
Tinea Imbrikata [3A].
Nama lain: Tokelau, tinea concentricum, kurap imbrikata, concentric ringworm
Definisi
Tinea imbricata adalah infeksi dermatofita superfisial kronik yang disebabkan oleh Trichophyton concentricum, dan ditandai oleh lesi berbentuk cincin konsentris berlapis-lapis (imbrikata) dengan skuama khas menyerupai susunan genteng.¹,²
Epidemiologi
Endemik pada daerah tropis tertentu, terutama di Asia Tenggara, Pasifik, dan Amerika Latin.
Sering ditemukan pada populasi pedesaan atau komunitas terpencil dengan higiene terbatas.
Lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, namun dapat mengenai semua usia.
Penularan terutama melalui kontak langsung antar individu dalam lingkungan yang sama.
Berkaitan dengan faktor genetik dan respons imun host, sehingga tidak semua orang yang terpapar akan terinfeksi.¹-⁵
Etiologi
Disebabkan oleh dermatofita spesifik Trichophyton concentricum yang merupakan penyebab utama dan hampir eksklusif.
Penularan terjadi melalui kontak langsung kulit ke kulit atau melalui fomites di lingkungan endemik.
Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh respons imun host yang tidak adekuat terhadap jamur sehingga memungkinkan terjadinya infeksi kronik khas imbrikata.¹-⁴
Faktor Risiko
Tinggal di daerah endemik tropis, terutama komunitas pedesaan dengan kepadatan tinggi.
Kontak erat dengan penderita, termasuk dalam satu keluarga atau lingkungan.
Faktor genetik, yaitu adanya kerentanan imun spesifik terhadap *Trichophyton concentricum*.
Higiene yang kurang baik dan kondisi lingkungan yang lembap.
Status sosial ekonomi rendah, yang berhubungan dengan sanitasi dan akses kesehatan terbatas.¹-⁵
Patofisiologi
Pada tinea imbricata, terdapat defek spesifik pada imunitas seluler (imunitas yang dimediasi sel) terhadap Trichophyton concentricum, terutama pada respons limfosit T (Th1).
Terjadi penurunan produksi sitokin proinflamasi, seperti IL-2 dan IFN-γ, yang seharusnya berperan dalam aktivasi makrofag dan eliminasi jamur.
Sebaliknya, respons imun cenderung bergeser ke arah Th2, dengan peningkatan sitokin seperti IL-4 dan IL-10, yang kurang efektif dalam membunuh dermatofita.
Akibatnya, jamur tidak dapat dieliminasi secara tuntas, melainkan hanya ditekan sementara, sehingga terjadi infeksi kronik berulang.
Pola ini menyebabkan pertumbuhan jamur berulang secara siklik, yang secara klinis tampak sebagai cincin konsentris berlapis (imbrikata).¹-⁵
Anamnesis
Pada tinea imbricata, terdapat defek spesifik pada imunitas seluler (cell-mediated immunity) terhadap Trichophyton concentricum, terutama pada respons limfosit T (Th1).
Terjadi penurunan produksi sitokin proinflamasi, seperti IL-2 dan IFN-γ, yang seharusnya berperan dalam aktivasi makrofag dan eliminasi jamur.
Sebaliknya, respons imun cenderung bergeser ke arah Th2, dengan peningkatan sitokin seperti IL-4 dan IL-10, yang kurang efektif dalam membunuh dermatofita.
Akibatnya, jamur tidak dapat dieliminasi secara tuntas, melainkan hanya ditekan sementara, sehingga terjadi infeksi kronik berulang.
Pola ini menyebabkan pertumbuhan jamur berulang secara siklik, yang secara klinis tampak sebagai cincin konsentris (imbrikata).¹-⁵
Predileksi
Terutama pada batang tubuh, ekstremitas, dan punggung.
Dapat meluas ke seluruh tubuh (generalata) pada kasus kronik di daerah endemik.
Biasanya tidak mengenai wajah, telapak tangan, dan telapak kaki.¹-⁴
Efloresensi
Lesi berupa plak dengan pola cincin konsentris berlapis-lapis (imbrikata) yang sangat khas.
Terdapat skuama tipis berlapis seperti genteng (tile-like scaling).
Batas lesi jelas, dengan tepi aktif berulang pada tiap lingkaran.
Lesi tampak simetris dan meluas perlahan.
Inflamasi minimal, sehingga lesi tampak tidak terlalu eritematosa.¹-⁵
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan KOH 10–20%. Sampel diambil dari kerokan skuama pada tepi lesi, dengan prinsip melarutkan keratin. Hasil menunjukkan hifa panjang bersepta dan bercabang khas dermatofita.
Kultur jamur (Sabouraud Dextrose Agar). Digunakan untuk konfirmasi spesies Trichophyton concentricum, terutama pada kasus penelitian atau atipikal. Hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis.
