Skabies [3A & 4].

Skabies [3A & 4].


Nama Lain : Scabies, kudis, infestasi tungau, Norwegian scabies (untuk bentuk berat/crusted), itch mite infestation


Definisi

Skabies adalah infestasi kulit oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis yang hidup dan berkembang biak di stratum korneum, serta menyebabkan pruritus hebat akibat reaksi hipersensitivitas terhadap tungau, telur, dan produk metaboliknya.¹,²,³

Gambaran Sarcoptes scabei dari mikroskop elektron (https://dermnetnz.org/)
Gambaran Sarcoptes scabei dari mikroskop elektron (https://dermnetnz.org/)

Epidemiologi

Skabies merupakan penyakit endemik global, dengan prevalensi tinggi, terutama di daerah tropis dan subtropis.¹,⁶

Lebih sering terjadi pada lingkungan dengan kepadatan tinggi, seperti asrama, panti, dan keluarga besar, karena penularan melalui kontak kulit langsung.²,⁴

Insidensi tinggi pada anak-anak dan dewasa muda, terutama pada komunitas tertutup.²,³

Lebih sering ditemukan pada kondisi sosioekonomi rendah dan higiene yang buruk, meskipun dapat terjadi pada semua kelompok.³,⁷

Crusted scabies lebih sering terjadi pada individu dengan imunokompromais, seperti pasien HIV atau penyakit kronik.⁸


Etiologi

Skabies disebabkan oleh infestasi Sarcoptes scabiei var. hominis, yaitu ektoparasit obligat yang hidup pada stratum korneum kulit manusia.¹,³

Penularan terutama melalui kontak kulit langsung yang erat dan berkepanjangan, sedangkan melalui fomites (pakaian, linen) lebih jarang terjadi.²,⁴


Faktor Risiko

Kontak kulit yang erat dan berkepanjangan, terutama pada anggota keluarga atau pasangan, merupakan mekanisme utama penularan tungau.²,⁴

Lingkungan padat, seperti asrama, panti, atau hunian dengan banyak penghuni, meningkatkan frekuensi kontak langsung.¹,³

Higiene yang kurang dapat mempermudah penyebaran infestasi dalam komunitas.³

Status imunokompromais, seperti pada pasien HIV atau penyakit kronik, meningkatkan risiko crusted scabies.⁸

Riwayat kontak dengan penderita skabies meningkatkan risiko infestasi ulang bila tidak ditangani secara simultan.²


Klasifikasi Berdasarkan Manifestasi Klinis:

1. Skabies Klasik

Skabies klasik dengan papul dan burrow (Kang dkk, 2019)
Skabies klasik dengan papul dan burrow (Kang dkk, 2019)

Merupakan bentuk skabies yang paling sering.¹,³

Ditandai oleh pruritus hebat, terutama pada malam hari, akibat reaksi hipersensitivitas terhadap tungau, telur, dan skibala, serta meningkatnya persepsi gatal pada malam hari.¹,²

Efloresensi utama berupa papul eritematosa, vesikel kecil, dan ekskoriasi, dengan burrow (terowongan) sebagai tanda paling khas akibat tungau betina menggali stratum korneum.¹,³

Predileksi terutama pada sela jari, pergelangan tangan, aksila, umbilikus, bokong, dan genital, karena area tersebut memiliki stratum korneum yang tipis dan hangat sehingga memudahkan infestasi.¹,³

Sering terdapat riwayat kontak erat serumah dengan keluhan serupa, yang mendukung penularan melalui kontak kulit langsung.²,⁴

Bila tidak ditangani, garukan berulang dapat menyebabkan ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder.²,³


2. Skabies Nodular

Skabies nodular (Grau-Echevarria dkk, 2023)
Skabies nodular (Grau-Echevarria dkk, 2023)

Merupakan varian skabies akibat reaksi hipersensitivitas persisten.² Jumlah tungau dapat sedikit atau sudah berkurang setelah terapi.

