Selulitis [3A].

Selulitis [3A].


Nama Lain : Selulitis, cellulitis, acute bacterial skin infection, diffuse soft tissue infection, bacterial dermal–subcutaneous infection


Definisi

Selulitis adalah infeksi bakteri akut pada dermis dan jaringan subkutan yang ditandai dengan eritem difus, edema, nyeri, serta batas lesi tidak tegas, dan umumnya disebabkan oleh Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus aureus.¹,²

Selulitis pada lengan dengan edema dan eritema yang batasnya tidak tegas (Kang dkk, 2019)
Selulitis pada lengan dengan edema dan eritema yang batasnya tidak tegas (Kang dkk, 2019)

Epidemiologi

Lebih sering terjadi pada dewasa, terutama pada individu dengan komorbid seperti DM, obesitas, dan edema kronis.²,⁵,¹³

Predileksi utama pada ekstremitas bawah, karena area ini sering mengalami trauma dan gangguan sirkulasi.³,⁵

Berkaitan erat dengan kerusakan barier kulit seperti luka, ulkus, atau infeksi kulit lain.⁴,¹²

Insidensi meningkat pada kondisi imunosupresi dan gangguan vaskular perifer.⁵,⁷,¹³

Di Indonesia, selulitis termasuk infeksi kulit bakteri yang sering ditemukan di layanan primer, terutama pada pasien dengan higiene kurang dan penyakit kronis.¹²,¹³


Etiologi

Streptococcus pyogenes (paling sering) dan Staphylococcus aureus, dengan kemampuan invasi dan produksi toksin yang menyebabkan inflamasi difus.¹,²,³

Dapat juga disebabkan oleh Streptococcus grup B, C, dan G, atau bakteri Gram negatif pada kondisi tertentu (komorbid atau imunokompromais).³,⁵,¹⁴

Masuk melalui portal masuk seperti luka, fisura, ulkus, atau tinea pedis, yang menyebabkan gangguan barier kulit.²,⁴,¹²


Faktor Risiko

Kerusakan kulit (luka, fisura, ulkus) yang menyebabkan gangguan barier kulit sebagai pintu masuk bakteri.²,⁴,¹²

Diabetes melitus, obesitas, dan edema kronis yang menurunkan imunitas dan perfusi jaringan.³,⁵,¹³

Imunosupresi yang menyebabkan respons tubuh terhadap infeksi menurun.⁵,⁷

Tinea pedis atau infeksi kulit lain sebagai sumber autoinokulasi.²,⁴,¹²

Gangguan vaskular perifer atau limfedema yang menyebabkan stasis cairan dan mempermudah penyebaran infeksi.⁵,¹³


Patofisiologi

Bakteri masuk melalui kerusakan barier kulit (luka, fisura, ulkus), lalu menginvasi dermis dan jaringan subkutan.²,⁴,¹²

Bakteri berkembang dan menyebar secara difus di jaringan dengan bantuan enzim virulensi dan toksin, sehingga tidak terbatas pada satu area.¹,²,³

Aktivasi respons imun memicu pelepasan sitokin proinflamasi (IL-1, TNF-α) yang menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler.³,⁶

Proses tersebut menimbulkan eritem difus dengan batas tidak tegas, edema, dan nyeri yang khas pada selulitis.¹,²

Pada kasus berat, inflamasi dapat menyebar secara sistemik sehingga muncul demam, leukositosis, hingga sepsis.²,⁷,¹⁴


Anamnesis

Kemerahan, nyeri, dan bengkak pada kulit yang berkembang cepat akibat inflamasi difus pada dermis dan jaringan subkutan.¹,²

Gejala prodromal berupa demam, malaise, sakit kepala, dan menggigil akibat respons inflamasi sistemik terhadap infeksi bakteri.²,⁷,¹⁴

Lesi terasa hangat dan sangat nyeri, mencerminkan vasodilatasi dan peningkatan aliran darah lokal akibat inflamasi.¹,²

Keluhan lokal pada lesi berupa nyeri dan bengkak akibat edema jaringan dan proses inflamasi akut.¹,³

