Ektima [4].

Ektima [4].


Nama Lain : Ektima, ecthyma, deep impetigo, ulcerative impetigo, deep bacterial pyoderma


Definisi

Ektima adalah infeksi bakteri kulit yang lebih dalam daripada impetigo dan melibatkan dermis, yang ditandai dengan ulkus dengan krusta tebal serta penyembuhan yang meninggalkan jaringan parut.¹,²

Ektima dengan krusta tebal pada kaki (Saavedra dk, 2023)
Ektima dengan krusta tebal pada kaki (Saavedra dk, 2023)

Epidemiologi

Lebih sering terjadi pada anak-anak dan lansia, terutama pada individu dengan higiene buruk dan kondisi kulit yang tidak terawat. ²,³

Banyak ditemukan di daerah tropis dan lingkungan dengan kepadatan tinggi, karena kelembapan tinggi dan sanitasi yang kurang baik. ³,⁵

Berhubungan dengan status sosial ekonomi rendah, yang meningkatkan risiko infeksi kulit berulang. ⁴,¹²

Lebih sering pada individu dengan imunosupresi, malnutrisi, atau penyakit kronik, yang menurunkan pertahanan kulit terhadap infeksi. ⁵,⁷


Etiologi

Streptococcus pyogenes (utama), dengan kemampuan menginvasi hingga dermis dan menyebabkan nekrosis jaringan.¹,²,³

Staphylococcus aureus sebagai ko-infeksi, terutama pada lesi dengan pembentukan nanah dan destruksi jaringan yang lebih berat.²,³,⁷

Infeksi terjadi melalui pintu masuk seperti luka, abrasi, atau gigitan, yang memungkinkan bakteri masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam.²,⁴


Faktor Risiko dan Pencetus

Higiene buruk dapat menyebabkan akumulasi bakteri dan meningkatkan risiko infeksi kulit.²,³

Trauma kulit (luka, abrasi, gigitan) dapat menjadi pintu masuk bakteri ke dermis.²,⁴

Malnutrisi menurunkan imunitas dan kemampuan penyembuhan jaringan.³,⁵

Imunosupresi atau penyakit kronik menyebabkan penurunan pertahanan tubuh terhadap infeksi.⁵,⁷

Lingkungan padat dan sanitasi buruk mempermudah penularan dan kolonisasi bakteri.⁴,¹²


Patofisiologi

Invasi bakteri (Streptococcus pyogenes ± Staphylococcus aureus) melalui kerusakan kulit menyebabkan infeksi mencapai dermis, sehingga proses inflamasi lebih dalam dibanding impetigo.¹,²

Respons inflamasi dan faktor virulensi bakteri memicu destruksi jaringan dan nekrosis lokal, sehingga terbentuk ulkus.³,⁶

Eksudat, debris nekrotik, dan bakteri mengering di permukaan lesi dan membentuk krusta tebal (dirty crust) khas ektima.¹,³

Kerusakan hingga dermis menyebabkan penyembuhan melalui fibrosis, sehingga terbentuk jaringan parut (skar).²,⁵


Anamnesis

Lesi kulit awal berupa pustul atau vesikel yang berkembang menjadi luka (ulkus) akibat infeksi bakteri yang meluas hingga dermis dan menyebabkan nekrosis jaringan.¹,²

Keluhan nyeri ringan hingga sedang pada lesi akibat inflamasi jaringan dalam dan kerusakan dermis.³,⁵

Perjalanan lesi progresif disertai krusta tebal (dirty crust) yang sulit dilepas, yang mencerminkan akumulasi eksudat dan debris nekrotik.¹,³

Riwayat luka, trauma, atau gigitan serangga sebagai pintu masuk bakteri.²,⁴

Riwayat higiene buruk, malnutrisi, atau penyakit kronik/imunosupresi yang mempermudah infeksi kulit dalam.³,⁵,¹²


Pemeriksaan Fisik

Predileksi: terutama pada ekstremitas bawah (tungkai) dan daerah terbuka.¹,³,⁵ Area ini lebih sering mengalami trauma dan paparan lingkungan.

Efloresensi primer: ulkus dangkal yang tertutup krusta tebal dan lekat berwarna kuning keabuan (dirty crust).¹,² Krusta terbentuk akibat akumulasi eksudat dan debris nekrotik pada permukaan lesi.

Bila krusta diangkat, tampak ulkus punched-out dengan tepi meninggi, indurasi, dan dasar berwarna keunguan.²,³ Temuan ini mencerminkan nekrosis jaringan hingga dermis.