Ditandai dengan nodul eritematosa atau hiperpigmentasi yang sangat gatal, biasanya berukuran kecil hingga sedang.²,³

Predileksi khas pada area dengan kulit tipis dan sensitif, seperti genital (skrotum, penis), aksila, dan lipat paha, karena area ini mudah mengalami reaksi imun yang kuat

Pruritus sering menetap lama, bahkan setelah eradikasi tungau, akibat respons imun yang masih aktif terhadap antigen tungau.²,³

Lesi dapat bertahan selama minggu hingga bulan, sehingga sering disalahartikan sebagai kegagalan terapi, padahal merupakan post-scabietic hypersensitivity.¹,²

Tidak selalu ditemukan burrow aktif, karena lesi lebih didominasi oleh reaksi inflamasi kronik dibanding infestasi aktif.²


3. Skabies Infantil

Skabies infantil dengan papulovesikel eritematus dan skuama pada kulit kepala, wajah, ekstremitas dan genitalia (Chan dkk, 2020)
Skabies infantil dengan papulovesikel eritematus dan skuama pada kulit kepala, wajah, ekstremitas dan genitalia (Chan dkk, 2020)

Merupakan bentuk skabies pada bayi dan anak kecil, dengan manifestasi yang lebih luas dan sering tidak khas dibandingkan pada dewasa.²,³

Ditandai dengan lesi polimorfik berupa papul, vesikel, pustul, hingga bula kecil, akibat respons inflamasi yang lebih kuat pada anak.²

Distribusi khas berbeda dengan dewasa, dan dapat mengenai:

Wajah

Kulit kepala

Telapak tangan dan kaki

Selain area klasik seperti badan dan ekstremitas.²,³

Pruritus tetap ada, tetapi pada bayi dapat tampak sebagai rewel, sulit tidur, atau sering menggaruk

Infeksi sekunder dapat terjadi lebih cepat, karena kulit bayi lebih tipis dan lebih mudah mengalami kerusakan akibat garukan.³

Burrow sering sulit ditemukan, sehingga diagnosis lebih bergantung pada distribusi lesi dan riwayat kontak


4. Crusted Scabies (Norwegian Scabies)

Crusted scabies dengan plak hiperkeratotik yang berisi banyak tungau(Kang dkk, 2019)
Crusted scabies dengan plak hiperkeratotik yang berisi banyak tungau(Kang dkk, 2019)

Merupakan bentuk skabies paling berat, ditandai dengan jumlah tungau yang sangat banyak (hiperinfestasi) akibat gangguan respons imun inang.¹,³,⁸

Lesi berupa plak hiperkeratotik luas dengan krusta tebal dan dapat menyerupai psoriasis atau dermatitis kronik.¹,³

Distribusi luas dan dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk wajah, kulit kepala, telapak tangan, dan kaki.³

Pruritus minimal atau bahkan tidak ada karena respons imun menurun, sehingga berbeda dengan skabies klasik.¹,³

Sangat menular karena jumlah tungau yang banyak, sehingga sering menyebabkan wabah pada lingkungan tertutup (panti, rumah sakit).³,⁸

Sering terjadi pada individu dengan:

Imunokompromais (HIV, keganasan)

Lansia

Gangguan neurologis atau keterbatasan mobilitas.¹,⁸

Memerlukan terapi kombinasi (topikal dan sistemik) serta penanganan yang lebih agresif dibanding skabies biasa.³,⁴


5. Skabies Rekalsitran (Resisten)

Merupakan skabies yang tidak membaik setelah terapi yang adekuat, meskipun sudah diberikan dengan dosis dan cara penggunaan yang benar.³

Penyebab tersering bukan resistensi sejati, melainkan:

Reinfeksi dari kontak yang tidak diobati

Ketidakpatuhan pasien terhadap terapi

Kesalahan penggunaan obat (tidak dioleskan ke seluruh tubuh, durasi kurang).³,⁴

Dapat juga disebabkan oleh:

Diagnosis yang salah (misalnya dermatitis atau prurigo)

Post-scabietic itch, yaitu gatal yang menetap meskipun tungau sudah tereradikasi¹,²

Secara klinis tampak sebagai:

Gatal menetap

Lesi masih ada atau berulang

Burrow aktif tidak selalu ditemukan

Penatalaksanaan memerlukan:

