
Hidradenitis Supuratif [3A].
Nama Lain : Acne inversa, Verneuil’s disease
Definisi
Hidradenitis supuratif (HS) adalah penyakit inflamasi kronik pada unit folikel rambut yang ditandai oleh nodul nyeri, abses berulang, sinus tract, dan jaringan parut pada area lipatan kulit.¹,²
Etiologi
Oklusi folikel rambut akibat hiperkeratosis sebagai proses awal utama.
Ruptur folikel yang memicu pelepasan isi folikel ke dermis.
Disregulasi sistem imun dengan inflamasi kronik.
Kolonisasi atau infeksi bakteri sekunder yang memperberat inflamasi.
Faktor genetik dan hormonal yang memengaruhi kerentanan individu.²-⁵
Faktor Risiko
Obesitas, meningkatkan gesekan dan inflamasi pada lipatan kulit.
Merokok, berhubungan dengan peningkatan keparahan dan kekambuhan.
Riwayat keluarga, menunjukkan predisposisi genetik.
Jenis kelamin perempuan, insidensi lebih tinggi dibanding laki-laki.
Usia dewasa muda (pasca pubertas), berkaitan dengan faktor hormonal.²,³,⁴,⁵,⁶,⁷,⁹
Faktor Pencetus
Gesekan kulit berulang pada area lipatan seperti aksila dan inguinal.
Oklusi kulit akibat pakaian ketat atau kelembapan tinggi.
Keringat berlebih yang memperburuk kondisi folikel.
Stres dan perubahan hormonal yang dapat memicu kekambuhan.
⭐ Iritasi atau trauma lokal pada kulit, seperti bercukur atau menggunakan deodorant.²-⁷
Epidemiologi
Prevalensi hidradenitis supuratif sekitar 1% populasi umum.
Lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria.
Usia onset biasanya remaja akhir hingga dewasa muda.
Faktor risiko utama meliputi obesitas dan merokok.
Beberapa studi juga menunjukkan adanya komponen genetik familial pada sebagian pasien hidradenitis supuratif.²-⁷,⁹
Klasifikasi
Klasifikasi yang sering digunakan adalah Hurley staging.
Hurley stadium I
Nodul inflamasi atau abses tunggal/multipel
Tidak terdapat sinus tract
Tidak terdapat jaringan parut
Penyakit masih ringan dan episodik
Hurley stadium II
Abses berulang
Terdapat sinus tract
Terdapat jaringan parut
Lesi terpisah (tidak saling berhubungan)
Hurley stadium III
Lesi luas pada satu area
Sinus tract multipel saling berhubungan
Jaringan parut difus
Dapat menyebabkan deformitas dan gangguan fungsi
Klasifikasi ini digunakan untuk menentukan tingkat keparahan dan pilihan terapi.³,⁸
Patofisiologi
Oklusi folikel rambut akibat hiperkeratosis merupakan proses awal utama.
Terjadi dilatasi folikel rambut akibat akumulasi keratin dan debris.
Folikel yang melebar memicu respons inflamasi dengan infiltrasi sel imun.
Lingkungan folikel yang tertutup mendukung pertumbuhan bakteri sekunder.
Terjadi ruptur folikel rambut, sehingga isi folikel menyebar ke dermis.
Menyebabkan inflamasi luas dan supurasi (pembentukan abses).
Proses kronik berlanjut menjadi ulkus dan pembentukan sinus tract.
Penyembuhan berulang menyebabkan fibrosis dan jaringan parut permanen.²-⁶,⁸
Anamnesis
Benjolan nyeri pada lipatan kulit seperti aksila atau inguinal.
Lesi sering kambuh dan berulang.
Kadang terdapat keluarnya nanah dari lesi.
Riwayat obesitas atau kebiasaan merokok dapat ditemukan.³-⁷
Pemeriksaan Fisik


Predileksi
Aksila (lokasi tersering)
Inguinal dan lipatan paha
Perineum dan perianal
Inframammae (submammae) pada wanita
Gluteal dan intergluteal.¹-³
Efloresensi
Nodul inflamasi nyeri. Lesi awal berupa benjolan subkutan yang nyeri dan dalam.
Abses. Lesi dapat berkembang menjadi kumpulan pus yang nyeri.
Drainase purulen. Dapat ditemukan cairan berbau dari lesi yang pecah.
Sinus tract (saluran fistel). Saluran di bawah kulit yang menghubungkan lesi satu dengan lainnya pada fase kronik.
Jaringan parut (skar/fibrosis). Terbentuk akibat proses inflamasi kronik berulang.
