Psoriasis Vulgaris [3A].

Psoriasis Vulgaris [3A].


Nama Lain : Psoriasis vulgaris, plaque psoriasis, psoriasis plak, chronic plaque psoriasis


Definisi

Psoriasis vulgaris adalah penyakit inflamasi kronik pada kulit yang dimediasi sistem imun dan ditandai oleh hiperproliferasi keratinosit, sehingga terbentuk plak eritematosa berbatas tegas dengan skuama putih keperakan. Perjalanan penyakitnya bersifat kronik dan rekuren.¹,²


Epidemiologi

Psoriasis vulgaris dapat terjadi pada semua usia. Puncak onset terjadi pada dewasa muda dan relatif jarang pada anak usia kecil.²,³

Tidak terdapat perbedaan bermakna antara laki-laki dan perempuan dalam kejadian penyakit.²,³

Psoriasis vulgaris merupakan salah satu penyakit kulit kronik yang cukup sering dijumpai secara global, dengan variasi prevalensi antarpopulasi.¹,³

Psoriasis vulgaris memiliki komponen herediter yang kuat, dengan risiko lebih tinggi pada individu dengan riwayat keluarga psoriasis.²,³

Penyakit ini bersifat kronik dan residif, dengan perjalanan jangka panjang yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.²


Etiologi

Penyebab pasti belum diketahui, tetapi diduga bersifat multifaktorial, dengan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.¹,²

Faktor genetik berperan kuat, terutama yang terkait dengan HLA-Cw6, yang meningkatkan kerentanan terhadap psoriasis.²,³

Faktor lingkungan berperan sebagai pencetus penyakit pada individu yang rentan.²,³


Faktor Risiko

Predisposisi genetik, terutama yang berkaitan dengan HLA-Cw6 dan diturunkan secara autosomal dominan, dapat meningkatkan kerentanan terhadap psoriasis.²,³

Trauma kulit (fenomena Koebner) dapat memicu munculnya lesi pada area yang mengalami cedera.¹,³

Infeksi, terutama infeksi Streptococcus β-hemolitikus, dapat memicu onset atau eksaserbasi penyakit.²,³

Stres emosional dapat memicu atau memperberat kekambuhan melalui aktivasi respons imun.²

Perubahan iklim dapat membuat penyakit menjadi lebih aktif pada kondisi tertentu.²

Obat-obatan, seperti kortikosteroid sistemik, lithium, antimalaria, interferon, beta-blocker, NSAID, ACE inhibitor, gemfibrozil, dan imiquimod, dapat memicu atau memperburuk psoriasis.²,⁴

Konsumsi alkohol berhubungan dengan peningkatan keparahan dan kekambuhan penyakit.³


Klasifikasi

Klasifikasi Berdasarkan Morfologi Klinis

1. Psoriasis Vulgaris (Plaque Psoriasis)

Psoriasis vulgaris (Kang dkk, 2019)
Psoriasis vulgaris (Kang dkk, 2019)

Merupakan bentuk psoriasis yang paling sering.¹,³

Ditandai oleh plak eritematosa berbatas tegas dengan skuama putih keperakan akibat hiperproliferasi keratinosit dan akumulasi sel epidermis imatur.¹,²

Predileksi: area ekstensor seperti siku dan lutut, skalp, serta lumbosakral, karena area tersebut sering mengalami tekanan dan mikrotrauma akibat fenomena Koebner.¹,³

Efloresensi:

Plak eritematosa berbatas tegas

Skuama tebal berlapis

Bila dikerok, muncul Auspitz sign (perdarahan titik) akibat dilatasi kapiler dermis papilar.¹,²

Lesi bersifat kronik, residif, dan dapat meluas atau menetap, tergantung faktor pencetus.²,³


2. Psoriasis Guttata

Psoriasis guttata (Kang dkk, 2019)
Psoriasis guttata (Kang dkk, 2019)

Ditandai oleh lesi kecil berbentuk tetesan air (guttate) berupa papul eritematosa dengan skuama halus yang muncul akut dan menyebar.²,³

