
Miliaria [4].
Nama Lain : Biang keringat, Ruam panas, Ruam keringat, Miliaria rubra
Definisi
Miliaria adalah kelainan kulit akibat obstruksi duktus kelenjar keringat yang menyebabkan
Etiologi
Miliaria terjadi akibat sumbatan pada duktus kelenjar ekrin sehingga keringat tidak dapat keluar ke permukaan kulit.
Faktor Risiko
Lingkungan panas dan lembap yang meningkatkan produksi keringat sehingga mempermudah terjadinya sumbatan duktus.
Pakaian tebal, ketat, atau oklusif yang menghambat evaporasi keringat dari permukaan kulit.
Demam atau hiperhidrosis yang menyebabkan produksi keringat berlebih.
Imaturitas kelenjar keringat pada bayi, sehingga duktus lebih mudah mengalami obstruksi.
Oklusi kulit akibat penggunaan krim atau kosmetik tebal yang menutup pori-pori.
Aktivitas fisik berat atau lingkungan kerja panas (misalnya tentara atau pekerja lapangan) yang meningkatkan produksi keringat.²-⁷
Epidemiologi
Miliaria sering terjadi pada bayi dan anak-anak karena kelenjar keringat belum matang sempurna.
Insidensi meningkat pada iklim tropis atau lingkungan panas dan lembap.
Miliaria juga dapat terjadi pada orang dewasa dengan aktivitas yang menyebabkan keringat berlebih.
Kondisi ini sering dijumpai pada tentara atau individu yang bekerja di lingkungan panas.²,³,⁴,⁶,⁷,⁸
Klasifikasi
Miliaria diklasifikasikan berdasarkan lokasi (kedalaman) obstruksi duktus kelenjar keringat.¹,²,³,⁴,⁸
Patofisiologi
Produksi keringat meningkat akibat lingkungan panas, kelembapan tinggi, atau aktivitas fisik, yang menyebabkan hiperhidrasi stratum korneum.
Terjadi obstruksi duktus kelenjar keringat ekrin akibat pembengkakan keratin dan debris seluler pada duktus.
Keringat tidak dapat keluar ke permukaan kulit sehingga terjadi retensi keringat di dalam epidermis atau dermis.
Terjadi ruptur duktus keringat sehingga keringat bocor ke jaringan sekitar dan memicu reaksi inflamasi lokal.
Kedalaman sumbatan menentukan bentuk klinis, yaitu miliaria kristalina (superfisial tanpa inflamasi), miliaria rubra (epidermal dengan inflamasi dan pruritus), dan miliaria profunda (dermal dengan inflamasi minimal).
Paparan berulang, terutama pada miliaria rubra, dapat menyebabkan kerusakan duktus berulang yang berlanjut menjadi miliaria profunda.¹-⁵,⁸
Anamnesis
Keluhan ruam kecil muncul setelah berkeringat, terutama pada kondisi panas atau lembap.
Rasa gatal atau sensasi panas (prickling), khas pada miliaria rubra akibat inflamasi.
Keluhan timbul setelah aktivitas fisik, demam, atau paparan panas yang meningkatkan produksi keringat.
Riwayat penggunaan pakaian tebal, ketat, atau tidak menyerap keringat yang menyebabkan oklusi kulit.
Pada bayi, terdapat riwayat lingkungan panas atau penggunaan pakaian berlapis.²-⁶
Pemeriksaan Fisik
Predileksi
Leher dan tengkuk
Dada dan punggung
Lipatan kulit (aksila, lipat paha)
Area yang mudah berkeringat dan tertutup pakaian.¹,²
Efloresensi
Miliaria kristalina: vesikel kecil bening tanpa eritema
Miliaria rubra: papul atau vesikel eritematosa disertai inflamasi
Miliaria profunda: papul berwarna kulit, lebih dalam, tanpa tanda radang.¹,²,³,⁴,⁷
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis klinis. Berdasarkan anamnesis khas (paparan panas dan keringat) serta temuan efloresensi berupa vesikel atau papul kecil pada area predileksi, sehingga umumnya tidak memerlukan pemeriksaan tambahan.
Biopsi kulit (jarang dilakukan). Digunakan pada kasus atipikal atau meragukan diagnosis, dengan prinsip pemeriksaan histopatologi yang menunjukkan obstruksi duktus kelenjar ekrin dan retensi keringat.
