Pitiriasis Rosea [4].
Nama Lain : Pitiriasis rosea, Pityriasis rosea Gibert, PR, herald patch eruption, pityriasis circinata et marginata
Definisi
Pitiriasis rosea adalah dermatosis inflamasi akut yang bersifat self-limited. Kondisi ini ditandai oleh erupsi makula atau plak oval dengan skuama halus dan distribusi khas yang mengikuti garis Langer, yang biasanya diawali oleh lesi awal berupa herald patch.²,³

Epidemiologi
Pitiriasis rosea merupakan dermatosis yang cukup sering dijumpai, dengan insidensi sekitar 0,5–2% pada populasi umum.²,³
Paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda (usia 10–35 tahun).²,³
Tidak terdapat perbedaan bermakna antara laki-laki dan perempuan.²,³
Lebih sering muncul pada individu dengan riwayat infeksi virus sebelumnya, terutama infeksi saluran napas atas.³
Dalam praktik klinis layanan primer, penyakit ini sering ditemukan dan bersifat membatasi diri, sehingga banyak ditangani tanpa rujukan.⁵
Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, tetapi paling sering dikaitkan dengan reaktivasi Human Herpes Virus (HHV-6 dan HHV-7).²,³
Reaktivasi virus tersebut memicu respons imun kulit sehingga menimbulkan lesi khas pitiriasis rosea.³
Faktor lain yang diduga berperan meliputi faktor genetik dan lingkungan, meskipun kontribusinya tidak dominan.²
Pada beberapa kasus, penyakit dapat didahului oleh infeksi saluran napas atas, yang mendukung peran infeksi virus sebagai pencetus.³
Faktor Risiko
Usia remaja dan dewasa muda merupakan kelompok dengan insidensi pitiriasis rosea tertinggi.²,³
Riwayat infeksi virus sebelumnya, terutama infeksi saluran napas atas, dapat memicu reaktivasi virus.³
Penurunan imunitas meningkatkan kemungkinan reaktivasi HHV-6 dan HHV-7.³
Stres psikologis dapat memengaruhi respons imun tubuh.³
Stadium
1. Stadium Awal

Ditandai dengan munculnya lesi tunggal awal (herald patch)
Berupa plak oval berukuran ±2–10 cm, berwarna pink-salmon
Terdapat collarette scale berupa skuama halus yang melekat di tepi
Lokasi tersering pada trunk (dada atau punggung)
Muncul 1–2 minggu sebelum erupsi sekunder.²,³
2. Stadium Erupsi Sekunder

Terjadi 1–2 minggu setelah herald patch.
Muncul lesi multipel berupa makula atau plak oval kecil (±1–2 cm).
Lesi berwarna pink-salmon dengan collarette scale khas.
Distribusi simetris mengikuti garis Langer, membentuk pola “Christmas tree”.
Dapat disertai gatal ringan hingga sedang.²,³
3. Stadium Resolusi
Terjadi setelah 4 sampai 8 minggu perjalanan penyakit.
Lesi dapat mengalami:
Eritema memudar.
Skuama berkurang.
Sembuh spontan tanpa jaringan parut.
