Eritrasma [3A].
Nama Lain : Eritrasma, erythrasma, Corynebacterial intertrigo, superficial Corynebacterium infection, bacterial intertriginous infection
Definisi
Eritrasma adalah infeksi bakteri superfisial pada stratum korneum oleh Corynebacterium minutissimum yang ditandai dengan plak eritematosa kecoklatan pada area lipatan kulit.¹,²

Epidemiologi
Lebih sering ditemukan pada dewasa, terutama pada kondisi kelembapan tinggi dan higiene kurang.²,⁵,¹³.
Predileksi pada daerah intertriginosa (lipatan), seperti ketiak, lipat paha, dan sela jari, karena lingkungan lembap mendukung pertumbuhan bakteri.¹,³.
Lebih sering pada pasien dengan diabetes melitus, obesitas, dan hiperhidrosis.³,⁵,¹³.
Prevalensi meningkat di daerah tropis, termasuk Indonesia, karena iklim panas dan lembap.¹²,¹³.
Etiologi
Disebabkan oleh Corynebacterium minutissimum, bakteri Gram positif yang merupakan flora normal kulit, tetapi dapat menjadi patogen pada kondisi tertentu.¹,²
Bakteri berkembang pada lingkungan lembap dan hangat (area lipatan) sehingga mempermudah kolonisasi dan menimbulkan infeksi superfisial pada stratum korneum.¹,³,⁵
Produksi porfirin (coproporphyrin III) oleh bakteri berperan dalam terjadinya fluoresensi merah koral pada Wood lamp.²,¹⁴
Faktor Risiko
Kelembapan tinggi dan hiperhidrosis menyebabkan lingkungan ideal untuk pertumbuhan Corynebacterium.¹,³,⁵
Diabetes melitus dan obesitas meningkatkan kolonisasi bakteri dan gangguan barier kulit.³,⁵,¹³
Higiene yang kurang baik mempermudah akumulasi bakteri pada lipatan kulit.²,¹²
Area intertriginosa (lipatan kulit) seperti ketiak dan lipat paha rentan karena gesekan dan kelembapan kronis.¹,³
Imunosupresi menyebabkan penurunan kemampuan tubuh melawan infeksi superfisial.⁵,⁷
Patofisiologi
Corynebacterium minutissimum mengkolonisasi stratum korneum, terutama pada area lembap dan hangat (lipatan kulit).¹,²
Kondisi seperti kelembapan, gesekan, dan higiene buruk menyebabkan pertumbuhan bakteri berlebih sehingga flora normal menjadi patogen.³,⁵
Bakteri menghasilkan porfirin (coproporphyrin III) yang terakumulasi di kulit, tanpa invasi ke jaringan yang lebih dalam.²,¹⁴
Proses ini menimbulkan perubahan warna kulit (eritem kecoklatan) tanpa inflamasi berat, karena infeksi terbatas pada lapisan superfisial.¹,³
Porfirin yang dihasilkan menyebabkan fluoresensi merah koral pada Wood lamp, yang menjadi ciri khas eritrasma.²,¹⁴
Anamnesis
Keluhan bercak kecoklatan pada lipatan kulit (ketiak, lipat paha, sela jari) yang berkembang perlahan akibat kolonisasi bakteri pada stratum korneum di area lembap.¹,²
Biasanya tidak gatal atau hanya gatal ringan karena inflamasi minimal pada infeksi superfisial.¹,³
Lesi sering tidak disadari atau dianggap kotoran kulit karena berwarna kecoklatan dan bersifat kronis tanpa gejala berat.²,⁵
Riwayat keringat berlebih (hiperhidrosis), higiene kurang, atau penggunaan pakaian ketat yang menyebabkan kelembapan lokal meningkat.³,⁵
Riwayat diabetes melitus, obesitas, atau infeksi berulang yang mempermudah pertumbuhan bakteri pada lipatan kulit.³,⁵,¹³
Pemeriksaan Fisik
Predileksi: terutama pada daerah intertriginosa (lipatan), seperti ketiak, lipat paha, dan sela jari kaki, karena area ini lembap dan hangat sehingga mendukung pertumbuhan bakteri.¹,³,⁵
Efloresensi primer: makula atau plak berwarna cokelat kemerahan dengan batas cukup tegas, serta permukaan halus atau sedikit berskuama halus, akibat kolonisasi bakteri pada stratum korneum tanpa inflamasi dalam.¹,²
