Cutaneus Larva Migran [4].

Cutaneus Larva Migran [4].


Nama Lain : Creeping eruption, hookworm-related cutaneous larva migrans, sandworm disease, creeping dermatosis.¹,²,⁶


Definisi

Cutaneous larva migrans adalah infestasi kulit oleh larva nematoda, terutama cacing tambang, yang bermigrasi di epidermis dan menimbulkan lesi linear serpiginosa yang progresif disertai gatal hebat.¹,²,⁶

Cutaneus larva migrans pada dorsum pedis (Kang dkk, 2019)
Cutaneus larva migrans pada dorsum pedis (Kang dkk, 2019)

Epidemiologi

CLM banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis dengan iklim hangat dan lembap.¹,⁷

CLM sering terjadi pada individu yang sering terpapar tanah atau pasir, seperti anak-anak, wisatawan pantai, dan pekerja luar ruangan.²,⁴,⁶

CLM berkaitan dengan lingkungan dengan sanitasi buruk serta keberadaan hewan reservoir anjing atau kucing.³,⁵

Kasus meningkat pada wilayah dengan kebiasaan berjalan tanpa alas kaki.¹,²


Etiologi

Ancylostoma braziliense merupakan penyebab CLM yang paling sering.¹,²,⁶

Spesies lain, seperti Ancylostoma caninum, juga dapat menyebabkan infeksi pada manusia.²,⁶

Larva berasal dari hookworm pada hewan (anjing dan kucing) yang mencemari tanah atau pasir.²,⁵


Faktor Risiko

Tidak memakai alas kaki saat di pantai meningkatkan kontak langsung dengan pasir yang terkontaminasi larva.¹,²

Anak-anak yang bermain di pasir sering kontak langsung dengan tanah tanpa proteksi.²,⁴

Pekerjaan seperti tukang kebun sering terpapar tanah yang terkontaminasi.²,⁵

Kontak dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi kotoran anjing atau kucing sebagai reservoir larva hookworm.²,⁵


Patofisiologi

Larva hookworm menembus kulit melalui kontak dengan tanah atau pasir terkontaminasi, biasanya di antara stratum korneum dan stratum germinativum.¹,³,⁶

Penetrasi memicu reaksi inflamasi awal dengan eosinofilia lokal

Larva tidak mampu menembus membran basal karena tidak memiliki kemampuan enzimatik untuk menginvasi jaringan manusia lebih dalam, sehingga tetap terbatas pada epidermis.¹,²

Larva kemudian bermigrasi secara lateral di epidermis dengan kecepatan beberapa milimeter hingga sentimeter per hari.¹

Migrasi membentuk lesi linear serpiginosa yang khas secara klinis.¹,²

Produk antigenik larva memicu pelepasan mediator inflamasi yang menyebabkan eritema dan pruritus hebat.²,⁶

Larva akhirnya mati dalam beberapa minggu hingga bulan, tetapi selama periode tersebut dapat menimbulkan gejala dan lesi yang progresif.²

Garukan akibat pruritus dapat menyebabkan ekskoriasi dan meningkatkan risiko infeksi sekunder.²


Anamnesis

Gatal hebat yang semakin memberat akibat reaksi inflamasi terhadap migrasi larva di epidermis.¹,³

Lesi terasa bergerak atau memanjang setiap hari, sesuai dengan migrasi larva secara lateral.²,⁴

Riwayat berjalan tanpa alas kaki di pantai atau tanah yang terkontaminasi larva.¹,²

Keluhan muncul beberapa hari setelah paparan, sesuai waktu penetrasi dan migrasi larva.²

Tidak disertai gejala sistemik karena larva terbatas pada epidermis dan tidak masuk ke sirkulasi.¹,²


Pemeriksaan Fisik

Predileksi

Lokasi yang sering berkontak dengan tanah atau pasir, seperti telapak kaki, tungkai, bokong, paha, dan daerah perianal.¹,³

