Kandidiasis Intertrigenosa [4].

Kandidiasis Intertrigenosa [4].


Nama Lain: Kandidiasis kutis, kandidiasis intertrigo, cutaneous candidiasis, intertriginous candidiasis, moniliasis kutis


Definisi

Kandidiasis intertriginosa adalah infeksi jamur superfisial oleh Candida spp. yang terutama mengenai area lipatan kulit (intertriginosa), ditandai oleh eritema, maserasi, dan lesi satelit khas pada lingkungan lembap.¹,²,³


Epidemiologi

Lebih sering terjadi di daerah tropis dan lembap karena kondisi tersebut mendukung pertumbuhan Candida.¹,⁴.

Dapat mengenai semua usia, tetapi lebih sering pada bayi (diaper rash) dan lansia.²,⁶.

Insidensi meningkat pada pasien dengan diabetes mellitus dan kondisi imunokompromais.³,⁸.

Sering terjadi pada individu dengan kelembapan kronis di lipatan kulit, seperti obesitas atau hiperhidrosis.¹,².

Merupakan salah satu infeksi jamur superfisial tersering pada area intertriginosa.¹,³.


Etiologi

Candida albicans merupakan penyebab tersering infeksi. ¹,³

Spesies lain yang dapat berperan adalah Candida glabrata, Candida tropicalis, Candida krusei, Candida parapsilosis. ²,⁸

Candida merupakan flora normal pada kulit, mukosa mulut, saluran cerna, dan genital, tetapi dapat menjadi patogen pada kondisi tertentu. ³,⁵

Infeksi bersifat oportunistik dan muncul ketika terdapat gangguan barier kulit atau penurunan imunitas host. ³,⁸


Faktor Risiko

Kelembapan dan maserasi kulit pada area lipatan (intertriginosa).¹,²

Obesitas, hiperhidrosis, dan pakaian ketat atau oklusi yang meningkatkan gesekan dan kelembapan.²,⁶

Faktor mekanis: trauma, friksi, balutan tertutup.

Faktor nutrisi: defisiensi vitamin A, C, dan besi, malnutrisi.

Perubahan fisiologis: bayi, lansia, kehamilan, menstruasi.²,⁶

Penyakit sistemik: diabetes mellitus, CKD, keganasan, sindrom Down, imunodefisiensi (HIV/AIDS).³,⁸

Faktor iatrogenik: penggunaan antibiotik, kortikosteroid, imunosupresan, kemoterapi, kontrasepsi oral, pemasangan kateter, rawat inap lama.²,⁶


Patofisiologi

Candida spp. merupakan flora normal pada kulit dan mukosa, tetapi dapat menjadi patogen ketika terjadi gangguan barier kulit atau penurunan imunitas host.¹,³.

Kelembapan, maserasi, dan oklusi meningkatkan hidrasi stratum korneum sehingga mempermudah adhesi Candida ke keratinosit melalui protein adhesin, misalnya ALS (agglutinin-like sequence proteins).³,⁵.

Candida albicans mengalami dimorfisme menjadi bentuk hifa atau pseudohifa. Perubahan ini merupakan faktor virulensi utama untuk invasi jaringan.³,⁸.

Jamur menghasilkan enzim hidrolitik seperti secreted aspartyl proteinase (SAP) dan fosfolipase, yang menyebabkan kerusakan jaringan dan membantu penetrasi stratum korneum.³,⁵.

Aktivasi sistem imun lokal terjadi melalui pengenalan oleh pattern recognition receptors (PRRs), seperti TLR (Toll-like receptor) dan Dectin-1, yang memicu pelepasan sitokin proinflamasi (IL-1, IL-6, TNF-α).³,⁸.

Respon inflamasi ini menyebabkan eritem, edema, dan maserasi, serta penyebaran lokal yang membentuk lesi satelit khas akibat autoinokulasi mikro.²,⁶.

Pada kondisi imunitas seluler terganggu (Th1/Th17), kontrol terhadap Candida menurun sehingga infeksi menjadi lebih luas, kronik, dan rekuren.³,⁸.