Lesi tampak kering, tidak menonjol, dan inflamasi minimal, karena infeksi terbatas pada lapisan superfisial kulit.¹,³
Dapat ditemukan skuama halus pada permukaan lesi akibat deskuamasi stratum korneum yang terinfeksi.²,⁴
Pada pemeriksaan Wood lamp tampak fluoresensi merah koral akibat produksi porfirin oleh bakteri.²,¹⁴
Pemeriksaan Penunjang
Lampu Wood. Bertujuan menegakkan diagnosis dengan prinsip deteksi fluoresensi porfirin di kulit menggunakan sinar ultraviolet (365 nm). Hasilnya berupa fluoresensi merah koral khas eritrasma akibat produksi coproporphyrin III.²,¹⁴

Pemeriksaan KOH. Bertujuan menyingkirkan infeksi jamur dengan prinsip pelarutan keratin untuk melihat elemen jamur. Hasil pada eritrasma negatif (tidak ditemukan hifa atau spora).³,⁹.
Pewarnaan Gram (bila perlu). Bertujuan mengidentifikasi bakteri dengan prinsip pewarnaan dinding sel bakteri. Hasil menunjukkan basil Gram positif (Corynebacterium).³,⁵.
Diagnosis Banding
| Diagnosis | Perbedaan Klinis Utama |
|---|---|
| Pityriasis versicolor | Lesi berupa makula hipopigmentasi/hiperpigmentasi dengan skuama halus, fluoresensi kuning kehijauan pada Wood lamp, KOH positif jamur.³,⁹ |
| Dermatomikosis (tinea cruris/intertrigo jamur) | Lesi eritem dengan tepi aktif dan skuama lebih jelas, sering gatal, KOH positif hifa.³,⁹ |
| Dermatitis kontak | Lesi eritem dengan riwayat paparan iritan/alergen, sering disertai vesikel dan pruritus dominan.³,⁹ |
| Intertrigo kandidiasis | Lesi eritem lembap dengan satellite lesions (pustul kecil di perifer), sering pada lipatan basah.³,⁹ |
| Psoriasis inversa | Plak eritem pada lipatan dengan batas tegas tanpa skuama tebal, sering simetris dan kronis.¹,² |
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis
Menjaga kebersihan dan kekeringan area lipatan untuk mengurangi kelembapan yang mendukung pertumbuhan bakteri.²,¹²
Menghindari pakaian ketat dan bahan tidak menyerap keringat, untuk mencegah gesekan dan kelembapan berlebih.³,⁵
Mengontrol faktor predisposisi seperti diabetes melitus dan hiperhidrosis untuk mencegah kekambuhan.³,⁵,¹³
Farmakologis
Prinsip Terapi Farmakologis
Terapi ditujukan untuk eradikasi Corynebacterium minutissimum pada stratum korneum. ¹,²
Pemilihan terapi berdasarkan luas lesi (lokal atau luas). ²,¹¹
Topikal
| Golongan Obat | Obat & Sediaan | Dosis / Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Antibiotik topikal | Asam fusidat krim 2% | 2–3×/hari selama 1–2 minggu | Menghambat sintesis protein bakteri (elongation factor G).⁸ |
| Mupirocin krim 2% | 2–3×/hari selama 1–2 minggu | Menghambat isoleucyl-tRNA synthetase bakteri.⁸ | |
| Antiseptik | Benzoyl peroxide / sabun antibakteri | 1–2×/hari | Mengurangi kolonisasi bakteri pada permukaan kulit.⁷ |
Sistemik
| Golongan Obat | Obat & Sediaan | Dosis / Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|---|
| Makrolida | Eritromisin tablet 250–500 mg | 4×250 mg/hari selama 7–14 hari | Menghambat sintesis protein bakteri (subunit 50S).²,⁷ |
| Makrolida | Klaritromisin tablet 500 mg | 2×500 mg selama 7 hari | Menghambat sintesis protein bakteri.²,⁷ |
Komplikasi
Infeksi sekunder (bakteri atau jamur) dapat terjadi akibat kerusakan barier kulit kronis pada area lipatan, sehingga mempermudah kolonisasi mikroorganisme lain.³,⁹
