Kandidiasis.

Kandidiasis.

Definisi

Kandidiasis adalah infeksi jamur oportunistik yang disebabkan oleh genus Candida, terutama Candida albicans, yang dapat mengenai kulit, mukosa, dan organ sistemik, terutama pada kondisi imunitas atau barier kulit yang terganggu.¹,²


Klasifikasi

Berdasarkan lokasi dan manifestasi klinis, kandidiasis diklasifikasikan sebagai berikut.

1. Kandidiasis kutis (cutaneous candidiasis)

Infeksi Candida pada kulit superfisial, terutama di area lembap dan lipatan (intertriginosa).¹,³

Terjadi akibat kelembapan, maserasi, dan gangguan barier kulit yang memicu perubahan Candida menjadi patogen oportunistik.²,⁶

Predileksi: lipatan bawah payudara, aksila, lipatan abdomen, inguinal, interdigital, dan area popok.¹,²

Efloresensi utama:

Plak eritematosa lembap

Maserasi dan erosi

Lesi satelit berupa papul/pustula kecil (khas).²,⁴

Dapat disertai gatal, nyeri, atau rasa terbakar pada area lesi.²

Variasi klinis meliputi kandidiasis intertriginosa, diaper rash, dan paronikia kandida.¹,³

Secara patofisiologi terjadi transformasi Candida menjadi pseudohifa/hifa yang meningkatkan adhesi dan invasi ke kulit.³,⁸

2. Kandidiasis mukokutan (mucocutaneous candidiasis)

Kandidiosis mukokutan pada kuku, wajah, dan cavum oris (Fink dkk, 2024)
Kandidiosis mukokutan pada kuku, wajah, dan cavum oris (Fink dkk, 2024)

Infeksi Candida yang mengenai kulit dan mukosa secara bersamaan, dengan keterlibatan yang lebih luas dibanding kandidiasis kutis biasa.¹,⁵

Terjadi akibat gangguan imunitas pejamu, terutama pada defek imun seluler (T-cell mediated immunity), sehingga infeksi menjadi persisten atau rekuren.²,⁶

Contoh klinis utama:

Oral thrush (plak putih pada mukosa mulut)

Vulvovaginal candidiasis (keputihan, pruritus, eritem)

Balanitis kandida (eritem dan erosi pada glans penis).¹,²

Predileksi: mukosa oral, genital, serta dapat meluas ke kulit sekitar (perioral, perineal).³,⁵

Efloresensi:

Mukosa: plak putih yang dapat dikerok meninggalkan erosi

Kulit: eritem lembap dengan lesi satelit

Dapat disertai fisura, erosi, dan nyeri.²,⁴

Sering berkaitan dengan kondisi predisposisi seperti diabetes mellitus, HIV/AIDS, penggunaan antibiotik/steroid, kehamilan, dan malnutrisi.²,⁶

Pada bentuk kronik, kondisi ini dapat berkembang menjadi chronic mucocutaneous candidiasis, yang ditandai infeksi persisten pada kulit, kuku, dan mukosa akibat defek imun spesifik terhadap Candida.³,⁸


3. Kandidiasis mukosa (mucosal candidiasis)

Infeksi Candida yang terbatas pada permukaan mukosa tanpa keterlibatan kulit secara luas. ¹,³

Terjadi ketika keseimbangan flora normal terganggu atau terjadi penurunan imunitas lokal, sehingga Candida berkembang berlebihan. ²,⁶

Lokasi utama (predileksi):

Mukosa oral (oropharyngeal candidiasis / thrush)

Esofagus

Mukosa genital (vagina, glans penis). ¹,²

Efloresensi khas:

Plak putih seperti susu atau keju yang dapat dikerok

Setelah dikerok tampak erosi atau dasar eritematosa

Dapat disertai inflamasi, edema, dan rasa nyeri. ²,⁴

Gejala klinis:

Mulut: rasa tidak nyaman, nyeri, atau gangguan menelan

Genital: pruritus, nyeri, dan sekresi abnormal

Esofagus: odinofagia dan disfagia. ²,⁵

Faktor predisposisi meliputi penggunaan antibiotik, steroid inhalasi, diabetes mellitus, kehamilan, dan imunokompromais. ²,⁶


4. Kandidiasis sistemik (invasif)

Infeksi Candida yang menyebar ke organ dalam atau aliran darah (kandidemia) merupakan bentuk yang paling berat.¹,⁷

Terjadi akibat diseminasi hematogen, biasanya dari sumber kolonisasi seperti saluran cerna, kulit, atau kateter intravena.²,⁶

Faktor risiko utama:

Imunokompromais (HIV/AIDS, keganasan, transplantasi)

Perawatan ICU, penggunaan ventilator

Kateter intravena, nutrisi parenteral

Antibiotik spektrum luas jangka panjang.²,⁶

Organ yang dapat terlibat:

Darah (kandidemia)

Ginjal, hati, limpa

Jantung (endokarditis)

Otak dan mata (endophthalmitis).¹,³

Manifestasi klinis:

Demam persisten yang tidak responsif terhadap antibiotik

Tanda sepsis

Gejala spesifik sesuai organ yang terlibat.²,⁵

Mortalitas tinggi bila tidak segera ditangani, sehingga memerlukan diagnosis dan terapi sistemik cepat (antijamur intravena).¹,⁷


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

3.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2019.

4.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

5.

Shimizu H. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.

6.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.

7.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

8.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, et al., editors. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.