Evaluasi ulang diagnosis

Perbaikan kepatuhan dan teknik terapi

Terapi ulang atau terapi kombinasi (misalnya permetrin + ivermectin)**³,⁴


Patofisiologi

Patofisiologi skabies terjadi saat tungau betina Sarcoptes scabiei menembus stratum korneum dan menggali terowongan (burrow) sebagai tempat hidup dan berkembang biak.¹,³

Di dalam terowongan, tungau betina meletakkan 2 sampai 3 telur per hari. Telur kemudian menetas dalam ±10 hari menjadi larva, berkembang menjadi nimfa, lalu menjadi tungau dewasa.²,³

Sekitar 2 minggu kemudian, tungau dewasa mengalami kopulasi. Setelah itu, tungau betina kembali menggali terowongan untuk melanjutkan siklus, sedangkan tungau jantan akan mati.²

Selama infestasi, tungau menghasilkan antigen, telur, dan produk metabolik (skibala) yang memicu reaksi hipersensitivitas tipe IV, sehingga timbul pruritus sebagai gejala utama.¹,²

Pruritus umumnya muncul 4 sampai 6 minggu setelah infestasi pertama (fase sensitisasi). Pada reinfestasi, gejala dapat muncul lebih cepat, yaitu 1 sampai 2 hari, akibat memori imun.¹,³

Garukan berulang akibat gatal dapat menyebabkan ekskoriasi, kerusakan sawar kulit, serta meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder.²,³

Pada kondisi tertentu seperti crusted scabies, terjadi gangguan respons imun, sehingga tungau berkembang biak secara masif dengan reaksi inflamasi minimal.¹,³,⁸


Anamnesis

Keluhan utama berupa gatal hebat, terutama pada malam hari (pruritus nokturnal) atau saat berkeringat, akibat peningkatan aktivitas tungau dan reaksi hipersensitivitas terhadap antigen tungau.¹,³

Riwayat anggota keluarga atau teman sekamar dengan keluhan serupa, terutama pada lingkungan seperti asrama atau pesantren, akibat penularan melalui kontak kulit langsung.²,⁴

Riwayat tinggal di lingkungan dengan higiene kurang dan kepadatan tinggi, yang meningkatkan risiko transmisi infestasi.³

Dapat ditemukan faktor sosial, seperti status sosioekonomi rendah, yang berkaitan dengan kepadatan hunian dan keterbatasan akses higiene.³,⁶


Pemeriksaan Fisik

Area predileksi Scabies (Saavedra dkk, 2023)
Area predileksi Scabies (Saavedra dkk, 2023)

Predileksi: lesi terutama ditemukan pada area dengan stratum korneum tipis, seperti sela jari, pergelangan tangan bagian volar, siku, aksila, umbilikus, genital (skrotum, penis, labia), dan areola mammae, karena area tersebut memudahkan tungau menembus dan menggali kulit.¹,³.

Efloresensi:

Burrow (terowongan) merupakan lesi khas dan patognomonik, tampak sebagai garis tipis lurus atau berkelok berwarna putih keabu-abuan, akibat aktivitas tungau menggali stratum korneum.¹,³.

Pada ujung burrow sering ditemukan papul atau vesikel, sebagai manifestasi respons inflamasi terhadap tungau.².

Dapat disertai urtika, ekskoriasi, dan krusta, akibat garukan berulang karena pruritus.²,³.

Bila terjadi infeksi sekunder, dapat ditemukan pustul, yang dapat mengaburkan lesi primer.³.

Penjelasan: seluruh temuan merupakan akibat dari aktivitas tungau yang hidup di stratum korneum dan memicu reaksi hipersensitivitas, serta kerusakan kulit akibat garukan kronik.¹,³.


