Tinea Barbae [3A].
Nama Lain : Barber’s itch, tinea sycosis, ringworm pada area janggut, dermatofitosis barbae
Definisi
Tinea barbae adalah infeksi dermatofita pada folikel rambut di area janggut dan kumis yang disebabkan oleh jamur seperti Trichophyton, ditandai oleh lesi inflamasi berupa pustul, nodul, atau abses akibat invasi jamur ke folikel rambut.¹,²,³
Epidemiologi
Tinea barbae merupakan dermatofitosis yang jarang, dibandingkan tinea pedis atau corporis.¹,³
Lebih sering terjadi pada pria dewasa, terutama usia produktif.²,⁴
Berhubungan erat dengan pekerjaan yang kontak dengan hewan ternak seperti peternak atau pekerja agrikultur.³,⁶
Penyebab zoofilik membuat penyakit ini lebih sering ditemukan pada daerah rural.¹,³
Insidensi lebih tinggi pada iklim tropis dan lembap yang mendukung pertumbuhan dermatofita.²,⁴
Etiologi
Agen penyebab utama adalah dermatofita dari genus Trichophyton, terutama Trichophyton verrucosum yang merupakan spesies zoofilik tersering pada tinea barbae.¹,³
Spesies lain yang dapat menyebabkan infeksi adalah Trichophyton mentagrophytes, yang juga sering berasal dari hewan dan menimbulkan reaksi inflamasi lebih berat.¹,⁸
Trichophyton rubrum dapat ditemukan pada sebagian kasus, umumnya menyebabkan bentuk yang lebih superfisial dengan inflamasi ringan.²
Sumber infeksi terutama berasal dari hewan ternak seperti sapi, kambing, atau hewan domestik melalui kontak langsung maupun tidak langsung.³,⁶
Penularan antarmanusia relatif jarang, namun dapat terjadi melalui alat cukur atau benda yang terkontaminasi.²,⁷
Infeksi oleh spesies zoofilik cenderung menimbulkan respon inflamasi lebih berat dibandingkan spesies antropofilik karena respon imun host yang lebih kuat.³,⁴
Faktor Resiko/ Pencetus
Kontak dengan hewan ternak seperti sapi atau kambing, terutama pada peternak atau pekerja agrikultur.³,⁶
Pekerjaan dengan paparan hewan yang meningkatkan risiko transmisi dermatofita zoofilik.¹,³
Trauma mikro pada kulit akibat mencukur janggut yang mempermudah invasi jamur ke folikel rambut.²,⁷
Higiene yang kurang baik terutama pada area janggut dan alat cukur.²,⁴
Penggunaan alat cukur bersama yang dapat menjadi media penularan.²,⁷
Imunosupresi yang menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi jamur.¹,⁸
Lingkungan panas dan lembap yang mendukung pertumbuhan dermatofita.²,⁴
Klasifikasi
Tinea barbae diklasifikasikan berdasarkan derajat inflamasi, disertai gambaran predileksi dan efloresensi klinis sebagai berikut:

Tipe inflamasi (deep/inflammatory type)
Predileksi: area janggut dan kumis, terutama dagu, pipi, dan leher anterior.¹,³
Efloresensi: berupa folikulitis pustular, yaitu folikel rambut dikelilingi papula, pustula, nodul, atau plak, dapat berkembang menjadi abses dan krusta, menyerupai kerion.¹,³,⁴
Rambut yang terkena mudah dicabut akibat kerusakan folikel.¹,³
Disertai edema, nyeri, dan kadang limfadenopati regional.³
Infeksi mengenai folikel rambut dalam.³,⁴
Umumnya disebabkan oleh dermatofita zoofilik.¹,³
Berisiko skar dan alopecia lokal.³,⁴
Tipe non-inflamasi (superficial type)
Predileksi: area janggut superfisial seperti pipi dan sekitar mulut.²,⁸
Efloresensi: plak eritematosa berbatas tegas dengan skuama, dapat berbentuk annular menyerupai tinea corporis.²,³
Inflamasi ringan atau minimal.²
Rambut tidak mudah lepas.²
Biasanya disebabkan oleh dermatofita antropofilik.²,⁸
Prognosis lebih baik dan jarang meninggalkan skar.²,³
| Tipe | Gambaran Klinis | Agen Tersering | Karakteristik Kunci |
|---|---|---|---|
| Inflamasi (deep/inflammatory type) | Nodul, plak edematosa, pustul, abses menyerupai kerion | Zoofilik (Trichophyton verrucosum, T. mentagrophytes) | Nyeri, inflamasi berat, risiko jaringan parut¹,³ |
| Non-inflamasi (superficial type) | Plak eritematosa dengan skuama, dapat menyerupai tinea corporis | Antropofilik (Trichophyton rubrum) | Inflamasi ringan, lesi lebih superficial²,⁸ |
