Dermatitis Seboroik [3A & 4].

Dermatitis Seboroik [3A & 4].


Nama Lain : Seborrheic dermatitis, seborrhoeic eczema, dandruff (bentuk ringan), cradle cap (pada bayi).¹,²,⁶


Definisi

Dermatitis seboroik adalah dermatosis inflamasi kronik pada area kaya kelenjar sebasea yang ditandai dengan eritem dan skuama berminyak, serta berkaitan dengan proliferasi Malassezia dan respons imun pejamu.¹,²,⁶


Epidemiologi

Prevalensi sekitar 1–5% pada populasi umum, sehingga termasuk salah satu dermatosis kronik yang sering dijumpai.¹,⁶

Memiliki dua puncak usia, yaitu bayi (infantil) dan dewasa muda hingga usia paruh baya

Lebih sering terjadi pada pria, kemungkinan terkait aktivitas kelenjar sebasea.²,³

Berkaitan dengan kondisi tertentu, seperti HIV dan penyakit neurologis (misalnya Parkinson).²,⁶

Predileksi pada area kaya sebum, seperti skalp, wajah (nasolabial, alis), dan dada.¹,³


Etiologi

Malassezia spp. sebagai faktor utama yang berperan dalam terjadinya inflamasi kulit.¹,²,⁶

Produksi sebum meningkat yang menyediakan lingkungan optimal untuk pertumbuhan jamur.²

Respons imun host yang abnormal terhadap Malassezia sehingga memicu inflamasi.²,⁶


Faktor Risiko

Produksi sebum berlebih dapat meningkatkan pertumbuhan Malassezia

Imunosupresi, misalnya pada HIV, dapat memperberat inflamasi.²,⁶

Stres dapat memicu kekambuhan melalui mekanisme imun dan hormonal.²

Penyakit neurologis, seperti Parkinson, berkaitan dengan perubahan regulasi sebum.²,⁶

Faktor lingkungan, seperti cuaca dingin, dapat memperburuk gejala.²


Klasifikasi

Berdasarkan Usia

Infantil: terjadi pada bayi, biasanya berupa cradle cap dengan skuama tebal pada skalp.¹

Dewasa: bersifat kronik dan kambuhan dengan lesi pada area seboroik.¹,²

Klasifikasi Berdasarkan Derajat Keparahan

Ringan: lesi berupa skuama halus (ketombe) dengan eritem minimal atau tidak ada. Lesi biasanya terbatas pada skalp dan tidak menimbulkan keluhan bermakna.²

Sedang: terdapat eritem jelas dengan skuama berminyak. Lesi dapat melibatkan wajah (lipatan nasolabial, alis) atau dada, serta disertai pruritus ringan hingga sedang.²

Berat: lesi luas dengan inflamasi nyata. Kondisi dapat disertai krusta atau eksudasi, bersifat kambuhan, dan mengganggu kualitas hidup.²


Patofisiologi

Terjadi peningkatan kolonisasi Malassezia pada area dengan kadar sebum tinggi.¹,²

Malassezia memetabolisme lipid sebum menjadi asam lemak bebas yang bersifat iritatif bagi kulit.²

Proses ini memicu aktivasi sistem imun dan pelepasan sitokin proinflamasi, seperti IL-1 dan TNF-α.²,⁶

Terjadi peningkatan turnover epidermis sehingga terbentuk skuama berminyak.¹,²

Inflamasi kronik menimbulkan eritem pada area seboroik dan menyebabkan perjalanan penyakit yang kronik-kambuhan.²


Anamnesis

Ketombe kronik pada kulit kepala akibat peningkatan turnover epidermis dan aktivitas Malassezia

Bercak merah dan kulit kasar akibat proses inflamasi kronik pada area seboroik.²

Gatal ringan hingga sedang yang dapat memberat saat berkeringat, berkaitan dengan iritasi dan inflamasi kulit.²

Lesi dapat berupa keropeng berbau akibat akumulasi sebum dan kolonisasi mikroorganisme.²

Distribusi lesi pada area seboroik, seperti wajah, skalp, dan dada, berkaitan dengan banyaknya kelenjar sebasea

Bersifat kronik dan mudah kambuh, dipengaruhi oleh faktor imun dan lingkungan.²

Keluhan dapat memberat pada kondisi tertentu, seperti cuaca dingin atau lingkungan kering, serta faktor stres.²

Khusus bayi (infantil):

Cradle cap pada usia 2 hingga 10 minggu, berupa krusta tebal kekuningan berminyak pada skalp.¹

