Furunkel dan Karbunkel [4].

Furunkel dan Karbunkel [4].


Nama Lain :

Furunkel : Bisul, boil, furuncle, deep folliculitis.¹,²,⁷

Karbunkel : carbuncle, multiple furuncle, coalescent furuncle.¹,²,⁷


Definisi

Furunkel adalah peradangan pada satu folikel rambut beserta jaringan sekitarnya yang membentuk abses, dan umumnya disebabkan oleh Staphylococcus aureus.

Karbunkel adalah peradangan pada beberapa folikel rambut yang saling berhubungan, dengan keterlibatan jaringan sekitar hingga jaringan subkutan.¹,²,⁷


Epidemiologi

Furunkel dan karbunkel merupakan infeksi kulit yang cukup sering dijumpai di layanan primer, terutama pada orang dewasa

Kejadian lebih tinggi pada lingkungan dengan iklim panas dan lembap yang meningkatkan kolonisasi bakteri.³

Predileksi pada area dengan gesekan dan produksi keringat tinggi, seperti leher, aksila, wajah, dan gluteus.¹

Risiko meningkat pada individu dengan diabetes mellitus, obesitas, dan kondisi imunosupresi.²,⁶


Etiologi

Penyebab utama adalah infeksi Staphylococcus aureus.²,³,⁷

Infeksi bermula dari folikel rambut yang mengalami kolonisasi bakteri, kemudian meluas ke jaringan sekitar.²

Faktor predisposisi meliputi diabetes mellitus, higiene kulit yang buruk, dan kondisi imunosupresi.²,⁶


Faktor Risiko

Diabetes mellitus yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri.²

Imunosupresi, baik akibat penyakit maupun penggunaan obat.²

Higiene kulit yang buruk yang mempermudah kolonisasi bakteri.²

Oklusi dan gesekan kulit, seperti pakaian ketat atau aktivitas fisik.²

Keringat berlebih yang menciptakan lingkungan lembap untuk pertumbuhan bakteri.³


Patofisiologi

Infeksi diawali dengan kolonisasi Staphylococcus aureus pada folikel rambut yang memiliki faktor virulensi, seperti adhesin dan enzim proteolitik.²,³

Bakteri memicu aktivasi sistem imun bawaan melalui pelepasan sitokin proinflamasi, seperti IL-1 dan TNF-α.²

Rekrutmen neutrofil menyebabkan fagositosis bakteri serta pelepasan enzim yang berkontribusi terhadap kerusakan jaringan.²,⁷

Akumulasi neutrofil, bakteri, dan debris membentuk abses yang dikenal sebagai furunkel.²

Pada infeksi yang meluas dan menyatu, terbentuk karbunkel dengan keterlibatan jaringan dermis hingga subkutan serta drainase pus multipel.²,⁷


Anamnesis

Nyeri lokal yang progresif, akibat proses inflamasi dan peningkatan tekanan karena pembentukan abses.²

Benjolan yang membesar dan terasa hangat, akibat akumulasi pus di jaringan.²

Dapat disertai demam, terutama pada karbunkel, akibat respons sistemik terhadap infeksi.²,⁷

Riwayat lesi serupa sebelumnya, terkait kolonisasi Staphylococcus aureus atau faktor risiko yang menetap.²

Riwayat penyakit seperti diabetes mellitus atau imunosupresi yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.²,⁶


Pemeriksaan Fisik

Furunkel multipel (Saavedra dkk, 2019)
Furunkel multipel (Saavedra dkk, 2019)
Karbunkel (Kang dkk, 2019)
Karbunkel (Kang dkk, 2019)

Predileksi

Area dengan banyak folikel rambut dan gesekan tinggi, seperti leher, wajah, aksila, dan gluteus.¹

Lebih sering pada area dengan keringat berlebih dan oklusi, yang mempermudah terjadinya infeksi.²

Efloresensi

Furunkel

Lesi berupa nodul eritematosa yang nyeri dan berkembang menjadi abses dengan fluktuasi.¹

Dapat ditemukan pusat nekrosis atau pustul sebagai tanda infeksi folikel yang dalam.²

Karbunkel

Lesi berupa plak inflamasi luas dengan konsistensi keras dan nyeri.¹

Terdapat multipel lubang drainase yang mengeluarkan pus akibat penyatuan beberapa abses.²

Dapat disertai tanda sistemik, seperti demam, pada kasus berat.²


Pemeriksaan Penunjang

Kultur pus dilakukan untuk identifikasi mikroorganisme penyebab. Prinsipnya adalah isolasi bakteri dari lesi, dan hasil tersering menunjukkan Staphylococcus aureus.³,⁷

Pemeriksaan gula darah bertujuan mendeteksi faktor risiko. Prinsipnya adalah pengukuran kadar glukosa darah, dan hasil dapat menunjukkan hiperglikemia pada pasien dengan diabetes mellitus.⁶

Pemeriksaan tambahan (jarang) seperti darah lengkap dilakukan pada kasus berat. Prinsipnya adalah evaluasi respons inflamasi sistemik, dan hasil dapat menunjukkan leukositosis.⁷


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan furunkel dan karbunkel
FolikulitisLesi lebih superfisial berupa pustul tanpa abses dalam.
Abses kulitTidak selalu berasal dari folikel rambut dan lebih difus.
Kista epidermoidLesi kronis tanpa tanda inflamasi akut kecuali terinfeksi.
ImpetigoLesi superfisial dengan krusta madu, tanpa nodul dalam.
Hidradenitis supuratifLokasi khas di area apokrin dengan lesi kronis dan sinus tract.