Dapat mengenai bagian tubuh lain yang terpapar larva secara langsung.²


Efloresensi

Lesi muncul 1–5 hari setelah paparan akibat penetrasi dan migrasi larva.²

Awalnya berupa papula eritematosa disertai rasa gatal, panas, atau nyeri akibat reaksi inflamasi.²

Berkembang menjadi lesi linear serpiginosa berwarna kemerahan, sedikit meninggi, dan dapat membentuk pola polisiklik sebagai tanda khas CLM.¹,³

Lesi dapat memanjang dengan kecepatan sekitar ±2 cm/hari sesuai migrasi larva di epidermis.¹

Dapat disertai vesikel atau bula pada ujung lesi akibat reaksi inflamasi lokal.²

Pada kasus jarang dapat terjadi folikulitis eosinofilik berupa banyak papula dan pustula, terutama di daerah bokong.²

Lesi biasanya berlangsung 2–8 minggu bila tidak diterapi, kemudian menghilang seiring kematian larva.²


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan klinis merupakan metode utama untuk menegakkan diagnosis. Prinsipnya adalah mengidentifikasi morfologi lesi khas, berupa lesi linear serpiginosa yang progresif.¹,²,³

Biopsi kulit (jarang diperlukan) bertujuan untuk konfirmasi pada kasus atipikal. Prinsipnya adalah evaluasi histopatologi, tetapi larva sering sulit ditemukan karena migrasi cepat di epidermis.²,⁶

Pemeriksaan laboratorium umumnya tidak diperlukan. Pada beberapa kasus dapat ditemukan eosinofilia ringan akibat respons imun terhadap larva.²,⁵


Diagnosis Banding

DiagnosisPerbedaan dengan *Cutaneus Larva Migran *
SkabiesTerdapat burrow pendek dengan distribusi khas (sela jari, pergelangan), tidak membentuk lesi serpiginosa panjang.
Larva currensMigrasi sangat cepat (cm/jam) dengan lesi tidak menetap, berbeda dengan CLM yang lebih lambat.
Dermatofitosis (tinea corporis)Lesi berbatas tegas dengan tepi aktif dan tidak bergerak.
Dermatitis kontakLesi sesuai area pajanan tanpa pola serpiginosa dan tidak progresif.
Gigitan seranggaLesi berupa papul statis tanpa migrasi atau pola linear.

Penatalaksanaan

Terapi bertujuan mengeradikasi larva, mengurangi inflamasi, dan mencegah komplikasi. Terapi sistemik menjadi pilihan utama karena efektivitasnya tinggi.¹,³,⁴

Nonfarmakologis

Menghindari paparan ulang dengan menggunakan alas kaki

Menjaga kebersihan lingkungan serta hewan reservoir.³


Farmakologis

Prinsip Terapi Farmakologis

Eradikasi larva dengan obat anthelmintik sebagai terapi utama.¹,³,⁴

Pemilihan terapi berdasarkan luas dan jumlah lesi (terbatas atau luas).¹

Terapi sistemik menjadi lini pertama karena lebih efektif membunuh larva.³,⁴

Terapi topikal dapat digunakan sebagai alternatif pada lesi terbatas.²

Terapi diberikan untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi pruritus hebat

Terapi diberikan dengan durasi yang adekuat untuk mencegah kekambuhan dan progresivitas lesi

Sistemik

Sebagai lini utama

GolonganObat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
AnthelmintikAlbendazole (tablet 400 mg)1×400 mg/hari selama 3 hariMenghambat mikrotubulus larva
AnthelmintikIvermectin (tablet 3 mg / 6 mg)200 µg/kgBB dosis tunggalMenyebabkan paralisis larva
AnthelmintikThiabendazole (tablet 500 mg)50 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis (maks 3 g/hari) selama 2–5 hariMenghambat metabolisme energi larva

Topikal

Untuk Lesi Terbatas

GolonganObat & SediaanDosis & FrekuensiFarmakodinamik
Anthelmintik topikalThiabendazole 10% (krim)3–4×/hari selama 5–7 hariMenghambat metabolisme larva lokal
Anthelmintik topikalAlbendazole 10% (krim)3–4×/hariEfek larvasidal lokal

