Kandidosis Mukokutan [3A].

Kandidosis Mukokutan [3A].


Nama Lain :Chronic mucocutaneous candidiasis, mucocutaneous candidiasis, moniliasis mukokutan, kandidiasis mukosa dan kulit.¹,²,⁶


Definisi

Kandidosis mukokutan adalah infeksi kronik oleh Candida spp. yang melibatkan kulit, kuku, dan mukosa. Kondisi ini sering berkaitan dengan gangguan imunitas seluler, sehingga bersifat persisten dan sulit sembuh.¹,²,⁶


Epidemiologi

Kandidosis mukokutan merupakan kondisi yang jarang dan sering berkaitan dengan gangguan imunitas seluler.¹,²,⁶

Kondisi ini dapat muncul sejak masa kanak-kanak, terutama pada bentuk kronik yang berhubungan dengan defek imun genetik.²

Kondisi ini lebih sering ditemukan pada individu dengan imunokompromais, seperti HIV atau kelainan endokrin.³,⁶

Tidak ada distribusi geografis yang khas, tetapi infeksi Candida lebih mudah terjadi pada lingkungan lembap dan hangat


Etiologi

Candida albicans merupakan penyebab utama kandidosis mukokutan.¹,²,⁶.

Spesies lain, seperti Candida glabrata dan Candida tropicalis, dapat ditemukan pada sebagian kasus.²,⁶.

Infeksi terjadi akibat proliferasi Candida yang tidak terkontrol pada jaringan mukokutan.²,⁶.


Faktor Risiko

Imunokompromais, seperti HIV, yang menurunkan kontrol terhadap infeksi Candida.²,⁶

Gangguan imunitas seluler (defek sel T) yang menyebabkan infeksi kronik dan persisten.²,⁶

Kelainan endokrin, seperti diabetes mellitus, atau sindrom autoimun yang berkaitan dengan kandidosis kronik.²,⁶

Penggunaan obat imunosupresan atau kortikosteroid jangka panjang.³,⁶

Kondisi kronik yang menurunkan daya tahan tubuh sehingga mempermudah proliferasi Candida


Klasifikasi

Kandidiosis mukokutan pada kuku, wajah, dan cavum oris (Fink dkk, 2024)
Kandidiosis mukokutan pada kuku, wajah, dan cavum oris (Fink dkk, 2024)

Kandidosis Mukokutan Kronik

Infeksi Candida yang persisten dan rekuren

Melibatkan kulit, kuku, dan mukosa

Sering muncul sejak usia dini

Berkaitan dengan gangguan imunitas seluler (defek sel T)

Lesi sulit sembuh meskipun sudah diterapi

Sering memerlukan terapi sistemik jangka panjang.¹,²,⁶

Kandidosis Mukosa

Mengenai mukosa, seperti rongga mulut, genital, dan esofagus.

Lesi berupa plak putih yang dapat dikerok.

Dasar lesi tampak eritematosa dan dapat berdarah.

Dapat disertai rasa nyeri atau terbakar.

Sering berkaitan dengan kondisi imunokompromais atau penggunaan antibiotik.¹,²

Kandidosis Kutis Luas (Ekstensi Mukokutan)

Kandidiosis diseminata pada pasien AML, tampak papul dan nodul eritema pada tangan dengan pustulasi sentral (Kang dkk, 2019)
Kandidiosis diseminata pada pasien AML, tampak papul dan nodul eritema pada tangan dengan pustulasi sentral (Kang dkk, 2019)

Infeksi kulit yang meluas di luar area intertriginosa

Lesi berupa plak eritem lembap dengan lesi satelit

Sering rekuren dan sulit dikontrol

Berkaitan dengan kondisi sistemik seperti diabetes mellitus atau imunosupresi.²,⁶

Dapat menjadi tanda adanya gangguan imunitas yang mendasari


Patofisiologi

Candida yang merupakan flora normal dapat berubah menjadi patogen ketika kontrol sistem imun terganggu.¹,²,⁶

Terjadi defek pada imunitas seluler (sel T) sehingga respons terhadap Candida menjadi tidak adekuat.²,⁶

Jamur berproliferasi dan bertransformasi menjadi bentuk invasif (pseudohifa) yang menembus epitel.¹,⁴

Invasi pada mukosa dan kulit memicu pelepasan sitokin proinflamasi yang menyebabkan eritem dan kerusakan jaringan.²,⁶