Lesi dapat disertai eritem di sekitar ulkus dan nyeri tekan.³,⁵ Hal ini terjadi akibat inflamasi jaringan dalam.

Pada kasus tertentu dapat ditemukan limfadenopati regional.²,³ Hal ini merupakan respons imun terhadap infeksi bakteri.


Pemeriksaan Penunjang

Kultur bakteri. Bertujuan mengidentifikasi etiologi dengan prinsip pertumbuhan mikroorganisme pada media kultur. Hasil menunjukkan Streptococcus pyogenes atau Staphylococcus aureus.²,⁷

Pewarnaan Gram (jika diperlukan). Bertujuan mengidentifikasi jenis bakteri dengan prinsip pewarnaan dinding sel bakteri. Hasil berupa bakteri Gram positif, yaitu Staphylococcus (kokus bergerombol) atau Streptococcus (kokus berderet).³,⁸

Pemeriksaan darah rutin. Bertujuan menilai derajat infeksi sistemik dengan prinsip evaluasi respons inflamasi. Hasil dapat berupa leukositosis pada kasus sedang sampai berat.²,⁷,¹⁴

Konfirmasi diagnosis: dilakukan dengan kultur bakteri sebagai pemeriksaan definitif untuk menentukan etiologi penyebab infeksi.²,⁷


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan Klinis Utama
ImpetigoLesi superfisial dengan krusta madu (honey-colored crust), tidak membentuk ulkus dan tidak meninggalkan skar.¹,²
Ektima gangrenosumLesi nekrotik berat dengan dasar kehitaman, biasanya pada pasien imunokompromais dan berkaitan dengan infeksi Pseudomonas.²,¹⁴
Ulkus diabetikumUlkus kronis pada area tekanan (kaki) dengan riwayat diabetes, tidak diawali pustul.³,⁵
Pyoderma gangrenosumUlkus nyeri dengan tepi violaceous undermined, bersifat autoimun (non-infeksi).²,⁹
Leishmaniasis kutisUlkus kronis dengan riwayat perjalanan ke daerah endemik, tidak ada krusta tebal khas.³,⁹
Tinea corporisLesi annular dengan tepi aktif berskuama dan central clearing, bukan ulkus.³,⁹

Penatalaksanaan

Nonfarmakologis

Perawatan luka dan kebersihan kulit untuk mengurangi beban bakteri dan mempercepat penyembuhan.²,⁴

Kompres NaCl 0,9% pada krusta yang melekat kuat untuk melunakkan dan memudahkan pelepasan krusta, sehingga terapi topikal lebih efektif.³


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Antibiotik wajib diberikan secara sistemik karena infeksi mencapai dermis.¹,²

Terapi topikal digunakan sebagai terapi tambahan setelah krusta dilepas.²,⁸


Topikal

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Antibiotik topikalAsam fusidat salep 2%2×/hariMenghambat sintesis protein bakteri (elongation factor G).⁸
Mupirocin salep 2%2–3×/hariMenghambat isoleucyl-tRNA synthetase bakteri.⁸
Retapamulin salep 1%2×/hariMenghambat sintesis protein bakteri pada subunit 50S ribosom.⁸

Sistemik

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
PenisilinAmoksisilin tablet 250–500 mg4×250–500 mg/hari (25–50 mg/kgBB/hari)Menghambat sintesis dinding sel bakteri (bakterisidal).²,⁷
Penisilinase-resistantKloksasilin kapsul 250–500 mg4×250–500 mg/hari (25–50 mg/kgBB/hari)Stabil terhadap β-laktamase, menghambat dinding sel bakteri.²,⁷
Dikloksasilin kapsul 250–500 mg4×250–500 mg/hari (25–50 mg/kgBB/hari)Menghambat sintesis dinding sel bakteri, efektif untuk Staphylococcus.²,⁷
MakrolidaEritromisin tablet 250–500 mg4×250–500 mg/hari (25–50 mg/kgBB/hari)Menghambat sintesis protein bakteri (subunit 50S).²,⁷
LincosamideKlindamisin kapsul 150–300 mg4×150–300 mg/hari (anak: 15 mg/kgBB/hari)Menghambat sintesis protein dan toksin bakteri.²,⁷

Terapi diberikan selama 7-10 hari

Terapi Pembedahan Debridement krusta diperlukan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan meningkatkan efektivitas terapi topikal.³,⁵