Dapat tersisa hiperpigmentasi pascainflamasi, terutama pada kulit gelap.²,³
Klasifikasi
Secara klinis, pitiriasis rosea dibedakan menjadi dua bentuk utama, yaitu bentuk klasik dan bentuk atipikal, berdasarkan variasi morfologi serta distribusi lesi.²,³
Bentuk Klasik Pitiriasis Rosea

Ditandai oleh lokasi khas pada area tertutup pakaian, terutama trunk (badan), lengan atas proksimal, dan paha atas, sedangkan leher dan wajah jarang terkena.²,³
Diawali dengan lesi awal (herald patch), berupa plak soliter oval berukuran ±2–10 cm, berwarna pink-salmon, dengan skuama halus di tepi yang melekat (collarette scale), dan umumnya muncul di badan.²,³
Dalam 1–2 minggu, muncul erupsi sekunder multipel berupa papul atau plak oval yang lebih kecil (±1–2 cm) berwarna pink-salmon.²,³
Lesi sekunder tersusun simetris dan mengikuti garis Langer (garis tegangan kulit), sehingga membentuk pola khas “Christmas tree pattern” pada punggung.²,³
Efloresensi khas berupa makula atau plak oval dengan skuama halus di bagian tengah yang tampak melekat di tepi, akibat gangguan maturasi keratinosit superfisial.²,³
Gejala biasanya berupa gatal ringan hingga sedang, dan penyakit bersifat akut serta self-limited dengan resolusi spontan dalam 4–8 minggu.²,³
Pitiriasis Rosea Atipikal
Ditandai oleh lokasi yang tidak khas, dapat mengenai wajah, leher, aksila, atau unilateral, serta tidak terbatas pada area tertutup pakaian.²,³
Herald patch dapat tidak ada atau tidak jelas, sehingga awitan penyakit menjadi kurang khas.²
Efloresensi bervariasi, dapat berupa lesi vesikular, papular, purpurik, atau lesi dengan ukuran dan bentuk yang tidak khas, sehingga menyerupai penyakit lain.²,³
Distribusi tidak mengikuti garis Langer dan tidak membentuk pola Christmas tree, sehingga sering asimetris.²
Gejala dapat lebih berat, dengan pruritus lebih hebat, atau lebih ringan, dengan perjalanan penyakit yang kadang lebih lama atau tidak tipikal.²,³
Hal ini penting secara klinis karena sering menyerupai diagnosis banding, terutama sifilis sekunder, dermatofitosis, atau drug eruption, sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut.²,³
Patofisiologi
Pitiriasis rosea diduga diawali oleh reaktivasi Human Herpes Virus (HHV-6 dan HHV-7) yang sebelumnya berada dalam keadaan laten di tubuh.²,³.
Reaktivasi virus memicu aktivasi sistem imun seluler, terutama limfosit T, sehingga meningkatkan produksi sitokin proinflamasi di kulit.³.
Respons imun tersebut menyebabkan inflamasi superfisial pada dermis dan epidermis, disertai gangguan diferensiasi dan maturasi keratinosit.²,³.
Kondisi ini menimbulkan deskuamasi abnormal, yang tampak sebagai skuama halus khas (collarette scale) pada lesi.².
Lesi awal berupa herald patch mencerminkan lokasi awal proses inflamasi. Selanjutnya, melalui penyebaran mediator imun, terjadi erupsi lesi sekunder multipel.³.
Distribusi lesi mengikuti garis Langer karena proses inflamasi berlangsung sesuai pola tegangan kulit.²,³.
Anamnesis
Keluhan awal berupa lesi tunggal (herald patch) pada badan yang muncul 1–2 minggu sebelum ruam menyebar, sebagai manifestasi awal proses inflamasi.²,³
Diikuti ruam kulit yang cepat menyebar pada trunk, sesuai dengan penyebaran respons imun.²,³
Keluhan subjektif berupa gatal ringan atau tanpa gatal, karena inflamasi bersifat superfisial.²
Dapat disertai gejala konstitusional ringan, seperti infeksi saluran napas atas, demam ringan, atau malaise, yang mendukung etiologi infeksi virus.³
Riwayat faktor yang sering dianggap sebagai pencetus, seperti penggunaan pakaian baru yang belum dicuci, pakaian lama yang disimpan lama, atau sering berenang, meskipun lebih bersifat faktor iritasi atau lingkungan daripada penyebab utama.
Umumnya tidak disertai gejala sistemik berat, dan pasien menyadari bahwa penyakit bersifat akut serta dapat sembuh sendiri dalam 6–8 minggu.²,³
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan KOH: dilakukan untuk menyingkirkan dermatofitosis, dengan mengidentifikasi hifa jamur dari kerokan kulit. Pada pitiriasis rosea, hasilnya negatif.
