Folikulitis Superfisial [4] dan Profunda [2].

Folikulitis Superfisial [4] dan Profunda [2].


Nama Lain : Folliculitis, bacterial folliculitis, superficial folliculitis, deep folliculitis, sycosis barbae.¹,²,⁸


Definisi

Folikulitis merupakan peradangan pada folikel rambut akibat infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, yang ditandai dengan pustul perifolikular yang berpusat pada batang rambut.¹,²,⁸


Epidemiologi

Folikulitis dapat terjadi pada semua kelompok usia, baik anak maupun dewasa.²

Folikulitis lebih sering ditemukan pada iklim panas dan lembap yang meningkatkan produksi keringat.³

Folikulitis berhubungan dengan oklusi dan gesekan kulit, misalnya penggunaan pakaian ketat atau aktivitas fisik.⁴

Folikulitis lebih sering terjadi pada individu dengan higiene kulit yang kurang baik atau kondisi imunosupresi

Di layanan primer, folikulitis merupakan salah satu infeksi kulit superfisial yang sering ditemukan.⁶


Etiologi

Penyebab tersering adalah infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, yang menginfeksi folikel rambut.¹,²

Infeksi Pseudomonas aeruginosa dapat terjadi setelah paparan air panas dan dikenal sebagai hot tub folliculitis

Infeksi jamur, seperti Malassezia spp., dapat menyebabkan folikulitis pada area dengan produksi sebum tinggi.⁴

Faktor noninfeksi, seperti oklusi, gesekan, dan iritasi kulit, dapat memicu inflamasi folikel.²


Faktor Risiko

Keringat berlebih (hiperhidrosis) yang mempermudah kolonisasi bakteri pada kulit.²

Oklusi kulit, seperti penggunaan pakaian ketat atau bahan yang tidak menyerap keringat.³

Gesekan berulang pada kulit yang menyebabkan mikrotrauma pada folikel rambut.²

Higiene kulit yang kurang baik sehingga meningkatkan risiko infeksi.⁴

Kondisi imunosupresi, seperti diabetes mellitus atau penggunaan obat imunosupresif.²


Klasifikasi

Folikulitis diklasifikasikan berdasarkan kedalaman inflamasi pada folikel rambut sebagai berikut:

Folikulitis superfisial Terbatas pada bagian atas folikel rambut (epidermis), ditandai dengan pustul kecil, umumnya ringan, dan jarang nyeri.¹

Folikulitis profunda Melibatkan bagian dalam folikel rambut hingga dermis, ditandai dengan lesi yang lebih dalam, nyeri, dan dapat berkembang menjadi furunkel atau abses.²


Patofisiologi

Terjadi oklusi atau mikrotrauma pada kulit yang menyebabkan gangguan barier, sehingga mempermudah kolonisasi mikroorganisme pada folikel rambut.¹

Staphylococcus aureus sebagai flora kulit dapat masuk ke dalam folikel rambut dan mengalami proliferasi.²

Infeksi memicu aktivasi sistem imun bawaan dengan pelepasan mediator inflamasi (sitokin) dan rekrutmen neutrofil.²

Akumulasi neutrofil, debris sel, dan mikroorganisme membentuk pustul perifolikular sebagai lesi khas folikulitis.¹

Pada folikulitis profunda, proses inflamasi meluas hingga dermis, sehingga terjadi destruksi dinding folikel, pembentukan nodul atau abses, serta nyeri yang lebih berat.²


Anamnesis

Muncul pustul kecil pada kulit berambut akibat inflamasi pada folikel rambut yang terinfeksi. ¹

Keluhan gatal atau nyeri ringan disebabkan oleh respons inflamasi lokal dan pelepasan mediator inflamasi. ²

Lesi dapat bertambah banyak berkaitan dengan autoinokulasi akibat garukan atau penyebaran infeksi ke folikel sekitar. ²

Riwayat oklusi atau gesekan, seperti pakaian ketat atau aktivitas fisik, dapat menimbulkan mikrotrauma pada folikel rambut. ¹

Riwayat paparan air panas, seperti kolam atau whirlpool, dapat mengarah pada infeksi Pseudomonas. ³