Komedo ganda (double comedones). Lesi khas berupa dua lubang folikel yang berdekatan.¹-⁶
Keterangan
Lesi bersifat kronik dan rekuren, sering muncul pada lokasi yang sama.
Temuan nodul nyeri berulang + sinus tract + skar pada area lipatan sangat khas untuk hidradenitis supuratif.¹-⁴
Pemeriksaan Penunjang
Kultur bakteri dari lesi dalam (bukan permukaan), untuk mengidentifikasi infeksi bakteri sekunder; umumnya ditemukan flora campuran seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Streptococcus, Proteus mirabilis, dan Pseudomonas aeruginosa, bukan penyebab utama penyakit.
Ultrasonografi (USG kulit), membantu mendeteksi abses tersembunyi dan sinus tract yang tidak tampak secara klinis serta menilai kedalaman lesi.
MRI jaringan lunak, digunakan pada kasus kompleks untuk menilai luas keterlibatan jaringan dan sistem sinus yang dalam.
Biopsi kulit (jarang dilakukan), pada kasus meragukan; menunjukkan oklusi keratin folikel, dilatasi duktus, destruksi unit pilosebasea/apokrin, inflamasi kronik, fibrosis dermis, dan hiperplasia pseudoepiteliomatosa.
Pemeriksaan laboratorium tambahan, tidak spesifik, namun dapat membantu menilai derajat inflamasi sistemik atau komorbid pada kasus berat.³-⁸,¹⁰
Dasar Diagnosis
Diagnosis hidradenitis supuratif (HS) ditegakkan secara klinis berdasarkan kombinasi tiga kriteria utama berikut:
Lesi khas
Nodul inflamasi nyeri
Abses berulang
Sinus tract (saluran fistel)
Jaringan parut (skar)
Lokasi khas
Area lipatan dengan kelenjar apokrin seperti aksila, inguinal, perineum, perianal, gluteal, dan inframammae
Sifat kronik dan rekuren
Lesi berulang minimal 2 kali dalam 6 bulan atau menetap pada lokasi yang sama.¹,²
Diagnosis Banding¹-⁸
| Diagnosis | Perbedaan utama dengan Hidradenitis Supuratif |
|---|---|
| Furunkel / karbunkel | Infeksi akut folikel rambut oleh bakteri, lesi tunggal, tidak kronik, tidak ada sinus tract atau jaringan parut luas. |
| Kista epidermoid | Nodul subkutan dengan isi keratin, tidak inflamasi kronik, biasanya tidak nyeri kecuali terinfeksi. |
| Acne conglobata | Lesi nodul dan abses pada wajah, dada, punggung; tidak terbatas pada area lipatan apokrin. |
| Pilonidal disease | Lokasi khas di sakrokoksigeal, sering terdapat sinus, tetapi distribusi terbatas dan berbeda dari HS. |
| Limfadenitis | Pembesaran kelenjar getah bening, lebih dalam, tanpa keterlibatan folikel dan tanpa sinus tract kronik. |
| Folikulitis | Lesi pustul superfisial pada folikel rambut, tidak membentuk abses besar atau jaringan parut kronik. |
| Cutaneous tuberculosis / skrofuloderma | Lesi kronik dengan sinus, tetapi biasanya disertai gejala sistemik dan etiologi infeksi spesifik. |
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis
Menurunkan berat badan pada pasien obesitas.
Menghentikan kebiasaan merokok.
Menjaga kebersihan area lipatan kulit.⁶,⁷,⁸
Farmakologis
Prinsip terapi :
Antibiotik (antiinflamasi dan antibakteri) lini utama
Retinoid menurunkan hiperkeratosis folikel
Kortikosteroid mengontrol inflamasi akut
Imunomodulator atau biologik untuk kasus sedang–berat
Antibiotik tambahan bila ada infeksi sekunder
| Golongan | Obat | Dosis/Frekuensi | Indikasi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|---|
| Kortikosteroid intralesi | Triamcinolone | 3–5 mg/mL intralesi | Nodul/abses akut nyeri | Menekan mediator inflamasi dan respons imun lokal |
| Tindakan + farmakologis | Insisi & drainase + antibiotik | sesuai kondisi | Abses akut | Evakuasi pus disertai penurunan beban bakteri dan inflamasi |
| Antibiotik sistemik | Eritromisin | 4×250–500 mg | HS ringan–sedang | Menghambat sintesis protein bakteri dan memiliki efek antiinflamasi |
| Minosiklin | 2×100 mg | Alternatif lini awal | Menekan sitokin proinflamasi dan aktivitas neutrofil | |
| Klindamisin + rifampisin | 2×300 mg + 2×300 mg | HS sedang–berat / rekuren | Menghambat sintesis protein dan RNA bakteri serta efek antiinflamasi | |
| Kortikosteroid sistemik | Prednison | ±70 mg/hari, tapering | Inflamasi berat | Menghambat fosfolipase A2 sehingga menurunkan prostaglandin dan leukotrien |
| Retinoid sistemik | Isotretinoin | sesuai berat badan | Kasus awal | Menormalkan keratinisasi folikel dan menurunkan produksi sebum |
| Topikal | Klindamisin 1% | 2×/hari | Lesi ringan | Antibakteri lokal dan menurunkan inflamasi |
Operatif
Insisi dan drainase (I&D), untuk abses akut yang nyeri, bertujuan mengeluarkan pus serta mengurangi tekanan dan nyeri.