Serologi sifilis (VDRL/RPR): dilakukan terutama pada lesi atipikal atau yang melibatkan telapak tangan dan kaki, untuk menyingkirkan sifilis sekunder. Pada pitiriasis rosea, hasilnya negatif.
Biopsi kulit: jarang dilakukan, untuk konfirmasi bila diagnosis meragukan, dengan gambaran infiltrat limfositik superfisial, parakeratosis fokal, dan inflamasi ringan pada dermis.²,³
Diagnosis Banding
| Diagnosi | Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea |
|---|---|
| Tinea corporis | Lesi annular dengan tepi aktif, gatal jelas, KOH positif |
| Erupsi obat | Riwayat konsumsi obat (misalnya kaptopril, barbiturat), lesi lebih polimorf dan tidak ada herald patch |
| Psoriasis guttata | Lesi papul kecil dengan skuama lebih tebal, tidak ada herald patch |
| Sifilis sekunder (makular) | Lesi generalisata termasuk telapak tangan/kaki, riwayat seksual, serologi positif |
| Dermatitis seboroik | Lokasi di daerah seboroik, skuama kuning berminyak |
| Dermatitis numularis | Lesi berbentuk koin, tidak mengikuti garis Langer |
| Liken planus | Papul violasea, polygonal, gatal, sering ada Wickham striae |
| Morbus Hansen | Lesi dengan anestesi (+) akibat keterlibatan saraf |
| Eritema multiforme | Lesi target (iris lesion), onset akut, sering terkait infeksi |
| Eritema migrans | Lesi meluas sentrifugal dengan central clearing, riwayat gigitan serangga/kutu |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Edukasi bahwa penyakit bersifat self-limited (sembuh sendiri dalam 6–8 minggu) sehingga tidak memerlukan terapi agresif.²,³
Menghindari iritasi kulit, seperti sabun keras, gesekan, dan keringat berlebih, yang dapat memperberat lesi.
Menggunakan emolien untuk menjaga kelembapan kulit dan mengurangi rasa tidak nyaman.²
Paparan sinar matahari langsung atau fototerapi UVB pada fase awal dapat membantu mempercepat resolusi lesi.²
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis bersifat simptomatik, terutama untuk mengurangi pruritus dan inflamasi ringan.²,⁵
| Golongan | Obat (Sediaan) | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Antihistamin oral | Klorfeniramin maleat (tablet 4 mg) | 3 × 4 mg/hari | Antagonis reseptor H1 generasi pertama yang menghambat efek histamin pada pembuluh darah dan ujung saraf sensorik, sehingga menurunkan vasodilatasi, permeabilitas kapiler, dan sensasi pruritus |
| Loratadin (tablet 10 mg) | 1 × 10 mg/hari | Antagonis H1 selektif perifer yang menghambat ikatan histamin tanpa penetrasi signifikan ke SSP, sehingga mengurangi pruritus tanpa efek sedasi | |
| Cetirizine (tablet 10 mg) | 1 × 10 mg/hari | Antagonis H1 generasi kedua yang menekan respon alergi fase awal dan sebagian fase lanjut dengan inhibisi migrasi sel inflamasi | |
| Antipruritus topikal | Talkum asam salisilat 1–2% (bedak/lotion) | 1–2×/hari | Kombinasi efek keratolitik ringan (asam salisilat) dan efek protektif kulit (talkum) yang membantu mengurangi skuama dan iritasi |
| Mentol 0,25–0,5% (lotion/krim) | 1–2×/hari | Aktivasi reseptor TRPM8 pada ujung saraf sensorik kulit yang menimbulkan sensasi dingin sehingga menurunkan persepsi gatal | |
| Calamine lotion (lotion) | 1–2×/hari | Bersifat astringen dan soothing agent, mengurangi iritasi dan eksudasi ringan pada kulit | |
| Kortikosteroid topikal potensi rendah | Fluocinolone acetonide 0,025% (krim/salep) | 1–2×/hari | Menghambat fosfolipase A2 sehingga menurunkan sintesis prostaglandin dan leukotrien, serta menekan sitokin proinflamasi, menghasilkan efek antiinflamasi lokal |
| Kortikosteroid sistemik (kasus berat) | Prednison (tablet) | 0,5–1 mg/kgBB/hari (tapering) | Imunosupresif sistemik melalui inhibisi ekspresi gen sitokin proinflamasi dan penekanan aktivasi sel T, sehingga menurunkan inflamasi luas |
| Antivirus (kasus tertentu) | Acyclovir (tablet 400–800 mg) | 5 × 800 mg/hari selama 7 hari | Analog nukleosida yang diaktivasi oleh enzim virus, kemudian menghambat DNA polymerase virus, sehingga menghambat replikasi HHV |
Fototerapi UV
UVB narrowband (NB-UVB) digunakan sebagai terapi tambahan untuk mempercepat resolusi lesi.²,³
Diberikan 2–3 kali per minggu, dengan dosis disesuaikan dengan tipe kulit.
