Pedikulosis Pubis [4].

Pedikulosis Pubis [4].


Nama Lain : Pedikulosis pubis, Pediculosis pubis, crab lice infestation, pubic lice


Definisi

Pedikulosis pubis adalah infestasi ektoparasit oleh Pthirus pubis pada rambut pubis yang menyebabkan pruritus akibat reaksi hipersensitivitas terhadap saliva kutu, serta dapat melibatkan area rambut kasar lain, seperti aksila, dada, atau bulu mata.¹,²,³

Gambaran Pthirus pubis (Nicolad dkk, 2010)
Gambaran Pthirus pubis (Nicolad dkk, 2010)

Epidemiologi

Pedikulosis pubis paling sering ditemukan pada dewasa yang aktif secara seksual, karena penularan utamanya melalui kontak seksual.²,⁴

Kondisi ini lebih sering terjadi pada individu dengan banyak pasangan seksual atau perilaku seksual berisiko.²,³

Pedikulosis pubis dapat terjadi pada semua kelompok sosial, tetapi lebih tinggi pada kondisi kepadatan tinggi dan higiene yang kurang baik

Kasus pada anak jarang. Bila ditemukan, perlu dicurigai kontak erat atau kemungkinan kekerasan seksual.²,⁴


Etiologi

Pedikulosis pubis disebabkan oleh infestasi Pthirus pubis, yaitu ektoparasit obligat yang hidup pada rambut kasar manusia, terutama pada daerah pubis. ¹,³

Kutu ini bertahan hidup dengan cara mengisap darah manusia dan berkembang biak dengan meletakkan telur (nits) yang melekat kuat pada batang rambut. ²,³


Faktor Risiko

Kontak seksual merupakan faktor risiko utama karena penularan terjadi melalui kontak erat rambut ke rambut pada area genital.²,³

Memiliki banyak pasangan seksual meningkatkan peluang transmisi Pthirus pubis

Riwayat pasangan dengan pedikulosis pubis meningkatkan risiko reinfeksi bila tidak diobati secara simultan.³

Kepadatan tempat tinggal atau higiene yang kurang baik dapat mempermudah penyebaran, meskipun bukan faktor utama.³

Berbagi linen atau pakaian dalam dapat menjadi media penularan tidak langsung.³



Patofisiologi

Pedikulosis pubis dengan macula cerulea (Ko & Elston, 2004)
Pedikulosis pubis dengan macula cerulea (Ko & Elston, 2004)

Pedikulosis pubis dimulai ketika Pthirus pubis menginfestasi rambut kasar (terutama pubis) dan menempel pada batang rambut menggunakan cakar khusus, sehingga dapat bertahan pada area tersebut.¹,³

Kutu kemudian mengisap darah dengan menusukkan alat mulut ke kulit dan menyuntikkan saliva yang mengandung zat antigenik dan antikoagulan.²,³

Saliva ini memicu reaksi hipersensitivitas tipe lambat, sehingga pruritus menjadi gejala utama.¹,²

Proses pengisapan darah juga menyebabkan ekstravasasi eritrosit dan deposisi hemosiderin, sehingga timbul makula kebiruan khas (macula cerulea).²,³

Garukan berulang akibat gatal dapat menyebabkan eksoriasi, kerusakan sawar kulit, dan meningkatkan risiko infeksi sekunder

Kutu meletakkan telur (nits) yang melekat kuat pada batang rambut, sehingga mempertahankan siklus hidup dan menyebabkan infestasi menetap atau berulang bila tidak diobati.¹,³


Anamnesis

Keluhan dapat asimptomatik, terutama pada fase awal infestasi atau pada individu yang belum mengalami sensitisasi terhadap antigen kutu.²

Keluhan utama berupa gatal ringan hingga sedang di daerah pubis akibat reaksi hipersensitivitas terhadap saliva kutu dan dapat meluas ke abdomen bawah, paha, atau dada.¹,²

Pasien dapat mengeluhkan adanya bercak hitam pada pakaian dalam (black dot), yang tampak jelas terutama pada pakaian berwarna terang. Temuan ini merupakan krusta atau sisa darah dari bekas gigitan kutu.²,³