Pemeriksaan tambahan lain. Umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi atau dermatosis lain yang menyerupai miliaria.¹,²,⁵,⁸
Diagnosis Banding¹,²,³,¹¹
| Diagnosis | Perbedaan dengan Miliaria |
|---|---|
| Varisela (cacar air) | Vesikel dengan berbagai stadium (makula, papul, vesikel, krusta) disertai gejala sistemik (demam, malaise). |
| Folikulitis | Lesi berupa pustula pada folikel rambut, sering disertai tanda infeksi bakteri. |
| Erupsi obat morbiliformis | Ruam makulopapular difus, biasanya muncul setelah konsumsi obat tertentu, tanpa hubungan dengan keringat. |
| Campak (morbili) | Ruam makulopapular disertai demam tinggi, batuk, konjungtivitis, dan bercak Koplik. |
| Dermatitis kontak | Lesi sesuai area paparan alergen/iritan, sering disertai batas tegas dan riwayat kontak. |
| Urtikaria | Lesi berupa wheal yang hilang timbul cepat (<24 jam) dan tidak berkaitan dengan keringat. |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Menghindari paparan panas dan kelembapan tinggi untuk menurunkan produksi keringat.
Menempatkan pasien pada lingkungan sejuk dan berventilasi baik guna mempercepat evaporasi keringat.
Menggunakan pakaian longgar, tipis, dan menyerap keringat untuk mencegah oklusi kulit.
Menjaga kulit tetap kering dan bersih untuk mencegah sumbatan duktus kelenjar keringat.²-⁵
Farmakologis
Prinsip terapi
Antihistamin untuk mengurangi pruritus.
Kortikosteroid topikal ringan untuk inflamasi (miliaria rubra).
Antipruritik topikal (kalamin/mentol) untuk efek menenangkan.
Preparat pengering (bedak) untuk mengurangi kelembapan kulit.
Terapi Bersifat simptomatik: mengurangi gejala dan mencegah perburukan.¹-⁴,¹⁰
| Golongan | Obat | Dosis/Frekuensi | Indikasi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|---|
| Antipruritik topikal | Kalamin lotion ± mentol | 2–3×/hari | Gatal ringan pada miliaria | Memberikan efek menenangkan dan sensasi dingin pada kulit |
| Preparat pengering | Bedak salisil 2% | 2×/hari | Lesi lembap/area lipatan | Menyerap kelembapan dan mengurangi maserasi kulit |
| Kortikosteroid topikal ringan | Hidrokortison 1% krim | 1–2×/hari | Miliaria rubra dengan inflamasi | Anti-inflamasi dengan menghambat mediator inflamasi |
| Antihistamin oral | CTM, loratadin, cetirizine | Sesuai dosis standar | Pruritus sedang–berat | Antagonis reseptor H1 menurunkan sensasi gatal |
Komplikasi
Infeksi bakteri sekunder. Terjadi akibat garukan pada lesi sehingga memudahkan masuknya bakteri seperti Staphylococcus aureus.
Miliaria profunda kronik. Paparan panas berulang dapat menyebabkan kerusakan duktus keringat lebih dalam dan berulang.
Gangguan termoregulasi (jarang). Pada kasus luas, obstruksi kelenjar keringat dapat mengganggu pengeluaran keringat.
Ketidaknyamanan dan gangguan kualitas hidup. Pruritus dan sensasi panas menyebabkan gangguan aktivitas dan tidur.¹-⁶
Prognosis
Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam. Miliaria merupakan kondisi kulit jinak dan tidak mengancam jiwa.
Ad functionam (terhadap fungsi): bonam. Umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi organ, hanya ketidaknyamanan sementara.
Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam. Lesi biasanya membaik cepat setelah menghindari panas dan kelembapan, serta jarang meninggalkan sekuela.¹-³
Edukasi
Hindari lingkungan panas dan lembap untuk mencegah produksi keringat berlebih.
Gunakan pakaian longgar, tipis, dan menyerap keringat.
Jaga kulit tetap kering dan bersih, terutama pada area lipatan.
Hindari pakaian terlalu tebal atau oklusif yang menghambat evaporasi keringat.
Tidak menggaruk lesi untuk mencegah infeksi sekunder.
Jelaskan bahwa kondisi ini bersifat sementara dan akan membaik setelah faktor pencetus dihindari.¹-⁵
Kriteria Rujukan
Diagnosis tidak jelas atau atipikal sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Lesi tidak membaik setelah terapi konservatif dan penghindaran faktor pencetus.
Miliaria luas atau berat, terutama dengan inflamasi signifikan (miliaria rubra berat).
Terdapat infeksi sekunder seperti pustula atau tanda infeksi bakteri.
Kecurigaan diagnosis lain seperti varisela, dermatitis kontak, atau penyakit kulit lain yang menyerupai.¹-⁶