Terapi Simtomatik

Golongan ObatObat & SediaanDosis / FrekuensiFarmakodinamik
Analgetik–antipiretikParasetamol tablet 500 mg3–4×500 mg/hari (anak: 10–15 mg/kgBB/dosis)Menghambat sintesis prostaglandin di sistem saraf pusat, sehingga menurunkan nyeri dan demam.⁷
NSAIDIbuprofen tablet 200–400 mg3×200–400 mg/hari (anak: 5–10 mg/kgBB/dosis)Menghambat enzim COX sehingga menurunkan prostaglandin dan inflamasi.⁷

Komplikasi

Glomerulonefritis pascastreptokokus terjadi akibat reaksi imun terhadap infeksi *Streptococcus* yang menyebabkan deposit kompleks imun di glomerulus ginjal.²,¹⁴

Sepsis terjadi bila bakteri masuk ke sirkulasi sistemik sehingga memicu respons inflamasi sistemik dan disfungsi organ.²,¹⁴

Pneumonia dapat terjadi akibat penyebaran hematogen atau aspirasi bakteri, terutama pada pasien dengan imunitas rendah.²,⁷

Meningitis merupakan komplikasi jarang akibat penyebaran bakteri ke sistem saraf pusat melalui sirkulasi darah.²,¹⁴


Prognosis

Ad vitam (kehidupan): bonam, karena ektima umumnya tidak mengancam jiwa jika ditangani dengan antibiotik yang tepat.¹,²

Ad functionam (fungsi): dubia ad bonam, karena dapat terjadi kerusakan dermis yang meninggalkan jaringan parut (skar).²,⁵

Ad sanationam (kesembuhan): dubia ad bonam, karena sebagian besar kasus sembuh dengan terapi, tetapi dapat meninggalkan skar permanen dan meningkatkan risiko komplikasi jika terlambat ditangani.²,⁵,¹⁴


Edukasi

Menjaga kebersihan kulit dan luka untuk mencegah kolonisasi dan infeksi bakteri lebih lanjut.²,⁴

Menghindari trauma kulit (luka, garukan, gigitan serangga) karena dapat menjadi pintu masuk bakteri ke dermis.²,⁴

Patuh menggunakan antibiotik sesuai durasi terapi untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi.²,⁷

Melakukan perawatan luka yang benar, termasuk melepas krusta secara adekuat sebelum pemberian obat topikal, agar terapi lebih efektif.³

Memperbaiki faktor risiko, seperti higiene buruk dan malnutrisi, untuk mencegah infeksi berulang.³,⁵

Memberikan edukasi mengenai tanda bahaya, seperti demam, nyeri bertambah, atau lesi meluas, yang memerlukan evaluasi medis segera.²,¹¹


Kriteria Rujukan

Lesi luas, dalam, atau multipel, terutama dengan tanda nekrosis atau progres cepat.²,¹¹

Tidak respons terhadap terapi dalam 7–10 hari atau terjadi perburukan klinis.²,¹¹

Adanya komplikasi, seperti selulitis, sepsis, atau kecurigaan glomerulonefritis.²,¹⁴

Pasien dengan komorbid berat, seperti imunosupresi, malnutrisi berat, atau penyakit kronis.³,⁵

Diagnosis meragukan atau terdapat kemungkinan diagnosis banding serius, sehingga memerlukan evaluasi lanjutan.²,¹¹


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw Hill Education; 2019.

3.

Sehgal VN. Textbook of Clinical Dermatology. New Delhi: Jaypee; 2021.

4.

Shimizu H. Shimizu's Textbook of Dermatology. Sapporo: Hokkaido University Press; 2021.

5.

Motta A. Atlas of Dermatology. Cham: Springer; 2022.

6.

Zappi E. Dermatopathology: Classification of Cutaneous Lesions. Cham: Springer; 2020.

7.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.

8.

Mikailov A. Dermatology Prescriptions. New York: McGraw Hill; 2020.

9.

Oakley A. Dermatology Made Easy. London: Scion Publishing; 2017.

10.

Ferringer T. Atlas of Essential Dermatopathology. London: Springer; 2013.

11.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

12.

Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, et al., editors. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. 2nd ed. Surabaya: Airlangga University Press; 2018.

13.

Murlistyarini S, Prawitasari S, Setyowatie L, et al., editors. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang: UB Press; 2018.

14.

NCBI Bookshelf. Ecthyma and Deep Bacterial Skin Infections. Bethesda: National Institutes of Health; 2022.