Riwayat kontak seksual dengan pasangan yang terinfestasi merupakan faktor risiko utama penularan.²,³

Dapat disertai keluhan akibat komplikasi, seperti nyeri atau keluarnya cairan, bila telah terjadi infeksi sekunder akibat garukan


Pemeriksaan Fisik

Predileksi: lesi terutama ditemukan pada rambut pubis, tetapi dapat meluas ke aksila, dada, abdomen bawah, dan bulu mata (pedikulosis palpebrarum) karena kutu menyukai rambut kasar dengan diameter lebih besar.¹,³

Efloresensi:

Pedikulosis pubis dengan nits yang menempel pada rambut (Kang dkk, 2019)
Pedikulosis pubis dengan nits yang menempel pada rambut (Kang dkk, 2019)

Nits (telur kutu) berwarna putih keabuan hingga coklat, melekat kuat pada batang rambut akibat sekresi perekat dari kutu.¹,²

Kutu dewasa (Pthirus pubis) dapat terlihat menempel pada rambut atau kulit, berbentuk khas seperti kepiting (crab-like), tetapi sering sulit ditemukan karena ukurannya kecil.²

Makula kebiruan (macula cerulea), akibat deposisi hemosiderin dari ekstravasasi eritrosit setelah gigitan kutu, merupakan tanda khas.²,³

Ekskoriasi dan krusta, akibat garukan berulang karena pruritus

Dapat ditemukan titik hitam (black dots) pada pakaian dalam, berupa bekas darah atau feses kutu.

Temuan tambahan:

Infeksi sekunder, ditandai dengan pus dan krusta tebal, akibat kerusakan sawar kulit

Limfadenopati regional, sebagai respons terhadap inflamasi atau infeksi sekunder.²

Seluruh temuan merupakan akibat dari gigitan kutu yang memicu reaksi hipersensitivitas, serta kerusakan kulit akibat garukan kronik.¹,³


Pemeriksaan Penunjang

Umumnya tidak diperlukan karena diagnosis pedikulosis pubis bersifat klinis berdasarkan visualisasi kutu atau nits pada rambut pubis.¹,³

Dermoskopi: dapat digunakan bila diagnosis meragukan untuk membantu visualisasi kutu Pthirus pubis dan nits yang melekat pada batang rambut.²

Pemeriksaan mikroskopis: dilakukan dengan mengambil rambut yang terinfestasi untuk mengidentifikasi morfologi kutu atau telur, meskipun jarang diperlukan.³

Skrining infeksi menular seksual (IMS): dianjurkan karena pedikulosis pubis berkaitan dengan transmisi seksual, sehingga perlu evaluasi komorbid, seperti sifilis atau HIV.²,⁴


Dasar Diagnosis


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Dengan Pedikulosis Pubis
Dermatitis seboroikSkuama kuning berminyak pada daerah seboroik, tanpa nits atau kutu
Dermatomikosis (tinea cruris)Lesi berbatas tegas dengan tepi aktif, gatal, dan meluas, KOH positif
SkabiesGatal hebat terutama malam hari dengan terowongan (burrow), tanpa nits
FolikulitisPapul/pustul pada folikel rambut akibat infeksi bakteri, tanpa kutu
Liken simpleks kronikusPenebalan kulit (likenifikasi) akibat garukan kronik, tanpa nits atau kutu

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Mengobati semua pasangan seksual secara simultan untuk mencegah reinfestasi.¹,³

Menghindari kontak seksual hingga terapi selesai untuk memutus rantai penularan.²

Mencuci pakaian dalam, handuk, dan linen dengan air panas (≥60°C) karena suhu tinggi dapat membunuh kutu dan telur.³,⁵

Tidak berbagi barang pribadi, terutama pakaian dalam dan handuk.³

Pencukuran rambut pubis dapat membantu mengurangi reservoir kutu, meskipun bukan terapi utama.²


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis • Terapi bertujuan membunuh kutu dan telur (pedikulisidal dan ovisidal) serta mencegah penularan ulang.¹,³