Riwayat trauma atau luka sebagai pintu masuk bakteri.²,⁴,¹²

Riwayat infeksi kulit lain (misalnya tinea pedis) serta penyakit penyerta (DM, edema kronis, imunosupresi) yang meningkatkan risiko infeksi.³,⁵,¹³


Pemeriksaan Fisik

Predileksi: terutama pada dewasa di tungkai bawah, serta dapat mengenai lengan dan badan, karena area ini rentan terhadap trauma dan gangguan sirkulasi.³,⁵

Efloresensi primer: makula atau plak eritematosa dengan batas tidak jelas (difus), akibat penyebaran infeksi pada dermis dan subkutan.¹,²

Lesi tampak hangat, sangat nyeri, dan edematosa, akibat vasodilatasi serta peningkatan permeabilitas kapiler karena inflamasi.²,⁴

Dapat disertai vesikel atau bula, akibat inflamasi berat dan kerusakan jaringan lokal.³,⁶

Pada kasus dengan komplikasi, dapat ditemukan abses (fluktuasi), tanda sepsis sistemik, atau manifestasi berat lainnya, akibat progresi infeksi lebih dalam atau sistemik.²,⁷,¹⁴

Dapat ditemukan pembesaran kelenjar getah bening regional, akibat penyebaran infeksi melalui sistem limfatik.²,³


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah rutin. Bertujuan menilai derajat infeksi melalui evaluasi respons inflamasi. Hasil dapat berupa leukositosis dan peningkatan CRP/LED.²,⁷,¹⁴

Kultur darah. Bertujuan mengidentifikasi bakteri penyebab pada kasus sedang–berat melalui isolasi mikroorganisme dari darah. Hasil dapat menunjukkan Streptococcus atau Staphylococcus, meskipun sensitivitasnya tidak tinggi.²,⁵,¹⁴

Kultur lesi (aspirasi/abses). Bertujuan menentukan etiologi bakteri secara langsung melalui pertumbuhan mikroorganisme pada media kultur. Hasil dapat menunjukkan Staphylococcus aureus atau Streptococcus, terutama pada kasus dengan pus.³,⁵

USG jaringan lunak. Bertujuan membedakan selulitis dengan abses atau DVT melalui visualisasi jaringan. Hasil menunjukkan tidak adanya koleksi pus pada selulitis murni.³,⁷

Pemeriksaan tambahan (bila indikasi). Misalnya fungsi ginjal atau elektrolit untuk menilai kondisi umum pada kasus berat atau sepsis.²,¹⁴


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis Utama
ErisipelasEritema dengan batas tegas dan tepi meninggi, berbeda dengan selulitis yang difus dan tidak tegas.¹,²
AbsesLesi terlokalisasi dengan fluktuasi dan pus, tidak menyebar difus.³,⁵
Dermatitis kontakEritema dengan riwayat paparan iritan/alergen, sering disertai vesikel, tanpa infeksi sistemik.³,⁹
UrtikariaLesi berupa wheal (plak edematosa) yang hilang timbul <24 jam, tidak nyeri dan tidak progresif.³,⁹
Dermatitis insect biteLesi lokal dengan riwayat gigitan serangga, sering disertai pruritus dominan.³,⁹
Fixed drug eruptionLesi eritem berbatas tegas yang muncul berulang di lokasi sama setelah konsumsi obat tertentu.³,⁹
Deep vein thrombosis (DVT)Edema dan nyeri tungkai tanpa eritem difus khas, disertai tanda vaskular.³,⁷
Gout Nyeri pada sendi dengan inflamasi artikular, bukan infeksi jaringan lunak difus.⁵,⁷
Nekrotizing fasciitisNyeri sangat hebat, progres cepat dengan nekrosis dan tanda sistemik berat.²,¹⁴

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Istirahat dan elevasi ekstremitas untuk mengurangi edema serta meningkatkan aliran limfatik dan vena.²,⁵.

Kompres hangat untuk membantu vasodilatasi serta mengurangi nyeri lokal.³.

Perawatan luka dan menjaga kebersihan kulit untuk menghilangkan pintu masuk bakteri.²,⁴,¹².

Mengatasi faktor predisposisi seperti tinea pedis, edema, atau DM untuk mencegah kekambuhan.²,⁵,¹³.