Penatalaksanaan

Prinsip Terapi

Terapi bertujuan mengeluarkan pus, mengeradikasi infeksi, serta mencegah penyebaran ke jaringan sekitar.²,⁵

Nonfarmakologis

Kompres hangat untuk mempercepat maturasi abses dan drainase spontan.²

Menjaga kebersihan kulit untuk mencegah penyebaran infeksi.²

Menghindari manipulasi atau memencet lesi.²


Farmakologis

Topikal

Kondisi LesiGolonganObat dan SediaanDosisFarmakodinamik
Lesi basah/kotorAntiseptikNaCl 0,9% / povidon iodin 1% (larutan)Kompres 2–3×/hariMembersihkan debris dan menurunkan jumlah mikroorganisme
Lesi bersihAntibiotik topikalAsam fusidat 2% (salep/krim)2–3×/hariMenghambat elongasi faktor G pada sintesis protein bakteri
Lesi bersihAntibiotik topikalMupirocin 2% (salep/krim)2–3×/hariMenghambat isoleucyl-tRNA synthetase pada bakteri
GolonganObat dan SediaanDosisFarmakodinamik
Penisilin anti-stafilokokusKloksasilin (kapsul 250–500 mg; sirup 125–250 mg/5 mL)25–50 mg/kgBB/hariMenghambat sintesis dinding sel bakteri
Sefalosporin generasi 1Sefaleksin (kapsul 250–500 mg; sirup 125–250 mg/5 mL)25–50 mg/kgBB/hariMenghambat pembentukan peptidoglikan
Aminopenisilin + inhibitor β-laktamaseAmoksisilin-klavulanat (tablet 500 mg; sirup)25–45 mg/kgBB/hariMenghambat sintesis dinding sel bakteri

Terapi Pembedahan

Insisi dan drainase merupakan terapi utama pada furunkel dan karbunkel yang telah membentuk abses, dengan tujuan mengeluarkan pus dan mengurangi tekanan jaringan.²

Indikasi tindakan meliputi lesi fluktuatif, nyeri, atau tidak membaik dengan terapi konservatif.²

Teknik dilakukan dengan melakukan insisi pada bagian paling lunak, diikuti drainase pus dan pembersihan rongga abses.²

Pada karbunkel, tindakan sering kali lebih luas karena keterlibatan jaringan yang lebih dalam dan multipel.²


Komplikasi

Selulitis terjadi akibat penyebaran infeksi ke jaringan subkutan, sehingga menimbulkan inflamasi difus pada kulit.²

Sepsis dapat terjadi pada infeksi berat, terutama pada pasien dengan imunosupresi, akibat masuknya bakteri ke sirkulasi darah.²,⁷

Skar (jaringan parut) terjadi akibat destruksi jaringan pada proses inflamasi yang dalam.²

Rekurensi dapat terjadi bila faktor risiko, seperti kolonisasi bakteri atau penyakit penyerta, tidak teratasi.²


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena infeksi umumnya bersifat lokal dan jarang mengancam jiwa bila ditangani dengan baik.²,⁷

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena penyembuhan umumnya tidak mengganggu fungsi jaringan secara permanen.²

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam, karena sebagian besar kasus dapat sembuh dengan terapi yang adekuat, meskipun dapat meninggalkan skar.²


Edukasi

Menjaga kebersihan kulit untuk mencegah infeksi berulang.²

Menghindari memencet atau menggaruk lesi karena dapat memperburuk infeksi dan menyebarkan bakteri.²

Menggunakan pakaian longgar untuk mengurangi gesekan dan oklusi pada kulit.²

Mengendalikan penyakit penyerta seperti diabetes mellitus agar risiko infeksi menurun.²,⁶

Segera kembali berobat jika muncul tanda perburukan seperti nyeri hebat, demam, atau lesi membesar.²


Kriteria Rujukan

Karbunkel besar atau lesi luas dengan keterlibatan jaringan dalam.²

Disertai gejala sistemik, seperti demam, malaise, atau tanda sepsis.²,⁷

Tidak membaik dengan terapi awal atau mengalami kekambuhan berulang

Pasien dengan komorbid berat, seperti diabetes yang tidak terkontrol atau imunosupresi.²,⁶

Lokasi berisiko tinggi, seperti wajah (segitiga berbahaya), karena risiko komplikasi serius.²


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Medical; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2019.

3.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J, et al. Pocket Dermatology. Cham: Springer; 2021.

4.

Mikailov A. Dermatology Prescriptions. New York: McGraw-Hill; 2020.

5.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Panduan Praktik Klinis Dermatologi Venereologi Estetika. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

6.

Boediardja SA, Budimulja U, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

7.

National Center for Biotechnology Information (NCBI). Furuncles and Carbuncles. Dalam: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024.