Pemeriksaan Penunjang

Ink burrow test: dilakukan dengan mengoleskan tinta pada kulit untuk menonjolkan burrow, sehingga terowongan tampak lebih jelas sebagai garis berkelok di permukaan kulit.³



Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis Utama
Dermatitis atopikPruritus kronik dengan riwayat atopi, lesi likenifikasi, tidak ditemukan burrow
Dermatitis kontakLesi sesuai area pajanan dengan batas tegas, sering ada riwayat iritan/alergen, tanpa burrow
Dermatitis herpetiformisVesikel berkelompok sangat gatal pada permukaan ekstensor, terkait gluten, tanpa burrow
Pedikulosis (corporis/pubis)Ditemukan nits atau kutu, lokasi spesifik rambut/pakaian, tanpa burrow
PiodermaLesi berupa pustul, krusta, atau ulkus akibat infeksi bakteri primer, tanpa pruritus nokturnal khas
Insect bite dermatitisPapul urtikaria pada area terbuka, onset akut, tidak ada burrow
Dyshidrotic eczema (pompholyx)Vesikel kecil pada telapak tangan/kaki, gatal, tanpa burrow dan tanpa pola penularan

Penatalaksanaan

Prinsip Terapi

Terapi bertujuan eradikasi tungau, telur, dan larva untuk memutus siklus hidup.¹,³

Dilakukan pengobatan semua kontak erat secara simultan untuk mencegah reinfeksi.²,⁴

Pengulangan terapi hari ke-7 wajib, karena telur dapat menetas setelah terapi awal.¹,³,⁴

Disertai edukasi higiene dan dekontaminasi lingkungan.¹,⁵

Nonfarmakologis

Mengobati semua kontak erat secara bersamaan, meskipun tanpa gejala.¹,³

Mencuci pakaian, handuk, dan linen dengan air panas (≥60°C) untuk membunuh tungau dan telur.³,⁵

Barang yang tidak dapat dicuci disimpan ≥3 hari, karena tungau tidak bertahan lama di luar tubuh manusia.¹,⁴

Menghindari kontak erat sementara hingga terapi selesai.²,³

Edukasi bahwa gatal dapat menetap (post-scabietic itch) meskipun tungau sudah tereradikasi.¹,³


Farmakologis

Terapi Utama (First Line)

GolonganObat & SediaanDosis & Cara PakaiFarmakodinamik
Piretroid (DOC)Permetrin 5% (krim)Dioleskan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah (bayi termasuk kepala), didiamkan 8–10 jam lalu dibilas; diulang hari ke-7Mengganggu kanal natrium neuron tungau, menyebabkan depolarisasi berkepanjangan → paralisis dan kematian

Catatan :

Terapi paling efektif (drug of choice).

Aman untuk usia >2 bulan dan ibu hamil (kategori B).


Alternatif

GolonganObat & SediaanDosis & Cara PakaiFarmakodinamik
OrganochlorineLindane 1% (lotion)Dioleskan seperti permetrin, didiamkan 8–12 jam lalu dibilasMengganggu transmisi saraf GABA, menyebabkan eksitasi berlebih → kematian tungau
SulfurSulfur presipitatum 4–10% + asam salisilat 2% (salep)Dioleskan malam hari selama 3 hari berturut, didiamkan ±8 jamBersifat keratolitik dan toksik terhadap tungau
PedikulicidalBenzyl benzoate 10–25% (lotion/emulsi)Dioleskan ±24 jam kemudian dibilasBersifat neurotoksik terhadap tungau

Catatan:

Lindane tidak direkomendasikan untuk anak usia <2 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Memiliki peringatan kotak hitam (FDA) terkait risiko kejang dan neurotoksisitas.


Kasus Berat / Rekalsitran

GolonganObat & SediaanDosisFarmakodinamik
Antiparasit sistemikIvermectin (tablet)200 µg/kgBB dosis tunggal, diulang 1–2 minggu (total 2–3 dosis)Mengaktivasi kanal klorida tergantung glutamat, menyebabkan hiperpolarisasi → paralisis dan kematian tungau

