Eritrasma [3A].

Eritrasma [3A].


Nama Lain : Eritrasma, erythrasma, Corynebacterial intertrigo, superficial Corynebacterium infection, bacterial intertriginous infection


Definisi

Eritrasma adalah infeksi bakteri superfisial pada stratum korneum oleh Corynebacterium minutissimum yang ditandai dengan plak eritematosa kecoklatan pada area lipatan kulit.¹,²

Eritrasma pada lipatan paha (Saavedra dkk, 2023)
Eritrasma pada lipatan paha (Saavedra dkk, 2023)

Epidemiologi

Lebih sering ditemukan pada dewasa, terutama pada kondisi kelembapan tinggi dan higiene kurang.²,⁵,¹³.

Predileksi pada daerah intertriginosa (lipatan), seperti ketiak, lipat paha, dan sela jari, karena lingkungan lembap mendukung pertumbuhan bakteri.¹,³.

Lebih sering pada pasien dengan diabetes melitus, obesitas, dan hiperhidrosis.³,⁵,¹³.

Prevalensi meningkat di daerah tropis, termasuk Indonesia, karena iklim panas dan lembap.¹²,¹³.


Etiologi

Disebabkan oleh Corynebacterium minutissimum, bakteri Gram positif yang merupakan flora normal kulit, tetapi dapat menjadi patogen pada kondisi tertentu.¹,²

Bakteri berkembang pada lingkungan lembap dan hangat (area lipatan) sehingga mempermudah kolonisasi dan menimbulkan infeksi superfisial pada stratum korneum.¹,³,⁵

Produksi porfirin (coproporphyrin III) oleh bakteri berperan dalam terjadinya fluoresensi merah koral pada Wood lamp.²,¹⁴


Faktor Risiko

Kelembapan tinggi dan hiperhidrosis menyebabkan lingkungan ideal untuk pertumbuhan Corynebacterium.¹,³,⁵

Diabetes melitus dan obesitas meningkatkan kolonisasi bakteri dan gangguan barier kulit.³,⁵,¹³

Higiene yang kurang baik mempermudah akumulasi bakteri pada lipatan kulit.²,¹²

Area intertriginosa (lipatan kulit) seperti ketiak dan lipat paha rentan karena gesekan dan kelembapan kronis.¹,³

Imunosupresi menyebabkan penurunan kemampuan tubuh melawan infeksi superfisial.⁵,⁷


Patofisiologi

Corynebacterium minutissimum mengkolonisasi stratum korneum, terutama pada area lembap dan hangat (lipatan kulit).¹,²

Kondisi seperti kelembapan, gesekan, dan higiene buruk menyebabkan pertumbuhan bakteri berlebih sehingga flora normal menjadi patogen.³,⁵

Bakteri menghasilkan porfirin (coproporphyrin III) yang terakumulasi di kulit, tanpa invasi ke jaringan yang lebih dalam.²,¹⁴

Proses ini menimbulkan perubahan warna kulit (eritem kecoklatan) tanpa inflamasi berat, karena infeksi terbatas pada lapisan superfisial.¹,³

Porfirin yang dihasilkan menyebabkan fluoresensi merah koral pada Wood lamp, yang menjadi ciri khas eritrasma.²,¹⁴


Anamnesis

Keluhan bercak kecoklatan pada lipatan kulit (ketiak, lipat paha, sela jari) yang berkembang perlahan akibat kolonisasi bakteri pada stratum korneum di area lembap.¹,²

Biasanya tidak gatal atau hanya gatal ringan karena inflamasi minimal pada infeksi superfisial.¹,³

Lesi sering tidak disadari atau dianggap kotoran kulit karena berwarna kecoklatan dan bersifat kronis tanpa gejala berat.²,⁵

Riwayat keringat berlebih (hiperhidrosis), higiene kurang, atau penggunaan pakaian ketat yang menyebabkan kelembapan lokal meningkat.³,⁵

