Krisis Miastenik [3B].
Definisi
Krisis miastenik adalah eksaserbasi akut pada myasthenia gravis yang ditandai oleh kelemahan berat otot respirasi dan/atau bulbar hingga menyebabkan gagal napas atau ancaman gagal napas.³,⁶,⁹
Faktir Risiko
Infeksi, terutama infeksi saluran napas, merupakan pencetus tersering yang meningkatkan kebutuhan ventilasi dan memperburuk transmisi neuromuskular.³,⁹
Ketidakpatuhan atau penghentian terapi dapat menyebabkan kontrol penyakit menurun dan memicu eksaserbasi akut.³
Penggunaan obat pemicu, seperti aminoglikosida, magnesium, beta-blocker, dan obat yang mengganggu neuromuscular junction, dapat memperburuk kelemahan.³,⁸
Stres fisiologis, termasuk pembedahan, trauma, kelelahan, atau penyakit sistemik, dapat meningkatkan kebutuhan metabolik otot.³
Myasthenia gravis yang tidak terkontrol atau berat, terutama dengan keterlibatan bulbar dan respirasi, meningkatkan risiko krisis.³,⁹
Pascaoperasi (termasuk timektomi) dapat memicu krisis akibat stres pembedahan dan perubahan respons imun.³
Patofisiologi
Eksaserbasi respons autoimun menyebabkan peningkatan destruksi reseptor asetilkolin (AChR) postsinaptik melalui mekanisme lisis yang dimediasi komplemen, sehingga terjadi penurunan densitas reseptor dan penyederhanaan lipatan postsinaptik.³,⁶,⁹
Selain itu, terjadi cross-linking dan internalisasi reseptor ACh, yang semakin menurunkan ketersediaan reseptor fungsional pada membran postsinaptik.³,⁹
Penurunan jumlah reseptor menyebabkan end plate potential (EPP) menurun bermakna, sehingga tidak mencapai ambang depolarisasi untuk menghasilkan potensial aksi, terutama pada stimulasi berulang.³
Pada krisis, gangguan ini menjadi lebih berat sehingga terjadi transmission failure masif pada neuromuscular junction, terutama pada otot yang membutuhkan aktivitas tinggi, yaitu diafragma, otot interkostal, dan otot bulbar.³,⁶
Kelemahan otot respirasi menurunkan ventilasi alveolar efektif, sehingga terjadi hipoventilasi yang berujung pada retensi karbon dioksida (hiperkapnia) dan asidosis respiratorik.³,⁶
Disfungsi otot bulbar menyebabkan gangguan proteksi jalan napas, meningkatkan risiko aspirasi, yang dapat memperburuk hipoksemia dan mempercepat terjadinya gagal napas.³,⁶
Kombinasi hiperkapnia, hipoksemia, dan kelelahan otot respirasi pada akhirnya menyebabkan gagal napas akut, yang menjadi manifestasi utama krisis miastenik.³,⁶,⁹
Perbedaan patofisiologi
Krisis miastenik: penurunan reseptor ACh postsinaptik menyebabkan kegagalan transmisi neuromuskular, sehingga otot tidak dapat berkontraksi secara efektif.
Krisis kolinergik: kelebihan ACh akibat inhibitor AChE menyebabkan depolarisasi persisten (depolarization block), sehingga transmisi neuromuskular terhambat.
Anamnesis
Sesak napas progresif, terutama saat aktivitas ringan atau saat istirahat, akibat kelemahan otot respirasi.³,⁶
Mudah lelah saat berbicara, ditandai suara melemah atau tidak mampu menyelesaikan kalimat panjang dalam satu tarikan napas.³,⁶
Disfagia memburuk, sering disertai tersedak atau aspirasi, akibat kelemahan otot bulbar.³,⁶
Perburukan cepat kelemahan otot, dari gejala sebelumnya (okular atau bulbar) hingga melibatkan respirasi.³,⁹
Pemeriksaan Fisik
Takipnea dan napas dangkal menunjukkan penurunan ventilasi yang efektif.³,⁶
Penggunaan otot bantu napas, seperti retraksi suprasternal atau interkostal.³
Ketidakmampuan berbicara panjang; pasien hanya mampu berbicara kata per kata.³
Head drop akibat kelemahan otot leher yang mencerminkan keterlibatan otot aksial berat.³,⁶
Tanda kelelahan respirasi, seperti penurunan kekuatan batuk dan clearance sekret.³,⁶
Pemeriksaan Penunjang
Kapasitas vital (Vital Capacity/VC) merupakan parameter utama untuk menilai fungsi respirasi. Nilai <15–20 mL/kgBB menunjukkan risiko gagal napas dan indikasi ventilasi mekanik.³,⁶
Negative Inspiratory Force (NIF) menilai kekuatan otot inspirasi. Nilai < −20 cmH₂O menunjukkan kelemahan respirasi berat.³,⁶
Gas darah arteri (AGD) menunjukkan hiperkapnia dan asidosis respiratorik akibat hipoventilasi alveolar.³,⁶
Pulse oximetry dapat menunjukkan hipoksemia, namun sering terlambat berubah dibanding hiperkapnia.³
Foto toraks (CXR) dilakukan untuk mencari pencetus, seperti pneumonia atau atelektasis.³,⁶
Pemeriksaan laboratorium infeksi, seperti leukosit atau CRP, dilakukan untuk mengidentifikasi faktor pencetus.³
Tatalaksana Krisis Miastenik
1. Stabilisasi awal (ABC)
Airway: evaluasi jalan napas dan kesiapan intubasi.³,⁶
Breathing: pemberian oksigen dan penilaian ventilasi.³,⁶
Circulation: pemantauan hemodinamik.³
2. Indikasi ventilasi mekanik
Kapasitas vital <15–20 mL/kgBB.³,⁶
NIF < −20 cmH₂O.³,⁶
Tidak mampu berbicara satu kalimat.³
Hiperkapnia (PaCO₂ meningkat).³,⁶
Segera lakukan intubasi bila terdapat tanda gagal napas.³,⁶
3. Terapi spesifik
| Golongan Terapi | Dosis & Frekuensi | Farmakodinamik |
|---|---|---|
| Terapi Eliminasi Antibodi | Plasmapheresis 3–5 sesi | Menghilangkan autoantibodi, sitokin, dan komplemen dari sirkulasi, sehingga memperbaiki transmisi neuromuskular secara cepat³,⁶,⁹ |
| Imunomodulator | IVIG 0,4 g/kgBB/hari selama 5 hari | Memodulasi respon imun dengan menurunkan aktivitas autoantibodi dan menghambat aktivasi komplemen³,⁶,⁹ |
4. Terapi tambahan
Kortikosteroid, untuk menekan respons autoimun.³,⁶,⁹
Antibiotik, bila terdapat infeksi sebagai pencetus.³
Eliminasi faktor pencetus, termasuk obat pemicu.³,⁸
Pemantauan di ICU secara ketat.³,⁶
5. Tata laksana obat AChE
Penghentian atau penyesuaian sementara inhibitor AChE pada fase akut.³,⁶
Dilanjutkan kembali setelah kondisi stabil.³
