemukan atrofi epidermis, telangiektasis, atau striae.²,⁵


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan KOH 10–20%. Dilakukan dari kerokan tepi lesi aktif. Prinsip pemeriksaan ini adalah melarutkan keratin. Hasil menunjukkan hifa bersepta dan bercabang (dermatofita) sebagai konfirmasi diagnosis.¹,²,⁴

Kultur jamur (Sabouraud Dextrose Agar). Digunakan untuk identifikasi spesies penyebab, terutama pada kasus refrakter atau atipikal. Hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis.²,³,⁵

Histopatologi (pewarnaan Periodic Acid–Schiff stain (PAS)). Menunjukkan hifa pada stratum korneum. Pemeriksaan ini digunakan bila hasil KOH negatif tetapi klinis sangat mendukung.³,⁶

Dermoskopi. Dapat membantu melihat skuama perifer atau pola lesi khas dermatofitosis, meskipun pada tinea incognito sering tidak jelas.²,⁵


Dasar Diagnosis

Diagnosis tinea incognito ditegakkan berdasarkan lesi kulit atipikal yang tidak khas dermatofitosis disertai riwayat penggunaan kortikosteroid. Diagnosis dikonfirmasi dengan pemeriksaan KOH yang menunjukkan hifa dermatofita dan/atau kultur atau histopatologi positif.¹,²,⁴


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis Utama
Dermatitis kontak (iritan/alergi)Lesi lebih difus, tidak ada tepi aktif, sering riwayat paparan alergen/iritan.¹,³
Dermatitis atopikRiwayat atopi (asma, rinitis), lesi kronik dengan likenifikasi, tidak ada hifa pada KOH.²,⁴
PsoriasisPlak eritematosa dengan skuama tebal keperakan, distribusi khas (siku, lutut), Auspitz sign positif.²,⁵
Lupus kutaneusLesi diskoid, atrofi, fotosensitif, sering pada area terpapar matahari.³,⁶
Kandidiasis kulitLesi eritem lembap dengan pustula satelit, sering mengenai lipatan, tidak ada central clearing.¹,⁴
Tinea corporis (klasik)Lesi annular dengan tepi aktif dan central clearing jelas, tidak tersamar oleh steroid.¹,²

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Hentikan penggunaan kortikosteroid secara bertahap atau langsung sesuai kondisi.¹,²

Menjaga kebersihan dan kekeringan kulit, serta menghindari faktor predisposisi.²,³

Edukasi untuk tidak menggunakan krim sembarangan, terutama kombinasi steroid.³


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Menghentikan kortikosteroid terlebih dahulu, karena steroid merupakan faktor utama yang menyamarkan infeksi dan memperberat penyebaran jamur.¹,²

Eradikasi dermatofita dengan antijamur yang sesuai, terutama allylamine atau azol.²,³

Pemilihan terapi berdasarkan luas lesi, yaitu topikal untuk ringan dan sistemik untuk luas, kronik, atau refrakter.³,⁴

Durasi terapi adekuat hingga infeksi benar-benar teratasi, karena kasus sering sudah lebih dalam dan luas akibat efek steroid.²,⁵

Menghindari penggunaan kombinasi steroid-antijamur yang tidak tepat untuk mencegah kekambuhan.¹,³


Terapi Farmakologis Sesuai Lesi Dasar

Lesi ringan, terbatas (tanpa inflamasi berat) Gunakan antijamur topikal seperti terbinafin atau azol, karena infeksi masih superfisial dan respons baik terhadap terapi lokal.¹,²

Lesi luas atau multipel Memerlukan antijamur sistemik (terbinafin atau itrakonazol) karena jamur telah menyebar dan penetrasi topikal tidak adekuat.²,³

Lesi inflamasi (papul, pustul) Tetap diberikan antijamur sistemik/topikal, tanpa steroid, karena inflamasi disebabkan infeksi jamur, bukan dermatitis.¹,³

Lesi kronik atau refrakter Pilih terapi sistemik + kombinasi topikal, karena biasanya sudah terjadi deep infection akibat masking steroid.²,⁴

Lesi dengan tanda efek steroid (atrofi, striae) Fokus pada hentikan steroid + antijamur, serta hindari reintroduksi steroid.¹,²

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Allylamine topikalTerbinafin krim 1%1–2×/hari selama 2–4 mingguFungisidal melalui inhibisi squalene epoxidase.¹,³
Azol topikalKetokonazol krim 2%1–2×/hariMenghambat sintesis ergosterol membran jamur.²,⁴
Klotrimazol krim 1%2×/hariMengganggu membran sel jamur.¹,³
Sistemik (kasus luas/berat)Terbinafin tablet 250 mg1×/hari selama 2–4 mingguFungisidal kuat terhadap dermatofita.¹,³
Itrakonazol kapsul 100 mg2×100 mg/hariMenghambat CYP450 jamur → ergosterol.²,⁵

Prognosis

Ad vitam (kehidupan): bonam, karena tinea incognito merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.¹,²

Ad functionam (fungsi): bonam, fungsi kulit umumnya tidak terganggu permanen, kecuali bila terjadi komplikasi luas.²,³

Ad sanationam (kesembuhan): dubia ad bonam, karena dapat sembuh dengan terapi adekuat, namun berisiko rekurensi atau keterlambatan penyembuhan bila penggunaan steroid tidak dihentikan atau faktor predisposisi tidak dikontrol.¹,³,⁴


Edukasi

Hentikan penggunaan kortikosteroid tanpa indikasi medis karena dapat menyamarkan dan memperberat infeksi jamur.¹,²

Gunakan obat antijamur sesuai anjuran dan sampai tuntas, meskipun lesi sudah tampak membaik.²,³

Hindari penggunaan krim kombinasi secara sembarangan, terutama yang mengandung steroid.³,⁴

Jaga kebersihan dan kekeringan kulit, terutama pada area yang sering lembap.²,⁵

Jangan berbagi barang pribadi seperti handuk atau pakaian untuk mencegah penularan.¹,³

Segera kontrol bila lesi tidak membaik atau semakin luas.²,⁴


Kriteria Rujukan

Hentikan penggunaan kortikosteroid tanpa indikasi medis, karena dapat menyamarkan dan memperberat infeksi jamur. ¹,²

Gunakan obat antijamur sesuai anjuran dan sampai tuntas, meskipun lesi sudah tampak membaik. ²,³

Hindari penggunaan krim kombinasi sembarangan, terutama yang mengandung steroid. ³,⁴

Jaga kebersihan dan kekeringan kulit, terutama pada area yang sering lembap. ²,⁵

Jangan berbagi barang pribadi, seperti handuk atau pakaian, untuk mencegah penularan. ¹,³

Segera kontrol bila lesi tidak membaik atau semakin luas. ²,⁴


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2019.

3.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. 5th ed. New Delhi: Jaypee; 2016.

4.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.

5.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

6.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2017.

7.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.

8.

Mikailov A. Dermatology Prescriptions. New York: McGraw Hill; 2020.

9.

Oakley A. Dermatology Made Easy. London: Scion Publishing; 2017.

10.

Ferringer T. Atlas of Essential Dermatopathology. London: Springer; 2013.

11.

Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, et al., editors. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. 2nd ed. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.

12.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, et al., editors. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.