Riwayat diabetes melitus, obesitas, atau infeksi berulang yang mempermudah pertumbuhan bakteri pada lipatan kulit.³,⁵,¹³


Pemeriksaan Fisik

Predileksi: terutama pada daerah intertriginosa (lipatan), seperti ketiak, lipat paha, dan sela jari kaki, karena area ini lembap dan hangat sehingga mendukung pertumbuhan bakteri.¹,³,⁵

Efloresensi primer: makula atau plak berwarna cokelat kemerahan dengan batas cukup tegas, serta permukaan halus atau sedikit berskuama halus, akibat kolonisasi bakteri pada stratum korneum tanpa inflamasi dalam.¹,²

Lesi tampak kering, tidak menonjol, dan inflamasi minimal, karena infeksi terbatas pada lapisan superfisial kulit.¹,³

Dapat ditemukan skuama halus pada permukaan lesi akibat deskuamasi stratum korneum yang terinfeksi.²,⁴

Pada pemeriksaan Wood lamp tampak fluoresensi merah koral akibat produksi porfirin oleh bakteri.²,¹⁴


Pemeriksaan Penunjang

Lampu Wood. Bertujuan menegakkan diagnosis dengan prinsip deteksi fluoresensi porfirin di kulit menggunakan sinar ultraviolet (365 nm). Hasilnya berupa fluoresensi merah koral khas eritrasma akibat produksi coproporphyrin III.²,¹⁴

(https://skinsight-com)
(https://skinsight-com)

Pemeriksaan KOH. Bertujuan menyingkirkan infeksi jamur dengan prinsip pelarutan keratin untuk melihat elemen jamur. Hasil pada eritrasma negatif (tidak ditemukan hifa atau spora).³,⁹.

Pewarnaan Gram (bila perlu). Bertujuan mengidentifikasi bakteri dengan prinsip pewarnaan dinding sel bakteri. Hasil menunjukkan basil Gram positif (Corynebacterium).³,⁵.


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis Utama
Pityriasis versicolorLesi berupa makula hipopigmentasi/hiperpigmentasi dengan skuama halus, fluoresensi kuning kehijauan pada Wood lamp, KOH positif jamur.³,⁹
Dermatomikosis (tinea cruris/intertrigo jamur)Lesi eritem dengan tepi aktif dan skuama lebih jelas, sering gatal, KOH positif hifa.³,⁹
Dermatitis kontakLesi eritem dengan riwayat paparan iritan/alergen, sering disertai vesikel dan pruritus dominan.³,⁹
Intertrigo kandidiasisLesi eritem lembap dengan satellite lesions (pustul kecil di perifer), sering pada lipatan basah.³,⁹
Psoriasis inversaPlak eritem pada lipatan dengan batas tegas tanpa skuama tebal, sering simetris dan kronis.¹,²

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Menjaga kebersihan dan kekeringan area lipatan untuk mengurangi kelembapan yang mendukung pertumbuhan bakteri.²,¹²

Menghindari pakaian ketat dan bahan tidak menyerap keringat, untuk mencegah gesekan dan kelembapan berlebih.³,⁵

Mengontrol faktor predisposisi seperti diabetes melitus dan hiperhidrosis untuk mencegah kekambuhan.³,⁵,¹³


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Terapi ditujukan untuk eradikasi Corynebacterium minutissimum pada stratum korneum. ¹,²

Pemilihan terapi berdasarkan luas lesi (lokal atau luas). ²,¹¹


Topikal

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Antibiotik topikalAsam fusidat krim 2%2–3×/hari selama 1–2 mingguMenghambat sintesis protein bakteri (elongation factor G).⁸
Mupirocin krim 2%2–3×/hari selama 1–2 mingguMenghambat isoleucyl-tRNA synthetase bakteri.⁸
AntiseptikBenzoyl peroxide / sabun antibakteri1–2×/hariMengurangi kolonisasi bakteri pada permukaan kulit.⁷

