Pedikulosis Kapitis [4].
Nama Lain : Pedikulosis kapitis, Pediculosis capitis, head lice infestation, head lice, scalp pediculosis
Definisi
Pedikulosis kapitis adalah infestasi ektoparasit pada rambut dan kulit kepala oleh Pediculus humanus capitis yang menyebabkan pruritus akibat reaksi hipersensitivitas terhadap saliva kutu dan sering disertai temuan nits yang melekat pada batang rambut.¹,²,³

Epidemiologi
Pedikulosis kapitis merupakan infestasi yang sangat sering dijumpai secara global, terutama pada anak usia sekolah (5–13 tahun).¹,⁶
Kasus lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki, kemungkinan terkait panjang rambut dan frekuensi kontak kepala.³
Penularan terutama melalui kontak langsung kepala ke kepala, sehingga sering terjadi pada lingkungan padat seperti sekolah atau asrama.³,⁵
Kondisi ini tidak berkaitan langsung dengan higiene yang buruk, tetapi lebih dipengaruhi oleh kepadatan populasi dan kebiasaan berbagi barang pribadi.³,⁷
Di negara berkembang, termasuk Indonesia, prevalensi cenderung lebih tinggi pada populasi dengan kondisi sosial ekonomi rendah dan kepadatan tinggi.⁴,⁷
Etiologi
Pedikulosis kapitis disebabkan oleh infestasi Pediculus humanus capitis, yaitu ektoparasit obligat yang hidup pada rambut dan kulit kepala manusia.¹,³
Kutu ini bertahan hidup dengan mengisap darah manusia dan berkembang biak dengan cara meletakkan telur (nits) yang melekat kuat pada batang rambut.²,³
Faktor Resiko
Kontak erat (head-to-head contact), terutama pada anak usia sekolah, karena kutu berpindah melalui kontak langsung rambut ke rambut.¹,³
Lingkungan padat, seperti sekolah, asrama, atau panti, meningkatkan kemungkinan transmisi.³,⁵
Berbagi barang pribadi, seperti sisir, topi, bantal, atau handuk, dapat menjadi media perpindahan kutu, meskipun lebih jarang dibanding kontak langsung.³
Rambut panjang, terutama pada perempuan, meningkatkan luas permukaan kontak dan tempat hidup kutu.³
Riwayat infestasi sebelumnya meningkatkan risiko reinfeksi bila kontak erat tidak diobati.²
Klasifikasi
Pedikulosis secara umum diklasifikasikan berdasarkan lokasi infestasi, yaitu.²,³
Pedikulosis kapitis Infestasi pada kulit kepala dan rambut, disebabkan oleh Pediculus humanus capitis.
Pedikulosis corporis Infestasi pada badan (kulit tubuh), disebabkan oleh Pediculus humanus corporis, dan biasanya hidup di pakaian.
Pedikulosis pubis Infestasi pada rambut pubis, disebabkan oleh Pthirus pubis, dan dapat menyebar ke aksila atau bulu mata.
Patofisiologi
Pedikulosis kapitis dimulai ketika kutu (Pediculus humanus capitis) menginfestasi rambut dan kulit kepala, kemudian menempel pada batang rambut menggunakan cakar khusus, sehingga dapat bertahan dan bergerak di rambut.¹,³
Kutu kemudian mengisap darah dengan menusukkan alat mulut ke kulit kepala dan menyuntikkan saliva yang mengandung zat antigenik dan antikoagulan.²,³
Saliva tersebut memicu reaksi hipersensitivitas tipe lambat (delayed hypersensitivity) pada host, yang menyebabkan pruritus sebagai gejala utama.¹,²
Gatal yang timbul memicu garukan berulang, sehingga terjadi eksoriasi, kerusakan barrier kulit, dan risiko infeksi sekunder bakteri.²,³
Kutu juga meletakkan telur (nits) yang melekat kuat pada batang rambut melalui zat perekat, sehingga mempertahankan siklus hidup dan menyebabkan infestasi menetap atau berulang bila tidak diobati secara adekuat.¹,³
Anamnesis
Keluhan utama berupa gatal pada kulit kepala, terutama akibat reaksi hipersensitivitas terhadap saliva kutu saat mengisap darah serta terhadap feses kutu yang menimbulkan iritasi pada kulit.¹,².