Kegagalan eliminasi jamur menyebabkan infeksi menjadi kronik dan rekuren dengan keterlibatan luas pada kulit, kuku, dan mukosa.²


Anamnesis

Lesi kronik dan rekuren pada kulit, mukosa, atau kuku karena eliminasi Candida yang tidak adekuat.¹,²

Keluhan pada mukosa, seperti plak putih di mulut yang dapat dikerok, disertai nyeri atau rasa terbakar.¹

Keluhan pada kulit berupa ruam lembap di lipatan, atau lesi yang meluas akibat proliferasi jamur.²

Riwayat infeksi berulang sejak usia dini yang mengarah pada gangguan imunitas.²,⁶

Riwayat penyakit atau kondisi yang menyebabkan imunokompromais, seperti HIV atau gangguan endokrin.²,⁶


Pemeriksaan Fisik

Predileksi

Mukosa: rongga mulut, genital, dan esofagus karena lingkungan lembap mendukung pertumbuhan Candida

Kulit: area intertriginosa seperti aksila, inframammae, lipat paha, dan perianal.²

Kuku: lipatan kuku dan lempeng kuku pada kasus kronik.²


Efloresensi

Pada mukosa tampak plak putih yang dapat dikerok dengan dasar eritematosa akibat invasi Candida

Pada kulit tampak plak eritematosa lembap dengan maserasi akibat inflamasi dan kelembapan.²

Ditemukan lesi satelit berupa papul atau pustul kecil di sekitar lesi utama sebagai tanda khas kandidiasis.²

Pada kuku tampak eritem, edema, serta kerusakan jaringan periungual akibat infeksi kronik.²


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan KOH 10–20% dilakukan untuk mengonfirmasi infeksi. Prinsipnya adalah melarutkan keratin agar elemen jamur dapat terlihat, dengan hasil berupa pseudohifa dan blastospora khas Candida.¹,⁴

Preparat KOH Kandidiasis menunjukkan pseudohifa dan blastospora (Kang dkk, 2019)
Preparat KOH Kandidiasis menunjukkan pseudohifa dan blastospora (Kang dkk, 2019)

Kultur jamur bertujuan untuk mengidentifikasi spesies Candida. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menumbuhkan jamur pada media khusus, dengan hasil berupa koloni Candida spp..²,⁶

Pemeriksaan tambahan, seperti darah lengkap atau evaluasi imun, dilakukan pada kasus kronik untuk menilai kondisi sistemik. Pemeriksaan ini dapat menemukan adanya gangguan imunitas yang mendasari.²,⁶


Dasar Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya plak putih pada mukosa atau lesi lembap dengan lesi satelit pada kulit yang bersifat kronik dan rekuren, serta dapat dikonfirmasi melalui pemeriksaan KOH. ¹,²


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan Kandidosis Mukokutan
Tinea (dermatofitosis)Lesi berbatas tegas dengan tepi aktif dan KOH menunjukkan hifa.
EritrasmaFluoresensi merah koral pada lampu Wood tanpa pseudohifa.
Psoriasis inversaLesi eritem pada lipatan tanpa lesi satelit.
Dermatitis kontakRiwayat pajanan iritan/alergen tanpa temuan jamur pada KOH.
Leukoplakia (mukosa)Plak putih tidak dapat dikerok.
Lichen planus oralLesi putih dengan pola retikular tanpa plak yang mudah dilepas.

Penatalaksanaan

Terapi bertujuan mengeradikasi Candida, mengendalikan inflamasi, dan mengatasi faktor predisposisi. Pendekatan sistemik dipertimbangkan pada kasus kronik atau luas.²,³,⁶

Nonfarmakologis

Menjaga area tetap kering dan bersih untuk menghambat pertumbuhan jamur.²

Mengurangi kelembapan dan friksi pada kulit.¹

Mengontrol penyakit dasar seperti diabetes mellitus.²,⁶


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Eradikasi Candida dengan antijamur sebagai terapi utama.²,³,⁶

Pemilihan terapi berdasarkan derajat dan luas lesi (lokal vs sistemik).³

Terapi topikal menjadi lini pertama pada lesi terbatas.²

Terapi sistemik diperlukan pada kasus kronik, luas, rekuren, atau imunokompromais.³,⁶

Terapi diberikan dengan durasi yang adekuat untuk mencegah kekambuhan.²

Kombinasikan terapi dengan koreksi faktor predisposisi untuk hasil yang optimal.²,⁶