Patofisiologi
Dermatofita dari genus Trichophyton menginvasi keratin pada rambut dan folikel rambut melalui enzim keratinase yang mencerna keratin sebagai sumber nutrisi.¹,³
Jamur kemudian berkembang di dalam dan sekitar folikel rambut, menyebabkan kerusakan struktur rambut sehingga rambut menjadi rapuh dan mudah dicabut.¹,³,⁵
Pada infeksi oleh spesies zoofilik, terjadi respon imun host yang kuat sehingga menimbulkan reaksi inflamasi berat berupa papula, pustula, nodul hingga abses (kerion-like).³,⁴
Pada infeksi oleh spesies zoofilik, antigen jamur dianggap lebih asing oleh tubuh sehingga memicu respon imun seluler yang kuat (hipersensitivitas tipe IV).³,⁴
Aktivasi sistem imun menyebabkan rekrutmen neutrofil, makrofag, dan sel inflamasi lain ke folikel rambut, sehingga terbentuk folikulitis supuratif.³,⁴
Proses ini menghasilkan akumulasi pus dan kerusakan jaringan yang tampak klinis sebagai papula, pustula, nodul hingga abses (kerion-like).³,⁴
Inflamasi yang berat juga menyebabkan destruksi folikel rambut, sehingga rambut mudah lepas dan berisiko terjadi skar permanen bila tidak ditangani adekuat.³,⁴
Pada infeksi oleh spesies antropofilik, respon inflamasi lebih ringan sehingga lesi cenderung superfisial berupa plak berskuama tanpa destruksi folikel yang berat.²,³
Anamnesis
Keluhan utama berupa lesi pada area janggut yang dapat disertai gatal atau nyeri, terutama pada bentuk inflamasi.¹,³
Pasien dapat mengeluhkan benjolan, pustul, atau abses yang berkembang progresif.³,⁴
Rambut pada area lesi mudah dicabut tanpa rasa nyeri yang berarti.¹,³
Dapat disertai keluhan nyeri tekan dan rasa panas pada lesi akibat inflamasi.³
Riwayat kontak dengan hewan ternak seperti sapi atau kambing sering ditemukan.³,⁶
Riwayat mencukur janggut sebelum munculnya lesi dapat menjadi faktor pencetus.²,⁷
Riwayat penggunaan alat cukur bersama atau higiene yang kurang baik.²,⁷
Umumnya tidak disertai gejala sistemik, kecuali pada kasus berat.³
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan KOH 10–20% dilakukan dari kerokan lesi atau rambut yang terinfeksi untuk konfirmasi dermatofita, dengan prinsip melarutkan keratin; hasil khas berupa hifa panjang bersepta dan bercabang.¹,³,⁹
Kultur jamur dilakukan untuk identifikasi spesies penyebab menggunakan media seperti Sabouraud agar atau DTM, dengan hasil berupa pertumbuhan koloni dermatofita khas dalam 1–2 minggu.³,⁸
Pemeriksaan mikroskopis rambut (hair shaft) dapat menunjukkan invasi jamur pada batang rambut (endotriks/ektotriks).¹,³
Biopsi kulit jarang diperlukan, namun pada kasus atipikal dapat menunjukkan inflamasi folikel rambut dengan infiltrasi sel radang dan elemen jamur.⁴,⁶
Dasar Diangnosis
Diagnosis tinea barbae ditegakkan berdasarkan lesi inflamasi pada area janggut berupa folikulitis pustular dengan rambut mudah dicabut, didukung oleh pemeriksaan KOH positif yang menunjukkan hifa bersepta.¹,³
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan Klinis |
|---|---|
| Folikulitis bakteri | Lesi pustular superfisial, tidak dalam, rambut tidak mudah dicabut, biasanya oleh Staphylococcus aureus.¹,³ |
| Furunkel | Infeksi folikel dalam dengan nodul nyeri berisi pus, tidak ada pola jamur dan tidak ditemukan hifa pada KOH.²,⁴ |
| Karbunkel | Kumpulan furunkel dengan abses luas dan multipel, disertai gejala sistemik, lebih berat dibanding tinea barbae.²,⁴ |
| Tinea corporis | Lesi annular dengan tepi aktif, tidak mengenai folikel rambut dalam, inflamasi lebih ringan.¹,³ |
| Pseudofolikulitis barbae | Akibat rambut tumbuh ke dalam, tanpa infeksi jamur, sering pada pria dengan rambut keriting.²,⁶ |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Menjaga kebersihan area janggut dan kulit wajah.²,⁴
Menghindari mencukur pada area lesi aktif untuk mencegah iritasi dan penyebaran infeksi.³
Tidak menggunakan alat cukur bersama.²,⁷
