Kandidiasis Kutis.

Kandidiasis Kutis.

Definisi

Kandidiasis kutis adalah infeksi Candida pada kulit superfisial, terutama di area lembap dan intertriginosa, yang terjadi akibat proliferasi Candida sebagai flora normal yang berubah menjadi patogen oportunistik pada kondisi tertentu, seperti kelembapan dan gangguan barier kulit. ¹,²


Klasifikasi

1.

Kandidiasis intertriginosa

Kandidiosis intertriginosa dengan papul eritema konfluen dan lesi satelit A. Pada inguinal dengan keterlibatan skrotum; B. Pada area inframammae (Kang dkk, 2019)
Kandidiosis intertriginosa dengan papul eritema konfluen dan lesi satelit A. Pada inguinal dengan keterlibatan skrotum; B. Pada area inframammae (Kang dkk, 2019)

Infeksi Candida pada area lipatan kulit (intertriginosa) yang lembap dan tertutup, seperti aksila, inframammae, inguinal, intergluteal, dan lipatan abdomen.¹,³

Terjadi akibat kelembapan, maserasi, dan friksi yang merusak barier kulit sehingga mempermudah invasi Candida.²,⁶

Predileksi khas: daerah dengan oklusi dan keringat tinggi, terutama pada obesitas atau higiene kurang.¹,²

Efloresensi utama:

Plak eritematosa lembap

Maserasi dan erosi superfisial

Batas tidak tegas

Lesi satelit berupa papul/pustula kecil di sekitar lesi utama (khas).³,⁴

Dapat disertai gatal, nyeri, atau rasa terbakar, terutama bila terjadi erosi.²

Pada kasus lanjut dapat muncul fisura dan eksudat, meningkatkan risiko infeksi sekunder bakteri.³,⁵

Korelasi klinis: lingkungan lembap memicu Candida berubah ke bentuk pseudohifa/hifa invasif, sehingga menimbulkan inflamasi dan lesi satelit.³,⁸


2.

Kandidiasis diaper (diaper dermatitis kandida)

Kandidiosis diaper (Kang dkk, 2019)
Kandidiosis diaper (Kang dkk, 2019)

Infeksi Candida pada area popok bayi, terutama pada kondisi lingkungan lembap, tertutup, dan iritasi oleh urin serta feses. ²,⁴

Sering terjadi setelah dermatitis popok iritan yang mempermudah kolonisasi Candida. ¹,³

Predileksi khas: area popok meliputi bokong, perineum, lipatan paha, dan genital, dengan keterlibatan lipatan (ciri penting pembeda). ²,⁴

Efloresensi utama:

Eritem luas dan intens

Plak lembap dengan batas tidak tegas

Lesi satelit berupa papul atau pustula di pinggir lesi (khas). ¹,³,⁴

Dapat disertai maserasi, erosi, dan iritabilitas bayi akibat rasa tidak nyaman. ²

Korelasi klinis: oklusi popok menyebabkan kelembapan dan peningkatan pH kulit, yang memicu transformasi Candida menjadi bentuk invasif dan memperberat inflamasi. ³,⁶


3.

Kandidiasis paronikia dan onikia

A. Paronikia kronis akibat Candida albicans dengan edema dan eritema dari jaringan periungual dan onikolisis; B. Paronikia berat yang telah menyebar ke lempeng (onikomikosis)
A. Paronikia kronis akibat Candida albicans dengan edema dan eritema dari jaringan periungual dan onikolisis; B. Paronikia berat yang telah menyebar ke lempeng (onikomikosis)

Infeksi Candida yang mengenai lipatan kuku (paronikia) dan dapat meluas ke lempeng kuku (onikia).³,⁶

Sering terjadi pada individu dengan paparan air kronis, seperti pekerja rumah tangga, petani, atau tenaga kesehatan.²,⁵

Faktor predisposisi: trauma berulang pada kuku, kelembapan, penggunaan deterjen, serta kondisi imunokompromi.¹,³

Predileksi khas:

Paronikia pada lipatan kuku jari tangan (tersering)

Dapat meluas ke **kuku (onikomikosis kandida)**²,⁴

Efloresensi utama:

Eritem dan edema pada lipatan kuku

Nyeri tekan

Dapat keluar nanah bila terjadi infeksi sekunder

Pada keterlibatan kuku: distrofia kuku, perubahan warna, dan onikolisis³,⁶

Ciri khas dibanding dermatofitosis kuku adalah adanya inflamasi pada jaringan sekitar kuku (periungual).²,⁵

Korelasi klinis: kelembapan kronis menyebabkan kerusakan barier kutikula sehingga Candida lebih mudah menginvasi jaringan periungual dan lempeng kuku.³,⁸


4.

Kandidiasis interdigital (erosio interdigitalis blastomycetica)

Kandidiosis interdigital menunjukkan plak eritema dengab erosi pada area interdigital (Kang dkk, 2019)
Kandidiosis interdigital menunjukkan plak eritema dengab erosi pada area interdigital (Kang dkk, 2019)

Infeksi Candida pada sela jari tangan atau kaki, terutama pada area yang sering lembap dan terpapar air.²,⁵

Sering ditemukan pada individu dengan pekerjaan basah seperti pencuci piring, petani, atau pekerja rumah tangga.³,⁷

Faktor predisposisi: kelembapan kronik, maserasi, trauma mikro, dan higiene kurang.¹,²

Predileksi khas:

Sela jari tangan (terutama jari III–IV)

Dapat juga pada sela jari kaki²,⁵

Efloresensi utama:

Maserasi putih keabu-abuan

Erosi dangkal dengan dasar eritematosa

Plak lembap dengan batas kurang tegas

Kadang disertai fisura dan nyeri²,³,⁴

Lesi tampak seperti kulit “basah” dan terkelupas, khas akibat maserasi kronik.³

Korelasi klinis: paparan air terus-menerus menyebabkan kerusakan stratum korneum, sehingga Candida mudah berkolonisasi dan berkembang menjadi bentuk invasif.³,⁸


5. Kandidiasis kutis diseminata

Kandidiosis diseminata pada pasien AML, tampak papul dan nodul eritema pada tangan dengan pustulasi sentral (Kang dkk, 2019)
Kandidiosis diseminata pada pasien AML, tampak papul dan nodul eritema pada tangan dengan pustulasi sentral (Kang dkk, 2019)

Bentuk kandidiasis kutis yang luas dan menyebar. Kondisi ini biasanya merupakan bagian dari kandidiasis sistemik (diseminasi hematogen).¹,⁷

Terjadi terutama pada pasien dengan imunokompromais berat, seperti HIV/AIDS, keganasan, pasien ICU, atau penggunaan imunosupresan.²,⁶

Faktor predisposisi: kandidemia, penggunaan kateter intravena, antibiotik spektrum luas, dan kondisi kritis.²,⁶

Predileksi: lesi dapat muncul di seluruh permukaan kulit dan tidak terbatas pada lipatan.¹,³

Efloresensi utama:

Papul eritematosa

Pustula atau nodul

Dapat berkembang menjadi lesi nekrotik atau ulseratif pada kasus berat.¹,⁴,⁷

Lesi kulit sering merupakan manifestasi sekunder dari penyebaran sistemik, bukan infeksi primer kulit.²

Korelasi klinis: Candida masuk ke aliran darah, lalu menyebar ke kulit, sehingga muncul lesi inflamasi multipel sebagai tanda kandidemia.³,⁸


Daftar Pustaka

5.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

6.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, dkk. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill; 2019.

7.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

8.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

9.

Shimizu H. Shimizu's Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.

10.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.

11.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

12.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, dkk., editor. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.