Biasanya tidak gatal, karena respons inflamasi minimal pada bayi.¹



Pemeriksaan Fisik

Dermatitis seboroik tipe infantil dengan cradle cap (Kang dkk, 2019)
Dermatitis seboroik tipe infantil dengan cradle cap (Kang dkk, 2019)
Dermatitis seboroik dewasa pada lipatan nasolabial (Kang dkk, 2019)
Dermatitis seboroik dewasa pada lipatan nasolabial (Kang dkk, 2019)
Dermatitis seboroik dewasa pada punggung (Kang dkk, 2019)
Dermatitis seboroik dewasa pada punggung (Kang dkk, 2019)

Predileksi

Area seboroik (kaya kelenjar sebasea) meliputi:

Kepala: kulit kepala, telinga luar, saluran telinga, retroaurikular.¹

Wajah: alis, kelopak mata, dahi, lipatan nasolabial, dan dagu.¹

Badan atas: presternum, interskapula, dan areola mammae.²

Dapat mengenai daerah lipatan seperti aksila, inframammae, umbilikus, lipat paha, anogenital, dan lipatan gluteal akibat kelembapan dan oklusi.²


Efloresensi

Lesi berupa makula, papula, atau plak eritematosa berwarna kemerahan hingga kekuningan.¹

Terdapat skuama berminyak kekuningan dengan ketebalan bervariasi akibat peningkatan turnover epidermis.¹,²

Dapat disertai krusta kering atau basah akibat akumulasi sebum dan debris.²

Pada kulit kepala, lesi tampak sebagai ketombe pada bentuk ringan tanpa inflamasi yang jelas.¹


Khusus Bayi (Infantil)

Lesi berupa krusta tebal kekuningan berminyak (cradle cap) pada kulit kepala.¹

Umumnya tidak disertai gatal karena inflamasi minimal.¹


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan klinis merupakan metode utama untuk diagnosis. Prinsipnya adalah mengidentifikasi lesi khas, dengan temuan eritem dan skuama berminyak pada area seboroik.¹,²

Pemeriksaan lampu Wood bertujuan membedakan dengan diagnosis lain. Prinsipnya adalah menilai fluoresensi lesi di bawah sinar ultraviolet, dengan temuan fluoresensi negatif pada dermatitis seboroik, sedangkan eritrasma menunjukkan fluoresensi merah bata.²

Pemeriksaan KOH 10–20% dilakukan untuk menyingkirkan tinea. Prinsipnya adalah melarutkan keratin untuk melihat elemen jamur, dengan temuan spora atau blastokonidia tanpa hifa.²

Histopatologi (jarang diperlukan) bertujuan konfirmasi pada kasus atipikal. Prinsipnya adalah evaluasi jaringan kulit, dengan temuan gambaran dermatitis kronik dengan spongiosis.²,⁴


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan Dermatitis Seboroik
Tinea kapitisDitemukan KOH positif dengan hifa pada lesi kepala.
Psoriasis vulgarisSkuama tebal berlapis dengan tanda Auspitz.
Dermatitis kontakLesi sesuai pola pajanan iritan atau alergen.
RosaceaEritema wajah tanpa skuama berminyak.
Kandidiasis intertriginosaLesi di lipatan dengan lesi satelit khas.
EritrasmaFluoresensi merah bata pada lampu Wood.
Tinea crurisLesi berbatas tegas dengan tepi aktif meninggi.
Otomikosis / otitis eksternaKeluhan dominan pada telinga dengan infeksi lokal.
Dermatitis atopik (bayi)Gatal dominan dengan riwayat atopik.
Skabies (bayi)Gatal hebat terutama malam hari dengan lesi khas di sela jari.
Erupsi obatRiwayat konsumsi obat seperti metildopa atau klorpromazin.

Penatalaksanaan

Terapi bertujuan mengontrol inflamasi, menurunkan kolonisasi Malassezia, dan mengurangi skuama. Pendekatan terapi bersifat jangka panjang karena penyakit ini kronik dan mudah kambuh.²,³

Nonfarmakologis

Berikan edukasi bahwa penyakit ini bersifat kronik dan mudah kambuh

Anjurkan untuk menghindari faktor pencetus, seperti stres dan iritan

Anjurkan untuk menjaga kebersihan kulit dan rambut secara rutin.²


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Antijamur untuk menurunkan kolonisasi yeast lipofilik

Antiinflamasi untuk mengurangi eritem

Antipruritus bila terdapat gatal

Terapi Topikal

Kulit Kepala

GolonganObat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
AntijamurKetokonazol 2% (sampo)2–3×/minggu, digunakan 3–5 menit sebelum dibilasMenghambat sintesis ergosterol jamur
AntijamurSelenium sulfida 2,5% (sampo)2–3×/mingguMenurunkan proliferasi sel dan jamur
AntijamurZinc pyrithione 1–2% (sampo)2–3×/mingguAntifungal dan antiproliferatif

Khusus bayi (cradle cap):

Lakukan kompres dengan minyak mineral atau minyak zaitun hangat selama 8–12 jam.