Gatal sering dirasakan lebih berat pada malam hari karena aktivitas kutu meningkat.¹.
Pada sebagian kasus, pasien dapat asimptomatik, terutama pada infestasi awal atau pada individu yang belum mengalami sensitisasi terhadap antigen kutu.².
Riwayat kontak erat dengan penderita, terutama di lingkungan sekolah atau keluarga.³.
Pasien kadang mengeluhkan sensasi seperti ada sesuatu yang bergerak di rambut akibat aktivitas kutu di kulit kepala.².
Pemeriksaan Fisik
Predileksi: kutu terutama ditemukan pada kulit kepala daerah oksipital dan retroaurikular, karena area ini hangat dan lembap sehingga mendukung kelangsungan hidup kutu, namun kutu bergerak cepat sehingga sering sulit ditemukan secara langsung.¹,³
Efloresensi:
Gigitan kutu dapat menimbulkan eritem atau papula kecil, namun pada praktik klinis lebih sering ditemukan erosi dan ekskoriasi akibat garukan berulang karena pruritus.³

Pada kasus lanjut dapat ditemukan infeksi sekunder, berupa pus dan krusta yang menggumpal, akibat kerusakan barrier kulit.³
Seluruh temuan fisik merupakan akibat dari gigitan kutu yang memicu reaksi hipersensitivitas, serta garukan kronik yang menyebabkan kerusakan kulit dan komplikasi infeksi.¹,³
Pemeriksaan Penunjang
Umumnya tidak diperlukan, karena diagnosis pedikulosis kapitis bersifat klinis berdasarkan temuan nits atau kutu hidup.¹,³
Dermoskopi (trichoscopy): digunakan bila diagnosis meragukan untuk membantu visualisasi nits hidup dan kutu, dengan tampilan telur yang melekat pada batang rambut.²
Pemeriksaan mikroskopis: dilakukan dengan mengambil rambut yang terdapat nits untuk identifikasi morfologi kutu atau telur.³ Meski demikian, pemeriksaan ini jarang diperlukan.
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan dengan Pedikulosis Kapitis |
|---|---|
| Tinea kapitis | Lesi dengan skuama dan alopecia, sering disertai KOH positif (jamur) |
| Impetigo krustosa | Lesi berupa krusta madu (honey-colored crust) akibat infeksi bakteri, tanpa nits |
| Dermatitis seboroik | Skuama kuning berminyak pada daerah seboroik, tanpa kutu atau nits |
| Psoriasis | Plak eritem dengan skuama tebal keperakan, distribusi khas, tidak ditemukan nits |
| Skabies | Gatal hebat terutama malam hari dengan lesi di sela jari atau tubuh, terdapat terowongan (burrow), tidak ada nits |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Memotong rambut sependek mungkin untuk mengurangi populasi kutu dan mempermudah eliminasi nits yang melekat pada batang rambut.¹,³
Menyisir rambut dengan sisir serit secara rutin, terutama sisir berbahan logam yang lebih efektif dibanding plastik, untuk menghilangkan kutu dan nits secara mekanik.¹,³
Menjaga kebersihan kulit kepala untuk mengurangi iritasi akibat garukan serta mencegah infeksi sekunder.²,³
Menghindari kontak langsung kepala dengan penderita (head-to-head contact) karena merupakan mekanisme utama penularan kutu.³,⁵
Tidak berbagi barang pribadi seperti sisir, topi, atau bantal karena dapat menjadi media perpindahan kutu, meskipun lebih jarang dibanding kontak langsung.³
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi bertujuan membunuh kutu hidup (pedikulicidal) dan mengeradikasi telur (ovicidal) untuk memutus siklus hidup parasit.¹,³
Terapi dilakukan dengan pendekatan kombinasi farmakologis dan mekanik, yaitu penggunaan obat topikal disertai sisir serit untuk menghilangkan nits.¹
Pengulangan terapi pada hari ke-7 penting untuk membasmi telur yang menetas setelah terapi pertama.³,⁴
Tatalaksana semua kontak erat harus dilakukan secara simultan untuk mencegah reinfestasi.³,⁵
Terapi disertai dekontaminasi lingkungan (linen, pakaian, alat pribadi) untuk mengeliminasi sumber penularan.³
Terapi Utama
| Golongan | Obat & Sediaan | Dosis & Cara Pakai | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Piretroid (lini pertama) | Permetrin 1% (lotion/krim bilas) | Dioleskan pada rambut bersih, didiamkan ±10 menit, lalu dibilas; diulang hari ke-7 | Mengganggu kanal natrium pada neuron kutu, menyebabkan paralisis dan kematian |
