Dermatitis Numularis [4].

Dermatitis Numularis [4].


Nama Lain : Discoid eczema, Nummular eczema, Nummular dermatitis


Definisi

Dermatitis numularis adalah dermatitis kronis yang ditandai oleh lesi ekzematosa berbentuk koin (diskoid), eritema, papul, vesikel, dan skuama, yang biasanya disertai pruritus.¹,²


Epidemiologi

Dermatitis numularis merupakan varian dermatitis ekzematosa yang relatif sering ditemukan pada praktik dermatologi.

Lebih sering terjadi pada dewasa usia paruh baya hingga lanjut usia, terutama pada pria.

Pada anak-anak dan wanita muda, penyakit ini juga dapat muncul tetapi lebih jarang.

Lesi sering muncul pada ekstremitas terutama tungkai dan lengan.²-⁵


Etiologi

Kulit kering (xerosis) yang menyebabkan gangguan fungsi barier epidermis.

Disfungsi barier kulit, sehingga meningkatkan penetrasi iritan dan alergen ke dalam kulit.

Kolonisasi bakteri sekunder, terutama Staphylococcus aureus, yang dapat memperberat proses inflamasi.

Trauma atau iritasi kulit kronis, seperti garukan berulang atau gesekan pada kulit.

Paparan lingkungan kering atau dingin, yang dapat memicu atau memperburuk lesi dermatitis numularis.

Paparan sabun, deterjen, atau bahan kimia iritan, yang dapat merusak barier kulit.

Riwayat dermatitis atopik atau kulit sensitif, yang meningkatkan kerentanan terhadap dermatitis ekzematosa.¹-³


Klasifikasi

Pembagian berdasarkan fase klinis lesi :

Fase akut : Lesi berupa plak eritematosa berbentuk koin dengan papul, vesikel, dan eksudasi, sering disertai pruritus yang intens.

Fase subakut : Lesi berupa plak eritematosa dengan papula dan skuama, inflamasi mulai berkurang dan eksudasi jarang ditemukan.

Fase kronis : Lesi menunjukkan likhenifikasi, hiperkeratosis, dan hiperpigmentasi, yang biasanya terjadi akibat garukan berulang pada lesi kronis.¹,²


Patofisiologi

Gangguan barier epidermis menyebabkan peningkatan transepidermal water loss (TEWL) sehingga kulit menjadi kering dan lebih rentan terhadap iritan serta alergen.

Penetrasi iritan, alergen, atau mikroorganisme ke dalam epidermis memicu aktivasi sistem imun kulit.

Aktivasi sel Langerhans dan limfosit T menyebabkan pelepasan mediator inflamasi seperti sitokin dan kemokin.

Terjadi spongiosis epidermis yang merupakan gambaran histopatologis utama pada dermatitis ekzematosa.

Respons inflamasi kronis menghasilkan plak eritematosa berbentuk koin dengan papul, vesikel, dan skuama yang merupakan gambaran khas dermatitis numularis.

koin (nummular/discoid) pada dermatitis numularis terjadi karena pola penyebaran inflamasi pada kulit yang bersifat lokal dan radial dari satu titik awal iritasi atau kerusakan barier kulit.¹-⁴


Anamnesis

Keluhan utama sering berupa pruritus (gatal) kronis pada lesi kulit.

Gatal bersifat hilang timbul dan dapat memburuk pada malam hari atau saat kulit kering.

Lesi berbentuk bulat seperti koin dan berkembang secara perlahan.

Lesi sering muncul pada tungkai, lengan, atau badan.

Keluhan dapat kambuh berulang, terutama pada kondisi kulit kering, cuaca dingin, atau paparan iritan.

Pada beberapa pasien dapat ditemukan riwayat kulit kering (xerosis) atau dermatitis sebelumnya.¹-³


Pemeriksaan Fisik

Predileksi:

Ekstremitas, terutama tungkai bawah.

Lengan dan punggung tangan.

Badan (trunk) pada beberapa kasus.¹-³

Efloresensi:

Gambaran klinis dermatitis numularis (Kang dkk, 2019)
Gambaran klinis dermatitis numularis (Kang dkk, 2019)

Plak eritematosa berbentuk bulat atau oval, menyerupai koin (diskoid).

Papula dan vesikel pada fase akut.

Eksudasi atau krusta pada lesi dengan inflamasi aktif.

Skuama pada fase subakut.