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Antibiotik ditujukan untuk Streptococcus dan Staphylococcus.¹,²

Pemilihan terapi berdasarkan derajat keparahan (ringan–berat).²,¹¹

Evaluasi respons terapi dalam 48–72 jam


Topikal

Lesi basah

Kompres NaCl 0,9% untuk mengurangi eksudasi dan inflamasi lokal

Lesi kering

Asam fusidat salep 2% 2–3×/hari, yang bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri.⁸

Mupirocin salep 2% 2–3×/hari, yang bekerja dengan menghambat enzim isoleucyl-tRNA synthetase.⁸


Sistemik

Derajat Ringan–Sedang, diberikan secara rawat jalan

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Aminopenisilin (lini utama)Amoksisilin tablet 500 mg3×500 mg/hari selama 7–10 hariMenghambat sintesis dinding sel bakteri (peptidoglikan) sehingga bersifat bakterisidal terhadap Streptococcus.²,⁷
Aminopenisilin + inhibitor β-laktamaseAmoksisilin–klavulanat2–3×/hari (25–45 mg/kgBB/hari)Menghambat dinding sel + melindungi dari β-laktamase bakteri.²,⁷
Sefalosporin generasi ISefaleksin kapsul 500 mg3–4×500 mg/hari selama 7–10 hariMenghambat sintesis dinding sel bakteri, efektif untuk Streptococcus dan MSSA.²,⁷
Makrolida (alternatif alergi penisilin)Eritromisin tablet 250–500 mg4×250–500 mg/hari (20–50 mg/kgBB/hari)Menghambat sintesis protein bakteri (subunit 50S ribosom).²,⁷
LincosamideKlindamisin kapsul 150–300 mg4×150–300 mg/hari (anak: 15 mg/kgBB/hari) selama ±10 hariMenghambat sintesis protein dan produksi toksin bakteri.²,⁷

Derajat berat, diberikan dengan rawat inap

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Sefalosporin generasi ICefazolin injeksi25–50 mg/kgBB/hari IV dibagi 3 dosisMenghambat sintesis dinding sel bakteri.²,⁷
Penisilin kombinasiAmpisilin-sulbaktam100–200 mg/kgBB/hari IVMenghambat dinding sel + β-laktamase inhibitor.²,⁷

Kecurigaan MRSA

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
GlikopeptidaVancomisin injeksi15–20 mg/kgBB/dosis tiap 8–12 jamMenghambat sintesis dinding sel bakteri Gram positif resisten.²,⁷

Terapi Simtomatik

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Analgetik–antipiretikParasetamol tablet 500 mg3–4×500 mg/hari (anak: 10–15 mg/kgBB/dosis)Menghambat sintesis prostaglandin di sistem saraf pusat sehingga menurunkan nyeri dan demam.⁷
NSAIDIbuprofen tablet 200–400 mg3×200–400 mg/hari (anak: 5–10 mg/kgBB/dosis)Menghambat enzim COX sehingga menurunkan prostaglandin dan inflamasi.⁷
Antihistamin (bila pruritus)CTM / loratadinCTM 2–3×4 mg; loratadin 1×10 mgMenghambat reseptor H1 histamin sehingga mengurangi rasa gatal.⁷

Terapi Berdasarkan Derajat

Ringan: antibiotik oral, rawat jalan.

Sedang: antibiotik oral dengan observasi ketat.

Berat: rawat inap dengan antibiotik IV.

Operatif

Operasi bukan terapi utama pada selulitis karena sebagian besar kasus dapat membaik dengan antibiotik yang adekuat.¹,²

Indikasi tindakan pembedahan:

Abses: dilakukan insisi dan drainase untuk mengeluarkan pus dan menurunkan beban bakteri.³,⁵

Nekrosis jaringan: dilakukan debridement untuk mengangkat jaringan nekrotik dan mencegah penyebaran infeksi.³,⁵

Tindakan bertujuan mengendalikan sumber infeksi, mempercepat penyembuhan, serta mencegah komplikasi lebih lanjut.³,⁵


Komplikasi

Abses terjadi akibat akumulasi pus dari respons inflamasi supuratif, terutama bila infeksi tidak terkontrol.³,⁵