Sering terjadi pada anak dan dewasa muda, terutama setelah infeksi Streptococcus β-hemolitikus (misalnya faringitis).²,³

Predileksi: terutama pada trunk dan ekstremitas proksimal, dengan distribusi multipel dan menyebar luas

Lesi umumnya lebih kecil, lebih banyak, dan lebih tipis dibandingkan psoriasis vulgaris.³

Dapat mengalami remisi spontan, tetapi pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi psoriasis vulgaris kronik.²,³

3. Psoriasis Pustulosa

Psoriasis pustulosa (Kang dkk, 2019)
Psoriasis pustulosa (Kang dkk, 2019)

Ditandai oleh pustul steril di atas dasar eritema akibat inflamasi berat tanpa infeksi bakteri.¹,⁴

Pustul dapat bersifat lokal (misalnya pada telapak tangan dan telapak kaki) atau generalisata, dengan perjalanan yang lebih berat.¹,³

Psoriasis pustulosa tipe von Zumbusch merupakan psoriasis pustulosa generalisata akut yang ditandai oleh pustul steril menyebar luas disertai gejala sistemik, seperti demam, sehingga termasuk kondisi gawat dermatologis.¹,³

Predileksi: dapat mengenai palma, plantar, atau menyebar luas ke seluruh tubuh, tergantung tipenya.²

Lesi sering disertai gejala sistemik seperti demam, malaise, dan leukositosis, terutama pada bentuk generalisata.³

Merupakan bentuk psoriasis yang lebih serius dan dapat berkembang cepat, sehingga memerlukan penanganan segera.³,⁴

4. Psoriasis Eritrodermik

Psoriasis eritrodermik (Kang dkk, 2019)
Psoriasis eritrodermik (Kang dkk, 2019)

Ditandai oleh eritema dan deskuamasi luas yang melibatkan hampir seluruh permukaan tubuh akibat inflamasi sistemik berat.¹,³

Biasanya merupakan komplikasi psoriasis yang tidak terkontrol atau akibat penghentian terapi secara mendadak.³,⁴

Predileksi: mengenai lebih dari 90% permukaan tubuh, sehingga tampak kulit merah difus dengan skuama luas.¹,³

Sering disertai gejala sistemik, seperti demam, malaise, dehidrasi, dan gangguan elektrolit, akibat hilangnya fungsi barier kulit.³

Merupakan kondisi gawat dermatologis karena dapat menyebabkan gangguan termoregulasi dan komplikasi sistemik serius.³,⁴

5. Psoriasis Inversa (Fleksural)

Psoriasis inversa (Kang dkk, 2019)
Psoriasis inversa (Kang dkk, 2019)

Ditandai oleh lesi eritematosa licin berbatas tegas tanpa skuama tebal karena lingkungan lembap pada lipatan menghambat pembentukan skuama.²,⁴

Predileksi: terutama pada area lipatan, seperti aksila, inguinal, inframammae, dan intergluteal.²,³

Lesi tampak merah mengilap tanpa skuama khas sehingga sering disalahartikan sebagai infeksi jamur atau dermatitis intertriginosa.²,⁴

Dapat disertai maserasi atau iritasi akibat gesekan dan kelembapan pada area lipatan.²

Bersifat kronik dan residif dengan eksaserbasi pada kondisi lembap dan gesekan berulang.²,³


Psoriasis juga dapat disertai keterlibatan kuku dan sendi (psoriatic arthritis) sebagai manifestasi tambahan.