Likhenifikasi dan hiperkeratosis pada fase kronis akibat garukan berulang.¹-³


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan KOH untuk membedakan dengan tinea corporis; pada dermatitis numularis, hasilnya biasanya negatif terhadap elemen jamur.

Biopsi kulit pada kasus dengan diagnosis yang meragukan; hasil histopatologi menunjukkan spongiosis epidermis, vesikel intraepidermal, dan infiltrat sel inflamasi di dermis.

Kultur bakteri dilakukan bila dicurigai infeksi bakteri sekunder, terutama oleh Staphylococcus aureus.¹-³


Diagnosis Banding¹-³

DiagnosisPerbedaan dengan Dermatitis Numularis
Tinea corporisLesi berbentuk annular dengan tepi aktif dan central clearing, pemeriksaan KOH dapat menunjukkan elemen jamur.
Psoriasis vulgarisPlak eritematosa dengan skuama tebal keperakan dan sering mengenai siku, lutut, dan kulit kepala.
Dermatitis kontakLesi muncul pada area yang sesuai dengan paparan alergen atau iritan dan sering memiliki batas yang lebih jelas.
Dermatitis atopikBiasanya terdapat riwayat atopi, distribusi khas pada lipatan tubuh, dan sering disertai kulit sangat kering.
Lichen simplex chronicusLesi berupa plak likhenifikasi akibat garukan kronis, tanpa pola khas berbentuk koin.

Penatalaksanaan

Non-Farmakologis

Menghindari iritan dan menjaga kelembapan kulit.

Menggunakan emolien secara rutin.

Menghindari mandi air panas berlebihan.²,³,⁵


Farmakologis

Prinsip terapi

Kortikosteroid topikal untuk mengurangi inflamasi pada kulit.

Antihistamin oral untuk mengurangi pruritus.

Emolien untuk memperbaiki barier kulit dan mengurangi xerosis.

Antibiotik bila terdapat infeksi bakteri sekunder.

Terapi tambahan pada kasus berat atau resisten, sesuai indikasi.¹-³

GolonganObatDosisFarmakodinamik
Kortikosteroid topikal potensi sedang–kuatMometason furoat, betametason dipropionatOles 1–2×/hari pada lesiMenghambat mediator inflamasi dan menekan respons imun kulit.
Antihistamin oralCetirizine10 mg/hariMenghambat reseptor H1 sehingga mengurangi pruritus.
Antibiotik topikalMupirosinOles 2–3×/hari bila ada infeksiMenghambat sintesis protein bakteri, efektif terhadap Staphylococcus aureus.
EmolienPetroleum jelly, krim pelembapDigunakan secara rutinMemperbaiki fungsi barier kulit dan mengurangi xerosis.

Komplikasi

Infeksi bakteri sekunder, terutama oleh Staphylococcus aureus, akibat garukan pada lesi.

Likhenifikasi kronis akibat pruritus persisten dan garukan berulang.

Hiperpigmentasi pascainflamasi pada area lesi setelah proses inflamasi mereda.

Ekskoriasi atau luka kulit akibat garukan yang terus-menerus.¹,³


Prognosis

Ad vitam (terhadap kelangsungan hidup): bonam, karena dermatitis numularis merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang tidak mengancam jiwa.

Ad functionam (terhadap fungsi organ atau aktivitas): bonam, karena umumnya tidak menimbulkan gangguan fungsi organ permanen, meskipun pruritus dapat mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup pasien.

Ad sanationam (terhadap kemungkinan kesembuhan): dubia ad bonam, karena penyakit ini sering bersifat kronis dan dapat kambuh, tetapi umumnya membaik dengan terapi yang adekuat dan perawatan kulit yang baik.¹,³


Edukasi

Menjaga kelembapan kulit dengan emolien.

Menghindari iritan yang memperburuk dermatitis.

Menghindari garukan berlebihan pada lesi.

Segera berkonsultasi jika lesi meluas atau tidak membaik.²-⁵


Kriteria Rujukan

Pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis kulit apabila:

Lesi luas, berat, atau multipel sehingga memerlukan terapi yang lebih intensif.

Tidak membaik dengan terapi standar di layanan primer, seperti emolien dan kortikosteroid topikal.

Diagnosis meragukan atau dicurigai penyakit kulit lain, seperti psoriasis atau infeksi jamur.

Terdapat infeksi bakteri sekunder berat yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Lesi kronis atau sering kambuh meskipun sudah mendapatkan terapi yang adekuat.


✏️ Kasih pendapatmu mengenai artikel ini! Yuk, klik disini