Anamnesis

Gatal (pruritus) merupakan keluhan utama akibat inflamasi kulit.¹,²

Dapat disertai nyeri atau rasa terbakar, terutama bila terjadi erosi atau maserasi.

Kemerahan pada daerah lipatan atau area lembap, seperti ketiak, lipat paha, dan inframammae.

Keluhan sering memburuk pada kondisi berkeringat, panas, atau lembap.

Riwayat faktor predisposisi, seperti diabetes mellitus, obesitas, penggunaan antibiotik atau steroid, atau kelembapan kronis.


Pemeriksaan Fisik

Kandidiosis intertriginosa dengan papul eritema konfluen dan lesi satelit A. Pada inguinal dengan keterlibatan skrotum; B. Pada area inframammae (Kang dkk, 2019)
Kandidiosis intertriginosa dengan papul eritema konfluen dan lesi satelit A. Pada inguinal dengan keterlibatan skrotum; B. Pada area inframammae (Kang dkk, 2019)

Predileksi: Area intertriginosa (lipatan kulit) seperti aksila, inframammae, lipat paha, intergluteal, dan interdigital. Dapat mengenai skrotum dan penis, sehingga membantu membedakan dari dermatofitosis.¹,²

Efloresensi:

Plak eritematosa lembap dengan batas tidak tegas.¹,³

Maserasi pada permukaan kulit akibat kelembapan.¹,²

Lesi satelit berupa papul atau pustul kecil di sekitar lesi utama (khas).²,³

Lesi dapat mengalami erosi dengan permukaan basah/mengkilap.¹,³

Pada kasus berat dapat ditemukan fissura dan nyeri tekan.²,⁶


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan KOH 10–20% dilakukan sebagai pemeriksaan utama dengan prinsip melarutkan keratin. Hasil khas berupa budding yeast (seperti angka 8) dan pseudohifa (seperti untaian sosis).¹,⁴,⁹

Preparat KOH Kandidiasis menunjukkan pseudohifa dan blastospora (Kang dkk, 2019)
Preparat KOH Kandidiasis menunjukkan pseudohifa dan blastospora (Kang dkk, 2019)

Kultur jamur digunakan untuk identifikasi spesies Candida, terutama pada kasus atipikal atau refrakter. Spesimen harus baru dan dapat ditanam pada beberapa media berikut:

Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan kloramfenikol + gentamisin

Mycobiotic/Mycosel (SDA + kloramfenikol + sikloheksimid)

Cornmeal agar dengan Tween 80 untuk melihat morfologi (pseudohifa/blastospora)

CHROMagar Candida untuk identifikasi spesies berdasarkan warna koloni Hasil kultur biasanya positif dalam 2–5 hari, tetapi sensitivitas tidak selalu tinggi sehingga pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan.³,⁸.

Pemeriksaan glukosa darah dianjurkan untuk mendeteksi diabetes mellitus sebagai faktor predisposisi penting.²,⁶.


Dasar Diagnosis


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis Utama
Dermatofitosis (tinea cruris/intertrigo)Lesi annular dengan tepi aktif meninggi dan central healing, tidak ada lesi satelit.¹,²
EritrasmaPlak coklat kemerahan, tidak ada lesi satelit, lampu Wood fluoresensi merah koral.²,⁶
Dermatitis seboroikEritema dengan skuama kuning berminyak, sering mengenai wajah/kulit kepala.³,⁵
Psoriasis inversaPlak eritem batas tegas, skuama minimal, sering ada lesi di tempat lain.⁴,⁷
Intertrigo non-infeksiEritema pada lipatan akibat gesekan/kelembapan, tanpa pustula satelit dan KOH negatif.²,³

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Menjaga area lipatan tetap kering dan bersih.²,⁴

Menghindari kelembapan berlebih serta pakaian ketat


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Menggunakan antijamur (terutama golongan azol) untuk eradikasi Candida dengan menghambat sintesis ergosterol membran jamur.¹,⁴