Psoriasis Kuku (Nail Psoriasis)

Keterlibatan kuku pada psoriasis. A. Onikolisis distal B. Nail pitting C. Subungual hiperkeratosis D. Onikodistrofi (Kang dkk, 2019)
Keterlibatan kuku pada psoriasis. A. Onikolisis distal B. Nail pitting C. Subungual hiperkeratosis D. Onikodistrofi (Kang dkk, 2019)

Definisi: manifestasi psoriasis pada unit kuku (matriks dan atau nail bed) akibat inflamasi kronik yang menyebabkan perubahan morfologi kuku.²,³

Patogenesis singkat:

Keterlibatan matriks kuku menyebabkan gangguan pembentukan lempeng kuku.²,³

Keterlibatan nail bed menyebabkan perubahan pada jaringan di bawah kuku.²

Jenis lesi bergantung pada lokasi inflamasi.²,³

Gambaran klinis:

Nail pitting: cekungan kecil multipel akibat gangguan matriks.²,³

Onikolisis: lepasnya lempeng kuku dari nail bed.²

Subungual hiperkeratosis: penumpukan keratin di bawah kuku.³

Oil drop sign: diskolorasi kuning kecoklatan khas pada psoriasis.³

Onikodistrofi: deformitas kuku akibat kerusakan kronik.²

Makna klinis:

Berhubungan dengan derajat penyakit yang lebih berat.²,³

Sering berkaitan dengan psoriatic arthritis.²,³

Dapat menjadi petunjuk diagnosis pada kasus atipikal


Psoriatic arthritis (keterlibatan sendi pada psoriasis)

Definisi: manifestasi sistemik psoriasis berupa inflamasi sendi kronik yang dapat mengenai sendi perifer maupun aksial, serta berkaitan dengan proses autoimun.²,³

Patogenesis singkat:

Aktivasi sistem imun (Th1/Th17) memicu inflamasi pada sinovium dan entesis (tempat perlekatan tendon).²,³

Inflamasi kronik dapat menyebabkan kerusakan jaringan sendi dan tulang

Gambaran klinis:

Nyeri dan pembengkakan sendi.²,³

Kekakuan sendi, terutama pada pagi hari.²

Dactylitis (jari seperti sosis) akibat inflamasi difus.³

Enthesitis (nyeri pada perlekatan tendon, misalnya tendon Achilles).³

Dapat mengenai sendi kecil (tangan) maupun sendi besar.²,³

Makna klinis:

Dapat menyebabkan kerusakan sendi permanen bila tidak ditangani.²,³

Sering berhubungan dengan keterlibatan kuku (nail psoriasis).²,³

Menentukan derajat keparahan penyakit serta indikasi terapi sistemik dan rujukan

TipeLesi KhasPredileksiPencetus KhasCiri Pembeda Utama
Psoriasis vulgarisPlak eritem + skuama tebalEkstensor (siku, lutut), skalpTrauma, stresSkuama putih tebal + Auspitz sign
Psoriasis guttataPapul kecil seperti tetesanTrunk, ekstremitas proksimalInfeksi streptokokusLesi kecil, banyak, onset akut
Psoriasis pustulosaPustul steril di atas eritemPalma, plantar / generalisataObat, flare beratPustul tanpa infeksi
Psoriasis eritrodermikEritema + deskuamasi luasSeluruh tubuh (>90%)Withdrawal steroid, flareKondisi berat + gejala sistemik
Psoriasis inversaEritem licin tanpa skuamaLipatan (aksila, inguinal)Kelembapan, gesekanTanpa skuama tebal (karena lembap)

Patofisiologi

Semua tipe psoriasis memiliki dasar patofisiologi yang sama, tetapi variasi manifestasi klinis dipengaruhi oleh faktor pencetus, lokasi lesi, dan derajat inflamasi.

Psoriasis vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronik yang dimediasi sistem imun. Proses ini diawali oleh aktivasi sel dendritik di kulit yang mempresentasikan antigen kepada limfosit T, terutama Th1 dan Th17.¹,²

Aktivasi sel T memicu pelepasan sitokin proinflamasi, seperti TNF-α, IL-17, dan IL-23, yang mempertahankan inflamasi kronik pada kulit.²,³

Sitokin tersebut menstimulasi hiperproliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, sehingga waktu turnover epidermis memendek dari sekitar 28 hari menjadi 3–5 hari.¹,²