Simptomatik

KeluhanTerapi & SediaanDosisFarmakodinamik
PruritusCetirizine / loratadin (tablet)1×/hariAntagonis reseptor H1
InflamasiHidrokortison (krim 1%)1–2×/hariAntiinflamasi lokal
Infeksi sekunderAntibiotik topikal (salep)sesuai indikasiAntibakteri

Cryotherapy atau eksisi tidak dianjurkan karena larva bermigrasi di luar lesi yang tampak.²

Teknik seperti kloretil tidak efektif sebagai terapi utama.²


Komplikasi

Infeksi sekunder bakteri dapat terjadi akibat garukan berulang yang merusak sawar kulit, sehingga mempermudah kolonisasi bakteri.¹,²

Dermatitis kronik dapat terjadi akibat inflamasi berkepanjangan dan iritasi terus-menerus pada kulit.²

Gangguan tidur dapat disebabkan oleh pruritus hebat yang memberat, terutama pada malam hari.³

Folikulitis eosinofilik (jarang) dapat muncul akibat respons imun terhadap larva yang memicu papul dan pustula multipel.²


Prognosis

Ad vitam (terhadap kehidupan): bonam, karena penyakit tidak mengancam jiwa dan jarang menimbulkan komplikasi berat.¹,²

Ad functionam (terhadap fungsi): bonam, karena tidak menyebabkan gangguan fungsi organ secara permanen.²

Ad sanationam (terhadap kesembuhan): bonam, karena penyakit bersifat self-limiting dan dapat sembuh sempurna dengan terapi yang adekuat.¹,³


Edukasi

Menjelaskan bahwa penyakit disebabkan oleh larva dari tanah atau pasir yang terkontaminasi, dan bersifat tidak berbahaya tetapi sangat gatal

Menggunakan alas kaki saat berada di pantai atau di tanah untuk mencegah infeksi ulang.¹,²

Menghindari kontak langsung dengan pasir atau tanah lembap yang berpotensi terkontaminasi.³

Menjaga kebersihan lingkungan dan hewan peliharaan (anjing/kucing) untuk mengurangi sumber infeksi.²,⁵

Tidak menggaruk lesi secara berlebihan untuk mencegah infeksi sekunder

Menggunakan obat sesuai anjuran hingga tuntas, meskipun gejala sudah membaik.²


Kriteria Rujukan

Lesi luas atau multipel yang tidak membaik dengan terapi awal di layanan primer.¹,²

Tidak respons terhadap terapi sistemik lini pertama seperti albendazole atau ivermectin.³

Diagnosis meragukan atau menyerupai penyakit lain, seperti larva currens atau dermatosis lain.²

Terjadi komplikasi, seperti infeksi sekunder berat atau folikulitis luas.²

Pasien dengan kondisi khusus (misalnya anak kecil atau komorbid tertentu) yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.²


Daftar Pustaka

1.

Saavedra AP, Roh EK, Mikailov A. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2023.

2.

Kang S, Amagai M, Bruckner AL, et al. Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw-HHill; 2019.

3.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Dermatologi dan Venereologi di Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2024.

4.

Hylwa SA, Hurliman E, Liu J. Pocket Dermatology. New York: Springer; 2020.

5.

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI; 2019.

6.

StatPearls Publishing. Cutaneous Larva Migrans. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024.

7.

Heukelbach J, Feldmeier H. Epidemiological and Clinical Characteristics of Hookworm-Related Cutaneous Larva Migrans. Lancet Infect Dis. 2008.

8.

Caumes E. Treatment of Cutaneous Larva Migrans. Clin Infect Dis. 2000.

9.

Hochedez P, Caumes E. Hookworm-Related Cutaneous Larva Migrans. J Travel Med. 2007.

10.

Blackwell V, Vega-Lopez F. Cutaneous Larva Migrans: Clinical Features and Management. Am J Clin Dermatol. 2001.