Intertrigo kronis dapat terjadi akibat kelembapan dan gesekan berulang yang menyebabkan iritasi persisten pada lipatan kulit.¹,³
Rekurensi sering terjadi bila faktor predisposisi tidak teratasi (kelembapan, diabetes melitus, dan higiene buruk).²,⁵,¹³
Hiperpigmentasi pascainflamasi dapat terjadi akibat perubahan pigmen setelah infeksi kronis superfisial.¹,³
Prognosis
Ad vitam (kehidupan): bonam, karena eritrasma merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.¹,²
Ad functionam (fungsi): bonam, karena tidak terjadi kerusakan jaringan dalam, sehingga fungsi kulit tetap baik.¹,³
Ad sanationam (kesembuhan): bonam, karena umumnya sembuh dengan terapi topikal atau sistemik. Prognosis dapat menjadi dubia ad bonam bila faktor predisposisi tidak dikontrol, sehingga terjadi rekurensi.²,⁵,¹³
Edukasi
Menjaga area lipatan tetap kering dan bersih karena kelembapan tinggi memicu pertumbuhan Corynebacterium.²,¹²
Menggunakan pakaian longgar dan menyerap keringat untuk mengurangi gesekan dan kelembapan pada kulit.³,⁵
Menghindari keringat berlebih (hiperhidrosis) serta mengeringkan lipatan setelah mandi atau aktivitas.³,⁵
Mengontrol penyakit komorbid seperti diabetes melitus dan obesitas untuk mencegah kekambuhan.³,⁵,¹³
Menggunakan obat sesuai anjuran dan menyelesaikan terapi, meskipun lesi tampak membaik.²,⁷
Edukasi bahwa penyakit ini tidak berbahaya tetapi mudah kambuh bila faktor risiko tidak dikontrol.²,⁵
Kriteria Rujukan
Tidak respons terhadap terapi dalam 2–4 minggu atau terjadi kekambuhan berulang.²,¹¹
Lesi luas atau atipikal, sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan diagnosis banding lain.²,³
Diagnosis meragukan, terutama bila hasil lampu Wood tidak khas atau terdapat kemungkinan infeksi lain (jamur atau dermatosis).³,⁹
Pasien dengan komorbid berat, seperti diabetes tidak terkontrol atau imunosupresi.³,⁵,¹³
Adanya infeksi sekunder atau komplikasi yang memerlukan tata laksana lebih lanjut.³,⁹
Daftar Pustaka
Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill; 2023.
Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, et al. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill Education; 2019.
Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. Edisi ke-5. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2016.
Shimizu H. Shimizu's Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.
Motta A, González LF, García G, Guzmán J, Prada L, Herrera H, et al. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.
Zappi E, Zappi EA. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2017.
Hylwa SA, Hurliman E, Liu J, Luxenberg E, Boull C. Pocket Dermatology. Cham: Springer; 2021.
Mikailov A, Saavedra AP. Dermatology Prescriptions. New York: McGraw Hill; 2020.
Oakley A. Dermatology Made Easy. Edisi ke-2. London: Scion Publishing; 2017.
Masterpol KS, Primiani A, Duncan LM. Atlas of Essential Dermatopathology. London: Springer; 2013.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Panduan Praktik Klinis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.
Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, et al., editor. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.
Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, Brahmanti H, Yuniaswan AP, Ekasari DP, et al., editor. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.
NCBI Bookshelf. Corynebacterium Infections and Erythrasma. Bethesda: National Institutes of Health; 2022.