Lepaskan skuama dengan sikat halus.

Lanjutkan dengan penggunaan sampo antijamur.

Wajah dan Badan

GolonganObat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Antijamur topikalKetokonazol 2%, mikonazol 2%, klotrimazol 1% (krim)1–2×/hari selama 2–4 mingguMenghambat sintesis ergosterol
Kortikosteroid ringanHidrokortison 1–2,5%, fluosinolon 0,025%1–2×/hari maksimal 1–2 mingguMenghambat inflamasi

Antipruritus

GolonganObat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
AntihistaminCTM 4 mg, loratadin 10 mg, cetirizine 10 mg1–2×/hariMenghambat reseptor H1

Sistemik (untuk Kasus Sedang–Berat / Refrakter)

GolonganObat dan SediaanDosis dan FrekuensiFarmakodinamik
Antijamur sistemikKetokonazol 200 mg1×/hari selama 1–2 mingguMenghambat sintesis ergosterol
Antijamur sistemikItrakonazol 100 mg2×/hari selama 1–2 mingguMenghambat sintesis ergosterol
Kortikosteroid sistemikPrednison / deksametasonjangka pendek, taperingAntiinflamasi sistemik

Komplikasi

Infeksi sekunder dapat terjadi akibat garukan yang merusak barier kulit. Pada kasus berat, kondisi ini dapat menyebabkan sikatriks dan mengganggu pertumbuhan rambut.²

Rambut rontok dapat terjadi akibat inflamasi kronik pada skalp yang mengganggu folikel rambut.²

Eritroderma dapat terjadi akibat penggunaan terapi topikal yang tidak tepat atau iritasi berlebihan, termasuk paparan sinar matahari.²

Penyakit Leiner (eritroderma deskuamativum) merupakan komplikasi berat pada bayi, berupa eritroderma luas akibat gangguan imun.²

Gangguan kosmetik berupa eritem dan skuama yang tampak jelas, sehingga memengaruhi kualitas hidup pasien.¹


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena penyakit tidak mengancam jiwa dan jarang menimbulkan komplikasi berat.¹,²

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena tidak menyebabkan gangguan fungsi organ secara permanen.²

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): dubia ad bonam, karena penyakit bersifat kronik dan kambuhan meskipun dapat dikontrol dengan terapi.²,³


Edukasi

Jelaskan bahwa penyakit ini bersifat kronik dan kambuhan, sehingga terapi bertujuan mengontrol gejala.²

Anjurkan menjaga kebersihan kulit dan rambut dengan mencuci secara teratur menggunakan sampo yang sesuai.²

Anjurkan menghindari faktor pencetus, seperti stres, kurang tidur, dan iritan

Anjurkan menggunakan obat secara teratur sesuai anjuran, meskipun gejala sudah membaik, untuk mencegah kekambuhan.²

Anjurkan menghindari penggunaan obat topikal berlebihan, terutama kortikosteroid, tanpa pengawasan medis.²


Kriteria Rujukan

Dermatitis seboroik sedang hingga berat yang tidak membaik dengan terapi awal di layanan primer.²

Lesi luas atau melibatkan banyak area tubuh dengan inflamasi berat.²

Kecurigaan diagnosis lain, seperti psoriasis, tinea, atau kondisi dermatologis lain yang menyerupai.²

Disertai kondisi sistemik, seperti HIV atau penyakit neurologis yang memperberat penyakit.²,⁶

Terjadi komplikasi, seperti infeksi sekunder atau eritroderma.²


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill; 2019.

3.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi di Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

4.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. New York: Springer; 2020.

5.

Boediardja SA, Budimulja U. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2019.

6.

StatPearls Publishing. Seborrheic Dermatitis. Treasure Island, FL: StatPearls Publishing; 2024.

7.

Borda LJ, Wikramanayake TC. Seborrheic Dermatitis and Dandruff: A Comprehensive Review. J Clin Investig Dermatol. 2020.