Bekerja dengan menekan aktivitas limfosit T, menurunkan sitokin proinflamasi, dan menghambat proliferasi keratinosit.
Diindikasikan pada lesi yang luas atau pruritus yang mengganggu.
Komplikasi
Pruritus berat terjadi akibat respons inflamasi kulit dan dapat menurunkan kenyamanan serta kualitas hidup.²,³
Hiperpigmentasi pascainflamasi disebabkan oleh aktivasi melanosit setelah proses inflamasi dan lebih sering terjadi pada kulit berwarna gelap.²,³
Infeksi sekunder dapat terjadi akibat eksoriasi (garukan) yang merusak sawar kulit, sehingga mempermudah masuknya bakteri.²
Bentuk persisten (lebih dari 12 minggu) dapat terjadi pada sebagian kasus sebagai varian atipikal atau akibat respons imun yang berkepanjangan.³
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena pitiriasis rosea merupakan penyakit jinak dan tidak mengancam nyawa.²,³
Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi tubuh atau disabilitas.²
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam, karena penyakit bersifat self-limited dan akan sembuh spontan dalam 6–8 minggu tanpa terapi khusus.²,³
Edukasi
Menjelaskan bahwa penyakit bersifat self-limited dan umumnya sembuh sendiri dalam 6–8 minggu, serta tidak berbahaya.²,³
Menghindari garukan dan iritasi kulit untuk mencegah infeksi sekunder dan hiperpigmentasi.²
Menganjurkan penggunaan emolien untuk mengurangi ketidaknyamanan.
Kontrol bila lesi atipikal, mengenai telapak tangan atau telapak kaki, atau tidak membaik dalam lebih dari 8–12 minggu.²,³
Kriteria Rujukan
Diagnosis meragukan, terutama bila gambaran tidak khas atau sulit dibedakan dengan sifilis sekunder atau dermatosis lain.²,³
Lesi atipikal, seperti distribusi yang tidak biasa, bentuk yang tidak khas, atau tidak ditemukan herald patch.²
Tidak membaik dalam 8–12 minggu, sehingga perlu evaluasi kemungkinan diagnosis lain atau varian persisten.²,³
Lesi mengenai telapak tangan dan kaki, sehingga perlu eksklusi sifilis sekunder.³
Pruritus berat atau lesi luas, yang memerlukan terapi lanjutan, seperti fototerapi atau evaluasi oleh spesialis.²
Daftar Pustaka
Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill; 2023.
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: FKUI; 2019.
Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, dkk. Fitzpatrick’s Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill Education; 2019.
Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.
Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. Edisi ke-5. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2021.
Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2022.
Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2020.
Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.
Liu J. Dermatology Made Easy. London: Elsevier; 2020.
Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, dkk., editor. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.
NCBI Bookshelf. Pityriasis Rosea. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023.