Terapi topikal sebagai lini pertama pada kasus ringan–lokal.²

Terapi sistemik diberikan bila lesi luas, berat, atau pada pasien imunokompromais.²,⁶

Pengobatan harus dilanjutkan 1–2 minggu setelah lesi klinis sembuh untuk mencegah rekurensi.¹,⁴

Mengombinasikan terapi dengan perbaikan faktor predisposisi (kelembapan, higiene) untuk meningkatkan keberhasilan terapi jangka panjang.²,³


Topikal

Golongan ObatObat & SediaanDosis / Cara PakaiFarmakodinamik
Azol topikalMikonazol krim 2%Dioleskan 2 kali sehari selama 2 sampai 4 minggu, dilanjutkan 1 sampai 2 minggu setelah sembuhMenghambat sintesis ergosterol membran jamur.¹,⁴
Azol topikalKetokonazol krim 2%Dioleskan 2 kali sehari selama 2 sampai 4 minggu hingga eradikasiMenghambat enzim sitokrom P450 jamur sehingga merusak membran sel.¹,⁴

Sistemik

Lesi luas atau multipel yang melibatkan area intertriginosa yang luas.¹,²

Tidak responsif terhadap terapi topikal setelah penggunaan yang adekuat.²,⁴

Infeksi berat atau inflamasi signifikan

Pasien imunokompromais, seperti diabetes mellitus, HIV, atau penggunaan imunosupresan.²,⁶

Rekurensi atau kronik akibat faktor predisposisi yang menetap.¹,³

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Azol sistemikKetokonazol tablet 200 mg200 mg sekali sehari selama 1 sampai 2 mingguMenghambat sintesis ergosterol membran jamur.²,⁶
Azol sistemikItrakonazol kapsul 100 mg200 mg per hari selama 7 hariMenghambat enzim sitokrom P450 jamur sehingga mengganggu membran sel.³,⁸

Prognosis

Ad vitam (kehidupan): bonam, karena kandidiasis intertriginosa merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.¹,²

Ad functionam (fungsi): bonam, fungsi kulit tidak terganggu permanen bila ditangani dengan baik.²,³

Ad sanationam (kesembuhan): bonam, dengan terapi adekuat dapat sembuh sempurna, namun dapat menjadi dubia ad bonam bila faktor predisposisi, seperti kelembapan atau diabetes, tidak dikontrol sehingga mudah kambuh.¹,⁴


Edukasi

Menjaga area lipatan tetap kering dan bersih untuk mencegah pertumbuhan jamur.¹,²

Menghindari kelembapan berlebih, pakaian ketat, dan bahan yang tidak menyerap keringat.²,³

Mengganti pakaian dalam secara rutin dan memilih bahan katun yang menyerap keringat

Mengontrol faktor predisposisi seperti diabetes mellitus dan obesitas.¹,⁴

Menggunakan obat secara teratur dan sampai tuntas, meskipun gejala sudah membaik.¹,³

Menyadari bahwa penyakit dapat kambuh bila faktor risiko tidak dikontrol.²,⁴


Kriteria Rujukan

Lesi luas, berat, atau tidak membaik dengan terapi topikal adekuat.¹,²

Kecurigaan diagnosis lain atau gambaran klinis atipikal.²,³

Pasien imunokompromais berat seperti HIV/AIDS, keganasan, atau penggunaan imunosupresan jangka panjang.²,⁴

Infeksi berulang atau kronik yang tidak terkontrol meskipun terapi sudah sesuai.¹,³

Diperlukan terapi sistemik lanjutan atau evaluasi faktor predisposisi kompleks.²,⁴


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

3.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2019.

4.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

5.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. New Delhi: Jaypee; 2016.

6.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.

7.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

8.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.

9.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2017.

10.

Oakley A. Dermatology Made Easy. London: Scion Publishing; 2017.

11.

Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, et al., editors. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. 2nd ed. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.

12.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, et al., editors. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.