| Organofosfat (alternatif) | Malathion 0,5% (lotion) | Dioleskan 8–12 jam lalu dibilas; ulang bila perlu | Menghambat asetilkolinesterase, menyebabkan akumulasi asetilkolin dan paralisis neuromuskular kutu |
| Antiparasit sistemik | Ivermectin (tablet 3 mg) | 200 µg/kgBB, diulang 7–10 hari | Meningkatkan permeabilitas kanal klorida pada saraf dan otot parasit, menyebabkan paralisis dan kematian kutu |
Terapi Tambahan
| Golongan | Obat & Sediaan | Dosis & Cara Pakai | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Pedikulicidal alternatif | Benzyl alcohol 5% (lotion) | Dioleskan sesuai petunjuk, ulang 7 hari | Menyebabkan asfiksia kutu (menutup spirakel) |
| Ovicidal tambahan | Spinosad 0,9% (lotion) | Aplikasi tunggal, ulang bila perlu | Mengganggu aktivitas saraf parasit melalui reseptor nikotinik |
Komplikasi
Infeksi sekunder bakteri terjadi akibat garukan berulang yang merusak sawar kulit, sehingga mempermudah masuknya bakteri dan dapat menimbulkan impetiginisasi.¹,³
Dermatitis kronik disebabkan oleh iritasi dan inflamasi persisten akibat infestasi kutu dan garukan terus-menerus.²
Limfadenitis regional (oksipital dan servikal) merupakan respons terhadap inflamasi atau infeksi sekunder pada kulit kepala.¹,³
Pedikulid (reaksi hipersensitivitas sekunder) berupa erupsi papular generalisata akibat reaksi imun terhadap antigen kutu.²
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena pedikulosis kapitis merupakan penyakit jinak dan tidak mengancam nyawa.¹,³
Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi tubuh, meskipun dapat menimbulkan ketidaknyamanan akibat pruritus.²
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam, karena dengan terapi yang adekuat dan eradikasi sumber penularan, infestasi dapat sembuh sempurna tanpa sisa.¹,³
Edukasi
Menjelaskan bahwa pedikulosis kapitis merupakan infestasi kutu yang dapat sembuh dengan terapi yang adekuat, tetapi mudah terjadi reinfeksi bila kontak erat tidak diobati.¹,³
Menganjurkan pengobatan semua kontak erat secara simultan, karena kutu mudah menular melalui kontak langsung kepala ke kepala.³,⁵
Menganjurkan pasien untuk tidak berbagi barang pribadi seperti sisir, topi, bantal, dan handuk guna mencegah penularan.³
Menyarankan mencuci pakaian, sprei, dan linen dengan air panas (≥60°C), karena suhu tinggi dapat membunuh kutu dan telurnya.³,⁵
Mengajarkan penggunaan sisir serit secara rutin untuk membantu menghilangkan nits secara mekanik.¹
Kriteria Rujukan
Kasus tidak respons terhadap terapi lini pertama (permetrin) setelah penggunaan yang adekuat dan pengulangan, untuk evaluasi kemungkinan resistensi atau kesalahan dalam terapi.²,³
Infeksi sekunder berat, seperti adanya pus luas, krusta tebal, atau tanda selulitis, yang memerlukan terapi lanjutan atau antibiotik sistemik.¹,³
Diagnosis meragukan, terutama bila sulit dibedakan dari tinea kapitis atau dermatosis lain.²
Infestasi berat atau luas, terutama bila tidak dapat ditangani secara optimal di layanan primer.³
Keterlibatan area khusus, seperti bulu mata (pedikulosis palpebrarum), yang memerlukan penanganan lebih spesifik.²
Daftar Pustaka
Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2023.
Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, et al. Fitzpatrick’s Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2019.
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2019.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi di Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.
Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.
Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. Edisi ke-5. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2021.
Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2022.
Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.
Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2020.
StatPearls Publishing. Pediculosis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023.