Histopatologi (pewarnaan Periodic Acid–Schiff Stain(PAS)). Menunjukkan hifa pada stratum korneum. Pemeriksaan ini digunakan bila diagnosis meragukan.¹-⁶
Diagnosis Banding¹-⁶
| Diagnosis | Perbedaan Klinis Utama |
|---|---|
| Tinea corporis (klasik) | Lesi annular tunggal dengan tepi aktif dan central clearing, tidak membentuk lapisan konsentris multipel. |
| Psoriasis | Plak eritematosa dengan skuama tebal keperakan, distribusi khas (siku, lutut), tidak ada pola cincin konsentris. |
| Pitiriasis rosea | Lesi oval dengan collarette scale, distribusi “Christmas tree”, tidak konsentris. |
| Lupus kutaneus (diskoid) | Lesi atrofi, hiperpigmentasi, fotosensitif, tanpa skuama konsentris khas. |
| Dermatitis seboroik | Skuama berminyak kekuningan, lokasi khas di wajah dan kulit kepala, tidak membentuk cincin. |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Menjaga kebersihan dan kekeringan kulit untuk mengurangi pertumbuhan jamur.
Menghindari kontak erat dengan penderita untuk mencegah penularan.
Edukasi bahwa penyakit bersifat kronik dan mudah kambuh bila terapi tidak adekuat.¹-³
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi sistemik adalah terapi utama karena infeksi bersifat kronik, luas, dan sulit dieliminasi hanya dengan terapi topikal.
Terbinafin merupakan lini pertama (DOC) karena bersifat fungisidal kuat terhadap dermatofita.
Durasi terapi harus adekuat dan cenderung lebih lama, disesuaikan dengan respons klinis untuk mencegah kekambuhan.
Terapi topikal hanya sebagai adjuvan untuk membantu mengurangi skuama dan beban jamur di permukaan.
Perhatikan faktor imun host karena defek imun menyebabkan rekurensi tinggi meskipun terapi adekuat.¹-⁵
Farmakologis
| Golongan Obat | Obat & Sediaan | Dosis / Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Allylamine (lini utama) | Terbinafin tablet 250 mg | 1×/hari selama ±4 minggu | Fungisidal melalui inhibisi squalene epoxidase → ganggu sintesis ergosterol. |
| Antijamur klasik | Griseofulvin tablet 500 mg | 500–1000 mg/hari selama 6–8 minggu | Menghambat mitosis jamur (mikrotubulus). |
| Azol | Itrakonazol kapsul 100 mg | 400 mg/hari selama 7 hari (pulse therapy) | Menghambat CYP450 jamur → sintesis ergosterol. |
Catatan
Terbinafin merupakan obat pilihan (DOC) untuk tinea imbricata.
Terapi sistemik wajib, karena penyakit bersifat kronik dan luas.
Durasi terapi dapat lebih lama dan rekurensi sering terjadi akibat faktor imun host.
Terapi topikal dapat digunakan sebagai adjuvan, tetapi tidak cukup sebagai monoterapi.¹-⁵
Prognosis
Ad vitam (kehidupan): bonam, karena tinea imbricata merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.
Ad functionam (fungsi): bonam, fungsi kulit umumnya tidak terganggu secara permanen, meskipun dapat mengganggu kosmetik.
Ad sanationam (kesembuhan): dubia ad bonam, karena dapat membaik dengan terapi sistemik, namun rekurensi sering terjadi akibat defek imun host.¹-⁵
Edukasi
Penyakit ini merupakan infeksi jamur superfisial yang tidak berbahaya, tetapi dapat berlangsung lama dan meluas bila tidak diobati dengan benar.
Pengobatan harus dilakukan secara rutin dan dalam durasi yang cukup, karena jamur sulit dieliminasi dan sering kambuh.
Pasien perlu memahami bahwa kekambuhan sering terjadi, terutama karena faktor imun tubuh.
Menjaga kebersihan dan kekeringan kulit sangat penting untuk membantu penyembuhan dan mencegah rekurensi.
Menghindari kontak erat dengan penderita lain penting untuk mencegah penularan.¹-⁵
Kriteria Rujukan
Penyakit ini merupakan infeksi jamur superfisial yang tidak berbahaya, tetapi dapat berlangsung lama dan meluas bila tidak diobati dengan benar.
Pengobatan harus dilakukan secara rutin dan dalam durasi yang cukup, karena jamur sulit dieliminasi dan sering kambuh
Pasien perlu memahami bahwa kekambuhan sering terjadi, terutama karena faktor imun tubuh.
Menjaga kebersihan dan kekeringan kulit sangat penting untuk membantu penyembuhan dan mencegah rekurensi.
Menghindari kontak erat dengan penderita lain penting untuk mencegah penularan.¹-⁵