Riwayat penyakit sistemik atau imunosupresi meningkatkan kerentanan terhadap infeksi kulit. ²


Folikulitis superfisial pada aksila (Saavedra dkk, 2023)
Folikulitis superfisial pada aksila (Saavedra dkk, 2023)
Folikulitis profunda pada area bibir atas (sycosis barbae) (Kang dkk, 2019)
Folikulitis profunda pada area bibir atas (sycosis barbae) (Kang dkk, 2019)

Pemeriksaan Fisik

Predileksi

Area dengan banyak folikel rambut, seperti wajah, aksila, ekstremitas, dan gluteus.¹

Pada anak, lesi lebih sering mengenai skalpa, sedangkan pada dewasa sering pada area janggut (sycosis barbae)

Lebih sering pada area dengan oklusi dan gesekan

Efloresensi

Pustul perifolikular pada ostium folikel rambut, sering tampak rambut di tengah sebagai tanda khas.¹

Dikelilingi eritema ringan akibat inflamasi lokal.²

Lesi dapat berupa soliter atau multipel

Pada folikulitis profunda, dapat ditemukan nodul atau abses nyeri akibat inflamasi yang meluas hingga dermis.²


Pemeriksaan Penunjang

Kultur bakteri dilakukan untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab, terutama pada kasus berulang atau tidak respons terapi. Prinsipnya adalah isolasi dan pertumbuhan bakteri dari lesi, dengan hasil tersering ditemukan Staphylococcus aureus.¹,²

Pemeriksaan KOH bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan infeksi jamur. Prinsipnya adalah melarutkan keratin sehingga elemen jamur terlihat, dengan hasil dapat ditemukan Malassezia spp.

Biopsi kulit (jarang diperlukan) dilakukan bila diagnosis meragukan. Prinsipnya adalah evaluasi histopatologi jaringan, dengan hasil menunjukkan inflamasi pada folikel rambut


Dasar Diagnosis

Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan adanya pustul perifolikular dengan rambut di tengah pada area berambut.¹,²


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan Folikulitis
Akne vulgarisTerdapat komedo sebagai lesi primer, tidak khas perifolikular.
FurunkelLesi lebih dalam berupa nodul nyeri akibat infeksi folikel hingga dermis.
ImpetigoLesi berupa krusta madu tanpa keterlibatan folikel rambut.
Dermatitis kontakLesi berupa eritema atau vesikel difus tanpa pustul perifolikular.
Tinea corporisLesi berbentuk annular dengan tepi aktif berskuama akibat infeksi jamur.

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Menjaga kebersihan kulit untuk mengurangi kolonisasi bakteri.²

Menghindari oklusi dan gesekan, misalnya penggunaan pakaian ketat.²

Tidak memencet atau menggaruk lesi untuk mencegah penyebaran infeksi.²

Mengompres hangat untuk membantu drainase pustul.²


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Terapi ditujukan untuk eradikasi mikroorganisme penyebab, terutama bakteri pada folikel rambut.¹,²

Pemilihan obat disesuaikan dengan kedalaman infeksi (superfisial vs profunda).²

Pada kasus ringan (superfisial), antibiotik topikal digunakan sebagai lini pertama.²

Pada kasus yang lebih dalam atau luas, diperlukan antibiotik sistemik untuk mencapai jaringan dermis.²

Terapi juga mempertimbangkan etiologi spesifik, seperti bakteri, jamur, atau gram negatif.²

Folikulitis Superfisial

GolonganObat dan SediaanDosisFarmakodinamik
Antibiotik topikalMupirocin 2% (salep/krim)2–3×/hariMenghambat sintesis protein bakteri
Antibiotik topikalAsam fusidat (krim/salep)2–3×/hariMenghambat elongasi faktor G bakteri

Folikulitis Profunda

GolonganObat dan SediaanDosisFarmakodinamik
Penisilin anti-stafilokokusKloksasilin (kapsul 250 mg, 500 mg; sirup 125 mg/5 mL, 250 mg/5 mL)25–50 mg/kgBB/hariMenghambat sintesis dinding sel bakteri
Sefalosporin generasi 1Sefaleksin (kapsul 250 mg, 500 mg; sirup 125 mg/5 mL, 250 mg/5 mL)25–50 mg/kgBB/hariMenghambat pembentukan peptidoglikan
MakrolidaEritromisin (tablet 250 mg, 500 mg; sirup 125 mg/5 mL, 200 mg/5 mL)30–50 mg/kgBB/hariMenghambat sintesis protein bakteri (50S)
LincosamideKlindamisin (kapsul 150 mg, 300 mg; sirup 75 mg/5 mL)10–30 mg/kgBB/hariMenghambat sintesis protein bakteri (50S)

Catatan

Lini pertama tetap: kloksasilin atau sefaleksin.