Akibatnya, terjadi akumulasi sel epidermis imatur di permukaan kulit yang membentuk skuama tebal putih keperakan.¹,²

Selain itu, terjadi angiogenesis dan dilatasi kapiler pada dermis papilar yang menyebabkan eritema serta munculnya Auspitz sign (perdarahan titik saat skuama diangkat).²,³

Proses inflamasi juga menyebabkan infiltrasi sel imun ke dermis dan epidermis, sehingga terbentuk plak psoriasis yang kronik dan residif.¹,²,³


Anamnesis

Keluhan utama umumnya berupa lesi kulit kronik yang kambuhan dengan pola membaik dan memburuk, biasanya berupa plak kemerahan bersisik putih akibat hiperproliferasi keratinosit.¹,²

Pasien dapat mengeluhkan sensasi panas (burning sensation) dengan atau tanpa gatal, serta sering disertai keluhan kosmetik karena tampilan lesi yang mencolok.²

Lesi umumnya muncul pada area ekstensor (siku, lutut), kulit kepala, dan punggung bawah, sesuai predileksi psoriasis.¹,³

Riwayat kekambuhan berulang dengan periode membaik dan memburuk perlu digali, terutama bila dipengaruhi oleh faktor pencetus.²

Faktor yang sering memperberat adalah stres emosional, yang dapat memicu eksaserbasi melalui aktivasi respons imun.²

Riwayat pencetus lain, seperti trauma kulit, infeksi, atau obat-obatan, juga perlu ditanyakan.²,³

Riwayat keluarga dengan psoriasis mendukung adanya predisposisi genetik.²,³

Keluhan nyeri atau kaku sendi dapat mengarah pada psoriatic arthritis, sedangkan keluhan pada kuku dapat berupa perubahan bentuk atau warna kuku.²,³


Pemeriksaan fisik khas

Candle grease sign (Karsvlek phenomenon): bila skuama psoriasis dikerok, akan tampak permukaan putih keruh seperti kerokan lilin akibat akumulasi sel keratinosit imatur yang menumpuk di stratum korneum. ¹,²

Auspitz sign: bila kerokan dilanjutkan, akan muncul bintik-bintik perdarahan akibat terbukanya kapiler pada papila dermis yang memanjang (papilomatosis dan dilatasi kapiler). ²,³

Auspitz sign: perdarahan saat skuama diangkat (Kang dkk, 2019)
Auspitz sign: perdarahan saat skuama diangkat (Kang dkk, 2019)

Koebner phenomenon: munculnya lesi baru pada kulit normal setelah trauma atau garukan akibat aktivasi inflamasi lokal pada individu dengan psoriasis. Fenomena ini juga dapat ditemukan pada lichen planus, verruca vulgaris, dan dermatitis ekzematosa.¹,³

Koebner phenomena: muncul lesi pada area kulit sehat setelah terjadi trauma (Kang dkk, 2019)
Koebner phenomena: muncul lesi pada area kulit sehat setelah terjadi trauma (Kang dkk, 2019)

Pada beberapa kasus dapat ditemukan geographic tongue, yaitu plak eritematosa pada lidah dengan batas putih yang berpindah-pindah, meskipun temuan ini bukan khas psoriasis.²,³


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan secara rutin dan hanya diperlukan bila terdapat keraguan terhadap diagnosis klinis

Pemeriksaan laboratorium: tidak spesifik, tetapi berguna untuk menilai komorbid dan memantau terapi, misalnya sebelum pemberian obat sistemik.²

Pemeriksaan radiologi (bila dicurigai psoriatic arthritis): digunakan untuk menilai keterlibatan sendi, dengan temuan berupa perubahan inflamasi atau kerusakan sendi.²,³



Dasar Diagnosis

Diagnosis psoriasis vulgaris ditegakkan berdasarkan gambaran klinis khas berupa plak eritematosa berbatas tegas dengan skuama putih keperakan pada area predileksi, serta disertai tanda khas seperti Auspitz sign dan Koebner phenomenon. Pemeriksaan histopatologi dilakukan apabila diagnosis masih meragukan.¹,²