Eksisi lokal terbatas, mengangkat lesi atau nodul tunggal pada HS ringan–sedang untuk mencegah kekambuhan lokal.
Eksisi luas (wide excision), pada HS kronik atau Hurley II–III, mengangkat seluruh jaringan yang terkena, termasuk sinus tract.
Deroofing (unroofing), membuka sinus tract kronik dengan mempertahankan jaringan sehat, efektif pada lesi rekuren.
Laser (misalnya laser CO₂ atau Nd:YAG), menghancurkan folikel rambut dan mengurangi inflamasi kronik.¹-⁵
Komplikasi
Jaringan parut dan fibrosis luas, akibat inflamasi kronik berulang yang merusak jaringan kulit
Pembentukan sinus tract kronik, saluran abnormal menetap yang sulit sembuh dan sering rekuren
Infeksi bakteri sekunder, terutama oleh Staphylococcus aureus akibat kerusakan barrier kulit
Kontraktur dan keterbatasan gerak, terutama pada area aksila atau inguinal karena jaringan parut
Fistula (misalnya perianal), pada kasus berat dengan perluasan inflamasi ke jaringan dalam
Karsinoma sel skuamosa (jarang), komplikasi jangka panjang pada lesi kronik terutama di area anogenital
Gangguan psikososial, nyeri kronik, bau, dan drainase lesi menyebabkan penurunan kualitas hidup.¹-⁵
Prognosis
Ad vitam: bonam, tidak mengancam jiwa karena HS merupakan penyakit inflamasi kronik kulit, bukan penyakit sistemik fatal)
Ad functionam: dubia ad bonam, dapat mengganggu fungsi terutama pada area lipatan seperti aksila/inguinal akibat nyeri, abses, dan jaringan parut, namun dapat membaik dengan terapi.
Ad sanationam: dubia ad malam, cenderung kronik dan rekuren karena proses inflamasi berulang, pembentukan sinus tract, dan fibrosis sehingga sulit sembuh total.¹-³
Edukasi
Penyakit bersifat kronik dan kambuhan, lesi dapat muncul berulang meskipun sudah diobati
Hindari faktor risiko utama, seperti merokok dan obesitas karena memperberat inflaasi dan kekambuhan
Jaga kebersihan area lipatan kulit, untuk mencegah infeksi sekunder dan iritasi
Gunakan pakaian longgar dan menyerap keringat, untuk mengurangi gesekan dan oklusi pada kulit
Hindari trauma atau gesekan berulang pada area lesi, karena dapat memicu peradangan baru
Kepatuhan terapi sangat penting, pengobatan jangka panjang diperlukan untuk mengontrol penyakit
Segera kontrol bila muncul benjolan nyeri baru, untuk mencegah progresi menjadi abses atau sinus tract.¹-⁴
Kriteria Rujukan
Hurley stadium II–III, terdapat abses berulang, sinus tract, dan jaringan parut luas yang memerlukan tata laksana spesialis
Tidak membaik dengan terapi lini pertama 4–6 minggu, membutuhkan evaluasi lanjutan dan terapi kombinasi atau biologik
Lesi luas atau progresif cepat, risiko komplikasi lebih tinggi dan membutuhkan pendekatan multidisiplin
Nyeri berat atau abses berulang, memerlukan tindakan operatif atau terapi intensif
Kecurigaan komplikasi berat, seperti fistula, infeksi luas, atau karsinoma sel skuamosa
Lokasi sulit atau kompleks, misalnya anogenital atau perianal yang memerlukan penanganan khusus.¹-⁵