Menghindari kontak dengan hewan terinfeksi.³,⁶
Kompres hangat pada lesi inflamasi untuk membantu drainase.³
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
karena mengenai folikel rambut dalam, terapi utama adalah antijamur sistemik.¹,³
Terapi Sistemik
| Golongan Obat | Obat & Sediaan | Dosis / Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Allylamine | Terbinafin tablet 250 mg | 1×/hari selama 2–4 minggu | Fungisidal melalui inhibisi squalene epoxidase¹,³ |
| Azol | Itrakonazol kapsul 100 mg | 1–2×100 mg/hari selama 2–4 minggu | Menghambat sintesis ergosterol membran jamur²,⁴ |
| Antijamur klasik | Griseofulvin tablet 500 mg | 500–1000 mg/hari selama 4–6 minggu | Menghambat **mitosis jamur (mikrotubulus)**¹,³ |
Terapi Tambahan
Antibiotik bila terdapat infeksi bakteri sekunder.³,⁶
Kortikosteroid sistemik (jangka pendek) pada kasus inflamasi berat seperti kerion untuk mengurangi inflamasi.³,⁴
Catatan Penting
Terapi harus diberikan hingga tuntas untuk mencegah kekambuhan.¹,²
Evaluasi respon terapi dilakukan dalam 2–4 minggu.³
Terapi Pembedahan
Bukan terapi utama, karena tinea barbae memerlukan antijamur sistemik¹,³
Insisi dan drainase (I&D) pada abses besar atau fluktuatif³,⁴
Debridement ringan pada lesi dengan krusta tebal atau jaringan nekrotik³
Bersifat suportif, bukan terapi definitif
Tanpa terapi sistemik, infeksi tidak akan sembuh
Tindakan agresif berisiko penyebaran infeksi dan skar
Prognosis
Ad vitam (kehidupan):* bonam*, karena tinea barbae merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.¹,³
Ad functionam (fungsi):* bonam*, fungsi area wajah umumnya tidak terganggu permanen bila ditangani dengan baik.²,⁴
Ad sanationam (kesembuhan):* bonam*, dengan terapi antijamur sistemik yang adekuat dapat sembuh sempurna, namun dapat menjadi dubia ad bonam pada kasus berat atau inflamasi dalam yang berisiko skar dan alopecia lokal.¹,³,⁴
Edukasi
Penyakit disebabkan oleh infeksi jamur dan dapat menular, terutama melalui kontak dengan hewan atau benda terkontaminasi.¹,³
Pasien dianjurkan menjaga kebersihan area janggut dan kulit wajah serta menghindari mencukur pada lesi aktif.²,⁴
Tidak menggunakan alat cukur, handuk, atau barang pribadi secara bersama.²,⁷
Menghindari kontak dengan hewan yang dicurigai terinfeksi.³,⁶
Pengobatan harus dilakukan hingga tuntas sesuai anjuran untuk mencegah kekambuhan.¹,²
Segera kontrol bila muncul pemburukan lesi, nyeri hebat, atau tanda infeksi sekunder.³
Kriteria Rujukan
Lesi inflamasi berat seperti nodul, abses luas, atau kerion-like karena berisiko tinggi terjadi skar dan alopecia permanen sehingga memerlukan penanganan spesialis.¹,³
Tidak ada perbaikan setelah terapi sistemik adekuat selama 2–4 minggu, atau terjadi kekambuhan berulang yang mengarah pada kasus refrakter.²,⁴
Terdapat infeksi sekunder berat seperti selulitis atau abses luas yang membutuhkan terapi tambahan atau tindakan lebih lanjut.³,⁶
Diagnosis meragukan atau menyerupai kondisi lain (misalnya folikulitis bakteri atau furunkel), sehingga memerlukan konfirmasi mikologi atau evaluasi spesialis kulit.²,⁷
Pasien dengan kondisi imunokompromais karena berisiko mengalami infeksi lebih berat, luas, dan sulit sembuh.¹,⁸
Lesi yang progresif cepat atau luas meskipun sudah mendapat terapi awal di layanan primer.³,⁴
Daftar Pustaka
Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.
Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2019.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.
Hylwa SA, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.
Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. 5th ed. New Delhi: Jaypee; 2021.
Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.
Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2021.
Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. London: Springer; 2020.
NCBI Bookshelf. Dermatophyte Infections. Bethesda: NIH; 2022.