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan Psoriasis Vulgaris
Pitiriasis roseaLesi eritem akut di badan dengan herald patch sebagai lesi awal.²,³
Dermatitis seboroikMengenai daerah seboroik (skalp, wajah) dengan skuama kuning berminyak dan tipis
Morbus Hansen tipe tuberkuloid (MH tipe T)Lesi makular dengan anestesi (+) akibat kerusakan saraf perifer.²,³
Sifilis sekunderLesi kulit generalisata dengan riwayat multipartner seksual dan ulkus genital sebelumnya.²,³
Dermatomikosis superfisialis (tinea corporis)Lesi gatal, melebar sentrifugal, dengan pemeriksaan KOH (+).²,³
Liken simpleks kronikusPlak akibat garukan kronik dengan likenifikasi dominan, tanpa skuama khas psoriasis.²

PASI (Psoriasis Area and Severity Index)

Skor PASI adalah skor klinis untuk menilai derajat keparahan psoriasis dengan menggabungkan luas area tubuh yang terdampak dan tingkat keparahan lesi kulit.²,³


(https://www.nature.com/)
(https://www.nature.com/)

Komponen Penilaian

Dinilai pada 4 regio tubuh:

Kepala dan leher

Ekstremitas atas

Trunk

Ekstremitas bawah

Pada tiap regio, dinilai 3 parameter intensitas:

Eritema (kemerahan)

Ketebalan plak

Deskuamasi (skuama)

Setiap parameter diberi skor 0 sampai 4 sesuai tingkat keparahan.


Penilaian Luas Area

Luas lesi pada tiap regio dinilai sebagai berikut:

0 = tidak ada

1 = <10%

2 = 10–29%

3 = 30–49%

4 = 50–69%

5 = 70–89%

6 = 90–100%


Perhitungan Singkat

Skor intensitas tiap regio dijumlahkan.

Hasilnya dikalikan dengan bobot area tubuh:

Kepala = 0,1

Ekstremitas atas = 0,2

Trunk = 0,3

Ekstremitas bawah = 0,4

Hasilnya kemudian dikalikan dengan skor luas area.

Total PASI merupakan penjumlahan seluruh regio.

Inti Super Singkat (Hafalan)

PASI = (kemerahan + ketebalan plak + skuama) × luas area × bobot tubuh

Ada 4 regio tubuh yang dinilai

Skor total: 0–72

Interpretasi Klinis Lebih Detail

PASI < 5 dikategorikan sebagai ringan, dengan keterlibatan terbatas dan dampak minimal terhadap kualitas hidup.¹

PASI 5–10 termasuk ringan–sedang, sehingga memerlukan evaluasi terapi yang lebih optimal.¹,²

PASI > 10 termasuk sedang–berat, biasanya memerlukan terapi sistemik.¹,³

PASI > 20 termasuk berat, dengan penyakit luas dan aktif, sering memerlukan terapi agresif seperti biologik.³

kriteria kesembuhan

Kategori ResponsKriteria PASIMakna Klinis
Tidak responPenurunan PASI < 50% (PASI 50 tidak tercapai)Terapi tidak efektif, perlu evaluasi ulang
Respon parsialPenurunan PASI ≥ 50% (PASI 50)Ada perbaikan, namun belum optimal
Respon baikPenurunan PASI ≥ 75% (PASI 75)Target terapi klasik, perbaikan bermakna
Respon sangat baikPenurunan PASI ≥ 90% (PASI 90)Hampir bersih, target modern terapi
Remisi / hampir sembuhPenurunan PASI 100 (PASI 100)Lesi hilang seluruhnya (clear skin)

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Edukasi bahwa psoriasis merupakan penyakit kulit kronik dan residiv, sehingga memerlukan terapi jangka panjang.¹,²

Menghindari faktor pencetus seperti stres, trauma kulit, infeksi, dan obat-obatan tertentu.²,³