Sistemik

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
MakrolidaEritromisin tablet 250–500 mg4×250 mg/hari selama 7–14 hariMenghambat sintesis protein bakteri (subunit 50S).²,⁷
MakrolidaKlaritromisin tablet 500 mg2×500 mg selama 7 hariMenghambat sintesis protein bakteri.²,⁷

Komplikasi

Infeksi sekunder (bakteri atau jamur) dapat terjadi akibat kerusakan barier kulit kronis pada area lipatan, sehingga mempermudah kolonisasi mikroorganisme lain.³,⁹

Intertrigo kronis dapat terjadi akibat kelembapan dan gesekan berulang yang menyebabkan iritasi persisten pada lipatan kulit.¹,³

Rekurensi sering terjadi bila faktor predisposisi tidak teratasi (kelembapan, diabetes melitus, dan higiene buruk).²,⁵,¹³

Hiperpigmentasi pascainflamasi dapat terjadi akibat perubahan pigmen setelah infeksi kronis superfisial.¹,³


Prognosis

Ad vitam (kehidupan): bonam, karena eritrasma merupakan infeksi superfisial yang tidak mengancam jiwa.¹,²

Ad functionam (fungsi): bonam, karena tidak terjadi kerusakan jaringan dalam, sehingga fungsi kulit tetap baik.¹,³

Ad sanationam (kesembuhan): bonam, karena umumnya sembuh dengan terapi topikal atau sistemik. Prognosis dapat menjadi dubia ad bonam bila faktor predisposisi tidak dikontrol, sehingga terjadi rekurensi.²,⁵,¹³


Edukasi

Menjaga area lipatan tetap kering dan bersih karena kelembapan tinggi memicu pertumbuhan Corynebacterium.²,¹²

Menggunakan pakaian longgar dan menyerap keringat untuk mengurangi gesekan dan kelembapan pada kulit.³,⁵

Menghindari keringat berlebih (hiperhidrosis) serta mengeringkan lipatan setelah mandi atau aktivitas.³,⁵

Mengontrol penyakit komorbid seperti diabetes melitus dan obesitas untuk mencegah kekambuhan.³,⁵,¹³

Menggunakan obat sesuai anjuran dan menyelesaikan terapi, meskipun lesi tampak membaik.²,⁷

Edukasi bahwa penyakit ini tidak berbahaya tetapi mudah kambuh bila faktor risiko tidak dikontrol.²,⁵


Kriteria Rujukan

Tidak respons terhadap terapi dalam 2–4 minggu atau terjadi kekambuhan berulang.²,¹¹

Lesi luas atau atipikal, sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan diagnosis banding lain.²,³

Diagnosis meragukan, terutama bila hasil lampu Wood tidak khas atau terdapat kemungkinan infeksi lain (jamur atau dermatosis).³,⁹

Pasien dengan komorbid berat, seperti diabetes tidak terkontrol atau imunosupresi.³,⁵,¹³

Adanya infeksi sekunder atau komplikasi yang memerlukan tata laksana lebih lanjut.³,⁹


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, et al. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw Hill Education; 2019.

3.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. Edisi ke-5. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2016.

4.

Shimizu H. Shimizu's Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2017.

5.

Motta A, González LF, García G, Guzmán J, Prada L, Herrera H, et al. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

6.

Zappi E, Zappi EA. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2017.

7.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J, Luxenberg E, Boull C. Pocket Dermatology. Cham: Springer; 2021.

8.

Mikailov A, Saavedra AP. Dermatology Prescriptions. New York: McGraw Hill; 2020.

9.

Oakley A. Dermatology Made Easy. Edisi ke-2. London: Scion Publishing; 2017.

10.

Masterpol KS, Primiani A, Duncan LM. Atlas of Essential Dermatopathology. London: Springer; 2013.

11.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Panduan Praktik Klinis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

12.

Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, et al., editor. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.

13.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, Brahmanti H, Yuniaswan AP, Ekasari DP, et al., editor. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.

14.

NCBI Bookshelf. Corynebacterium Infections and Erythrasma. Bethesda: National Institutes of Health; 2022.