Indikasi: Skabies berat, Imunokompromais, Sulit terapi topikal

Kontraindikasi: Bayi, Ibu hamil atau menyusui


Rekomendasi khusus

KondisiObat & SediaanDosis & Cara PakaiFarmakodinamik
PruritusAntihistamin (CTM, loratadin, cetirizine)CTM: 0,1–0,4 mg/kgBB/hari dibagi 2–3 dosis; loratadin: 5–10 mg/hari; cetirizine: 5–10 mg/hariMenghambat reseptor H1, menurunkan efek histamin sehingga mengurangi gatal
Post-scabietic itchKortikosteroid topikal (hidrokortison, mometason)Dioleskan 1–2×/hari pada lesiMenghambat inflamasi melalui supresi mediator proinflamasi (sitokin, prostaglandin)
Kortikosteroid sistemik (prednison tablet)0,5–1 mg/kgBB/hari (kasus berat, jangka pendek)Menekan respon imun dan inflamasi sistemik, mengurangi pruritus persisten
Infeksi sekunderAntibiotik topikal (mupirosin) / oral (amoksisilin-klavulanat, sefaleksin)Topikal 2–3×/hari; oral sesuai dosis standar (25–50 mg/kgBB/hari)Menghambat sintesis dinding sel bakteri, mengeradikasi infeksi
Nodular scabiesTriamcinolone (injeksi intralesi)Injeksi intralesi dosis kecil sesuai ukuran lesiKortikosteroid kerja panjang yang menekan inflamasi lokal dan reaksi hipersensitivitas kronik

Komplikasi

Penurunan kualitas hidup dan prestasi belajar akibat pruritus hebat terutama pada malam hari yang mengganggu tidur, sehingga menimbulkan kelelahan, gangguan konsentrasi, dan penurunan produktivitas

Infeksi sekunder bakteri (impetigo, folikulitis) dapat terjadi akibat garukan berulang yang merusak sawar kulit, sehingga mempermudah invasi bakteri.¹,³

Post-scabietic dermatitis berupa gatal yang menetap setelah eradikasi tungau, yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas residual terhadap antigen tungau yang telah mati.¹,³


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena skabies merupakan penyakit jinak dan tidak mengancam nyawa, kecuali bila terjadi komplikasi berat, seperti infeksi sekunder yang tidak tertangani.¹,³

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena secara umum tidak menyebabkan gangguan fungsi organ. Namun, skabies dapat menurunkan kualitas hidup akibat pruritus yang mengganggu tidur.²

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam, karena dengan terapi adekuat, pengulangan yang tepat, serta pengobatan semua kontak, infestasi dapat sembuh sempurna, meskipun pruritus dapat menetap sementara (post-scabietic itch).¹,³


Edukasi

Menjelaskan bahwa skabies merupakan penyakit menular melalui kontak kulit langsung. Oleh karena itu, penting untuk mengobati semua kontak erat secara simultan guna mencegah reinfeksi.¹,³

Menjelaskan bahwa gatal dapat menetap hingga 2–4 minggu setelah terapi (post-scabietic itch) akibat reaksi hipersensitivitas terhadap sisa antigen tungau. Kondisi ini tidak selalu berarti terapi gagal.¹,³

Menganjurkan mencuci pakaian, handuk, dan linen dengan air panas (≥60°C), lalu mengeringkannya dengan baik, karena hal ini dapat membunuh tungau dan telur.³,⁵

Menyarankan barang yang tidak dapat dicuci untuk disimpan dalam kantong tertutup selama ≥3 hari, karena tungau tidak dapat bertahan lama di luar tubuh manusia.¹,⁴

Menganjurkan untuk menghindari kontak erat sementara hingga terapi selesai guna memutus rantai penularan.²,³

Menganjurkan untuk tidak menggaruk berlebihan karena dapat menyebabkan infeksi sekunder dan memperparah lesi.²


Kriteria Rujukan

Skabies berat (crusted scabies), karena membutuhkan terapi kombinasi intensif (topikal dan sistemik) serta pemantauan ketat.¹,³

Tidak merespons terapi standar, untuk evaluasi kemungkinan resistensi, reinfeksi, atau kesalahan diagnosis.²,³

Infeksi sekunder berat, seperti impetigo luas, selulitis, atau tanda sistemik, yang memerlukan terapi lanjutan.¹,³

Pasien imunokompromais, karena berisiko mengalami hiperinfestasi dan komplikasi berat.³,⁸

Diagnosis meragukan, terutama bila sulit dibedakan dengan dermatosis lain


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2023.

2.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2019.

3.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, et al. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2019.

4.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi di Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

5.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. New York: Springer; 2020.

6.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. Edisi ke-5. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2021.

7.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

8.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2021.

9.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. London: Springer; 2020.

10.

StatPearls Publishing. Scabies. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022.