Perawatan kulit dengan penggunaan emolien secara rutin untuk menjaga barier kulit dan mengurangi skuama.²

Modifikasi gaya hidup dengan mengurangi alkohol dan merokok, serta menjaga berat badan.³


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Terapi bertujuan untuk menekan inflamasi dan hiperproliferasi keratinosit serta memperbaiki gejala klinis.¹,²

Pemilihan terapi didasarkan pada derajat keparahan (PASI/BSA), lokasi lesi, dan dampak klinis.¹,³

Psoriasis ringan ditangani dengan terapi topikal, sedangkan psoriasis sedang hingga berat ditangani dengan fototerapi atau terapi sistemik.¹,³

Terapi dilakukan secara bertahap (stepwise) dengan target mencapai PASI 75 hingga 90, serta memerlukan pemantauan efek samping dan evaluasi berkala.¹,²

Indikasi Rawat Inap

Psoriasis pustulosa

Psoriasis eritrodermik


Prinsip Terapi Bertahap (Stepwise Therapy)

Langkah 1 (Ringan, <3% BSA): terapi topikal.

Langkah 2 (Sedang hingga berat, atau gagal topikal): fototerapi.

Langkah 3 (Berat, >10% BSA, atau terdapat komplikasi): terapi sistemik.

Terapi Topikal

GolonganObatKeteranganFarmakodinamik
KortikosteroidBetametason, klobetasolWajah: potensi rendah; lipatan: rendah; palmar-plantar: potenAntiinflamasi, imunosupresif
EmolienUrea 10%, petrolatum, gliserinPerawatan dasar kulitMemperbaiki barrier kulit
KeratolitikAsam salisilatMenghilangkan skuamaMeluruhkan stratum korneum
Vitamin D analogKalsipotriolKombinasi dengan steroidHambat proliferasi keratinosit
TarLCD 3–10%AntiinflamasiMenekan proliferasi
Retinoid topikalTazaroteneKombinasi steroidNormalisasi diferensiasi

Fototerapi

Fototerapi menggunakan radiasi ultraviolet (UV) untuk menekan proliferasi keratinosit dan aktivitas sel T.²,³.

Jenis utama:

UVB broadband (BB): perbaikan dalam beberapa minggu; kulit bersih setelah ±20–30 sesi.

UVB narrowband (NB): lebih efektif; respons setelah ±8–10 sesi; kulit bersih setelah ±15–20 sesi.

PUVA (psoralen + UVA): untuk kasus lebih berat; hasil setelah ±20–25 sesi.

Indikasi:

Psoriasis sedang sampai berat.

Tidak respons terhadap terapi topikal.

Efek samping:

Eritema (kemerahan kulit).

Penuaan kulit (photoaging).

Risiko keganasan kulit jangka panjang.

Terapi Sistemik

GolonganObatDosisFarmakodinamikEfek Samping Utama
AntimetabolitMetotreksat7,5–25 mg/minggu (oral/parenteral, titrasi bertahap)Menghambat dihydrofolate reductase sehingga menekan proliferasi sel dan aktivitas limfosit THepatotoksisitas, mielosupresi, mual
Imunosupresan (Calcineurin inhibitor)Siklosporin2,5–5 mg/kgBB/hariMenghambat calcineurin dengan penurunan IL-2 sehingga menekan aktivasi sel TNefrotoksisitas, hipertensi
Retinoid sistemikAcitretin10–50 mg/hariMengatur diferensiasi dan proliferasi keratinositXerosis, cheilitis, alopecia
AminosalisilatSulfasalazinAwal 3×500 mg/hari, dapat ditingkatkan bertahapMenghambat mediator inflamasi dan respon imunMual, pusing, gangguan gastrointestinal
Antiproliferatif imunMikofenolat mofetil2×500–1000 mg/hariMenghambat sintesis purin limfosit sehingga menekan sel T dan BGangguan gastrointestinal, anemia