Antijamur Topikal

GolonganObat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Azol topikalKlotrimazol 1%, mikonazol 2% (krim/gel)2×/hari selama 2–4 mingguMenghambat sintesis ergosterol
PolienNistatin (krim/suspensi oral)2–4×/hariMerusak membran sel jamur

Antijamur Sistemik (Khas Mukokutan / Kronik)

GolonganObat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Azol sistemikFlukonazol 100–200 mg1×/hari selama 2–4 minggu atau lebihMenghambat sintesis ergosterol
Azol sistemikItrakonazol 100–200 mg1–2×/hariMenghambat enzim sitokrom P450 jamur

Terapi simptomatik

GolonganObat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
AntihistaminCetirizine 10 mg, loratadin 10 mg (tablet)1×/hariMenghambat reseptor H1 sehingga mengurangi pruritus
Antihistamin sedatifCTM 4 mg (tablet)2–3×/hariAntagonis H1 dengan efek sedatif untuk mengurangi gatal dan meningkatkan kenyamanan tidur
Analgesik (bila nyeri)Parasetamol 500 mg3–4×/hariMenghambat sintesis prostaglandin sehingga mengurangi nyeri

Komplikasi

Infeksi kronik persisten terjadi akibat kegagalan sistem imun dalam mengeradikasi Candida, sehingga lesi menetap dan sulit sembuh.²,⁶

Infeksi sekunder bakteri dapat terjadi akibat kerusakan barier kulit dan mukosa, sehingga kolonisasi bakteri lebih mudah terjadi.²

Keterlibatan luas mukokutan dapat terjadi pada kondisi imunokompromais, sehingga infeksi menyebar ke kulit, kuku, dan mukosa secara bersamaan.²,⁶

Kandidiasis sistemik (jarang) dapat terjadi pada pasien dengan imunosupresi berat akibat penyebaran hematogen Candida.⁶

Gangguan kualitas hidup dapat berupa nyeri, gatal, dan gangguan makan (pada lesi oral) akibat inflamasi kronik.¹


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena umumnya tidak mengancam jiwa, kecuali pada kondisi imunokompromais berat yang berisiko berkembang menjadi infeksi sistemik.²,⁶.

Ad functionam (terhadap fungsi): dubia ad bonam, karena keterlibatan mukosa dan kuku dapat menyebabkan gangguan fungsi, seperti nyeri atau gangguan makan, tetapi umumnya reversibel dengan terapi.².

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad malam, karena penyakit bersifat kronik dan rekuren, terutama pada gangguan imunitas, sehingga sulit mencapai penyembuhan total.²,⁶.


Edukasi

Menjelaskan bahwa penyakit bersifat kronik dan rekuren, sehingga memerlukan terapi jangka panjang serta kepatuhan yang baik.²

Menjaga kebersihan dan memastikan kulit tetap kering, terutama pada area lipatan, untuk mencegah pertumbuhan Candida

Menghindari faktor predisposisi, seperti kelembapan berlebih, penggunaan pakaian ketat, dan higiene yang buruk.²

Mengontrol penyakit dasar, seperti diabetes mellitus, atau kondisi lain yang menurunkan daya tahan tubuh.²,⁶

Menggunakan obat sesuai anjuran dan tidak menghentikan terapi sebelum waktunya, untuk mencegah kekambuhan.²

Segera kontrol atau dirujuk bila lesi meluas, tidak membaik, atau sering kambuh, sebagai tanda kemungkinan gangguan imunitas.²,⁶


Kriteria Rujukan

Kasus kronik dan rekuren yang tidak membaik dengan terapi awal di layanan primer.²,⁶

Lesi luas dengan keterlibatan kulit, kuku, dan mukosa secara bersamaan

Kecurigaan adanya gangguan imunitas seluler atau penyakit sistemik yang mendasari.²,⁶

Pasien dengan kondisi imunokompromais, seperti HIV atau penyakit kronik lainnya.²,⁶

Tidak respons terhadap terapi topikal maupun terapi sistemik awal

Kecurigaan komplikasi, seperti kandidiasis sistemik atau infeksi sekunder berat.⁶


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, dkk. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill; 2019.

3.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi di Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

4.

Hylwa SA, Liu J. Pocket Dermatology. New York: Springer; 2020.

5.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

6.

StatPearls Publishing. Candidiasis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024.

7.

Pappas PG, dkk. Clinical Practice Guideline for the Management of Candidiasis. Clinical Infectious Diseases. 2020.