Sepsis terjadi bila bakteri masuk ke sirkulasi sistemik sehingga memicu respons inflamasi sistemik dan disfungsi organ.²,¹⁴

Nekrosis jaringan terjadi akibat inflamasi berat dan gangguan perfusi, dan dapat berkembang menjadi infeksi jaringan dalam.³,⁵

Nekrotizing fasciitis merupakan komplikasi berat akibat penyebaran cepat infeksi ke fasia, ditandai nyeri hebat dan progres cepat.²,¹⁴

Limfedema kronik terjadi akibat kerusakan pembuluh limfatik berulang, sehingga meningkatkan risiko kekambuhan.²,⁵,¹³


Prognosis

Ad vitam (kehidupan): bonam, karena selulitis umumnya tidak mengancam jiwa jika ditangani dengan antibiotik yang adekuat.¹,²

Ad functionam (fungsi): bonam, karena fungsi jaringan biasanya kembali normal tanpa defisit permanen, kecuali pada kasus dengan komplikasi berat.²,⁵

Ad sanationam (kesembuhan): bonam, karena sebagian besar kasus sembuh dengan terapi antibiotik yang tepat. Namun, prognosis dapat menjadi dubia ad bonam bila terdapat komorbid atau keterlambatan terapi.²,⁵,¹³


Edukasi

Menjaga kebersihan kulit dan merawat luka untuk mencegah masuknya bakteri melalui kerusakan barier kulit.²,¹²

Menghindari trauma kulit serta segera menangani kondisi seperti tinea pedis atau luka kecil yang dapat menjadi sumber infeksi.²,⁴

Mengontrol komorbid seperti diabetes melitus, obesitas, edema, atau gangguan vaskular untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah kekambuhan.³,⁵,¹³

Istirahat dan elevasi ekstremitas selama fase akut untuk mengurangi edema dan mempercepat perbaikan jaringan.²,⁵

Minum antibiotik sesuai anjuran dan durasi terapi, meskipun gejala membaik, untuk mencegah kekambuhan dan resistensi bakteri.²,⁷

Edukasi mengenai tanda bahaya seperti demam tinggi, nyeri hebat, lesi memburuk, atau muncul abses yang memerlukan evaluasi ulang segera.²,¹¹


Kriteria Rujukan

Kasus berat dengan tanda sistemik seperti demam tinggi, takikardia, hipotensi, atau kecurigaan sepsis.²,¹¹

Tidak respons terhadap terapi antibiotik dalam 48–72 jam atau terjadi perburukan klinis.²,¹¹

Progres cepat atau lesi luas, terutama dengan nyeri berat atau kecurigaan nekrotizing fasciitis.²,¹⁴

Adanya komplikasi seperti abses besar, nekrosis jaringan, atau limfedema berat.³,⁵

Pasien dengan komorbid berat seperti diabetes tidak terkontrol, imunokompromais, atau gangguan vaskular perifer.³,⁵,¹³

Diagnosis tidak pasti atau terdapat kemungkinan diagnosis banding serius, sehingga memerlukan evaluasi lanjutan.²,¹¹


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, dkk. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill Education; 2019.

3.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. Edisi ke-5. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2016.

4.

Shimizu H. Shimizu's Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.

5.

Motta A, González LF, García G, Guzmán J, Prada L, Herrera H, dkk. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

6.

Zappi E, Zappi EA. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2017.

7.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J, Luxenberg E, Boull C. Pocket Dermatology. Cham: Springer; 2021.

8.

Mikailov A, Saavedra AP. Dermatology Prescriptions. New York: McGraw Hill; 2020.

9.

Oakley A. Dermatology Made Easy. Edisi ke-2. London: Scion Publishing; 2017.

10.

Masterpol KS, Primiani A, Duncan LM. Atlas of Essential Dermatopathology. London: Springer; 2013.

11.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Panduan Praktik Klinis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

12.

Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, dkk, editor. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.

13.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, Brahmanti H, Yuniaswan AP, Ekasari DP, dkk, editor. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.

14.

NCBI Bookshelf. Cellulitis. Bethesda: National Institutes of Health; 2022.