Komplikasi

Psoriatic arthritis terjadi akibat inflamasi kronik pada sendi dan dapat menyebabkan kerusakan sendi permanen bila tidak ditangani. ²,³

Infeksi sekunder pada kulit dapat terjadi akibat kerusakan barier kulit dan garukan berulang, sehingga mempermudah masuknya mikroorganisme. ²

Eritroderma dapat terjadi akibat penghentian kortikosteroid sistemik, penggunaan obat topikal yang iritatif, atau terapi yang tidak adekuat. Kondisi ini dapat menyebabkan inflamasi luas disertai peningkatan kehilangan cairan (epidermal water loss), dehidrasi, kehilangan protein, dan hipoproteinemia. ³

Psoriasis pustulosa generalisata (Von Zumbusch) ditandai oleh inflamasi akut berat dengan pustul luas dan gejala sistemik, serta berpotensi menjadi kondisi gawat dermatologis. ³

Infark miokard berhubungan dengan inflamasi sistemik kronik yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. ³

Masalah psikososial dapat berupa penurunan kualitas hidup akibat lesi kronik, gangguan kosmetik, dan stigma sosial. ²


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena psoriasis jarang menyebabkan kematian secara langsung, kecuali pada komplikasi berat seperti eritroderma atau psoriasis pustulosa generalisata.²,³

Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena dapat terjadi gangguan fungsi, terutama bila disertai psoriatic arthritis, tetapi umumnya dapat dikontrol dengan terapi yang adekuat.²,³

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad malam, karena penyakit bersifat kronik dan residif, sehingga tidak dapat sembuh total, tetapi dapat dikontrol.¹,²


Edukasi

Menjelaskan bahwa psoriasis merupakan penyakit kronik dan residif, sehingga terapi bertujuan mengontrol, bukan menyembuhkan.¹,²

Menghindari faktor pencetus seperti stres emosional, trauma kulit, infeksi, dan obat-obatan tertentu, karena dapat memicu kekambuhan.²,³

Menjaga perawatan kulit dengan penggunaan emolien secara rutin untuk mengurangi kekeringan dan skuama.²

Menghindari garukan berlebihan, karena dapat memicu Koebner phenomenon dan memperluas lesi.¹,³

Menganjurkan gaya hidup sehat, seperti menghentikan merokok, mengurangi alkohol, dan menjaga berat badan, untuk menurunkan keparahan penyakit.³

Menekankan pentingnya kepatuhan terapi jangka panjang dan kontrol rutin untuk mencegah kekambuhan serta memantau efek samping obat.¹,²

Mengingatkan pasien untuk segera kembali bila muncul gejala berat, seperti lesi meluas cepat, pustul, atau nyeri sendi, sebagai tanda komplikasi.²,³


Kriteria Rujukan

Psoriasis sedang hingga berat (PASI ≥ 10 atau luas >10% BSA) yang memerlukan terapi sistemik atau fototerapi.²,³

Tidak respons terhadap terapi topikal atau mengalami kekambuhan berulang yang sulit dikontrol

Terdapat kecurigaan psoriatic arthritis, seperti nyeri sendi, kaku sendi, atau dactylitis, untuk evaluasi lebih lanjut.²,³

Psoriasis pustulosa atau eritrodermik sebagai kondisi gawat dermatologis yang memerlukan penanganan spesialis atau rawat inap.³

Muncul efek samping obat sistemik atau memerlukan pemantauan ketat selama terapi

Terdapat diagnosis banding yang meragukan sehingga memerlukan konfirmasi oleh spesialis, misalnya melalui biopsi


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, dkk. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill Education; 2019.

3.

Shimizu H. Shimizu's Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2022.

4.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. Edisi ke-5. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2021.

5.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.

6.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

7.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2020.

8.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

9.

Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, dkk., editor. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.

10.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, dkk., editor. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.

11.

NCBI Bookshelf. Psoriasis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023.

12.

Griffiths CEM, Armstrong AW, Gudjonsson JE, Barker JNWN. Psoriasis. Dalam: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023.