Krisis kolinergik [3B].
Definisi
Krisis kolinergik adalah kondisi akut akibat kelebihan asetilkolin pada neuromuscular junction, umumnya karena overdosis obat antikolinesterase, yang menyebabkan depolarisasi persisten (depolarization block) dan kelemahan otot. ³,⁸,⁹
Etiologi Krisis Kolinergik
Overdosis obat antikolinesterase (AChE inhibitor), seperti pyridostigmine dan neostigmine, yang menyebabkan akumulasi asetilkolin di neuromuscular junction.³,⁸,⁹
Penyesuaian dosis yang tidak tepat, terutama peningkatan dosis tanpa pemantauan klinis yang memadai.³
Gangguan eliminasi obat, misalnya pada gangguan fungsi ginjal, yang menyebabkan akumulasi obat di dalam tubuh.³
Penggunaan kombinasi obat yang meningkatkan efek kolinergik, sehingga memperberat stimulasi reseptor asetilkolin.³,⁸
Faktor Risiko
Dosis tinggi atau peningkatan dosis cepat AChE inhibitor, terutama pyridostigmine atau neostigmine, tanpa titrasi yang adekuat.³,⁸
Ketidakpatuhan regimen obat, seperti penggunaan obat tidak teratur atau self-adjustment dosis oleh pasien.³
Gangguan fungsi ginjal, yang menyebabkan akumulasi obat antikolinesterase dalam tubuh.³
Kurangnya monitoring klinis, sehingga tanda awal kelebihan efek kolinergik tidak terdeteksi.³
Penggunaan bersamaan obat yang meningkatkan efek kolinergik, yang dapat memperberat stimulasi reseptor asetilkolin.³,⁸
Patofisiologi
Inhibisi enzim asetilkolinesterase (AChE) yang berlebihan menyebabkan akumulasi asetilkolin (ACh) di neuromuscular junction dan sinaps kolinergik lainnya.³,⁸,⁹
Peningkatan ACh menyebabkan stimulasi berlebihan reseptor nikotinik dan muskarinik.³,⁸
Pada reseptor nikotinik, terjadi depolarisasi kontinu pada membran postsinaptik yang menyebabkan inaktivasi kanal natrium, sehingga repolarisasi tidak terjadi.³
Kondisi ini menimbulkan depolarization block, sehingga transmisi neuromuskular terganggu dan terjadi kelemahan otot.³
Aktivasi reseptor muskarinik menyebabkan manifestasi otonom sistemik, seperti hipersalivasi, bronkospasme, dan bradikardia.³,⁸
Kombinasi blokade neuromuskular dan efek kolinergik sistemik dapat berujung pada gangguan respirasi hingga gagal napas.³,⁸,⁹
Anamnesis
Kelemahan otot memburuk setelah konsumsi obat, terutama setelah peningkatan dosis penghambat AChE.³,⁸
Riwayat overdosis atau penggunaan obat yang tidak terkontrol, seperti pyridostigmine atau neostigmine.³
Disertai gejala kolinergik (muskarinik), seperti:
hipersalivasi
diare
keringat berlebih
mual muntah.³,⁸
Keluhan sesak napas, akibat kombinasi kelemahan otot dan efek kolinergik pada bronkus.³
Pemeriksaan Fisik
Miosis (pupil mengecil) sebagai tanda stimulasi muskarinik.³
Hipersalivasi, lakrimasi, dan peningkatan sekret bronkus.³,⁸
Bradikardia akibat stimulasi parasimpatis.³
Bronkospasme dan wheezing akibat efek kolinergik pada saluran napas.³
Kelemahan otot generalisata akibat depolarization block pada neuromuscular junction.³
Pemeriksaan Penunjang
Gas darah arteri (AGD) menunjukkan hiperkapnia dan asidosis respiratorik akibat hipoventilasi karena depolarization block pada otot respirasi.³,⁸
Pulse oximetry dapat menunjukkan hipoksemia, meskipun perubahannya dapat lebih lambat dibanding peningkatan CO₂.³
Elektrolit dan fungsi ginjal untuk menilai faktor predisposisi akumulasi obat, misalnya gangguan ekskresi AChE inhibitor.³
Monitoring EKG dapat menunjukkan bradikardia atau aritmia akibat stimulasi muskarinik.³,⁸
Evaluasi respons klinis setelah penghentian AChE inhibitor atau pemberian atropin sebagai bagian dari konfirmasi diagnosis.³,⁸
Penatalaksanaan Krisis Kolinergik
1. Stabilisasi awal (ABC)
Airway, pastikan patensi jalan napas dan siapkan intubasi bila perlu.³,⁸
Breathing, lakukan oksigenasi dan ventilasi bila terjadi gagal napas.³
Circulation, lakukan pemantauan hemodinamik dan EKG.³
2. Terapi utama
Hentikan segera AChE inhibitor (pyridostigmine atau neostigmine) sebagai penyebab utama.³,⁸
Atropin, untuk mengatasi efek muskarinik:
Dosis: 0,5–1 mg IV, dapat diulang sesuai respons.³,⁸
Efek: menurunkan hipersalivasi, bronkospasme, dan bradikardia.
3. Terapi suportif
Ventilasi mekanik bila terjadi gagal napas.³
Suction sekret, untuk mencegah obstruksi jalan napas.³
Monitoring ketat di ICU, terutama fungsi respirasi dan kardiovaskular.³
4. Evaluasi lanjutan
Setelah stabil, lakukan penyesuaian ulang dosis AChE inhibitor secara hati-hati.³
Edukasi pasien untuk menghindari overdosis atau penyesuaian dosis sendiri.³