GolonganObat & SediaanDosis & Cara PakaiFarmakodinamik
Piretroid (lini pertama)Permetrin 1% (lotion/krim bilas)Dioleskan pada area pubis, didiamkan ±10 menit, lalu dibilas; diulang hari ke-7Mengganggu kanal natrium pada neuron kutu, menyebabkan depolarisasi berkepanjangan sehingga terjadi paralisis dan kematian
Organofosfat (alternatif)Malathion 0,5% (lotion)Dioleskan 8–12 jam lalu dibilas; ulang bila perluMenghambat asetilkolinesterase, menyebabkan akumulasi asetilkolin yang berujung pada paralisis neuromuskular kutu
Antiparasit sistemikIvermectin (tablet 3 mg)200 µg/kgBB, diulang 7–10 hariMengaktivasi kanal klorida tergantung glutamat, menyebabkan hiperpolarisasi sel saraf dan otot parasit hingga terjadi paralisis dan kematian
Pedikulicidal alternatifBenzyl benzoate 25% (emulsi)Dioleskan pada area pubis dan didiamkan ±24 jam, dapat diulang setelah 4 hari bila belum sembuhBersifat neurotoksik terhadap parasit, menyebabkan gangguan sistem saraf kutu hingga kematian

Keterlibatan bulu mata (pedikulosis palpebrarum):

Terapi dengan pengangkatan mekanik (pinset) atau petrolatum topikal untuk menghambat pernapasan kutu.²


Komplikasi

Infeksi sekunder bakteri, terjadi akibat garukan berulang yang merusak sawar kulit, sehingga memungkinkan masuknya bakteri dan menimbulkan impetiginisasi atau folikulitis.¹,³

Dermatitis kronik, akibat iritasi dan inflamasi persisten pada area pubis karena infestasi serta garukan yang terus-menerus.²

Limfadenitis regional, sebagai respons terhadap inflamasi atau infeksi sekunder di area genital.²,³

Pedikulid (reaksi hipersensitivitas sekunder), berupa erupsi papular di luar lokasi infestasi akibat respons imun terhadap antigen kutu.²

Koinfeksi infeksi menular seksual (IMS), karena pedikulosis pubis berkaitan dengan transmisi seksual, sehingga pasien berisiko mengalami penyakit lain, seperti sifilis atau HIV.²,⁴


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena pedikulosis pubis merupakan penyakit jinak dan tidak mengancam nyawa.¹,³

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi tubuh, tetapi dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat pruritus.²

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam, karena dengan terapi yang adekuat dan pengobatan pasangan seksual, infestasi dapat sembuh sempurna tanpa sisa.¹,³


Edukasi

Jelaskan bahwa pedikulosis pubis merupakan infestasi yang dapat sembuh dengan terapi yang adekuat, tetapi mudah terjadi reinfeksi bila pasangan tidak diobati.¹,³

Anjurkan pengobatan semua pasangan seksual secara simultan, karena penularan utama terjadi melalui kontak seksual.²,³

Anjurkan untuk menghindari hubungan seksual sementara hingga terapi selesai guna mencegah penularan ulang.²

Sarankan mencuci pakaian dalam, handuk, dan linen dengan air panas (≥60°C) karena dapat membunuh kutu dan telurnya.³,⁵

Anjurkan tidak berbagi barang pribadi, terutama pakaian dalam dan handuk.³

Anjurkan skrining infeksi menular seksual (IMS), karena pedikulosis pubis sering berkaitan dengan transmisi seksual.²,⁴


Kriteria Rujukan

Diagnosis meragukan, terutama bila sulit dibedakan dengan dermatomikosis, skabies, atau dermatosis lain

Tidak respons terhadap terapi lini pertama, untuk evaluasi kemungkinan resistensi atau reinfeksi.²,³

Infeksi sekunder berat, seperti pus luas, krusta tebal, atau tanda selulitis, yang memerlukan terapi lanjutan.¹,³

Keterlibatan area khusus, seperti bulu mata (pedikulosis palpebrarum), yang membutuhkan penanganan spesifik.²

Kecurigaan atau konfirmasi koinfeksi IMS, yang memerlukan evaluasi dan tatalaksana lebih lanjut oleh spesialis.²,⁴


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, et al. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2019.

3.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2019.

4.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi di Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

5.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.

6.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. Edisi ke-5. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2021.

7.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2022.

8.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

9.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2020.

10.

StatPearls Publishing. Pediculosis Pubis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023.