Eritromisin digunakan sebagai alternatif pada pasien dengan alergi penisilin.

Klindamisin dipertimbangkan pada kecurigaan MRSA atau kasus berat.

Terapi Pembedahan

Operatif

Insisi dan drainase (I&D) Dilakukan pada lesi berupa abses atau furunkel untuk mengeluarkan pus, mengurangi tekanan, dan mempercepat penyembuhan. Prosedur dilakukan dengan insisi kecil pada area fluktuatif, lalu diikuti drainase isi lesi.²


Komplikasi

Furunkel dan karbunkel terjadi akibat penyebaran infeksi ke jaringan yang lebih dalam sehingga membentuk abses pada folikel rambut dan jaringan sekitarnya.²

Selulitis terjadi akibat penyebaran infeksi ke jaringan subkutan sehingga menimbulkan inflamasi difus pada kulit dan jaringan lunak.²

Skar (jaringan parut) terjadi akibat kerusakan jaringan pada folikulitis profunda yang sembuh dengan fibrosis.²

Rekurensi terjadi akibat faktor risiko, seperti higiene yang buruk atau kolonisasi bakteri yang tidak teratasi.²


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan):* bonam*, karena folikulitis umumnya merupakan infeksi superfisial yang jarang menimbulkan komplikasi sistemik.¹,²

Ad functionam (terhadap fungsi):* bonam*, karena tidak menyebabkan gangguan fungsi organ secara permanen pada kasus tanpa komplikasi.¹

Ad sanationam (terhadap kesembuhan):* bonam*, karena sebagian besar kasus dapat sembuh spontan atau dengan terapi sederhana, meskipun pada kasus berulang dapat terjadi rekuren atau komplikasi lokal.²,³


Edukasi

Menjaga kebersihan kulit dengan mandi teratur. Hindari penggunaan pakaian yang lembap atau kotor untuk mencegah pertumbuhan bakteri.¹.

Hindari menggaruk atau memencet lesi karena dapat memperburuk infeksi dan menyebabkan penyebaran atau jaringan parut.².

Gunakan pakaian yang longgar dan menyerap keringat untuk mengurangi iritasi pada folikel rambut.¹.

Hindari faktor pencetus, seperti gesekan berulang, cukur yang tidak higienis, atau penggunaan produk kulit yang menyumbat pori.².

Gunakan obat sesuai anjuran dan selesaikan terapi untuk mencegah kekambuhan.².

Segera periksakan diri bila lesi meluas, nyeri berat, atau disertai demam sebagai tanda kemungkinan komplikasi.².


Kriteria Rujukan

Lesi yang luas, dalam, atau berulang dan tidak membaik dengan terapi awal di layanan primer.¹,²

Terdapat tanda infeksi berat, seperti abses, selulitis, atau nyeri hebat

Disertai gejala sistemik, seperti demam atau malaise, yang mengarah pada infeksi lebih dalam.²

Terdapat kecurigaan komplikasi, seperti furunkel, karbunkel, atau folikulitis dalam

Pasien dengan kondisi khusus, seperti imunosupresi atau diabetes, yang meningkatkan risiko infeksi berat.²


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Medical; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2019.

3.

Motta A, González LF, García G, et al. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

4.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J, et al. Pocket Dermatology. Cham: Springer; 2021.

5.

Mikailov A. Dermatology Prescriptions. New York: McGraw-Hill; 2020.

6.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Panduan Praktik Klinis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

7.

Boediardja SA, Budimulja U, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

8.

National Center for Biotechnology Information (NCBI). Folliculitis. Dalam: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024.